SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
48


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


Bibi masih memegang jemari Pakde, perasaan Bibi tidak enak. Apakah pertanyaan Aisakha masih ada hubungannya dengan kejadian hilangnya Nia semalam ? Begitu kira-kira pikir Bi Kartik. Dia mulai takut, kalau-kalau Aisakha berniat mengusir dirinya dan sang suami dari kehidupan majikan kecil mereka.


 


Bagaimana ini ? Apakah tuan tampan tidak mengizinkan kami ikut bersama si non lagi ? Apakah tuan tampan ini tipe orang pendendam sampe tega misahin kami sama si non ?


Bibi sibuk berspekulasi di dalam hati.


 


"Maaf tuan, saya dan isteri benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan tuan ". Pakde memegang tangan isterinya yang mengengam erat jemarinya. Sepertinya isi hati Pakde dan Bibi sama, mereka sama-sama takut di depak dari kehidupan Nia, majikan kecil yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri itu.


 


"Ya, seperti yang Pakde dan Bibi tahu. Sebentar lagi Nia dan saya akan menikah, Nia akan saya bawa ke Jakarta. Pakde dan Bi Kartik sudah tahukan ?" Tanya Aisakha sambil duduk dengan pose gagahnya.


 


"Kami tahu tuan ". Jawab Pakde cepat. "Si non sudah cerita sama kami, tapi kami belum kasih jawaban ".


 


"Lantas, kalau saya tanya apa jawabannya saat ini, apa sudah bisa ?" Aisakha memandang lurus ke mata Pakde dan silih berganti ke arah Bibi, terlihat jelas kalau Aisakha mengharapkan ada jawaban pasti dari sepasang suami isteri itu.


 


"Ibu mau jawab ?" Tanya Pakde pada sang isteri sambil mengusap-gusap lembut tangan Bibi.


 


Bibi diam, meminta kepastian pada sang suami. Mereka saling berpandangan dan sebuah anggukan Pakde berikan pada Bibi. Pakde berusaha menyakinkan sang isteri untuk berbicara, mengungkapkan keinginan terdalamnya dan Pakde akan senang hati untuk menuruti.


 


"Tuan ", ucap Bibi sambil menatap sang suami. Pakde mengangguk pelan sekali lagi sambil tersenyum memberi semangat pada sang isteri.


 


"Tuan, kami...Pakde dan Bibi sudah membicarakan ini, kami sudah membahas ini sejak lama ". Bibi berhenti sesaat. "Kami, kami sangat berharap tuan mengizinkan kami boleh tetap bersama si non, kemanapun tuan bawa si non tolong bawa kami serta juga tuan. Kami tidak akan menyusahkan tuan. Kami janji, tapi tolong jangan pisahkan kami sama si non ". Mata Bibi mulai berkaca-kaca, ada sebentuk permohonan dalam setiap ucapannya.


 


"Tuan, Bibi dan Pakde janji, kami tidak akan menyusahkan. Berikan kami pekerjaan sebanyak-banyaknya, kami tidak akan mengeluh, kami bakal patuh, tuan boleh pegang janji kami ". Sekarang giliran Pakde ikut menjawab, ikut berusaha menyakinkan Aisakha.


 


"Jangan pisahkan kami dari si non, tuan pasti tahukan gimana sayangnya kami sama si non. Bagi kami si non sudah seperti anak sendiri, jadi izinkanlah kami ikut ". Pakde berbicara dengan lantang.


 


Aisakha tersenyum, hatinya merasa senang. Jujur jawaban inilah yang di harapkannya, Pakde dan Bibi bersedia tetap mengikuti Nia, meskipun mereka telah menikah nanti. Aisakha tahu kalau calon isterinya itu juga mengharapkan hal yang sama, pasti berat bagi Nia andai pasangan suami isteri yang sudah lama memgikuti Nia memilih tetap tinggal di sini, bukan mengikutiny, karena Aisakba tahu Nia sangat tulus menyayangi mereka.


 

__ADS_1


"Bagus, jawaban itu yang saya harapkan. Dan saya menuntut pembuktian dari setiap kata-kata yang Pakde dan Bibi ucapkan tadi ". Aisakha merubah posisi duduknya.


 


"Mana ?" Tanya Aisakha pada Kristo.


 


Kristo berdiri dan menyerahkan selembar kertas pada sang tuan, selembar kertas yang terlihat hanya selembar telapak tangan dalam pandangan Pakde.


 


Apa itu ? Pikir Pakde heran.


Tuan mau apa ya ?


 


"Pakde..lihat ini !" Suara Aisakha membuat sosok Pakde menjadi berdiri tegak dan bergerak menghampiri Aisakha secepatnya, sedangkan Kristo, dia pun memilih duduk kembali.


 


"Lihatlah baik-baik !" Perintah Aisakha saat Pakde membuka selembar kertas tersebut. Ternyata kertas itu dilipat dua, sebuah kertas yang berisi gambar. Gambar yang tidak pernar di lihat Pakde sebelumnya.


 


"Apa itu Pak ?" Suara Bi Karti setengah berbisik saat dirinya di beri kesempatan oleh Pakde untuk melihat isi kertas itu, melihat gambar yang sepertinya cukup tua, cukup lama.


 


"Nggak ngerti Bu ", jawab Pakde juga sambil berbisik.


 


 


"Siapakan baju kalian semuanya, tapi demi menghindari kecurigaan Nia. Kalian bawa saja secukupnya dulu, kira-kira pakaian untuk 2 sampai 3 minggu. Kalian akan terbang ke Jakarta besok dengan pesawat komersil jam 11 siang ! Kristo akan mengurus keberangkatan Pakde dan Bibi !" Aisakha melihat ada raut wajah tidak mengerti dari pasangan suami isteri itu.


 


"Pagi, kalian akan melepas Nia berangkat bersama saya ke Jakarta. Nia tidak boleh tahu, kalau kalian juga akan ke sana. Sampai di Jakarta kalian akan mendapatkan lebih banyak lembaran-lembaran serupa itu ". Aisakha masih terus berbicara, sedang Pakde dan Bibi menjadi pendengar yang baik.


 


"Kalian akan di antar ke sana. Tugas Pakde dan Bibi, buat isi setiap lembaran kertas yang akan kalian terima nanti menjadi nyata, dari luar hingga dalam. Semua harus sama !" Perintah Aisakha.


 


"Apapun yang kalian butuhkan jangan ragu, minta saja kepada Kristo ! Dia akan memenuhi semuanya ", Aisakha melihat ke arah Kristo dan Kristopun mengangguk cepat.


 


"Semua harus siap saat hari pernikahan kami, itu adalah kado spesial saya untuk Nia ". Aisakha tersenyum senang sambil sedikit menerawang, entah apa isi alam pikirannya saat ini. Pakde dan Bibi tidak berhasil menebak.


 


"Tapi tuan, tuan dan si non kan cuma seminggu di Jakarta. Trus, kalau si non balik ke sini dan mendapati kami tidak ada gimana ?" Bibi sedikit ragu.


 

__ADS_1


"Kalian juga bagian dari kejutanku untuk Nia nanti. Jadi sebelum aku membawa Nia kembali ke sini, kalian harus menelepon Nia dan bilang kalau kalian ada urusan penting hingga harus pergi ! Dan, jangan lupa bilang maaf dengan sepenuh hati agar Nia lebih percaya lagi !" Bibi masih saja terlihat ragu, Aisakha bisa menebak itu.


 


"Nanti kalau si non balik ke sini dan mendapati rumah ini kosong, gimana tuan ? Si non sama siapa ? Siapa yang urus dia ?" Bibi terlihat tidak ikhlas.


 


"Karena kalian tidak di sini, maka Nia akan tinggal kembali bersama Bibi Ros sampai hari pernikaham kami tiba. Percaya Bi, Nia aman di sana dan dia pasti baik-baik saja. Atau kalau memang saya bisa dapat izin Paman dan Bibi Nia, Nia akan tinggal di Villa saya ". Jawab Aisakha yakin.


 


Bibi terlihat bersiap membuka mulutnya kembali, tapi dia kalah cepat. Aisakha sudah terlebih dulu berbicara.


 


"Gambar itu adalah bagian terpenting dalam hidup Nia ", Aisakha menarik nafas pelan. "Akhirnya saya bisa mendapatkanya kembali, tetapi ada perbedaan dari awal, dari gambar yang kalian lihat. Karena itu, saya ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Seperti persis dengan memori Nia ! Dan saya butuh kalian, karena hanya kalian yang bisa saya percaya untuk tugas penting ini, untuk hadiah pernikahan kami ini ". Aisakha melihat Pakde dan Bibi saling beradu pandang.


 


"Tuan sangat mencintai majikan kecil kami ya ? Sampai tuan berusaha keras mengembalikan isi kertas ini menjadi nyata lagi ". Aisakha hanya tersenyum menjawab pertanyaan Pakde. Senyum pasti yang sangat mudah si tebak artinya, kalau memang Aisakha benar-benar mencintai Nia.


 


Yang nggak mungkin mau di buat tuan menjadi mungkin. Luar biasa sekali, tuan memang sangat mencintai si non. Aku bisa merasakan itu. Ahhhh....Semoga saja, pernikahan si non dan tuan lancar, langgen, sehat, damai dan punya banyak keturunan, bersama selamanya. Terusss, punya banyak cucu untuk kami.


 


"Baiklah tuan ". Tanpa bertanya pendapat sang isteri, Pakde berencana memberikan jawaban pada Aisakha.


 


"Kami akan melakukan tugas yang tuan perintahkan pada kami. Kami akan mengembalikan semua isi gambar ini menjadi nyata lagi seperti harapan tuan, tapi tuan tolong janji sama kami !" Pinta Pakde tanpa ragu dengan lancarnya.


 


"Pakde, jaga bicara anda !" Kristo terlihat tidak senang. Menurut Kristo, Pakde terlalu lancang.


 


"Krissss...biar !" Ucap Aisakha sambil mengerakkan tangan kanannya, yang membuat Kristo terpaksa kembali menutup rapat mulutnya.


 


"Apa ?" Tanya Aiskaha kepada Pakde.


 


"Janji tuan, tolong berjanjilah sampai ajal memisahkan, tolong jangan sia-siakan si non, apapun yang terjadi !" Suara Pakde terdengar lantang. Bibi langsung mengangguk cepat tepat di saat sang suami mengakhiri permintaannya.


 


Aisakha tersenyum cerah, "Pakde dan Bibi tidak perlu ragu, nyawa saya sebagai jaminannya ! Hanya akan ada Nia di dalam hati saya dan selamanya saya akan membuat Nia bahagia, bagaimanapun masa-masa yang akan kami lalui, saya pasti akan membuat Nia menjadi Ratu suci di dunia saya ". Janji Aisakha dengan setulus jiwa di ucapkannya kepada Pakde dan Bibi.


 


Gilakk, jadi merinding aku mendengar apa yang tuan ucapkan tadi. Tuan benar-benar cinta mati sama nona. Ini sih udah lebih dari bucin, sangat-sangat lebih, bucin kadar akut ini mah. Kristo mengangguk pelan mengiyakan kata hatinya. Bahaya nona Nia, pesonanya luar biasa, bisa membuat tuan jadi seromantis itu gomongnya. Udah kayak para pejuang cinta aja.


 

__ADS_1


 


__ADS_2