SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
83


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Pasang telingamu baik-baik !" Toni menatap Edo yang hanya tertunduk menahan sakit. "Kami semua punya cerita untukmu !"


 


"Tiga tahun lalu, saat orang tuamu memindahkan perawatanmu ke Rumah Sakit di sini, Angga, Ardi dan Dafi memintaku untuk menghubungi Nia. Memberitahukan musibah yang menimpamu ". Toni memulai bercerita dan Edo, Edo memasang wajah malas mendengar semuanya.


 


"Apakah kau masih seangkuh ini beberapa saat lagi ?" Ardi bisa melihat gelagat Edo yang acuh dengan penuturan Toni barusan.


 


"Sudah biarkan saja ! Aku hanya menghajar wajah dan tubuhnya. Aku yakin telinganya masih berfungsi baik !" Ucap Toni pada Ardi.


 


"Nia datang ke Rumah Sakit ", Toni melanjutkan ceritanya. "Dia terlihat sangat cemas, aku yang bertugas menunggu Nia di teras Rumah Sakit. Wajahnya pucat, tangan sangat dingin ". Kenang Toni.


 


Sementara Edo, "cihhh ". Edo masih saja merasa malas mendengar nama Nia di sebut berkali-kali oleh Toni.


 


"Aku membawa Nia ke arah ruang gawat darurat, tapi aku tidak membiarkan Nia mendekati orang tuamu ". Toni mengabaikan sikap acuh Edo dan melanjutkan ceritanya. "Khususnya dari Mamamu. Kau tahu kenapa ?"


 


"Karena sejak kami sampai di Rumah Sakit, sejak Mamamu melihat kondisimu. Tidak ada satu detikpun dilewatkan oleh Mamamu tanpa menyalahkan Nia sebagai penyebab musibah yang kau alami ". Semua bisa melihat ada ekspresi terkejut di wajah Edo.


 


"Nia memang sangat baik, dia begitu terpukul melihat kedua orang tuamu yang sangat bersedih saat itu. Meskipun kami semua menahan Nia agar tidak mendekati Papa dan Mamamu, Nia tetap saja tidak mau. Nia bertekad akan berbagi duga bersama Papa dan Mamamu, Nia bersungguh-sungguh akan merawatmu ". Toni menarik nafas sesaat.


 


"Tapi Mamamu sangat kejam pada Nia, bukannya kasihan melihat Nia yang terus menangis, Mamamu malah memaki Nia. Entah apalagi sebutan hina yang tidak diucapkannya pada Nia, Mamamu menyalahkan Nia atas musibahmu Do. Dia mendorong Nia keras dan Mamamu mengusir Nia ". Edo terdiam.


 


Sesaat Edo hanya bisa diam, entah apa yang sedang di rasakannya. Semua menyadari kalau saat ini Edo mendadak menjadi sangat pendiam.


 


"Nia bersimpu memohon-mohon pada Mamamu, dia tidak ingin dijauhkan darimu, dia tidak ingin pergi dari sisimu. Tapi Mamamu yang memang dari awal tidak pernah suka pada Nia, dia terus saja menghina dan mengusir Nia ".


 


Edo mengelengkan kepalanya tidak percaya. "Kau bohong, kau mencoba memanipulasi akukan ? Jelas bukan seperti itu ceritanya ".

__ADS_1


 


"Ooo, jadi menurutmu semua cerita versi Mamamu yang benar ? Heh, kau memang sangat bodoh Do. Kami semua ada di sana saat itu, bahkan Papamu ada di sana. Dan kau.....? Lebih baik kau mati saja Do ". Sumpah Angga kesal.


 


"Jadi, jadi.....?" Edo mulai gelisah sendiri.


 


"Benar Do, Mamamu memanfaatkan situasi saat itu untuk menjauhkanmu dari Nia ". Jawab Toni yang seakan tahu isi kepala Edo.


 


"Tapi, tapi kenapa dia tidak datang menemuiku di lain waktu. Apa dia tidak tahu batapa aku merindukannya ?" Edo menutup wajahnya, masih ada rasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada.


 


"Kau mau Nia datang sambil berlari-lari kecil dan bersenandung riang kepada padamu ? Setelah dia di hina sedemikian rupa dan di paksa berjanji menjauhimu selamanya ? Kemudian dia melenggang manis kepadamu, melupakan semua penghinaan Mamamu dan tersenyum hangat untukmu ? Ya Tuhan....kau memang bodoh Do ". Rutuk Dafi kesal.


 


"Nia tidak punya waktu untuk datang dengan penuh cinta seperti harapanmu, kau tahu kenapa ?" Tanya Toni. "Karena dia menghabiskan waktu begitu lama untuk memulihkan kondisinya. Penghinaan Mamamu, caranya mengusir dan merendahkan Nia, berhasil membuat Nia percaya pada setiap kata-kata Mama tersayangmu itu. Kau tidak tahu berapa banyak waktu yang diperlukan oleh keluarga Nia untuk mengembalikan Nia pada dunia nyata. Mamamu sangat hebat Do, berhasil menghancurkan Nia hingga keping-keping terkecil ".


 


Bahu Edo terguncang, Edo masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


 


 


"Kenapa kalian baru bercerita padaku ?" Tanya Edo diantara tetes air matanya. "Kenapa kalian menutupinya ?" Edo terlihat cukup terluka.


 


"Pertama, karena Mamamu mengancam kami. Mamamu bilang akan menyiksa dirinya sendiri kalau sampai kami buka mulut. Hal yang sama juga di pakai Mamamu sebagai cara untuk membuat Papamu diam selama ini ". Angga menjawab pertanyaan Edo. "Kedua, kami sangat percaya pada cintamu terhadap Nia, Do. Kami yakin, bagaimanapun cara Mamamu meracuni pikiranmu. Tetapi hati yang saling mencintai tidak akan semudah itu di hasut oleh siapapun. Kami percaya kau, sanubarimu tidak pasti bisa merasakan kalau Nia tidak bersalah. Dan kau akan menepis semua cerita bohong Mamamu ".


 


"Sayangnya, sikapmu membuat kami sadar. Bahwa kau selama ini tidak pernah mencintai Nia sebesar Nia mencintaimu. Hingga hatimu mati rasa dan tidak bisa melihat sebuah kebenaran. Meskipun itu sangat kecil, kau hanya memilih percaya pada sosok wanita yang dari awal jelas membenci Nia ". Ucap Toni penuh sesal.


 


Edo mencengkeram kuat baju yang melekat di bagian dadanya kirinya, entah kenapa Edo merasa sangat sakit di bagian itu. Beberap kali Edo terlihat menghirup banyak oksigen, Edo diam dengan air mata penuh sesal.


 


"Maafkan aku ". Kata pertama yang Edo ucapkan setelah butuh waktu lama agar bisa menguasi dirinya.


 


"Aku mohon, kalian semua tolong maafkan aku ". Ulang Edo penuh sesal.

__ADS_1


 


"Sudahlah....", jawab Ardi malas. "Yang penting kamu sudah tahu kebenarannya. Kami hanya berharap hentikan semua isi kepalamu yang sangat jelek tentang Nia. Nia sangat baik, hatinya pun sangat baik ".


 


"Dimana Nia sekarang ?" Tanya Edo cepat. Edo menegakkan kepalanya menatap penuh permohonan pada semua sahabatnya. "Tolong beritahu aku, dimana Nia sekarang !"


 


"Lupakan Nia, Do... !" Suara Toni tegas. "Nia sudah bahagia, dia sebenatar lagi akan menikah ".


 


"Tidak, itu tidak boleh terjadi ". Edo sedikit histeris. "Nia, Nia milikku. Aku mencintainya. Aku harus bersamanya ".


 


"Kau sudah menikah Do, kau sudah punya keluarga. Lagi pula sampai kapanpun Mamamu tidak akan bisa menerima Nia. Dan sebuah kenyataan harus kau tahu Do, saat ini ada sosok lelaki yang begitu mencintai Nia. Dia begitu memuja Nia. Kau bukan apa-apa dibandingkan dia ". Toni terlihat acuh.


 


"Mereka akan menikah 10 hari lagi, kau jangan macam-macam ! Setelah semua penderitaan dalam hidup Nia, aku harap biarkan dia bahagia !" Ucap Ardi serius.


 


"Tidak, aku tidak akan melepaskan Nia lagi. Aku tidak mau kehilangan Nia lagi, tidak...aku tidak akan melakukan itu. Ton, tolong beritahu aku. Aku mohon....beri tahu aku, dimana Nia. Aku mencintainya Ton, aku akan menjemputnya ". Rengek Edo sambil bermohon pada Toni.


 


"Kalian semua, kita adalah sahabat baik. Kalian, aku...aku minta maaf pada kalian ". Edo berusaha menghapus asal air matanya. "Tolong, aku mohon...tolong beritahu dimana Nia !"


 


"Kami tidak akan pernah memberitahu padamu, sudah cukup Do. Hiduplah bersama isterimu ! Dan biarkan Nia bahagia !" Tolak Toni tegas. "Kami tidak akan memberitahukan padamu ".


 


"Baiklah ". Sedikit sempoyongan dan lutut yang bergetar, Edo mencoba berdiri. "Toni, Angga, Dafi dan Ardi, aku mohon maafkanlah sikapku pada kalian selama ini. Kalian benar, aku sangat bodoh. Membiarkan berlian lepas begitu saja dari hidupku. Tapi, aku sudah belajar dari kebodohanku itu. Aku tidak ingin semua terulang lagi, aku akan memperbaikinya. Tidak masalah kalian keberatan buat jujur padaku dimana Nia saat ini. Tetapi aku, aku akan mencarinya ! Aku pasti akan menemukannya !" Edo berusaha berjalan sambil memegangi perutnya. Perlahan-lahan Edo melangkah menuju pintu ruang kerja Toni.


 


Edo berbalik badan sesaat, tepat sebelum kakinya meninggalkan penuh semua sahabatnya yang masih diam membungkam. "Aku sungguh-sungguh mohon maaf pada kalian semua. Aku berterima kasih pada Tuhan memiliki sahabat sebaik kalian ".


 


"Apa yang harus kita lakukan ?" Kesadaran Dafi membuatnya segera bersuara saat tahu Edo telah lama meninggalkan mereka semua.


 


"Kita harus memberitahukan semua ini pada tuan Aisakha, jangan sampai Edo berhasil menemukan Nia !" Toni menatap Angga, Dafi dan Ardi dengan seksama.


 

__ADS_1


 


__ADS_2