
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Sayang, ini ke arah kamarkukan ?" Nia menatap Aisakha yang tersenyum bahagia. Tetapi tidak bersedia membuka mulutnya.
 
Dengan gampangnya Aisakha membuka pintu kamar di depan mereka. Membawa Nia masuk ke dalam dan menutupnya rapat kembali. Pintu terkunci, Nia terdiam. Suasana gelap, Aisakha belum menghidupkan lampu.
 
Aisakha menurunkan Nia di tengah ruangan, meninggalkannya dalam kegelapan begitu saja.
 
"Sa, sayang ", Nia merasa sendirian. "Jangan bercanda, di sini gelap ".
 
"Sayanggg... ", suara Nia agak keras. "Jangan bercanda ". Tetapi tidak ada sahutan. Sepertinya Nia memang sendirian.
 
"Mas...gak lucu ". Nia mulai sedikit gelisah, tetapi tetap tidak ada sahutan.
 
Nia meraba-raba sekelilingnya, semua terasa kosong.
 
"Masssss....", nafas Nia mulai cemas.
 
Hingga.
 
Klakk...cahaya terang yang berasal dari lampu membuat mata Nia sedikit silau. Nia memejamkan matanya sesaat. Kilau cahaya lampu membuat matanya harus berusaha menyesuaikan situasi sekitar.
 
Beberapa saat saja, kemudian Nia membuka mata. Aisakha berdiri di depannya sambil tersenyum semeringah.
 
"Jahat ". Nia memukul dada suaminya. "Kamu ngerjain aku ya ? Kamu keterlaluan ". Nia kesal.
 
"Maaf, kan aku mau buat semua tidak akan pernah kamu lupakan ". Aisakha masih mempertahankan senyum menawannya.
 
"Aku gak suka ", rajuk Nia sambil melihat sisi kirinya, berniat membuang muka dari Aisakha.
 
"Astaga ?" Alih-alih mau merajuk, yang ada malah sekali lagi Nia di buat kaget hingga mengangga.
__ADS_1
 
"Ini ? Bagimana bisa ? Ini hanya ada dalam kertas gambarku semasa SMA. bagaimana bisa jadi nyata semuanya ?" Nia melihat gorden hijau bagai gorden mahal di hotel-hotel berbintang jatuh sempurna menutupi jendela kamar. Lemari besar 6 pintu di sisi lain kamar.
 
"Apakah, apakah di sisi kanan lemari ini adalah kamar mandinya ?" Tanya Nia sambil memegang pintu lemari.
 
Sedikit berdebar, Nia membuka pintu itu. Nia membesarkan bola matanya, terlihat tidak percaya. Tebakannya benar, itu persis seperti yang pernah Nia gambar pada kertas gambar semasa sekolahnya.
 
"Bagaimana bisa ?" Nia keluar menatap heran pada Aisakha. "Bagaimana bisa isi kamar mandi itu seperti khayalanku ?" Aisakha hanya tersenyum mendapati wajah Nia terkagum-kagum. Lagi-lagi, dalam pikiran Aisakha betapa mengemaskan isterinya saat ini.
 
Nia bergerak cepat, matanya kembali terbelalak. Sebuah meja rias dengan bentuk oval, dengan bingkai kaca berukir bunga mawar, meja rias dengan kayu jati asli terletak juga persis seperti dalam gambarnya.
 
"Bagaimana caramu melakukan semua ini sayang ?" Nia bingung, tetapi dia sangat senang.
 
Nia berjalan sangat bersemangat ke arah Aisakha. Masuk kedalam pelukan lelaki tampan yang terus saja memberikan dirinya senyuman menawan. Bukan jawaban, tetapi senyum senang.
 
"Ya Tuhan ". Nia tidak ingin melepaskan pelukannya dari Aisakha.
 
 
"Nia, selain semua yang telah kamu lihat. Apakah menurutmu tidak ada yang kurang ?" Aisakha memberi jarak pada pelukan mereka.
 
"Hah ?" Nia sedang berpikir.
 
"Tunggu ". Nia mulai ingat.
 
"Tempat tidur ala raja dengan.... ", Nia menatap sisi kanan kamar. Bagian yang tadi terlewatkan. "Dengan kelambu putih dan ada rajutan mawar putih, menutupi ke 3 sisi yang bisa aku buka setiap pagi ". Nia terpesona. Dirinya menemukan bagian itu, ranjang besar persis seperti impiannya di masa dulu yang hanya berani di tuangkan Nia dalam kertas gambar saja.
 
Ada bantal empuk di sana, ada selimut yang terlihat hangat di sana, juga ada mawar merah lengkap dengan kelopaknya tertata menawan di sana.
 
Glekkkk...
Nia kesulitan menelan ludahnya. Mendadak dirinya merasa malu.
 
Semua begitu sempurna, Aisakha membuat ranjang itu persis seperti pikiran terliarnya semasa dulu.
__ADS_1
 
"Terima kasih juga untuk itu ". Suara Nia mendadak kacau.
 
"Nyonya Aisakha suka ". Aisakha berbisik mesra di telinga Nia. Nia hanya mampu menunduk dan mengangguk malu.
 
"Bolehkan aku membawa isteriku tercinta ke sana ?" Nia merasakan hembusan nafas hangat Aisakha di telinganya. Sedikit terperanjat. Tetapi Nia tetap menganggukan kepalanya.
 
"Aku sangat sayang padamu ". Aisakha mengendong Nia dan membaringkan wanita pujaanya itu di ranjang mereka.
 
"A, aku tahu ". Nia menjawab dalam malu.
 
"Aku ", Aisakha mengecup sayang kening Nia, kedua pipinya dan, "memujamu ". Ucapan manis itu berakhir di bibir Nia. Lama di sana, Aisakha sedang memberi tahu Nia seberapa besar dirinya memuja isterinya itu.
 
"A, aku tahu ", Nia menarik nafas dalam, dirinya masih belum ahli dalam proses penyatuan bibir.
 
"Aku ", bibir yang baru saja lepas dari bibir sang isteri berpindah ke leher Nia. Nia tersentak, entah apa, tetapi mendadak ada yang bergelora di dalam dirinya. "Akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia ". Aisakha bermain bahagia di cerukan indah leher sang isteri cukup lama.
 
Nia benar-benar butuh waktu untuk menjawab, dirinya terlalu bergelora. "A ", Nia menarik nafas dalam. "Aku tahu ", jawabnya mulai kurang konsentrasi.
 
"Aku ", Aisakha melanjutkan pernyataan dirinya, ungkapan terdalam hatinya. "Akan melimpahkanmu kasih sayang ". Entah bagaimana caranya lembar benang di tubuh Nia telah terlepas. Nia terlalu terbuai, hingga dia lupa sekitar. Sebentuk rasa, Nia belum bisa menterjemahkan yang jelas dia sedang sangat bergelora. "Seumur hidupku ".
 
Malam sangat panjang, penyatuan indah baru saja di mulai, deru nafas bahagia sedang terdengar berpacu. Aisakha telah memiliki sang isteri seutuhnya. Sangat lembut, sangat manis. Aisakha di buat gila untuk terus mengendalikan diri dalam penyatuan pertama mereka.
 
Hanya ada cinta, hanya ada kata memuja dan hanya ada kasih sayang. Nia menjerit dalam menyebut nama Aisakha, saat semua telah sampai pada bukti cinta mereka malam itu.
 
Di waktu yang sangat lama, hingga lelah dan sekujur tubuh yang basah, dengan penuh perlindungan Aisakha memeluk tubuh polos sang isteri dan menutupi diri mereka dengan kehangatan selimut, agar jauh dari sang malam yang sibuk mengintip rasa cinta sepasang suami isteri ini.
 
Nia terlelap, rambut panjangnya sedikit acak-acakan. Aisakha benar-benar di buat bahagia, sekarang Nia adalah isterinya hanya miliknya dan akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
 
"Apapun yang terjadi, jangan pernah lupakan kalau aku sangat mencintaimu, Nia ", ucap Aisakha saat memberi kecupan selamat malam pada Nia yang telah terlelap dalam tidur indahnya.
 
 
__ADS_1