SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
170


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Sepanjang perjalanan, Kristo mengajak Resya bercerita berbagai topik bahasan. Mulai dari pekerjaan Resya di laboratorium, tentang orang tuanya di Bandung, tentang adiknya yang masih SMA, tentang pertemanannya bersama Nia, hingga hal-hal receh yang mungkin tidak penting. Tetapi, mereka berdua menikmati masa-masa berbincang tersebut.


“Hahahaha....”, Resya sedang tertawa. Ada air mata jatuh di sudut matanya. Kristo berhasil membuat lelucon yang mengocok isi perut Resya.


Lembut dan dengan hati-hati, Kristo menghapus air mata yang jatuh di sudut mata Resya. Resya kaget, menahan nafas dan menjadi kaku.


Ga, gawat..bisa mati muda aku kalau Pak Kristo sebentar-sebentar baik sama aku. Jantung aku bermasalah terus saat Pak Kristo bersikap manis sama aku. Aduhhhh, gimana ini ? Membatin sambil mengigit bibir bawah.


“Lucu banget ya ?” tanya Kristo sambil tetap fokus mengemudikan mobil.


“I, iya Pak “. Tergagap menjawab.


“Sampe netes air matanya “. Menatap Resya sesaat.


“Bapak pinter buat lelucon “. Mencoba memuji.


“Begitu ya ?” nampak senang.


“Kamu kalau.... “, pembicaraan Kristo terhenti. Ada bunyi panggilan di layar handphone Resya.


“Maaf Bapak, aku terima dulu ya “. Berucap sambil membaca siapakah nama penelepon di layar handphonenya.


“Iya, silahkan saja “. Kembali fokus pada setir mobil.


“Hallo “. Resya pun menerima panggilan masuk itu.


“Tidak, sama sekali enggak ganggu kok “. Kristo mendengarkan dalam diamnya, isi pembicaraan Resya.


Ada jeda sesaat, Kristo yakin si penelepon sedang berbicara di seberang sana.


“Ada apa, cerita saja “. Suara Resya sangat yakin.


“Ooo, sabtu besok ya “. Resya seperti sedang berpikir. “Tujuannya ?”

__ADS_1


Kristo meninggikan sinyal telinganya.


“Kalau tujuannya baju atau sepatu, sebenarnya ada banyak opsinya sih. Misalnya, Mall yang di pusat kota. Atau mungkin mau langsung ke grosir juga bisa “. Memberi usul.


“Kalau kamu mau yang khusus dan hanya satu, itu ke butik saja “. Ucap Resya kemudian.


“Butik di Veteran masuk kategori lengkap dengan harga standar kok “. Mencoba menyakinkan.


“Boleh deh, gimana baiknya sama kamu saja “. Mengangguk-anggukan kepala.


“Enggak usah, kita janjian di mana gituh. Soalnya, kalau kamu jemput aku nanti mutarnya jauh “. Berbicara sambil mengerakkan tangan kiri.


“Terserah kamu saja. Saya sih mana yang baik, asalkan kamu juga gak jadi sulit karena harus muter-muter “. Sekali lagi mengangguk pelan.


“Tenang, sama sekali enggak ngerepotin kok. Saya malah senang bisa bantu kamu “. Tersenyum tulus, Kristo memperhatikan sekilas.


“Ya udah..sampe nanti, daaaa “. Pembicaraan telepon selesai. Resya kembali menyimpan handphonenya di dalam tas.


“Teman ?” Kristo bertanya sambil melirik wajah Resya. Masih ada sisa senyum di bibir itu.


“Iya Pak “. Jawaban singkat.


“Ya teman, Pak “. Merasa tidak wajib menjelaskan identitas si penelepon pada Kristo.


“Cewek, cowok ?” mencari cara lain buat tahu.


“Cowok “. Jujur tanpa dosa.


“Heh “. Mendengus kesal. “Mau ke mana sama tuh cowok ?” sewot enggak jelas.


“Mau ada acara Pak “. Heran dengan perubahan sikap Kristo yang drastis.


“Iya aku tahu mau ada acara “. Kelepasan bicara dengan nada tinggi. “Tapi apa, ke mana ?”


“Memangnya kenapa Pak ?” menatap sisi kiri wajah Kristo.


“Ya buat tahu saja “. Tidak tahu apa penyebab dirinya mendadak sangat ingin tahu.

__ADS_1


Ah, alasan bodoh. Pasti dia memasang ekspresi heran sekarang. Lagi pula apa urusannya sama aku, kenapa juga aku harus merasa perlu tahu. Membatin kesal pada diri sendiri.


“kalau hanya buat tahu saja, aku rasa bukan masuk kategori aku wajib jawab Pak “. Merasa kesal dengan suara keras Kristo padanya.


“Aku Cuma khawatir saja. Kamu itu masih baru di sini, nanti di gangguin orang gimana ? Apa lagi kamu pergi sama cowok. Memang ada jamina cowok itu baik, bukan punya niat jahat ?” mendadak posesif.


“Bapak enggak perlu repot memikirkan saya “. Resya tambah kesal, sikap Kristo padanya terasa aneh. “Saya bisa jaga diri. Lagi pula saya janjian sama Bayu. Dan saya yakin Bayu itu orang baik “.


“Apa, kamu bilang apa ?” mendadak menginjak rem. “Kamu janjian sama Bayu ?” tidak terima.


“Iya, sama Bayu “. Menantang kesal.


“Tidak boleh !” memberi tatapan tegas pada Resya.


“Kenapa tidak boleh ? Apa alasannya ?” Merasa tidak terima di larang begitu saja.


“Karena saya larang, gak denger tuh kuping ?” merasa tersudut, tidak menemukan alasan melarang Resya.


“Saya dengar, karena itu saya tanya. Alasannya apa ?” semakin ngotot.


“Kamu itu belum kenal siapa Bayu, sudah berani janjian. Gimana kalau Bayu itu punya niat jahat sama kamu, gimana kalau Bayu itu bukan orang baik ?” merasa sudah memberi alasan paling masuk akal.


“Hahahaha “, tertawa dengan ekspresi wajah kesal. “Bapak aneh, cara Bapak menuduh Bayu sangat aneh. Padahal baik Bapak atau saya, kita sama-sama tahu kalau Bayu itu orang baik. Kalau tidak, mana mungkin Bapak biarkan Bayu menjadi pengawal pribadi Nia. Jangan bilang kalau Bapak tidak mengecek terlebih dahulu latar orang-orang yang akan menjadi pelindung istri Presdir Sunjaya Company ?”


Darrrrr..


Semua perkataan Resya terasa menohok hatinya, Kristo terdiam dengan pikiran yang membenarkan semua penuturan Resya barusan.


“Saya enggak tahu ada apa sama Bapak “. Bicara pelan. “Bapak kadang baik, kadang manis, dan kadang membuat saya takut. Tetapi, Bapak dan saya tidak lebih dari atasan dan bawahan. Jadi tolong Pak, jangan melarang saya melakukan sesuatu yang jelas-jelas tidak melanggar aturan perusahaan ataupun hukum negara !” Putus asa tidak tahu harus bersikap seperti apa.


“Saya permisi Pak. Saya enggak jadi ikut Bapak menemui Nia “. Langsung membuka pintu mobil tanpa memberikan kesempatan Kristo buat menjawab.


Resya berjalan cepat, bahkan nyaris setengah berlari. Matanya berkaca-kaca, pikirannya bingung sendiri. Semua tidak dia mengerti, semua tidak dia pahami. Sekarang, Resya mulai menjauh dari pandangan mata Kristo. Membuat Kristo tersadar kalau dirinya sudah di tinggal Resya begitu saja.


Kristo berniat membuka pintu, tetapi ?


Tin...tinnnnnnnn....tinnn....

__ADS_1


Bunyi klakson mobil yang ternyata sudah berbaris panjang di belakang mobilnya. Ulahnya berhenti mendadak, sukses membuat kemacetan.


“Sial “. Upat Kristo kesal, memukul-mukul benda bulat di depannya itu beberapa kali, lalu menyalakan mesin mobil dan terpaksa melanjutkan perjalanan ke istana sang tuan. Sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengejar Resya yang sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.


__ADS_2