
🌈🌈🌈🌈🌈
“Gimana acara Spanya tadi ?” Aisakha dan Nia sedang menikmati makan malam mereka di teras belakang cottage tempat mereka menginap. Seperti janji Aisakha, 4 jam setelah dirinya meninggalkan Nia, maka dia segera kembali pada Nia. Mendapati Nia sedang tertawa lepas sambil bermain ayunan dan menikmati senja sore itu.
“Enakkkkk banget “. Nia tersenyum cerah pada Aisakha. “Pijatannya sangat profesional, aku suka “. Puji Nia.
“Baguslah kalau begitu “. Ada senyum usil di sudut bibir Aisakha. “Berati istriku ini sangat tahu persiapan apa yang harus di lakukan untuk malam nanti “. Goda Aisakha hingga membuat wajah Nia memerah di antara pancaran cahaya romantis lilin di meja makan mereka.
“Kamu jangan mesum sayang “. Tangan Nia agak gemetar. Cara mengoda suaminya itu berhasil membuat Nia malu.
“Astaga istriku, sudah lewat satu bulan kita menikah dan kamu masih malu padaku ?” Aisakha meletakkan tangannya di atas punggung tangan kanan Nia.
“Ya, ya..rasanya apa yang kamu ucapkan tadi itu sangat pribadi banget. Giman kalau ada yang dengar atau, gimana...gimana kalau ada yang lihat “. Nia panik sambil melihat ke sekelilingnya cepat.
“Tidak akan ada yang berani mendengar apa lagi melihat kita, tanpa seizin aku. Privasi di Pulau ini sangat terpercaya sayang. Kamu jangan khawatir ya “. Aisakha mengangkat tangan kanan Nia ke arah bibirnya, mengecup dalam.
“Habiskan makanmu, setelah ini aku ingin membawamu menyusuri jembatan di sekeliling Pulau “. Suara Aisakha yang langsung di iyakan oleh Nia.
Dan setelah itu, benar saja. Aisakha membawa Nia berjalan santai di bawah cahaya lembut bulan purnama. Jalan santai yang sangat mereka nikmati, di mana mereka saling bercerita lepas tentang banyak hal. Ada gelak tawa, bahkan ada lari-lari kecil saling mengejar di atas jembatan. Penuh suka penuh cinta, membuat sepasang suami istri ini memiliki dunia hanya untuk mereka berdua.
Lama sudah putaran waktu berlalu, semua sudut jembatan telah di tempuh. Aisakha melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Sudah hampir jam sembilan malam. Sudah waktunya bagi Aisakha untuk mengajak Nia pada acara mereka berikutnya.
“Kita balik ke kamar yuk “. Ajak Aisakha sambil merangkul Nia mesra.
“Enggak nikmati suasana bulan purnama dulu sayang ? Kan kita bisa lanjut cerita lagi “. Pinta Nia yang enggan meninggalkan cahaya bulan malam ini.
“Kita masih bisa menikmati bulan purnama di tempat yang akan aku siapkan “. Aisakha mengecup pelan pipi Nia. “Aku jamin kamu pasti suka “.
“Apa, sayang ? Kamu siapin aku apa ?” Nia terlihat antusias.
“Nanti di kamar aku kasih tahu. Sekarang kita masuk ya “. Aisakha menggandeng tangan Nia dan berjalan kembali ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
Pintu di depan di tutup, pintu kamar di buka. Nia menemukan sebuah kotak unggu di atas ranjang.
“Apa itu sayang ?” Nia menunjuk kotak unggu dengan pita unggu itu.
“Bukalah, itu hadiah buat kamu, dan setelah itu aku tunggu di teras, ya “. Suara Aisakha lembut dan berjalan meninggalkan Nia di dalam kamar sendiri.
Nia membuka kotak kotak hadiahnya, tertegu tidak percaya. Malu sekaligus risih melihat isi kotak unggu, hadiah sang suami untuk dirinya. Nia mengangkat isi di dalam kotak itu. Baju renang yang sangat seksi berwarna putih. Nia memegang baju renang yang hanya menutupi bagian tertentu tubuhnya secara seadanya. Nia menelan ludah, glekkkkkk.....
Jantungnya berdegub kencang, suaranya sangat ribut dan terdengar sangat kacau.
Bagaimana ini, masa iya aku pake baju seperti ini ? Itu si Mas apaan coba, bajunya seksi banget seperti ini. Akukan malu, ini tuh sama juga gak pake baju, ke buka semua. Batin Nia sambil menutup wajahnya dengan lembar kain yang ada di tangannya.
Lama Nia menatap baju di tangannya, mempertimbangkan memakai atau tidak baju tersebut. Mencari solusi terbaik di atas rasa malunya.
Pake aja kali ya. Kan buat suami bahagia itu besar pahalanya, apa lagi inikan Mas yang pilih, Mas yang khusus hadiahkan buat aku. Batin Nia menguatkan diri untuk memakai baju renang super seksi, hadiah dari suami tercintanya.
Beberapa menit berlalu, Nia mematutkan dirinya di depan cermin. Wajahnya sangat merah, rasa malu menghinggapi dirinya saat melihat sosok wanita cantik dengan baju seksi berdiri di depan kaca.
“Tapi sudah di pake juga, mau gimana lagi. Mas pasti pengen lihat aku pake ini. Ya udah deh, tahan malunya. Kan sama suami sendiri “. Nia akhirnya memasrahkan diri. Menguatkan hatinya untuk melangkah keluar. Menuju teras tempat Aisakha menunggu.
Nia mendapati suaminya itu sedang duduk di tepi kolam renang pribadi mereka. Nia melihat punggung putih Aisakha.
Glekkkkk.....
Lagi-lagi Nia kesulitan menelan air ludahnya sendiri. Aisakha menyadari kedatangannya, sekarang suaminya itu sedang berdiri dan berjalan ke arahnya. Aisakha terlihat sangat tampan dengan hanya memakai balutan celana renang. Nia salah tingkah, pemandangan akan kesempurnaan tubuh sang suami sangat menggoda. Tetapi dirinya sangat malu, jadilah Nia terdiam salah tingkah. Sebentar lihat ke arah Aisakha yang terus melangkah kepadanya, dan sebentar kemudian membuang muka, melihat sisi lain kolam untuk menenangkan hatinya.
“Kamu seksi sekali sayang “. Bisik Aiskaha lembut di telinga Nia, membuat jantung Nia nyaris melompat keluar saking malunya. “Apa kamu berencana menggoda aku “. Satu kecupan lembut di leher Nia, membuat Nia merinding geli.
“Dan, dan kamu juga tampan sekali sayang, kamu bagaikan titisan dewa di Atena sana . Apa kamu, apa kamu juga berencana menggoda aku ?” Tanya Nia terbata-bata akibat bibir Aisakha yang sedang sibuk bermain di lehernya.
“Tentu saja aku sangat berharap bisa menggoda bidadariku ini, aku ingin membuat dia selalu memandangi aku dan hanya aku seumur hidupnya, membuat dia hanya tergoda dan tergila-gila hanya pada aku “, Aisakha membuat tanda kepemilikan di leher Nia, Nia mengerang pelan akibat ulah sang suami.
“Aku hanya mampu lihat kamu sayang, karena dalam hati dan hidupku itu Cuma ada kamu “. Nia menjauhkan bibir suaminya dari lehernya. Nia ingin Aisakha memandangi matanya, Nia ingin Aiskaha tahu isi hatinya terdalam.
__ADS_1
“Aku cinta kamu isteriku “, Aisakha mengendong Nia. Membawa istrinya itu masuk ke dalam kolam renang, masih ada aktivitas berikutnya yang harus mereka lakukan di dalam sana.
“Dingin ?” Tanya Aisakha menurunkan Nia di dalam air.
Nia menggeleng pelan, menikmati air kolam yang ternyata terasa hangat di bawah sinar rembulan.
“Mau lomba renang ?” Tanya Aisakha membuat Nia kembali fokus pada suaminya itu.
“Boleh, siapa takut “. Suara Nia yakin.
“Tapi ada hukuman bagi yang kalah, bagaimana ?” Tantang Aisakha.
“Apa hukumannya ?” Nia sedikit ragu.
“Yang kalah harus pasrah dan patuh pada yang menang “, senyum jahil mewarnai bibir Aisakha.
Ini ada motif terselubung deh kayaknya. Batin Nia mengamati wajah Aisakha.
“Pasrah dan patuh untuk apa ?” Nia meminta kepastian.
“Untuk apa saja, bebas tanpa menolak, tanpa protes “. Penuturan Aisakha membuat Nia mengerutkan keningnya.
“Bagaimana istriku ?” Aisakha mendekatkan dirinya pada Nia. Memandangi Nia yang seakan sedang berpikir serius.
Kalau aku menang pasti sangat menyenangkan. Aku pengen banget nguslin kamu Mas, pengen suruh kamu ini itu, pengen dandanin kamu yang aneh-aneh, pengen buat kamu jadi jelek. Habis kamu tampan banget sih, hihihihi. Ihhh, seru tuh. Batin Nia senang dengan ide cemerlangnya.
Tapi....iya kalau menang. Lah kalau kalah, habis aku di hukum. Sekarang batin Nia meragu.
“Takut ?” Tanya Aisakha setengah mengejek.
“Enak saja “. Spontan tidak terima. “Ayo kita lomba “. Suara Nia keras. “Aku pasti menang sayang, dan kamu siap-siap ya. Aku akan menghukummu “. Suara Nia penuh keyakinan.
__ADS_1