SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 40


__ADS_3

DIAM


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Pagi yang cerah, mentari telah bersinar memamerkan kehangatannya walaupun jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh. Sepertinya pagi ini akan cerah, saat langit memperlihatkan warna biru indah di cakrawala.


 


Nia sedang duduk menikmati gigitan kedua sandwith telor dilapisi selada, tomat dan timun yang di balut roti gandum, rasanya sangat nikmat apa lagi di tambah jeruk nipis hangat sebagai minuman segar di pagi ini. Bibi melihat senang pada majikannya, sepertinya suasana hati majikan cantiknya itu cukup baik pagi ini.


 


Benar kata tuan itu, segelas susu hangat berhasil membuat si non tidur nyenyak. Lelaki yang perhatian.


 


"Ada lagi yang non mau?". Tanya Bibi sambil tersenyum sayang pada Nia.


 


"Enggak Bi, sudah cukup. Ini enak sekali, terima kasih Bi". Nia menjawab pertanyaan Bibi juga dengan senyum yang tulus.


 


Tidak berapa lama kemudian, bibi mendengar suara Pakde sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu. Kemudian tidak perlu menunggu lama, suara yang terdengar tengah berbincang bersama Pakde, ternyata sudah ada di belakang Nia sekarang. Bibi menundukkan kepalanya memberi hormat pada Aisakha, sosok pemilik suara yang tadi terdengar sedang berbicara dengan Pakde. Dan Nia seakan tidak menyadari kehadiran Aisakha yang telah berdiri di belakangnya.


 


"Apa tidurmu nyenyak malam tadi sayang?" Tanya Aisakha saat tepat berada di belakang Nia.


 


Nia yang sepanjang malam gelisah berpikir akan seperti apa paginya hari ini, tentu saja secara otomatis terlonjak kaget. Beberapa kali Nia batuk akibat tersedak makanannya sendiri, rasa tidak percaya dengan suara yang di dengarnya. Rasa bagai halusinasi yang muncul ke kehidupan nyata.


 


Aku pasti terlalu berharap semua ini nyata, sehingga sangat berharap hayalan bisa terwujud di dunia nyata. Nia, Nia, halu mu parah bget.


 


"Ooo, Tuhan. Maaf sayang membuatmu menjadi tersedak". Aisakha segera melangkah mendekati Nia.


 


Pasti sepanjang malam kamu bertanya apakah pertemuan kita kemaren benar adanya? Apakah pagi ini aku akan muncul dihadapanmu? Itukan yang membuatmu terkejut.


 


 


"Tu, tuan". Hanya itu kata yang mampu diucapkan Nia sambil berusaha menarik nafas panjang.

__ADS_1


 


Nyata, enggak, nyata, enggak, halu pasti. Nia masih merasa semua hanya mimpi.


 


Aisakha memberikan Nia gelas air putih yang tidak jauh dari jangkauan tangannya.


 


"Minunlah ini!" Perintah Aisakha pada Nia.


 


Uhuk, uhuk, "aku gak ngayalkan Bi?" Bukan menerima gelas yang di pegang Aisakha, Nia malah memilih bertanya pada Bibi.


 


Bibi menganggukankan kepala sambil tersenyum. Dan reaksi Nia melihat sikap Bibi malah membuat dia semakin terbatuk-batuk. Uhuk, uhukk, uhhuukkk.


 


Mendapati Nia semakin keras dengan batuknya, Aisakha kemudian memaksa Nia membuka mulut untuk menempelkan gelas minum di bibirnya.


 


"Aku nyata, dan sekarang minumlah dulu agar kamu percaya". Aisakha tersenyum geli melihat tingkah Nia yang bingung sendiri.


 


 


"Cukup". Tanya Aisakha.


 


"Iya, terima kasih". Jawab Nia singkat.


 


"Apa yang anda lakukan di sini tuan?" Tanya Nia setelah merasa lega bebas dari tersedaknya.


 


Aisakha hanya diam mendapati pertanyaan Nia.


 


Anda, kembali lagi sikap formalnya. Aisakha.


 


Kok diam? Padahal tadi ada loh suaranya. Nia.

__ADS_1


 


Nia diam, berusaha berpikir, apakah dia melakukan kesalahan? Nia memperhatikan Aisakha yang tengah duduk di sampingnya. Bajunya gak kena batuk ku kok. Tapi kenapa diam aja? Aku salah apa ya?


 


"Apakah ada yang anda inginkan tuan?". Nia berusaha mengajak Aisakha berinteraksi. Tetapi yang di ajak bicara hanya diam.


 


Seketika air muka Aisakha berubah, sepertinya dia mulai kesal sekarang.


 


Nah, kenapa itu muka jadi di tekuk ya? Aku salah apa sih sebenarnya?


 


"Nona, apakah anda sudah selesai? Mari kita berangkat sekarang". Kristo yang entah muncul dari mana, tiba-tiba telah berdiri di samping Aisakha.


 


"Ya, ya, saya sudah siap". Ujar Nia sambil mengatur nafasnya.


 


Sepertinya mereka ini punya kebiasaan membuat orang spot jantung. Nia.


 


"Bi, aku berangkat dulu ya". Ujar Nia sambil berpamitan pada bibi. "Pakde istirahat saja dulu, hari ini aku sama presdir". Nia kembali memberi pakde waktu untuk istirahat.


 


"Silahkan tuan". Kristo memimpin jalan bagi Aisakha dan Nia ke arah mobil mereka terparkir.


 


Aisakha dan Nia telah duduk aman dan nyaman di kursi belakang, sedang Kristo sendiri duduk di kursi depan di samping Sopir yang tengah mengarahkan mobil menuju gedung perusahaan cabang Sunjaya Company.


 


Diam, duduk di salah satu sudut mobilnya, Aisakha hanya memandang kosong keluar. Dan selama itu Nia terus bertanya, apakah kesalahannya.


 


"Maafkan saya" ujar Nia putus asa mendapatkan aksi diam dadakan Aisakha.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2