
πππππ
γ
Kemala tertunduk lesu, di dalam hatinya dia sibuk menangis sedih meratapi betapa dinginya Edo pada dirinya. Sejak mereka berangkat meninggalkan rumah besar keluarga Edo menuju gedung tempat acara pesta resepsi mereka esok akan berlangsung, Edo hanya bersikap acuh tak acuh. Seakan semua ini bukanlah hal penting, seakan yang menikah itu bukanlah dirinya bersama Edo. Edo sama sekali tidak ramah padanya apa lagi antusias. Entah apa salah dirinya, hingga Edo tidak pernah bisa menerima keberadaannya ? Begitu kira-kira pikir Kemala.
γ
"Kamu pergi sendiri saja !" Edo kembali melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku nggak mungkin memundurkan rapat penting ini sampai 2 kali. Apa kata mereka nanti, mereka pasti memandangku sebelah mata, tidak becus ". Edo terlihat kesal.
γ
Di awal, saat pagi dirinya dan Kemala berangkat dengan tujuan mereka ingin mengecek kesiapan gedung dan katering untuk acara puncak kebahagiaan mereka yang kurang dari 2 minggu lagi. Prediksi Edo semua tidak akan memakan waktu lama, karena itu Edo setuju-setuju saja saat sang Mama memintanya menemani Kemala untuk memastikan semua remeh temeh persiapan pernikahan tersebut.
γ
Sayang, realita terkadang tidak sama dengan teorinya. Kenyataannya pengecekan gedung bisa memakan waktu berjam-jam lamanya, semua harus diperiksa hingga detail-detail terkecil sekalipun. Dan itu membuat Edo harus menghubungi sekretarisnya agar memundurkan jam rapat pentingnya yang harusnya berlangsungΒ tepat pukul 9 pagi tadi, hingga lewat jam makan siang.
γ
Edo marah, tentu saja Kemalalah yang jadi pelampiasan marahnya. Munurut sudut pandang Edo, Kemala terlalu tergantung padanya, tidak mandiri. Dan Edo tidak suka itu, perasaan Edo, sosok Kemala ini hanya membuat dirinya semakin repot saja.
γ
Tanpa berniat mendengar jawaban Kemala, Edo memutuskan sepihak. Dia langsung memberi perintah pada sopir agar segera mengantarkannya ke kantor, baru setelah itu si sopir pergi mengantarkan Kemala kembali ke tempat katering yang telah mereka booking.
γ
"Setelah semua urusannya selesai, kau cepat kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan penting !" Tanpa melihat ke arah Kemala, Edo memberi perintah pada sopir pribadinya tepat sebelum si sopir berjalan keluar hendak membuka pintu belakang mobil tempat Edo duduk.
γ
Kemala meremas kuat jemari tangannya, rasanya dirinya mulai lelah menghadapi sikap acuh Edo padanya, pada cintanya. Tidak ada senyuman apa lagi kata-kata hangat wujud perhatian dari Edo pada Kemala, Edo berlalu begitu saja tanpa memandang Kemala walaupun sesaat.
γ
γ
***************
γ
γ
"Sudah selesai semua ?" Tanya Aisakha saat Kristo telah kembali dari mengantarkan tamu yang baru saja meninggalkan ruang kerja Aisakha.
γ
__ADS_1
"Sudah tuan, tapi ada file penting yang harus tuan periksa. Sangat mendesak tuan ". Ucapan Kristo membuat Aisakha membatalkan gerakan tangannya yang berusaha mengapai handphone miliknya di sudut meja kerja.
γ
"Kau ini, baru saja aku mau bernafas lega karena bisa menelepon Nia ". Aisakha mendengus kesal, tetapi dia tetap membuka tumpukan kertas tebal dalam bundelan map hitam di atas mejanya.
γ
"Setelah yang satu ini tuan ". Kristo hanya mengeleng menahan tawanya melihat tingkah sang tuan yangΒ lebih mirip seperti remaja bau kencur sedang jatuh cinta, merajuk kesal sambil membaca setumpuk berkas.
γ
"Aku sumpahi, saat kau jatuh cinta kelakuaanmu lebih parah dariku ". Ternyata Aisakha menyadari kalau si sekretarisnya itu sedang berusaha menahan tawa melihat kekesalannya.
γ
Itu sumpah tuan gak mungkin di kabulkan kan ? Ihhhhhhhh......Β
Kristo memegang tengkunya yang mendadak terasa dingin.
γ
γ
***************
γ
γ
Mereka sedang sibuk menenangkan diri masing-masing, ada rasa cemas yang dalam terhadapa Nia. Bagaimana tidak, pengawal Nia yang bernama Damar menelepon Profesor Yandi tepat di saat mereka akan meninggalkan restoran. Sepenggal informasi di sampaikan hanya kata nona Nia hilang saja yang tersebut jelas. Sotak membuat Profesor Yandi berteriak heboh menyuruh Wulan, Resya dan Anita agar segera masuk ke mobil, Profesor sudah tidak sabar ingin cepat sampai di kantor.
γ
"Bagaimana ceritanya hilang, kan tadi sama Bowo ?" Profesor Yandi berdiri di ambang pintu ruang Cctv sambil menarik nafas dalam. Sepertinya pria yang hampir memasuki usia 56 tahun ini agak sulit bernafas teratur sekarang, terlalu tersengal-sengal.
γ
"Itu yang mau kami tanya Prof ". Satriyo berjalan ke arah Profesor Yandi. "Sebelumnya mari Prof, masuk dulu. Kita bahas di dalam !"
γ
"Bagaimana ceritanya ?" Kembali Profesor Yandi mengulang pertanyaan yang sama saat dirinya sudah berhasil duduk di kursi depan meja kerja Kepala Keamanan perusahaan.
γ
"Nona berencana berangkat ke restoran tempat janjian bersama Profesor dan lainnya. Tapi sebelum itu nona bilang pengen ke toilet dulu. Sayangnya toilet di ruang kerja nona rusak, jadi nona terpaksa ke toilet pantry. Setelah itu nona tidak kelihatan lagi". Damar mencoba menceritakan kejadian hilangnya Nia dengan versi sederhana.
__ADS_1
γ
"Siapa bilang toilet di ruang kerja kami rusak ?" Wulan berjalan bersama Resya dan Anita masuk ke arah Profesor Yandi yang sedang duduk.
γ
"Iya..bagus kok. Orang saya tadi sempat ke sana sebelum pergi ketempat traktiran !" Ucap Anita sungguh-sungguh.
γ
"Di sinilah masalahnya Prof. Semua seakan sudah di rencanakan, hilangnya nona bukan faktor kebetulan ". Satriyo menatap Profesor.
γ
"Lantas Bowo gimana ? Apa Bowo juga ikut hilang ?" Resya merasa semua orang belum ada yang mengingung tentang keberadaan sosok Bowo sedari tadi.
γ
"Apa hubungan nona dan Bowo ?" Damar bertanya serius.
γ
"Saya tidak suka nada bicara anda, Pak ". Pakde terlihat membesarkan bola matanya. "Apa maksud pertanyaan anda ?"
γ
"Pakde sabar dulu, kita semua harus tenang kalau mau mengungkap masalah ini !" Satriyo mengusap kasar wajahnya, terlihat jelas suasana di ruangan tersebut sudah mulai tidak kondusif, semua tegang.
γ
"Saya akan sabar kalau kalian bersikap sopan ". Tanpa ragu Pakde semakin membesarkan bola matanya menatap Damar. "Kalian berdua tahu apa tentang nona, ha ? Kalian baru saja bertugas menjadi pengawal nona dan lihat kamu, kamu malah gagal menjalankan tugas ". Tunjuk Pakde kesal pada Damar. Damar menarik nafas panjang, rahanganya mengeras. Kata-kata Pakde barusan berhasil membuat dirinya terpojok.
γ
"Saya akan telepon tuan Aisakha. Saya sudah tidak tahan lagi, ini sudah mau 2 jam si non hilang ". Pakde merogoh saku celannya, bersiap mengeluarkan handphone jadulnya.
γ
Wajah Damar memucat, mendengar nama Aisakha di sebut, spontan membuat jantungnya berdebar keras tak menentu. Jelas Damar terlihat takut.
γ
Lain Damar lain pula Satriyo, sekuat tenaga dirinya berusaha mengapai tangan kanan Pakde yang hampir saja berhasil menarik keluar handphone tuanya keluar dari saku celana.
γ
"Pakde, tenang dulu. Sebentar ya, kita belum dengar cerita Profesor Yandi. Kita tidak boleh gegabah !" Tangan Satriyo mencengram kuat tangan Pakde. "Kita runut semua cerita ini sebaik mungkin, baru kita lapor tuan ".
__ADS_1
γ
γ