
Kembali Ke Laboratorium
πππππ
γ
"Nia, sebentar !" Profesor ternyata sudah menunggu Nia di pintu laboratorium. "Ada yang mau saya bicarakan".
γ
Nia berjalan mendekat ke arah Profesor sambil sekilas memperhatikan rekan-rekan seprofesinya sudah mulai memakai jas lab masing-masing. "Iya Prof ?"
γ
"Tentang projek awal kita, kebetulan sedikit molor dari rencana awal". Profoser memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. "Jujur, rekan-rekanmu itu tidak secemerlang kamu. Mereka selalu gagal saat menyusun volume dari tiap sampel".
γ
"Maafkan saya Profesor, nyaris 2 minggu ini saya hanya sibuk dengan urusan pribadi". Nia terlihat sangat tidak enak.
γ
"Ooo...bukan, bukan masalah itu yang saya maksud. Kamu jangan salah paham Nia". Profesor cepat-cepat menghentikan Nia yang telihat sedang menyalahkan diri sendiri. "Maksud saya ngajak kamu gomong itu justru mau bilangin. Tolong kamu pelajari kekurangan rekan-rekanmu itu, kemudian kalau memang kita perlu lembur. Kamu jangan ragu bilang saya, kita akan lembur semua demi mencapai target. Kamu paham maksud saya ?"
γ
"Iya Prof, saya paham. Akan saya pelajari dimana letak kesalahan mereka. Setelah itu saya baru bisa prediksi berapa banyak waktu yang kita perlukan untuk membuat hasil akhir sempurna". Profesor Yandi mengangguk setuju dengan pendapat Nia.
γ
"Kamu memang selalu bisa saya andalkan Nia". Profesor Yandi tersenyum ke arah Nia. "Entah bagaimana nasib laboratorium ini kalau suatu hari kamu tidak di sini ?" Profesor tertunduk sambil memijat pelan tengkuknya.
γ
"Apa maksud Profesor ?" Kening Nia sedikit berkerut, dia tidak mengerti arah pembicaraan Profesor barusan.
γ
"Ya...kamukan sudah menemukan belahan jiwamu. Tidak mungkinkan kamu akan selalu bersama kami ?" Profesor menatap mata cokelat Nia. "Saat kamu resmi menjadi isteri tuan Aisakha nanti, kamu akan pergi bersamanyakan? Mana mungkin kamu sanggup jauh dari suamimu. Itu artinya kamu bakal meninggalkan saya dan rekan-rekanmu di sini, bukan?"
γ
"Sayaaaaa". Nia tidak tahu harus menjawab apa, Saya tidak pernah berpikir tentang hal itu Prof. Jujur, saya tidak tahu harus jawab apa?
γ
"Ah, sudahlah. Yang penting bagi saya, kamu bahagia Nia. Kamu gadis baik, kamu harus hidup berbahagia dimanapun itu. Walaupun bukan di dekat kami di sini !"
γ
Nia hanya diam, benar...aku tidak pernah berpikir akan seperti apa kehidupan yang akan aku lalui setelah menikah nanti? Di sini hanyalah cabang perusahaan Mas saja. Sedang kantor pusat di Jakarta, bukankah Mas seharusnya ada di kantor pusat? Kalaupun Mas harus meninjau tiap cabang perusahaannya di berbagai kota. Nanti, pada akhirnya dia harus kembali ke kantor pusar bukan ? Lantas bagaimana dengan aku, aku akan ada dimana? Bagaimana dengan pekerjaanku sekarang ?
γ
"Hey..hey..kenapa kamu malah melamun ?" Profesor memukul kedua tangan di depan Nia agar Nia kembali lagi ke dunia nyata dan mengakhiri lamunannya itu.
γ
"Heheheh, maaf Prof lagi blank". Nia berusaha menata hatinya kembali.
γ
"Sudah, masuk. Rekan-rekanmu sudah menunggu !" Profesor menunjuk kearah Wulan, Resya, Anita dan Bowo yang kebetulan memang tengah menunggu Nia di dalam laboratorium.
γ
__ADS_1
"Ya". Nia bersorak semangat sambil melangkah maju, masuk kedalam ruangan.Β Nanti saja aku pikirkan tentang itu, sekarang aku fokus saja dulu pada apa yang ada di depan aku.
γ
Profesor memperhatikan Nia memakai jas labnya sambil tersenyum senang.Β Semoga kamu selalu berbahagia Nia.
γ
"Kamu, siapa nama kamu ?" Profesor menunjuk kearah Damar pengawal baru Nia yang sudah berdiri persis di depan pintu laboratorium. Sepertinya Damar sedang memperhatikan sekeliling Nia, hingga gerak-gerik Nia di dalam ruangan besar dengan aneka peralatan khusus yang tidak dimengertinya.
γ
"Saya Damar Pak". Jawab Damar singkat setelah mengakhiri pengamatannya.
γ
"Kamu yang di tugaskan tuan Aisakha mengawal Nia ?" Sepertinya Profesor agak penasaran. Profesor sudah mendapat pemberitahuan dari Kristo, sekretaris Aisakha tentang kemunculan 2 orang pengawal yang di tugaskan menjaga kekasih Presdir mereka itu. Tapi seperti apa wujud 2 orang tersebut tidak pernah terbayang olehnya.
γ
"Benar Pak". Damar berdiri bagai patung di depan pintu laboratorium.
γ
"Bukannya kalian berdua ? Mana temanmu 1 lagi ?"
γ
"Satu lagi menjaga nona dari jarak radius beberapa meter Pak. Kami berbagi tugas, ada yang dari dekat dan ada yang dari jauh. Jadi nona selalu ada dalam jangkauan kami dari segala sisi".
γ
"Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti kenapa tuan Aisakha meminta Nia harus di kawal segala". Bibir kiri Profesor sedikit mundur kebelakang, mungkin efek Profesor yang tidak bisa menemukan jawaban atas ketidak mengertiannya sendiri. "Tapi, apapun itu demi kebaikan Nia, saya setuju-setuju saja". Profesor mengangguk yakin. "Sekarang buat dirimu berguna ! Ambil kursi itu", profesor menunjuk satu kursi berwarna merah di dekat pintu masuk bagian dalam laboratorium. "Bawa kesini dan duduklah dengan baik, jangan berdiri saja. Bukan apa-apa, Nia kalau sudah bekerja bisa lupa sekeliling. Saya khawatir kamu bakal kena anemia karena nungguin tuh anak". Profesor tersenyum sendiri.
γ
γ
"Nona sedang bekerja di laboratorium, tuan". Damar menyempatkan diri mengetik laporan kegiatan Nia untuk Aisakha.
γ
"Apa dia baik-baik saja?" Tidak perlu waktu lama, Damar sudah merasa handphone yang di gengamnya bergetar tanda pesan masuk.
γ
Apa kira-kira pengertian baik-baik saja versi tuan Aisakha ya? Memang nona kenapa?
Damar mencoba menganalisa jawaban yang tepat untuk sang tuan.
Sudahlah jawab saja tentang kegiatan nona dari datang sampai saat ini sajalah.
γ
Damar kembali mengetik sesuatu di handphonenya
"Nona baik tuan. Tadi nona adalah orang pertana yang sampai di ruangannya. Kemudian satu persatu teman-teman seruangannya nona datang. Mereka bercerita cukup lama, hingga akhirnya Profesor datang dan meminta mereka semua ke laboratorium. Dan sekarang nona sedang bekerja tuan".
γ
"Hapenya sudah kamu minta?" Sebuah balasan berupa pertanyaan dikirim Aisakha.
γ
"Sudah tuan, sudah di tangan saya".
__ADS_1
γ
"Bagaimana reaksi Nia saat kamu minta hapenya?" Notifikasi pesan baru telah sampai di handphone Damar.
γ
"Awalnya terlihat kurang suka dan kesal tuan. Tapi setelah saya jelaskan tentang penyebab hape nona saya yang pegang. Nona langsung malu tuan, di tambah ada teman nona yang mendengarkan. Nona benar-benar malu".
γ
Di atas meja kerjanya, Aisakha sedikit tergelak, bisa dibayangkannya bagaimana malunya Nia saat itu. Bersama dirinya saja kadang Nia masih malu, apa lagi ini. "Hahahahaha, pasti Nia terlihat sangat mengemaskan".
γ
"Kamu lanjutkan menjaga Nia ! Ingat jaga Nia dengan seluruh nyawamu, saya ingin kamu bekerja sangat baik !"Β Sepertinya seseorang sudah mengatur apa saja jenis kegiatan Nia untuk hari ini.
γ
"Laksanakan". Cepat Damar mengetik kata tersebut di handphonenya sebagai balasan.
γ
"Sebentar", ternyata Aisakha masih mengirim satu pesan kepada Damar.
γ
"Iya tuan".
γ
"Dimana dia sekarang?" Damar membaca pesan masuk terbaru itu.
γ
"Maksudnya gimana ini ? Bukankah sudahku bilang kalau nona di laboratorium, kenapa tuan bertanya lagi ?" Guman Damar pelan pada dirinya sendiri.
γ
Damar mencari sosok Nia, melihat ke tiap sudut. Dan akhirnya menemukan Nia tengah berdiri di depan papan tulis ukuran sedang dengan tangan kanan memegang alat tulis. Nia terlihat sangat serius.
γ
"Nona sedang berdiri di depan sebuah papan tulis putih tuan". Sejenak Damar membaca ulang pesan yang akan dikirimnya kepada Aisakha. Sepertinya Damar ragu apakah kalimat itu yang diharapkan Aisakha sebagai jawabannya.
Sudahlah, kirim saja. Nanti kalau salah pasti tuan akan bilang apa sebenarnya maunya.
γ
Tidak berapa lama notifikasi pesan baru masuk ke handphone Damar. "Wah cepat sekali tuan balasnya". Damar membaca isi pesan terbarunya. "Kirimkan saya foto Nia !"
γ
"Hahaha, kayak anak remaja yang sedang di mabuk cinta saja tuan ini". Damar pun berdiri, mengambil beberapa foto Nia dari 3 sudut berbeda dan selanjutnya mengirim ke Aisakha.
γ
Damar menunggu balasan terbaru dari sang tuan, tetapi hampir lewat satu menit handphonya hanya diam saja tidak memberitanda notifikasi baru. Sepertinya hasil kerjaku bagus. Begitu pikir Damar.
γ
Ya, tentu saja tidak ada notifikasi baru masuk kembali ke handphone Damar. Bagaimana tidak ? Lihat saja apa yang tengah di lakukan Aisakha, si penerima foto-foto Nia ini sedang asyik memandangi wajah serius wanita pujaannya itu. Kadang sambil tersenyum sendiri, kadang sambil berguman-guman kecil dengan mengatakan betapa imutnya Nia dalam balutan jas labnya yang sedang terlihat serius berdiri depan papan tulis. Syukur kelakuan absur Aisakha ini tidak diketahui oleh siapapun, kalau tidak pasti dirinya bakal malu setengah mati karena ketahuan tengah sibuk cenggar-cenggir di depan handphonenya sendiri.
γ
γ
__ADS_1