
Calon Ibu Anak-anakku
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
Nia hanya diam, belum bersuara. Hatinya benar-benar campur aduk, antara bahagia, tersanjung tidak terkira dengan apa yang akan diucapkan Aisakha, dan ada pula rasa malu yang teramat sangat. Untung gomongnya lewat telepon, kalau langsung pasti aku tambah malu. Aduh, benar-benar malu banget. Apaan coba bilang calon Ibu dari anak-anakku, ya Tuhan malunya, malu. Nia sibuk menepuk-nepuk pelan pipi kanannya.
 
"Nia, sayang..kamu baik-baik sajakan?" Aisakha mulai kawatir.
 
"I..iya, iya Mas. Aku baik-baik aja". Jawab Nia gugup.
 
"Kenapa, kamu kenapa?" Tanya Aisakha sangat khawatir. "Bilang aku, kamu kenapa, sayangggg ?" Aisakha masih memberondong Nia dengan pertanyaan.
 
"Eh, enggak Mas. Aku gak papah kok". Cepat Nia mengatur nafasnya, berusaha mengembalikan ketenangannya kembali.
 
Tenang, tenang Nia..jangan gugup. Sudah-sudah, nanti orang-orang pada heran melihat mukamu berwarna merah.
 
"Kok diam? Ada apa? Jangan membuat aku kawatir!" Perintah Aisakha pada Nia.
 
"Enggak Mas, aku cuma, cuma...", Nia ragu melanjutkan kata-katanya.
 
"Cuma apa sayang?" Tanya Aisakha mendesak Nia menjawab.
 
"Mas lagi apa, sama siapa, dimana sekarang?" Tanya Nia berusaha mengalihkan pembicaraan.
 
"Nia, cuma apa tadi? Jangan mengalihkan pembicaraan". Aisakha tahu kalau pertanyaan Nia tadi hanya untuk pengalihan pembicaran saja.
 
"Mas, aku malu", jawab Nia cepat.
 
"Hahahaha", Aisakha tidak bisa menahan tawanya yang sedari tadi ditahannya. Senang sekali perasaannya bisa menjahili wanita yang sangat dicintainya itu.
 
"Malu? Kenapa harus malu? Kan kamu memang calon Ibu dari anak-anakku. Iyakan sayang?" Aisakha masih terus menjahili Nia.
 
"Mas....sudah-sudah", suara Nia yang mulai melemah, perasaannya sangat terpojok sekarang. Kata-kata Aisakha sukses membuat Nia merasa malu.
 
Aduh, malu banget deh.
 
__ADS_1
"Iya, iya. Tapi jawab dulu kalau kamu memang adalah calon Ibu dari anak-anakku". Desak Aisakha pada Nia.
 
"EMAASSS", Nia mulai merajuk.
 
"Okeh, okeh. Trus sudah pulang sekarang? Sudah sampe apartemenkan?" Aisakha menganti topik pembicaraan.
 
"Belum Mas, ini masih Mall". Jawab Nia.
 
"Masih di Mall? Ini sudah hampir satu jam loh. Kamu beli apa sebenarnya?" Tanya Aisakha heran.
 
"Iya Mas, masih di Mall. Tadi begitu sampe sini, aku langsung naik lantai dua buat belanja. Tapi, belum lagi aku memulai mencari apa yang aku mau, aku tuh lihat seorang Ibu yang kesulitan membawa troli belanjaannya dengan tangan yang juga memegang barang dan dompet. Jadi, aku nolong Ibu itu Mas, setelah selesai, aku di ajak makan. Dan ini kami baru aja pisah, si Ibu sudah pulang bersama sopirnya. Jadi aku lanjut dengan rencana awalku, buat beli sesuatu". Jelas Nia panjang pada Aisakha.
 
"Seorang Ibu? Siapa?" Tanya Aisakha kemudian.
 
"Aku juga gak tau Mas, aku baru pertama bertemu beliau. Kasihan deh Mas", ujar Nia mengiba.
 
"Kamu ini memang wanita baik sayang, dengan hal seperti itu saja kamu bisa langsung jatuh iba". Ucap Aisakha di ujung telepon.
 
"Nggak tega Mas, kebayang sama Ibu aku". Jawan Nia pelan.
 
 
"Nah, pikiran Mas sama dengan aku. Aku tadinya juga penasaran loh Mas, kenapa si Ibu dibiarkan sendirian oleh keluarganya. Ternyata Mas, Ibu itu seorang janda dengan satu anak. Anaknya lagi keluar kota, lagi ada pekerjaan dari kantornya. Jadilah si Ibu itu belanja sendiri Mas, beliau berbelanja aneka bahan makanan, katanya mau masak menu kesukaan anaknya setelah pulang nanti". Nia menceritakan semua yang diceritakan si Ibu padanya.
 
"Anaknya lelakilah?" Tanya Aisakha penuh selidik.
 
"Iya Mas". Jawab Nia cepat.
 
"Apakah kamu bertukar nomor hape dengan Ibu itu?" Pertanyaan Aisakha penuh selidik kemudian.
 
"I, iya Mas. Kok Mas tau?" Nia merasa heran.
 
"Besok-besok kalau si Ibu itu menelepon kamu, jangan di angkat!" Perintah Aisakha pada Nia.
 
"Loh, kenapa Mas?" Tingkat keheranan Nia bertambah.
 
Kenalkah?
__ADS_1
 
"Pokoknya jangan di angkat!" Aisakha kembali menegaskan pada Nia.
 
"Mas kenal?" Nia mulai ragu, dan berpikir kalau Aisakha kenal pada si Ibu yang tadi di tolongnya.
 
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Tapi aku tau benar apa mau Ibu itu padamu". Jawab Aisakha tidak suka.
 
"Mas jangan aneh-aneh ya, hahahaah". Nia mulai merasa sikap Aisakha aneh.
 
"Sayang, jangan anggap ini sepele. Dengar baik-baik, si Ibu itu kamu bantu. Dia bersimpati padamu, mengajak kamu makan. Dia punya seorang anak lelaki, aku tebak usia anaknya pasti sudah dewasa. Niaaaa, Ibu itu berharap kamu bisa menjadi menantunya. Karena itu dia meminta nomor hapemu, pasti dia juga bilang semoga suatu hari nanti bisa jalan bareng kamukan?" Tanya Aisakha tidak sabar.
 
"Hah, mana mungkin. Mas kenapa berpikir sejauh itu? Memang sih, si Ibu berniat suatu hari nanti akan pergi keluar bareng aku. Tapi dia gak bilang bakal bawa anaknya kok". Jawab Nia yakin.
 
"Nia, wanita yang sangat aku cintai. Kamu terlalu polos sayang, kamu terlalu baik sama orang. Jadinya kamu gak tau kalau orang punya niat lain sama kamu. Sekarang aku tanya, selama kamu menghabiskan waktu bersama si Ibu tadi, apakah dia mengajukan pertanyaan tentang masalah pribadimu? Seperti, apakah kamu masih sendiri?" Aisakha meminta Nia mengingat kembali apa saja yang dia dan si Ibu ceritakan.
 
"Benar Mas, si ibu memang ada mengajukan pertanyaan tentang statusku, tentang kekasih atau suami". Jawab Nia sambil membelalakkan matanya tidak percaya dengan tebakan Aisakha barusan.
 
Benarkah? Apa benar?
 
"Dan jawabanmu?" Aisakha meminta Nia menjawab segera.
 
"Jawabanku, aku memang belum menikah dan saat ini sedang dekat dengan seseorang". Nia menjawab yakin.
 
"Setelah aku sampai di Bengkulu, aku akan segera menikahimu". Ucap Aisakha.
 
"Hah? Mas ini kenapa?" Nia kembali membelalakkan matanya rasa tidak percaya.
 
"Ya aku tidak mau kalau kamu di rebut orang. Kamu itu milikku, walaupun wanita itu adalah seorang Ibu, aku tetap tidak suka. Jangan coba-coba merebut kamu dari aku. Jadi saat dia menghubungi kamu, kamu tidak boleh meladeni dia. Aku tidak mau, dibelakangku ternyata dia mempertemukan kamu dengan anaknya". Suara Aisakha terdengar tegas pada Nia.
 
"Mas, Mas terlalu jauh berpikir. Dan kalaupun semua yang Mas duga itu benar, yakinlah aku tidak akan berpaling darimu. Jadi berhentilah berpikir seperti itu. Lebih baik Mas fokus pada pekerjaan Mas saat ini dan segeralah kembali". Permintaan Nia pada Aisakha.
 
"Terima kasih sayang sudah mau membuka hatimu padaku. Dan kamu juga harus sabar menunggu. Tidak akan lama, percayalah". Ucap Aisakha penuh janji.
 
 
 
 
__ADS_1