
🌈🌈🌈🌈🌈
Pagi sabtu yang cerah, udara dingin mulai beranjak pergi. Semua orang mulai sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang sekedar olah raga pagi di kala libur berkerja, ada pula yang memilih ke luar kota, mengisi libur akhir pekan bersama keluarga tercinta atau orang-orang terkasih. Dan tentu saja, masih ada juga yang harus berkejar waktu untuk sampai ke kantor seperti biasa. Hari sabtu bagi sebagian orang ternyata masih masuk dalam hari kerja.
Tetapi, untuk personil umum di perusahaan sebesar Sunjaya Company, hari sabtu adalah hari libur umum. Hari di mana semua orang bisa melakukan kebebasan berlibur selama akhir pekan. Dan ini juga berlaku bagi Kristo, orang kepercayaan Aisakha, si Presdir tampan suami Syania ini.
Pagi ini, meskipun jarum jam masih 30 menit lagi untuk bertengger di angka 7 pas. Tetapi, Kristo dengan mobilnya sudah hampir sampai di tempat tujuannya.
Kristo sudah mendapat izin dari sang tuan untuk berlibur hari ini, untuk bebas melaksanakan keperluan pribadinya. Yang tentu saja, sudah di ketahui oleh Aisakha.
Jadilah, di kesejukan udara yang di tiup sepoinya angin, Kristo tersenyum seindah mentari pagi. Keputusannya sudah bulat, tekadnya begitu kuat. Kristo akan menggunakan prinsip pantang mundur, tidak mau kabur walaupun akan ketemu situasi yang sulit di atur. Prinsip yang sedikit aneh, tetapi kalau saja semuanya tahu dalam rangka apa seorang Kristo begitu bersemangat pagi ini. Maka, di jamin bakal bisa mengerti arti prinsipnya itu.
Mobil berkelas Kristo tidak bisa masuk ke dalam gang kecil, apa mau di kata. Kristo memarkir di luar gang, lanjut berjalan ke arah tujuan.
Sepanjang jalan Kristo menjadi bahan pemandangan indah bagi ibu-ibu kompleks gang sempit, memberi kesegaran dan kebahagian tersendiri bagi mata-mata yang lelah dengan hiruk pikuk kota.
“Mau kemana Mas tampan ?” Tanya seorang ibu dengan keramahan yang mendekati kelebayan yang hakiki. Membuat bulu kuduk berdiri dengan sikap genit wanita yang jauh dari kata muda itu.
“Mau ke rumah pacar saya, Bu “. Kristo berusaha bersikap baik.
“Aihhh, sudah ada yang punya rupanya ?” Merasa sangat merugi. Tetapi Kristo, nampak senang dan melanjutkan langkah pastinya.
Hingga akhirnya, perjalanan singkat selesai. Kristo sudah sampai di depan kontrakan Resya. Rumah sederhana dengan teras bersih yang berhias 2 pot bunga yang lagi menghebohkan dunia tanaman hias saat ini, aglonema berdaun merah.
“Sepi “, pengamatan singkat sambil celingak celingguk ke sana sini.
“Den, aden “. Suara lelaki tua berasal dari jalan di depan rumah.
“Oh, iya Pak. Panggil saya ?” Kristo menoleh ke belakang, menyadari panggilan tadi di tujukan untuk dirinya.
“Cari non Resya ya ?” Si Bapak tersenyum.
“Benar Pak, tapi sepi “. Kristo menunjuk ke pintu rumah Resya.
__ADS_1
“Itu den, non Resya di warung, di seberang gang. Tadi Bapak lihat si non lagi belanja di sana “. Memberi penjelasan.
“Ooo, begitu rupanya Pak “. Menangguk paham. “Baiklah Pak, terima kasih banyak. Saya tunggu saja, mungkin bentar lagi Resya balik “.
“Ya sudah, terserah aden saja. Bapak permisi ya “. Mengangkat tangan kanan.
“Baik Pak “. Membalas mengangkat tangan kanan dengan sopan.
Kristo memilih duduk di pembatas kontrakan, membuka handphonenya dan menemukan satu email baru. Akhirnya, Kristo tenggelam dalam bacaannya, mempelajari email baru tersebut yang ternyata berhubungan dengan perusahaan.
Waktu berlalu, menit berganti dan Kristo masih fokus pada handphonenya. Tidak menyadari ada sosok gadis cantik dengan rambut sebahu yang di kuncir tinggi, lengkap dengan kantong kresek warna putih yang berisi belanjaan pagi ini, tengah berdiri satu meter di belakang punggungnya. Sedang coba mengenali punggung yang fokus dengan benda kecil di tangan.
Siapa ya ? Rasanya masih pagi deh buat jam bertamu. Membatin sambil memperhatikan sekitarnya. Sepi, sedang tidak ada yang lalu lalang.
“Maaf cari siapa ?” Gagal mengenali sosok lelaki yang duduk di pembatas kontrakannya.
“Hai “. Membalik badan dan melambaikan tangannya, Kristo sedang berusaha membuat tampilan dirinya sangat imut di depan Resya.
“Ka, kamu, eeh...Bapak ?” Kaget bukan kepalang. Kemudian, Buggghhh.....
“Kamu enggak papah ?” Panik dan mendekat ke arah Resya.
“Mana kunci rumah kamu ?” Menatap serius. “Mana ?” Tambah panik mendapati Resya diam.
“Manaaaaaa Sya ?” Bersuara agak keras.
“Hah “, mulai sadar dari keterkejutannya dengan sosok Kristo yang ada di depannya. “I, ini “. Memberikan kunci.
Kristo mengapai kresek belanjaan Resya yang jatuh dan segera membuka pintu kontrakan Resya. Membuka lebar dan menaruh sembarang. Kemudian, berjalan cepat ke arah Resya yang masih belum pulih 100 persen dari rasa kagetnya.
“Astaga sakit banget ya ?” menduga penyebab Resya masih terbengong-bengong di sana karena rasa sakit di jempol kakinya. “Ya udah, aku gendong ya ?” Tidak menunggu persetujuan Resya, Kristo langsung mengendong Resya. Membawa Resya masuk ke dalam rumah. Mendudukkannya di karpet ruang tamu.
Ta, tadi, tadi itu apa ya ? Membatin bingung. Semua gerakan terasa sangat cepat, Resya gagal paham adegan yang telah berlangsung. Tunggu, tadi, tadi itu ? Aku, dia ?
__ADS_1
“Ya Tuhan............... !” Menatap Kristo dengan kepanikan tingkat tinggi.
“Mati aku !!!!” Memperhatikan sekitar jalan di depan rumah. Sepi, masih seperti tadi tidak ada orang yang lalu lalang.
Dan Kristo, “sakit banget ya ? Yang mana ya ?” Meletakkan tangan di jari kaki kiri Resya.
“Kamu, kamu tadi ngapain hah ?” Histeris sendiri. “Itu juga, ngapain tangannya di sana ?” Menunjuk kesal.
“Aku....... “,
“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan tadi ?” Resya masih histeris. “Kalau saja tadi ada yang lihat kamu gendong aku, bisa habis kita “.
Kristo cuma memasang tampang wajah santai dengan mengangkat bahu pelan.
“Lagian mau apa coba datang ke sini pagi-pagi ?” Sekarang mulai kesal melihat sikap santai Kristo.
“Ihhhhhhhh....Kalau ada yang lihat tadi, entah apa kata mereka “. Geram.
“Paling kata mereka, ‘ayo nikahkan saja mereka berdua’, gituh “. Kristo merasa lucu melihat sikap kesal Resya.
“Sudah gila apa, nikah ? Bapak, salah saya apa coba sama Bapak ?” merapatkan gigi dan memberi tatapan geram pada Kristo.
“Sudahlah, gak usah di bahas. Itu kaki masih sakit ?” Masih bersikap santai, tidak terpengaruh dengan kekesalan Kristo.
“Apa gak usah di bahas ?” Tidak terima. “Bapak itu, sudah nyaris buat saya kena masalah di sini, trus sudah buat jempol saya sakit. Sekarang malah tanpa dosa bilang jangan bahas “.
“Apa, sakit banget ya ?” Yang di dengar Kristo hanya bagian akhir kata-kata Resya. Kristo langsung berdiri, berjalan ke dapur meninggalkan Resya yang tadinya sudah sampai di tingkat kekesalan level satu, sekarang menjadi tergangga heran.
“Heyyyyy....mau kemana ?” Teriak kuat dan seketikan itu juga segera menutup mulutnya sendiri.
“Ma, mati aku. Ngapain coba teriak seperti itu ?” Melihat ke sekitar jalan di depan rumah. Takut kalau ada yang menyadari suara kerasnya.
Ahhh, aman....Membatin senang, tahu kalau jalanan masih sepi. DASAR KRISTO sompret, ngapain coba tergesa-gesa ke dapur aku. Ihhhhhhhhhh, awas ya kau Kristo. Membatin penuh emosi.
__ADS_1