
🌈🌈🌈🌈🌈
“Bapak silahkan duduk ya. Saya tinggal ke dapur buat masak sebentar. Nggak lama kok “. Suara Resya ramah, mempersilahkan Kristo duduk di ruang tamunya. Mereka telah sampai di kontrakan Resya. Sebuah rumah sederhana dengan teras kecil yang berisi 2 pot bunga mawar kuning dan orange. Ruang tamu dengan karpet kota-kotak tanpa kursi, kamar yang tertutup gorden biru serta satu ruangan yang di tebak Kristo adalah dapur di bagian dalam rumah, di belakang.
“Maaf Pak, kalau di sini Bapak duduknya ngeleseh “. Tersenyum malu. “Tapi ini bersih kok Pak “. Bersuara penuh keyakinan.
“Ooo, iya. Bapak mau saya buatkan minum apa ?” Mulai berjalan ke arah bagian belakang rumah dengan tangan berisi kantong belanjaan.
“Saya mau kopi hitam, ada ?” Bertanya dengan mata masih mempelajari isi rumah kontrakan Resya.
Cukup nyaman, meskipun sederhana tanpa barang-barang mewah. Membatin setelah puas menilai.
“Ada Pak, bentar ya “. Setengah berteriak demi membuat Kristo mendengar suaranya. Sambil tangan sibuk menatap bahan hasil belanjaan di meja kecil di dapur.
Beberapa detik berlalu, Resya menarik lengan panjang kemejanya. Memasak air di panci kecil dan mengambil gelas untuk membuat kopi Kristo.
“Rumahmu nyaman ya “. Berdiri di belakang Resya. Resya kaget, sedikit terhuyung dan nyaris jatuh. Kristo bergerak cepat, memeluk Resya dari belakang.
Dug..dug...dugggg. Suara jantung Kristo terdengar ribut di telinga Resya, terlalu ribut seakan sedang bersiap akan melompat keluar.
Wajah Resya memerah, posisi mereka saat ini terlalu intens, Resya merasa malu pada dirinya sendiri.
“Maaf “. Ucao Kristo dengan tangan masih memeluk erat Resya. “Aku enggak maksud buat kamu kaget “.
“I, iya..gak papah “. Gugup.
“Aku buatkan minumnya dulu ya “. Bergerak pelan, berusaha melepaskan pelukan Kristo padanya.
Suatu kebetulan, air yang di masak Resya pun matang. Resy langsung memanfaatkan moment tersebut untuk berpura-pura sibuk, sungguh dirinya sangat malu saat ini, semua terasa aneh tetapi manis. Canggung tetapi ada kesan mendalam.
__ADS_1
“Bapak suka gulanya berapa banyak ?” Bertanya tanpa mau melihat Kristo.
“Aku suka kopi tanpa gula, kopi hitam murni “. Mendekati Resya.
Apa, apa yang harus aku lakukan ? Membantin dengan ritme jantung yang cepat, gelisah sendiri saat sadar Kristo semakin mendekat padanya.
“Su, sudah siap “. Membalikkan badan dengan tangan memegang gelas berisi kopi hitam panas.
“Makasih ya “. Menerima gelas dari tangan Resya. Memberi Resya senyum terbaiknya dan mengunyel-unyel sayang rambut Resya.
“I...iya. sama-sama “. Secepat mungkin membalikkan badan lagi, takut Kristo melihat seberapa merah wajahnya saat ini.
“Bapak tunggu di ruang tamu saja. Saya masak bentar “. Mencari cara untuk mebuat Kristo pergi dari dapur. Mendadak Resya merasakan betapa sesaknya udara di dapur kecilnya itu, berbagi udara bersama Kristo untuk saat ini bukanlah hal mudah bagi dirinya.
“Aku mau di sini saja, boleh ?” Duduk di kursi plastik persis di sisi kanan meja tempat Resya menaruh bahan masakannya.
“Tapi, di sini panas dan banyak asap. Nanti baju Bapak bau “. Mencari alasan halus menolak.
“Enggak masalah. Lagi pula baju aku kan ada satu sama kamu. Sudah keringkan ? Nanti aku bisa pake itu kalau memang harus ganti baju “. Sukses membuat Resy menghembuskan nafas pasrah, kehabisan ide.
Pelan tapi pasti, Resya mulai meracik semua bumbu yang akan di olahnya, memotong sayuran dengan rapi dan menata di atas piring besar. Tanpa ragu, tanpa canggung. Resy sangat piawai, tenang dan terus bergerak gemulai. Mata Kristo tidak berhenti mengikuti kemanapun langkah Resya. Kagum sekaligus senang, Kristo menemukan sosok Resya yang lain yang membuat dirinya sangat senang, entah senang pada apa yang jelas Kristo suka.
“Selesai “. Resya tersenyum puas pada hasil masakannya yang masih mengepulkan asap di dalam wajan.
“Bapak mau coba ?” Antusia berharap.
“Wah “, senang mendengar tawaran itu. “Tentu aku sangat mau “.
“Sebentar ya “. Mengambil piring, mengisi dengan mie celor dan mengambil garpu.
“Coba deh “. Dengan garpu di tangan, menyuapi Kristo. “Gimana ?” Penasaran sambil menunggu Kristo mengunyah makanannya.
“ Emmmmm.. “, mulut masih mengunyah.
__ADS_1
“Enak, sepertinya aku bakalan memasukkan mie celor dalam daftar makanan favorit aku “. Jujur suka.
“Serius ?” berlonjak senang.
“Serius, enak banget “. Ibu jari dan telunjuk di satukan di depan bibir. Kristo memang suka dengan jenis makanan yang baru di cobanya itu.
“Boleh lagi ?” menatap isi piring di tangan Resya.
“Tentu “. Senyum secerah mentari.
Dan sekali lagi, lagi dan lagi. Resya menyuapi Kristo menu masakannya, mie celor ala Resya yang akan di bawakannya untuk Nia. Yang menurut seorang Kristi sangat enak. Padahal Kristo baru pertama mencoba. Resya sangat senang, bersama Kristo harinya bisa terasa beragam. Dirinya bisa jujur menceritakan rasa sakitnya atas ulah lelaki yang di cintainya, bisa malu atas sikap manis Kristo padanya, dan bisa tergelak senang hanya dengan sebuah pujian atas masakannya.
Resya memandangi Kristo yang sedang mengunyah suapan terakhir mie celornya. Kristo tampan, Resy tahu itu. Dan Kristo baik, Resya pun mengakui itu.
Ah, hatiku..kamu kenapa ? Membatin dengan pipi terasa panas.
“Kok memandangi aku gituh ?” Kristo sadar Resya sedari tadi asyik memperhatikan dirinya.
“Oooo, gak. Gak ada “. Cepat mengelak, langsung sibuk beberes peralatan masak. Sementara pipi masih terasa panas dan jantung masih ribut sendiri.
“Aku selesaikan bersihin ini bentar ya. Setelah itu kita langsung pergi “.
“Iya, santai saja. Kamu sudah selamatkan hidup aku “. Memperhatikan Resya dari belakang.
“Memang Presdir ngancam Bapak ?” berbicara tanpa mau melihat ke arah Kristo. Jantung Resya masih belum bersahabat, Resya masih malu ketahuan memperhatikan Kristo tadi.
“Ngancam langsung tidak, tapi secara tidak langsung iya “. Jujur.
“Mungkin itu Cuma perasaan Bapak saja “. Mencoba berpikir positif.
“Semoga saja “. Mengalah.
“Sudah ?” Akhirnya Resya selesai membersihkan perkakas dapurnya, mie celor pesanan Nia pun sudah di kemas rapi dalam kotak makanan.
__ADS_1
“Sudah Pak “. Menjawab pelan sambil memamerkan kotak makanan. “Ayo kita berangkat sekarang “.