SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 111


__ADS_3

Cerita (3)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Udara pagi masih menusuk di kulit, sepertinya matahari masih membiarkan bulan menguasai langit untuk sesaat, sebelum ayam hadir dan menghalau bulan untuk kembali keperaduan.


γ€€


Aisakha duduk memandang Nia dangan tangan mengenggam jemari Nia di sebuah kursi yang diletakkan persisi di sebelah ranjang Nia.


γ€€


Pagi sekali, masih subuh malah. Saat jam dinding belum menunjuk angka pas di posisi lima. Aisakha terbangun sendiri, entah kenapa tiba-tiba saja matanya terbuka. Padahal Pakde baru berencana membangunkannya sekitar tiga puluh menit lagi,Β Sudah pagi ternyata. Lebih baik aku langsung mandi, biar fresh. Akhirnya, inilah Aisakha telah terduduk diam menunggu sang kekasih terjaga.


γ€€


"Tuan, minum dulu". Bibi membawakan Aisakha segelas jus buah.


γ€€


"Terima kasih bi, tolong letakkan di situ aja dulu. Nanti saya minum!" Perintah Aisakha pada Bibi.


γ€€


"Gimana Nia waktu saya tinggal Bi?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Si non anteng tuan. Tidur saja, enggak gelisah, trus sudah nggak panas lagi". Jawab Bibi sambil tersenyum.


γ€€


"Sukurlah". Aisakha merasa tenang.


γ€€


"Tuan kenapa cepat bangunnya?" Sebenarnya bibi heran tadi saat Aisakha sudah muncul di depan pintu kamar Nia, fresh, sudah mandi dan terlihat sangat tampan.


γ€€


"Saya sudah enggak gantuk bi, sepertinya istirahatnya sudah cukup". Jawab Aisakha sambil memandang wajah cantik Nia yang masih tertidur pulas.


γ€€


"Mau Bibi bawakan sarapan tuan ke sini?" Bibi mengajukan pertanyaan baru pada Aisakha.


γ€€


"Tidak, nanti saja. Saya mau sarapan bareng Nia". Jawab Aisakha menolak tawaran Bibi.


γ€€


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan. Nanti kalau tuan perlu apa-apa, panggil saja". Ucap bibi sebelum permisi undur diri hadapan Aisakha untuk kembali ke dapur.


γ€€


Aisakha hanya menganguk pelan sambil menatap Bibi berlalu, keluar dari kamar Nia. Meninggalkan dirinya dan Nia yang sepertinya masih setia tertidur dalam mimpinya saat ini.


γ€€


Udah gak sakit lagikan? Aisakha mengelus pipi Nia dengan Ibu jarinya. Enggak boleh sakit lagi ya, aku sedih lihat kamu seperti ini sayang.Β 


γ€€


γ€€


***************


γ€€


"Tuan, cobalah beristirahat barang sejenak, ini sudah subuh. Kami ada di sini. Tuan tidak perlu kawatir". Para pengawal Aisakha mencoba meminta Paman untuk beristirahat. Sejak sang tuan mereka pergi meninggalkan ruang perawatan Bibi, para pengawal Aisakha melihat Paman hanya duduk termenung menatap kosong pada wajah pucat Bibi.


γ€€


"Isteriku, masih lamakah kamu tidurnya? Aku sangat merindukanmu". Bukannya menjawab apa yang di sarankan oleh para pengawal Aisakha, Paman malah terlihat menyentuh pipi Bibi Ros, dan mengajaknya bercerita.


γ€€


"Isteriku, aku boleh aku jujur". Paman masih saja berbicara sendiri di sambil meletakkan tangan bibi di bibirnya.

__ADS_1


γ€€


"Aku sudah tidak sanggup menahannya". Mata Paman mulai berkaca-kaca.


γ€€


"Isteriku, maafkan aku. Aku sudah mengacau". Paman masih menahan lama tangan bibi di bibirnya.


γ€€


"Aku mengacau terhadap Nia, Nia...ya Tuhan. Maafkan aku, aku sudah membuat Nia menjadi sakit". Paman terlihat begitu menyesal saat ini. Rasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada Nia membuat Paman berbicara terbata-bata.


γ€€


"Maafkan aku, maafkan aku". Hanya itu kata-kata mampu di ucapkan Paman.


γ€€


Suasana hening, Paman hanya bisa meratapi semua kesalahannya pada Nia di depan bibi yang hanya tertidur diam. Sekarang Paman benar-benar sadar kalau apa yang dilakukannya pada Aisakha tadi sangat jahat. Sangat tidak adil mengusir lelaki baik yang telah berkorban banyak untuk isterinya dan parahnya karena ulahnya mengusir Aisakha, berimbas pada kesehatan Nia.


γ€€


Keheningan hanya sesaat tercipta, tiba-tiba Paman berteriak panik. "TOLONG, TOLONG". Suara keras Paman membuat dua pengawal Aisakha yang di perintahkan menemani Paman lari tunggang-langgang masuk ke dalam kamar tempat bibi terbaring.


γ€€


"Tolong, tolong isteri saya". Paman berusaha memegang bahu bibi yang tengah berguncang keras.


γ€€


"Bagaimana bisa begini tuan?" Salah satu pengawal terlihat ikut panik, melihat tubuh bibi terguncang keras.


γ€€


"Saya tidak tau..cepat, tolong isteri saya!" Paman mulai ketakukan. Walaupun telah di tahan oleh kedua tangan Paman, tubuh bibi tetap terguncang keras.


γ€€


"Cepat telepon dokter. Perintahkan ke sini!" Pengawal yang di awal bertanya pada Paman, terlihat memberi perintah kepada temannya.


γ€€


Tidak butuh waktu lama, hanya hitungan menit saja para dokter dan perawat yang bertugas khusus menanggani Bibi telah sampai di ruang perawatan Bibi. "Mohon keluar sebentar, biar dokter bisa bekerja sebaik mungkin". Seorang perawat wanita meminta Paman dan para pengawal Aisakha untuk keluar.


γ€€


γ€€


"Tuan, percayakan semua pada dokter. Dokter akan melakukan yang terbaik, saya mohon. Demi kebaikan isteri anda". Perawat menolak keinginan Paman.


γ€€


Paman hanya bisa pasrah, demi kebaikan sang isteri, dengan sangat terpaksa Paman menuruti perintah perawat dan memilih berdiri di seberang pintu.


γ€€


"Tuan duduklah. Anda harus tenang". Pengawal yang tadi menghubungi tim dokter mengajak Paman duduk. Paman menjawab dengan mengeleng pelan, wujud penolakanya atas ajakan tersebut.


γ€€


"Telepon tuan, ceritakan situasi di sini". Pengawal tersebut beralih ke temannya, memintanya untuk menghubungi Aisakha.


γ€€


"Tuan siapa ha?" Paman langsung bertanya.


γ€€


"Tuan Aisakha, tuan kami". Jawab si pengawal.


γ€€


"Jangan, jangan. Kalian tidak boleh memberitahu tuan Aisakha". Paman melarang keras para pengawal mengabari Aisakha.


γ€€


"Tidak bisa tuan, tuan Aisakha harus tahu. Tuan dengarkan perintah beliau semalam. Kalau sampai kami tidak memberitahu, bisa habis kami berdua". Si pengawal terlihat takut.


γ€€


"JANGAN". Paman membentak para pengawal. "Saya bilang jangan ya jangan. Tuan Aisakha itu sedang merawat calon isterinya. Kalian jangan tambah beban pikirannya dengan semua ini". Paman mulai mengusap wajah menahan kesal.

__ADS_1


γ€€


"Tapi nanti kami yang di hukum". Pengawal tidak setuju.


γ€€


"Saya sebagai jaminan". Tunjuk Paman pada dadanya. "Kalian akan baik-baik saja. Tolong jangan bilang tuan Aisakha".


γ€€


γ€€


***************


γ€€


"Ehh, ehhh". Nia mulai mengerang sambil mengerakkan jemarinya yang berada di gengaman Aisakha.


γ€€


"Sayang, ini aku". Aisakha mengusap-usap rambut Nia.


γ€€


"Bilang aku apa yang sakit!" Perintah Aisakha pada Nia yang masih terlihat memejamkan mata.


γ€€


Nia merasa sedikit melayang, seakan-akan tubuhnya sangat ringan. Terbang kesana kemari terhembus angin. Sampai akhirnya dia bisa merasakan sentuhan hangat tangan seseorang yang sangat di kenalnya. Hentuhan hangat yang terasa dalam genggaman tangannya, yang menjalar perlahan membuat dirinya tenang.


γ€€


"Aku di sini, aku di sini". Pendengaran Nia merasa mendengar suara yang sangat di kenalnya. Nia merasa hafal, siapa pemilik suara itu.


γ€€


"Bukalah matamu, lihat aku". Lagi Nia memdengar suara khas yang sangat di sukainya.


γ€€


Pelan, pelan, kelopak mata Nia terbuka. Matanya langsung tertuju pada tangan kekar yang tengah mengengam tangannya. Nia menatap lekat tangan kekar itu, hatinya merasa kenal.


γ€€


"Kamu sudah bangun? Apa yang sakit? Bilang aku, apa yang sakit!" Aisakah menatap Nia yang hanya terdiam memandang ke arahnya.


γ€€


"Kamu? Aku mimpikan?" Nia memejamkan matanya.


γ€€


Aisakha berdiri, beralih duduk di tepi ranjang Nia. Tanpa aba-aba, Aisakha langsung memeluk Nia, mendekat tubuh mungil Nia di dadanya


γ€€


"Aku nyata sayang, aku nyata". Ucap Aisakha sambil mencium lama puncak kepala Nia. Dia ingin membuat Nia percaya bahwa Nia nyata. "Lihat". Ucap Aisakha meletakkan tangan Nia di dadanya, dia berharap Nia dapat mendengar detak jantungnya yang selalu menyebut nama kekasihnya itu.


γ€€


Nia pun dapat merasakan dada Aisakha bergerak pelan, setiap hembusan nafasnya terdengar jelas detak jantung lelaki yang dicintainya berbunyi sesuai ritme, indah terdengar di telinga Nia.


γ€€


"Mas..ini benar-benar kamu?" Nia mengerakkan jari-jarinyaΒ  di dada Aisakha, memastikan bunyi detak jantung yang terdengar di telinganya itu memang benar adanya, bukan mimpi atau sekedar harapannya saja.


γ€€


"Iya sayang, ini aku. Aisakhamu". Jawab Aisakha sambil terus memeluk Nia.


γ€€


"Tapi Paman, Paman bilang.....", Nia tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


γ€€


"Nia, mana mungkin aku akan meninggalkanmu. Tidak dulu tidak sekarang, aku telah berjanji padamu. Apa kamu lupa?" Aisakha sekali lagi mencium puncak kepala Nia. "Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu, kamu segalanya bagiku. Duniaku, nafasku, nyawaku, jadi mana mungkin aku akan pergi dari sisimu, walaupun Paman mengusirku. Aku tidak akan menyerah. Kamu janganΒ  pernah lupakan itu", bisik Aisakha di telinga Nia.


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2