
Kejujuran
πππππ
γ
Sial, kenapa enggak lihat ke arah situ tadi? Rupanya Paman tidak tidur. Gawat, gawatttttt....jadi panjang ceritanya ini. Aisakha merasa sangat terpojok sekarang.
γ
Ayo...mikir, mikir Sakha. Kamu enggak mau tambah runyamkan? Cepat pake otakmu ! Aisakha mulai sedikit getir.Β Kenapa juga ketahuan sih, ahhh..ada-ada saja.
γ
"Anda benar-benar nekat ternyata". Terdengar Paman mulai berjalan kearah Aisakha. "Sangat keras kepala".
γ
Aku harus apa? cepat, cari solusinya.
Kamu jelas tertangkap basah oleh Paman. Dia pasti akan murka.
Tapi, akukan melakukan semua ini untuk melihat Nia, salah?
Ya...gak sih. Cuma bagi Paman pasti salah, besar malah. Lah, sudah di usir malah mengendap-endap masuk.
Ah, manaku tau Paman masih terjaga.
Iya..iya..cuma ulah kamu itu sudah seperti remaja ingusan yang tertangkap kering mau melecehkan anak perawan orang.
Hey, mana mungkin aku segila itu.
Menurutmu kan? Kalau Paman gimana?
Sudah, sudah. Jangan berdebat sekarang. Cepat bantu cari solusi!
Satu detik berlalu, terjadi dialog panjang antara Aisakha dengan dirinya sendiri. Dia benar-benar gusar dan tersudut karena telah tertangkap oleh Paman.
γ
Sudah, mengaku salah saja dan segera tinggalkan ruangan ini. Supaya Paman tidak tambah benci padamu.
Lantas Nia?
Cobalah berpikir logis, Sekarang Paman dulu yang diutamakan. Nanti kalau Paman sudah tenang dan sudah benar-benar terlelap, kita masuk lagi lihat Nia.
Padahal hanya beberap centi lagi aku bisa mengangkat bantal yang menutupi wajah Nia. Dia pasti menangis hingga tertidur.
Tahan...sabar...dengarkan aku
Baiklah, aku setuju.
Dan akhirnya Aisakha menuruti nasehat dari dirinya. Untuk sekarang, rasanya cukup masuk akal. Walaupun nanti dia akan kembali mengendap-endap demi bisa memastikan belahan jiwanya baik-baik saja. Yang jelas, saat ini dia tidak boleh membuat Paman semakin membencinya. Salah tetap salah, dia harus bertanggung jawab demi Nia.
γ
Aisakha berbalik langsung menatap lurus pada Paman. Untuk sementara dia harus menunda kerinduaannya pada Nia. Walaupun seribu tanya menyerangnya tentang kondisi Nia. Sekarang, yang harus dia lakukan adalah konsenterasi pada Paman. Dia harus memperbaiki citranya di depan Paman terlebih dahulu atas ulahnya mengendap-endap masuk kedalam ruang perawatan Bibi Ros. Apa lagi tanpa kejadian ini, citranya memang sudah buruk di mata Paman.
__ADS_1
γ
"Paman". Ucap Aisakha hormat.
γ
"Anda sangat nekat, tuan". PamanΒ menatapan geram Aisakha.
γ
Minta maaf cepat, bilang menyesal.Β
"Maafkan saya Paman". Jawab Aisakha sepenuh jiwa, sejujurnya dia sangat menyesal Paman harus menangkap basah dirinya melakukan semua ini.
γ
"Anda tidak takut ya?" Tanya Paman menantang Aisakha.
γ
"Takut ? Pada Pamankah maksudnya?" Tanya Aisakha bingung.
γ
"Iyalah, pada saya. Pada siapa lagi memangnya". Paman terlihat kesal.
γ
"Tidak Paman". Aisakha langsung menjawab tenang.
γ
γ
"Maafkan saya Paman. Saya tau saya salah, tanpa izin masuk ke sini dengan mengendap-endap pula. Padahal Paman sudah mengusir saya, bukannya pergi. Saya malah kembali ke sini diam-diam. Tapi saya tidak ada maksud ingin lancang, saya hanya ingin melihat keadaan Nia, itu saja Paman. Hati saya sangat tidak tenang, saya mengkawatirkan Nia". Paman dapat melihat Aisakha sedang berbicara jujur padanya.
γ
"Dan Paman, saya memang tidak takut pada Paman. Karena bagi saya Paman adalah orang tua Nia, walinya Nia. Wali dari wanita yang sangat saya cintai,Β yang akan menghabiskan hari tua bersama saya dan anak-anak kami nanti. Jadi, menurut saya, Paman bukanlah harus saya takuti. Tetapi harus saya hormati, seperti hormat saya pada orang tua saya". Ucap Aisakha dengan senyum tulusnya.
γ
Paman terdiam, Ah..kata-katanya membuat aku tersentuh. Hahhhhh, sambil menghembuskan nafas panjang.Β Ternyata dia memang tulus pada Nia. Isteriku, benar kata-katamu. Lelaki ini sangat mencintai Nia. Nia kita sayang.
γ
"Anda sangat ingin mempersunting Nia?" Paman masih butuh kepastian lagi dari Aisakha untuk menyudahi semua keraguan hatinya.
γ
"Hanya Nia Paman, tetapi dengan restu Paman, Bibi dan seluruh keluarga besar Nia". Jawab Aisakha sungguh-sungguh.
γ
Maafkan aku nak, sudah begitu kejam padamu dan Nia.
γ
__ADS_1
"Kamu akan mencintai Nia dan memperlakukan dia dengan baik?" Paman masih terus meminta kepastian dari Aisakha.
γ
Tunggu...tunggu. salah dengar enggak, ya? Tadi Paman bilang kamukan? Bukan anda?Β Aisakha merasa ragu dengan pendengarannya.
γ
"Cinta saya tanpa klimaks pada Nia, Paman. Dan saya akan menjadikan Nia dewi di kehidupan saya". Aisakha menjawab dengan tegas pertanyaan Paman.
γ
"Hahhhhhhh". Sekali lagi Paman terlihat menghembuskan nafas panjang. "Jagalah Nia, jangan pernah membuat dia bersedih apa lagi terluka. Kalau sampai itu kamu lakukan, maka kamu akan berhadapan dengan Paman". Ucap Paman dengan wajah yang di buat sangat serius.
γ
Kamu, Paman...? Itu, itu artinya aku direstui ya? Iyakan, Paman sudah memberi restu? Aisakha terlihat sedikit ragu. Dia hanya diam, berusaha mencerna kata-kata Paman barusan.
γ
Hahahaha, dia malah diam. Dia terlihat tidak percaya kalau aku sudah luluh dengan kejujuran dan besarnya ketulusan cinta dia pada Nia.Β "Dengar tidak Paman bilang apa?" Paman sengaja mengeraskan suaranya, tahu kalau Aisakha masih terlihat berpikir, belum berhasil mengartikan sikap dan kata-kata Paman tadi.
γ
"Maksud Paman, tunggu...tunggu. Apakah Paman telah merestui saya?" Sebentuk senyum kemenangan mulai menghiasi wajah tampannya.
γ
"Hahaha". Tawa Paman lepas juga akhirnya. Sepertinya Paman sudah lelah bersikap galak pada Aisakha. "Masih belum bisa mengartikan semua ini?" Paman mengangkat kedua tangannya.
γ
"Ya Tuhan". Aisakha segera berjalan kearah Paman. Mengambil tangan kanannya dan mencium hormat punggung tangan Paman. "Saya hanya bisa mencintai Nia, Paman. Bukan menyakitinya, saya mohon Paman percaya pada saya". Ucap Aisakha sambil sekali lagi mencium punggung tangan Paman.
γ
"Paman percaya nak, Paman percaya". Balas Paman sambil menepuk-nepuk lembut punggung Aisakha.
γ
"Terima kasih Paman, terima kasih sudah merestui saya". Mata Aisakha mulai berkaca-kaca.
γ
"Selanjutnya Paman titip Nia ya, tolong jaga anak gadis kami itu". Paman memegang erat tangan Aisakha yang masih berada dalam gengamannya.
γ
"Paman jangan kawatir. Dengan segenap jiwa saya Paman". Janji Aisakha bersungguh-sungguh.
γ
"Kemarilah nak, Paman ingin memeluk menantu Paman". Paman pun menarik Aisakha agar mendekat padanya.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ