
🌈🌈🌈🌈🌈
Nia memejamkan matanya, rasa pedih dan sakit menjalar keseluruh aliran darahnya, ada cairan kental berwarna merah segar sedang mengalir perlahan di kulit luar tenggorokannya.
“Maju lagi, pisau tajam ini akan mengiris lebih dalam arteri di tenggorokan Nia. Aku bukan sedang bercanda, aku tidak segan membiarkan Nia menjadi mayat, dari pada aku harus melihat kau menyentuh milikku “. Bagas menyipitkan matanya penuh kebencian pada Aisakha.
“Jangan, jangan...saya mohon “. Begitu putus asanya Aisakha melihat kenyataan di depan matanya barusan. Bagas benar-benar sudah tidak waras, jemarinya tanpa ragu membuat goresan di leher Nia. Aisakha merasa takut hingga membuat dirinya tidak berdaya. Bagas tidak main-main.
“Oooo, sekarang kau mau memohon ya ?” Suara sombong dan terdengar melecehkan. “Seorang Presdir kaya raya, milyader penguasa dunia bisnis di negara ini mendadak mau merendahkan diri memohon padaku ? Cih “, sekali lagi meludah asal ke arah Aisakha.
“Bagus, kalau kau memang mau memohon. Cobalah memohon dengan cara baik ! Aku ingin lihat ! “. Bagas tersenyum jahat.
“Apa yang kau inginkan ?” Aisakha pasrah.
“Memohonlah padaku untuk segera menikahi Nia !” Bagas begitu percaya diri.
Nia membuat gerakan pelan, sangat pelan sebagai tanda penolakan. Aisakha melihat betapa hancur hati istrinya itu. Sesaat, Aisakha memanfaatkan waktu mencoba berpikir keras. Apa yang harus di lakukannya ?
“Tidak, tidak “, Bagas mendadak membuat semua orang yang sudah sangat marah, kembali menoleh padanya.
“Kau harus bilang, kalau kau melepaskan kekasihku ! Meminta maaf padaku dan minta aku segera menikahinya !” kembali mencium bagian belakang rambut Nia. “Dan kau lakukan semua itu sambil bersujud di depanku !” suara Bagas penuh keyakinan.
“Tidak “, Nia semakin meneteskan air matanya. Suara pelan tidak berdaya keluar begitu saja. “Jangan lakukan itu !”
“Tuan “, Kristo frustasi. Keadaan yang berlangsung di luar kendalinya. Semua salah dirinya, Kristo merutuki diri karena kebodohan hatinya yang terlalu baik di masa lalu. “Jangan lakukan !”
“Kalau saya lakukan semua itu, berjanjilah kau tidak akan menyakiti Nia !” Aisakha menatap dalam mata Bagas. Sementara Nia terlihat menolak keras, Nia tahu, Aisakha pasti akan melakukan segala cara untuk menolong dirinya. Suami yang sangat mencintainya itu, tidak akan segan merendahkan dirinya di hadapan Bagas demi keselamatannya. Tetapi, Nia tidak mau hal itu terjadi, Aisakhanya tidak boleh di hina siapapun, sekalipun itu demi hidup dan matinya.
“Yaaaaa, tergantung !” Bagas acuh. “Kalau kau bersujud dengan sepenuh hati, aku pasti akan memastikan Nia tidak akan menjadi mayat. Tapi, kalau kau tidak bisa menyakinkan aku, lebih baik Nia mati. Aku dan kau, kita sama-sama tidak akan memiliki Nia. Itu lebih baik !” Tersenyum senang tanpa dosa.
“Jangan...saya mohon jangan ! Jangan sakiti istriku “. Aisakha sudah di titik kehancuran hatinya.
“Kau masih juga menyebut Nia istrimu, jelas kau yang memaksa dia. Nia itu hanya cinta aku !” Marah dan kembali menekan kuat bilah besi tajam di tenggorokan Nia. Ada sayatan baru, ada cairan merah segar baru, Nia memejamkan mata saat sakit kembali menjalar di setiap inci kulitnya.
“Aku tidak mencintai Nia “. Teriakan putus asa, sebuah harapan Aisakha agar bisa menolong wanita yang sangat di cintainya itu. “Maafkan aku telah merebutnya darimu. Aku mohon “, suara iba yang terdengar menyayat hati semua orang di lantai 3. “Kau yang paling berhak atas Nia, tolong bahagiakan Nia “.
__ADS_1
“Heyyyyy....aku bilang sambil bersujud !” Marah. “Dasar kau bodoh. Katanya pengusaha sukses di dunia bisnis. Tapi kenapa bodoh sekali “. Mengejek senang.
“Tidak, tidak boleh “. Nia membuka matanya, melupakan rasa sakit di lehernya dan menatap Aisakha dengan tidak rela.
“Shuuuutttt.....sayang, jangan bersuara. Ini urusan aku dan lelaki sialan itu !” Bagas berbisik di telinga Nia. “Biarkan aku membalas semua hari-harimu yang hidup di bawah siksaan dia “.
“Jangan, aku mohon. Jangan suruh Aisakha bersujud ! Kalau kau memang mencintai aku, bawa saja aku ! Tetapi jangan suruh dia melakukan itu “. Nia berusaha membujuk dengan suara selembut mungkin. Mencoba mencari celah merayu lelaki gila yang sudah membuat dirinya kesakitan lahir dan batin.
“Nia “, Aisakha memberi senyum kesedihan pada istrinya itu. “Aku baik-baik saja “. Berusaha menyakinkan Nia kalau bersujud di hadapan Bagas bukanlah hal yang perlu Nia takutkan.
“Tidak, tidak “. Nia meneteskan air matanya. Aisakha dan Nia bersitatap dalam cinta yang tulus, dalam perasaan sedih yang sama.
“Mas, Mas Bagas “. Nia meletakkan tangan dinginnya ke tangan Bagas. “Ayo kita pergi, kamu bilang, kamu mau bawa aku pergi jauh ! Hanya ada kamu dan akukan ? Kalau begitu kita pergi sekarang yuk, aku sudah tidak sabar ingin bersama kamu sayang “. Merayu semeyakinkan mungkin.
“Iya sayang...aķu akan membawamu pergi “. Lagi-lagi mencium rambut Nia.
“Kau, segera bersujud !” menatap Aisakha penuh kemenangan. “Dan kalian semua, menjauhlah dariku !” memberi tatapan sungguh-sungguh ke sekelilingnya.
“Jangan suruh dia bersujud !” Suara Nia penuh penolakan.
“Karena aku mencintai dia “. Suara penuh keyakinan, Nia menatap Aisakha dalam rasa putus asanya. “Kau dengar, aku sangat mencintai suamiku !”
“Kau, kau tega Nia “. Marah dan menjambak rambut Nia, membuat luka goresan di leher Nia semakin sakit. “Aku berjuang membebaskanmu, dan kau malah menghianatiku “.
Sa...sakit...batin Nia dengan wajah yang semakin pucat. Air mata jatuh di sudut mata.
“Aku bersujud...aku bersujud, aku berjanji aku akan bersujud, tolong jangan sakiti Nia “. Aisakha tidak tahan melihat apa yang di lakukan Bagas pada Nia.
Rasa mual Nia mendadak kambuh, kepalanya serasa berputar. Suara di sekitarnya menjadi mengecil.
Aisakha maju beberapa langkah, dirinya dapat melihat kalau Bagas sudah melepaskan jambakannya dari rambut Nia. Wajah Nia kian pucat, Aisakha bisa merasakan kalau kondisi Nia semakin tidak baik.
“Tuan... “, semua orang di sekeliling Aisakha sangat tidak terima dengan situasi ketidak berdayaan mereka saat ini. “Jangan tuan, kami mohon “.
“Jangan mendekat !” perintah Aisakha sambil mengerakkan tangan kanannya.
__ADS_1
Ya...Tuhan, tolong bantu aku. Aku harus menyelamatkan harga diri tuan. Ini semua salahku, tuan tidak boleh bersujud di hadapan lelaki sialan itu. Aku mohon Tuhan, beri aku kesempatan memperbaiki semua ini, beri aku kesempatan menyelamatkan nona. Batin Kristo memohon, sepenuh jiwa, bersungguh-sungguh.
“Bagus...lebih mendekat lagi !” Bagas tersenyum mengejek Aisakha.
“Jangan... !” Nia meneteskan air mata tidak rela.
“Diam !” emosi Bagas kembali tersulut. Menjambak rambut Nia kesal. "Kau wanita jahat Nia, tega kau menghianati cintaku ". Memaki Nia marah.
Mendadak Nia melihat sekitarnya menjadi buram, sekelilingnya berputar. Nia bahkan tidak bisa menatap sosok suami tercintanya dengan jelas lagi. Rasa sakit telah merasuk ke sumsum tulangnya, sakit di bagian goresan yang masih berdarah di lehernya, sakit di bagian kulit kepalanya, sakit di sanubari terdalamnya mendapati lelaki yang sangat dia cintai di hina sedemikian rupa.
Perlahan mata Nia tertutup, sekitarnya menjadi gelap.
Dan brugghhhhhhkkkk......
Nia terjatuh, Bagas kaget dan spontan menjauhkan pisau tajam di tangannya, sedang Aisakha dengan secepat kilat menangkap tubuh lunglai Nia masuk dalam pelukannya.
Duaaaarrrrrrrrr......letupan senjata terdengar keras. Semua melihat Bagas tersungkur dengan mata membelalak lebar dan cairan merah segar mengelilingi tubuhnya.
***************
EPILOG
Resya mengusap-usap kepalanya sambil membuka matanya. Hantaman keras akibat dorongan Bagas padanya tadi telah membuat kesadarannya hilang. Kepalanya sakit, Resya melihat tidak hanya benjolan yang tersisa di bagian kiri kepalanya, tetapi Resya yakin ada bekas luka juga tertinggal di sana.
Saat kesadarannya sudah menguasai seluruh tubuh sakitnya, Resya dapat melihat jelas bagaimana berbahaya situasi Nia saat ini. Marah di sertai tidak terima, Resya ingin menolong Nia.
Siapa yang menduga, Tuhan berpihak pada harapan Resya. Mendadak Nia hilang keseimbangan, Resya tahu kalau Nia pingsan. Bagas spontan membuang sebilah besi tajam yang telah 2 kali mengores tenggorokan Nia. Memberi celah pada Resya untuk bertindak.
Resya menatap Kristo, dari sudut dirinya terduduk, Resya berharap Kristo bisa membaca isi kepalanya.
Dan, Resya mendorong tubuh Bagas keras. Membuat Bagas melepaskan Nia, membuat Bagas mengayunkan pisau tajam yang di genggam eratnya pada diri Resya. Lengan Resya berdarah, tetapi dia berhasil membuat Nia terjatuh, lepas dari Bagas.
Aisakha menangkap Nia, memeluk tubuh tidak sadarkan diri itu, begitu kuatnya. Dan Kristo, Kristo menggunakan kesempatan emas itu untuk mengeluarkan satu tembakan.
Duaaarrrrrrrr, Kristo tepat sasaran. Bagas tersungkur meregang nyawa dengan mata membelalak lebar.
Semua selesai, dan bisa dipastikan, sosok Bagas pun selesai untuk selamanya. Kristo telah memastikan itu.
__ADS_1