SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
70


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Pintu mobil di buka lebar oleh Kristo untuk sang tuan dan calon nyanyo mudanya. Dengan hormat Kristo memastikan Nia turun secara baik dari sedan mewah, berlogo produk pabrikan mahal milik Aisakha. Nia sedikit ragu, meskipun Aisakha sudah mengulurkan tangannya untuk menuntun Nia. Tetap saja Nia butuh waktu sepersekian detik hanya buat menenangkan dirinya.


 


Kantor pusat Sunjaya Company, bangunan bertingkat yang seakan sampai di langit ke tujuh ini terlalu berkelas bagi Nia. Sejenak Nia bertanya, benarkan dirinya akan menjadi pendamping Aisakha seumur hidupnya. Bukan mimpi dan bukan hanya khayalan seorang gadis biasa di dunia nyata ?


 


 


"Apa yang menganggu pikiran isteriku ". Suara Aisakha membuat isi perut Nia bergejolak tak menentu.


 


Glekkk...


Nia serta merta memperhartikan sekelilingnya.


 


"Sa, sayang..jangan panggil aku seperti itu. Nanti ada yang dengar loh ". Nia spontan saja berdiri dan menutup bibir seksi sang kekasih dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dibiarkan menempel di dada bidang kekasihnya itu.


 


"Kalau aku membiasakan diri memanggilmu isteriku tidak boleh karena kamu takut ada yang dengar. Lantas ini apa namanya ?" Sepasang alis tebal Aisakha terlihat naik turun mengikuti letak tangan Nia di bibirnya.


 


Dan adegan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta ini sontak mencemarkan mata jomblo Kristo, hingga dengan sangat berat hati Kristo memilih menundukkan padangannya. Dari pada menjadi cemburu dengan jiwa meronta akibat tuntutan pengen hal yang sama. Jadi Kristo berpura-pura semua tidak nampak di pelupuk matanya. Mendadak Kristo berpura-pura buta.


 


"Ehhhhh ?" Secepat kilat Nia menjauhkan tangannya dari dada dan bibir Aisakha.


 


"Maaf, maaf..aku hilaf ". Aku Nia dengan polosnya.


 

__ADS_1


"Hahaha, hilaf atau niat ?" Tanya Aisakha sambil tertawa senang.


 


"Sung, sungguh...", suara Nia mendadak pelan.


 


"Sudah ". Aisakha mengangkat tangan kiri Nia dan meletakkan di tangannya, melingkarkan sempurna di sana, membuat Nia sangat salah tingkah.


 


"Ayo nyonya Aisakha...kita masuk ke kantor Sunjaya Company. Aku ingin memperkenalkan kamu kepada seisi orang di kantor ini. Aku ingin mereka semua tahu, kamu adalah milikku, miliku seorang saja ". Ucap Aisakha dengan penuh percaya diri. Sungguh bukan kata-kata pemanis saja untuk semua yang di tuturkan Aisakha tadi, karena sejak awal dirinya berhasil menjadi satu-satunya lelaki dalam hidup Nia, maka sejak saat itu Aisakha ingin membuat semua orang tahu siapakan wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya seumur hidup nanti.


 


"I, iya sayang ", jawab Nia gugup.


 


"Jangan takut dan tidak boleh ragu, semua ini adalah milikmu juga saat kita sudah menikah nanti. Jadi angkat kepalamu, jangan malu ya !" Aisakha berusaha menyemangati Nia.


 


 


 


 


**************


 


 


"Kau....", Edo memukul keras meja tempat Toni, Angga, Dafi dan Ardi duduk. Jelas tampak wajah marah dan ngenderang kesal Edo pada Dafi sesaat setelah sahabatnya itu mengusirnya pergi.


 


"Apa ?" Tantang Dafi tidak senang melihat Edo memukul meja keras tepat di depan wajahnya.


 

__ADS_1


"Kau yang pergi sana! Ini acaraku, pestaku ". Usir Edo.


 


"Oh, iya. Aku lupa, ini pesta pernikahanmu ya. Pernikahanmu dengan wanita yang sangat kau cintai ". Ejek Dafi fengan nada sinis pada Edo.


 


"Tutup mulutmu setan !" Sekarang Edo terang-terangan memaki Dafi dengan suara lantangnya.


 


"Edo..apa-apaan kau ini ? Jangan kampungan gituh !" Melihat situasi sudah tidak kondusif lagi, Toni cepat berdiri. Memilih untuk meredakan emosi kedua sahabatnya itu.


 


"Aku, aku kau bilang kampungan ?" Ucap Toni sambil menunjuk satu persatu wajah para sahabatnya yang sekarang sudah berdiri semua dari kursi mereka masing - masing. "Lantas kalian ini apa namanya ? Kalian nggak kampungan ya ? Datang kesini hanya untuk mengejek penderitaan aku. Itu, itu apa namanya, ha  ?" Tanya Edo menjadi-jadi


 


"Cukup..kami datang kesini bukan untuk mendengar makianmu, dan satu hal lagi ! Tentang penderitaan yang kau bilang, cihhhh. Apa kau sudah amnesia kalau kami semua ini, sahabatmu ini tidak pernah sekalipun tidak nyinyir untuk mengingatkan kau, menasehati kau setiap detik setiap menit. Tapi apa realitanya ha, kau brengsek Do ". Suara Toni tidak kalah kuat memaki Edo.


 


"Kau menderitakan, jadi selamat menikmati penderitaan yang kau buat sendiri. Selamat bersenang-senang dengan pernikahanmu. Kami semua tidak mau ambil perduli ". Toni bersiap melangkah. "Ayo.


Kita punya pekerjaan yang lebih penting dari sekedar hadir di tempat ini ". Ajak Toni tegas pada Dafi, Angga dan Ardi.


 


Dengan langkah mantap, Dafi, Angga dan Toni berjalan gagah di belakang langkah Toni dengan pasti. Tanpa menatap Edo, apa lagi sekedar berbasa basi. Mereka semua pergi dengan kesal meninggalkan Edo yang terlihat bengong tidak percaya.


 


"Setannnnnn....arrrghhhhh, kalian semua setan ". Teriak Edo sepenuh jiwa sambil menendang keras meja yang tadi di pakai para sahabatnya itu, hingga terjungkir balik dan menjatuhkan semua isi di atasnya dengan kacau. Pecahan kaca melayang kemana-mana dan suasana mendadak tegang tidak terkendali. Edo terlihat mengamuk hebat di pesta pernikahan sakralnya sendiri.


 


"Ya...pergilah ! Pergilah kalian semua ! Aku tidak butuh orang-orang seperti kalian. Pergiiiiiii !" Sekali lagi Edo menyempatkan diri meneriaki Toni, Dafi, Angga dan Ardi dengan sepenuh jiwa, sekuat emosi benci dan marahnya yang telah terkumpul menjadi satu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2