
Menjenguk Bibi
πππππ
γ
Mobil telah di parkir Kristo di depan teras utama Rumah Sakit sang tuan, mereka baru saja sampai. Nia sengaja meminta Kristo untuk tidak turun dulu. Dia tidak ingin membuat Aisakha kaget hingga terbangun. "Biar tuan istirahat sebentar Kris lagi. Sepertinya dia cukup lelah". Pinta Nia pada Kristo.
γ
Kristo menyetujui permintaan Nia, dan memilih diam sambil bermain handphone. Terlihat dia cukup serius tengah membuka beberapa chat. Kristo sedang memeriksa beberapa file yang di kirim oleh berbagai Divisi perusahan sang tuan dari tiga Kota berbeda.
γ
Emmm...yang ini perlu segera respon, sedang yang ini bisa menunggu. Kristo menandai laporan mana yang sifatnya urgent. Apa ini? Kristo fokus pada sebuah laporan dari yang di kirim dari cabang perusahaan sang tuan di Kota Bandung.Β Apa yang dilakukannya? Bagaimana dia bisa kembali lagi ?
γ
Kristo menutup semua file dan berganti menekan nomor kontak seseorang. Dengan suara pelan Kristo berbicara dengan seseorang di ujung telepon.
γ
"Jam berapa persisnya?" Tanya Kristo pelan di teleponnya, sangat pelan. Tetapi bagi Nia dia tetap bisa mendengar.
γ
"Foto yang kau kirim tidak jelas, coba rekam kesaksian dari petugas lobby!" Sebuah perintah di berikan Kristo.
γ
"Apakah dia membuat onar?" Pertanyaan baru diajukan Kristo kepada si penerima telepon.
γ
Kemudian, "waktumu sepuluh menit! Saya harus segera melapor pada tuan Aisakha". Hanya itu kalimat terakhir Kristo sebelum menutup telepon.
γ
"Ah, ada-ada saja. Wanita itu kenapa muncul lagi?". Guman Kristo pelan sambil menatap marah pada handphonenya.
γ
"Kamu kenapa Kris?" Tanya Nia heran dengan sikap Kristo. "Ada masalah".
γ
"Oh, tidak ada nona. Hanya masalah kecil". Jawab Kristo berbohong pada Nia.Β Maaf nona, saya tidak bisa memberitahu anda.
γ
Kristo memandang keluar jendela mobil sambil memijat pelan kepalanya. Rasanya laporan dari perusahaan tuan di Kota Bandung cukup membuat kepalanya berdenyut sakit. Terbayang oleh Kristo, semua ini bukanlah masalah yang akan dianggapnya sepele.Β Harus segera di selesaikan.
γ
"Hey...apa yang mereka lakukan di luar?" Suara kaget Kristo juga membuat kaget Nia. Nia sampai berhenti membelai rambut sang kekasih yang masih terlihat tenang di pangkuannya.
γ
"Kenapa?" Tanya Nia heran.
__ADS_1
γ
"Itu nona, dua orang pengawal yang di tugaskan tuan untuk menemani Paman nona. Kenapa malah berdiri di luar". Tunjuk Kristo ke dua orang lelaki berpakaian serba hitam tepat di depan pintu masuk Rumah Sakit.
γ
"Kris, apa Bibi saya baik-baik saja?" Nia mulai gusar.
γ
"Pasti baik nona". Jawab Kristo cepat. "Mereka telah diΒ perintah tuan untuk segera melapor andai terjadi sesuatu".
γ
"Ooooooo", jawab Nia ragu. "Maukah kamu tanya mereka, saya agak kawatir".
γ
"Baik, nona tolong jaga tuan sebentar. Saya akan temui mereka". Kristo menyanggupi permintaan Nia.
γ
Terdengar pintu mobil di buka, menurut Kristo, dia telah membuka pelan pintu tersebut dengan sangat pelan. Sangat berhati-hati demi membuat sang tuan tidak terganggu. Tetapi perhitungannya salah, efek dirinya membuka pintu mobil malah sukses membuat Aisakha membuka matanya, Aisakha terjaga dari tidurnya.
γ
"Sudah sampaikah?" Tanya Aisakha pada Nia.
γ
Mengetahui sang tuan terbangun, Kristo membatalkan niatnya turun
γ
γ
"Hemmm", Aisakha memandang mata Nia. "Andai setiap Mas bangun tidur ada kamu, mata ini langsung menatap wajah cantikmu. Rasanya pasti bahagia banget".
γ
"Mas harus bersabar ya". Nia tersenyum pada Aisakha.
γ
Aisakha berganti posisi, kembali bersandar di sandaran kursi bagian belakang. "Demi mendapatkan berlian, Mas akan sabar". Ucap Aisakha sambil tersenyum pada Nia.
γ
"Mas, kita turun yuk". Ajak Nia kemudian. "Aku penasaran sama pengawal Mas itu". Tunjuk Nia pada dua orang lelaki yang tadi di tunjuk Kristo.
γ
Aisakha mencoba melihat sosok yang di tunjuk oleh Nia. "Loh, kenapa mereka di luar?" Tanya Aisakha sambil menepuk pundak Kristo.
γ
"Saya juga kurang tau tuan, karena itu saya berniat turun tadi buat tanyain mereka". Jawab Kristo sambil membalikkan badannya menghadap kearah Aisakha.
γ
__ADS_1
"Mereka itu minta di hukum ya?" Aisakha kesal.
γ
"Eiiittt, enggak boleh emosi ah. Nanti jelek loh". Nia mencoba menenangkan sang kekasih.
γ
Aisakha mengenggam tangan Nia dan mencium pelan punggung tangannya. "Biar aja jelek, kan Mas udah punya kamu".
γ
Nia hanya tertawa pelan menanggapi jawaban Aisakha padanya.
γ
"Ayo sayang kita turun". Aisakha pun mengajak Nia.
γ
Mendengar ajakan sang tuan pada Nia, Kristo segera membukakan pintu mobil bagian belakang mempersilahkan tuan dan Nia turun. Kemudian Kristo mengikuti langkah Aisakha di belakang sang tuan, berjalan kearah para pengawalnya.
γ
"Tuan". Dua pengawal tersebut menunduk memberi hormat pada Aisakha.
γ
"Apa yang kalian lakukan di sini? Saya bilang temani Paman, kenapa kalian berkeliaran di luar?" Aisakha kesal.
γ
Kedua pengawal saling bersitatap, meminta satu sama lain untuk menjadi juru bicara agar memberi laporan pada sang tuan. Sepertinya mereka sama ketakutan berdua.
γ
"Jawab!" Perintah Kristo tegas dari samping Aisakha kepada dua sosok pengawal tersebut.
γ
Akhirnya si pengawal yang memakai dasi kotak-kotak memberanikan diri maju satu langkah dari temannya, mencoba menjadi juru bicara.
γ
"Tuan, kami sengaja berdiri di sini menunggu tuan". Sambil melirik kearah temannya, meminta dukungan. "Telah terjadi sesuatu tuan terhadap isteri dari tuan yang kami jaga semalam".
γ
Nia sedikit terhuyung, wajahnya memucat. Aisakha terkejut,Β cepat Aisakha merangkul tubuh mungil sang kekasih. Sedang Kristo memberi tatapan marah yang luar biasa kepada dua orang pengawal yang sudah tersudut saking takutnya.
γ
Habislah kita... Kedua orang pengawal mulai terlihat gemetar.
γ
Apalagi ulah kalian ini. Kristo.
γ
__ADS_1
γ