SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
154


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


“Sa, sakit sekali “. Resya membuka matanya, menggeliat pelan ke sisi kanan, hingga tanpa sengaja membuat lengan kanannya yang baru beberapa jam di jahit, tersenggol sisi ranjang. Sakit luar biasa, seperti efek bius sudah habis.


 


“Nona “, Bayu melangkah cepat. Mendekati ranjang Resya, berniat menyentuh tangan wanita yang baru saja mengerang kesakitan itu.


 


“Ba, Bayu ?” Resya mengenali sosok lelaki yang berdiri dengan pandangan penuh kekhawatiran itu. “Kamu ngapain di sini ? Ini di mana ?”


 


“Apa nona Resya lupa ?” Bayu tersenyum pada Resya.


 


“Apa ya Bay ?”


 


“Nona Resya tadi telah menyelamatkan nona muda kami. Sekarang nona ada di Rumah Sakit, lengan nona terluka “. Jelas Bayu masih dengan senyum terbaiknya.


 


“Ooo, iya...iyaaaaaa “, Resya berusaha bangun dari tidurnya. Tetapi, karena lengan kananya sedang luka, Resya terlihat agak kesulitan.


 


“Boleh saya bantu nona ?” Tanya Bayu yang bisa menilai situasi Resya saat ini.


 


“Ti, tidak usah..saya bisa “. Tolak Resya sambil berusaha mendudukkan dirinya sendiri.


 


“Nia, bagaimana dia Bay ?” akhirnya Resya bisa duduk bersandar di kepala ranjang.


 


“Nona Nia baik, sekarang sedang dalam perawatan dokter. Dan tuan ada di sana menemai “.


 


“Ahhh, syukurlah “. Menghela nafas senang.


 


“Aku kok enggak ingat bisa sampe ke sini ?” Resya memandang sekeliling kamar rawatannya.


 


“Itu karena nona Resya tadi pingsan dan Pak Kristo yang membawa nona “. Entah kenapa, senyum di wajah Bayu tidak juga sirna selama dirinya berbicara dengan Resya.


 


“Dan lelaki gila itu, bagaimana dia ?” ada guratan emosi di wajah Resya saat ini.


 


“Dia sudah selesai nona, Pak Kristo sudah membuat dia tamat “. Jawab Bayu riang.


 


“Wah, benarkah ?” Resya nampak takjub. “Ternyata dia hebat ya ?” memuji tulus.


 


“Pak Kristo memang hebat nona, sama seperti nona Resya. Hebat juga dan pemberani “, mengacungkan jempol ke arah Resya.


 


“Bayu bisa saja, aku jadi malu “. Tertunduk.


 


“Saya serius nona “. Tampak bersemangat.


 

__ADS_1


“Terima kasih Bayu “. Yang mendapat ucapan terima kasih malah nampak merona malu.


 


Sementara Bayu dan Resya terlihat asyik melanjutkan cerita tentang kejadian penuh adegan mengerikan penyanderaan Nia oleh Bagas, tanpa mereka sadari ada sosok tubuh tinggi dengan pakaian rapi sedang mengamati 2 anak manusia di dalam kamar rawat. Saling tertawa, kadang saling bantah. Tidak jarang saling memuji pula. Membuat begitu banyak tanda tanya di dalam kepalanya.


 


Sejak kapan mereka menjadi seakrab itu ? Membatin kesal tanpa sadar.


 


Ah, kalau bukan tuan yang suruh. Males banget aku datang ke sini, serasa jadi penganggu saja. Masih membatin kesal, tetapi masih tetap menjadi penyimak segala obrolan di dalam sana.


 


Apa itu, pake muji-muji segala. Itu Bayu sok muji nggak jelas, cari perhatian dia ? Heh, memalukan saja tingkahnya. Merutuk dalam hati, tetapi tetap tabah mencuri dengar pembicaraan.


 


Eh, ehhhh...apa itu. Bayu kurang ajar. Membatin sambil melangkah lebih kesal, keluar dari persembunyian dan masuk lebih dalam ke kamar rawatan Resya.


 


“Ehemmmm.... “, sengaja menggunakan suara keras.


 


“Pak Kristo“, Bayu batal memegang tangan Resya.


 


“Pak “, Resya tersenyum penuh hormat pada sekretaris tempat dirinya berkerja.


 


“Kenapa kau bisa ada di sini ? Bukannya tugasmu menjaga nona Nia ? Kau sudah bosan berkerja ya ?” Bertanya tanpa wajah bersahabat.


 


“Maaf Pak, tadi saya di minta tuan memeriksa keadaan nona Resya. Tapi, karena Bapak sudah di sini, saya pamit, kembali ke tugas saya “. Bicara sambil menunduk hormat.


 


 


Resya memandangi Bayu yang telah undur diri, melihat bagian punggung yang sudah menghilang di balik pintu.


 


Canggung dan bingung, seumur-umur Resya belum pernah sebegitu dekat dengan sosok Kristo seperti saat ini. Di tinggal berdua bersama Kristo saat ini, cukup terasa aneh. Resya kikuk, harus mengucapkan kata apa.


 


Beberapa detik berlalu, Kristo duduk di kursi tempat Bayu tadi. Aneh, kalau tadi dirinya kesal pada Bayu yang bisa begitu akrabnya berbincang ria bersama Resya. Sekarang, Kristo mendapati rasa kesal karena dirinya tidak bisa seluwes Bayu di hadapan Resya.


 


Waktu berlalu, Kristo diam dengan kebingungannya sendiri. Sesekali menatap mata Resya, tetapi tetap tanpa suara.


 


“Terima kasih Bapak sudah membawa saya ke sini dan terima kasih juga sudah mau melihat saya “. Resya memilih berbicara duluan, memecah keheningan antara dirinya dan Kristo.


 


“Hemm “, jawab acuh tanpa memandang mata Resya.


“Baiklah, kalau memang Bapak hanya mau melihat kondisi saya. Saya tidak apa-apa, saya sudah mendapat perawatan “. Bingung harus bersikap seperti apa pada Kristo yang irit bicara.


 


“Kenapa, tidak suka saya di sini ?” mode kesalnya yang memang belum hilang sepenuhnya balik lagi.


 


“Bu, bukan “. Gagap saking takutnya melihat wajah kesal Kristo. “Sa, saya hanya takut menyita waktu Bapak di sini. Mungkin, Bapak ada pekerjaan yang lebih penting lagi “.


 


“Tidak usah sok tahu “. Bicara asal lagi


Aihhh, aku ini kenapa coba. Kesal sama nih orang, kesal sama Bayu. Tapi apa coba alasannya ? Membatin tidak jelas.

__ADS_1


 


“Ma, maaf “. Takut dan memilih menunduk.


 


“Sudahlah...lebih baik kamu istirahat “. Menyerah dengan perasaan tidak jelasnya.


 


“Terima kasih sudah sangat berani di Mall tadi “. Tersenyum tulus. “Kamu sangat hebat “.


 


“Te, terima kasib Bapak “. Senang melihat senyum di wajah Kristo.


Kalau senyum, Pak Kristi cakep deh. Membatin sambil memandangi wajah Kristo.


 


“Obatnya sudah di minum ?” suara Kristo membuyarkan isi batin Resya.


 


“Belum Pak, tadi bilang Bayu minumnya malam. Kecuali kalau sangat sakit “. Resya mendadak betah menatap lama wajah Kristo.


 


“Kamu ini punya hubungan apa sama Bayu ?” seperti mimpi, Resya langsung heran melihat sikap baik Kristo mendadak berubah kesal lagi.


Ini orang kenapa sih ? Kesal, baik, turus kesal lagi, enggak lama baik, dan sekarang kesal lagi. Aku salah apa coba ? Membatin penuh tanya.


 


“Saya dan Bayu tidak punya hubungan apa-apa Pak, kami berteman. Mungkin karena kami sama-sama ada di dekat Nia dalam keseharian kami. Jadinya kami akrab “. Menjawab jujur.


 


“Kamu itu harus berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis !” Menasehati, tapi dengan wajah serius. “Memang kejadian kamu di selingkuhi pacarmu itu tidak bisa membuka mata kamu apa ?”


 


Sesaat kemudian, belum satu detik berlalu, Kristo nampak sangat menyesal dengan semua susunan katanya barusan. Wajah Resya berubah, mendadak ada mendung di mata gadis cantik itu.


 


“Maafkan saya “. Menyesal tidak terkira.


 


“Jadi, jadi benar Resky menghianati saya ? Jadi, Resky benar selingkuh di belakang saya?” sedih bukan kepalang, sampai lupa pada denyut sakit di lengan kanannya.


 


“Maaf “. Tidak tahu harus menjawab apa.


 


“Saya, saya sudah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan terburuk tentang hubungan saya dan Resky. Tapi, tapi “. Suara Resya mendadak pelan. Kristo tahu Resya sedang menahan air matanya agar tidak jatuh.


 


“Kamu jangan sedih “. Refleks pindah duduk ke tepi ranjang Resya. Memegang tangan Resya dan mengusap-usap lembut punggung tangan Resya.


 


“Saya tidak menyangka, rasanya tetap sakit “. Tertunduk penuh kesedihan.


 


“Maafkan saya, pilihan waktu saya menyampaikan ini tidak tepat “. Masih mengusap-usap punggung tangan Resya penuh rasa bersalah.


 


“Saya, saya... “, gagal mencegah air matanya jatuh. Resya terisak tanpa mau memperlihatkan dukanya pada Kristo.


 


“Jangan bersedih, ada aku “, entah mendapat inisiatif dari mana, Kristo memiliki keberanian tidak terkira. Memeluk Resya, mengusap lembut punggung yang terguncang itu.


“Jangan bersedih, ada aku...ada aku “.


 

__ADS_1


 


__ADS_2