
πππππ
γ
Perkerjaan hari ini berjalan lancar, Nia dan rekan-rekannya tersenyum puas. Usaha keras mereka berbuah manis, Profesor telah mengabari para peneliti bahwa Divisi Promosi menyambut baik keinginan pihak laboratorium untuk melakukan presentasi besok pagi. Nia dan teman-temannya pun bersorak senang, seharian ini mereka sangat sibuk menyiapkan segala keperluan mereka untuk membuat presentasi mereka besok bisa berjalan lancar.
γ
Presentasi kali ini masih seperti presentasi terdahulu, Nia di daulat untuk memimpin semua rekan kerjanya. Jadilah setelah mendapat kabar baik dari Profesor Yandi tadi, Nia langsung membagi tugas kepada Wulan, Resya, Anita dan Bowo.
γ
Kegiatan persiapan untuk presentasi besok membuat Nia mau tidak mau harus berbicara dengan Bowo. Betapa senangnya Bowo, hatinya bertepuk riang tiada henti. Akhirnya setelah kemaren Nia sengaja menjaga jarak padanya, tapi hari ini dia bisa kembali bertatapan dengan Nia, malah bisa berbicara dengannya seperti biasa.
γ
Tapi rasa senang Bowo berbanding terbalik dengan Damar. Damar terlihat lebih waspada memperhatikan setiap langkah Nia dari tempatnya duduk. Kalau saja bukan alasan pekerjaan, bukan karena sang nona satu tim bersama Bowo. Damar dengan senang hati akan memaksa Bowo menjauh dari calon isteri tuannya itu, malah Damar merasa tidak keberatan kalau harus menggunakan kekerasan demi memastikan Bowo memang menjauh dari Nia.
γ
"Ini besok harus sudah seperti ini ya waktu kita mau presentasi. Jadi, pagi kamu tolong siapkan larutan ini duluan ". Tanpa menatap Bowo, Nia meminta Bowo melakukan sesuatu untuk persiapan presentasi mereka besok.
γ
"Kamu marah sama aku ya ?" Bukan menjawab permintaan Nia, Bowo malah mengajukan pertanyaan.
γ
Nia menghembuskan nafas berat. Tidak menatap Bowo apa lagi menjawab pertanyaan Bowo.
γ
"Maaf kalau aku sudah menyinggung perasaan kamu ". Ucap Bowo penuh penyesalan. "Jujur aku refleks pegang kamu waktu itu. Sungguh, sumpah ". Bowo terdengar sangat serius. "Maafkan aku, Nia ".
γ
Nia kembali menghembuskan nafas dalam.
γ
"Kamu tahukan aku enggak pernah seperti itu selama ini. Itu sungguh-sungguh refleks aja, bukan niatan apa-apa ". Bowo masih mencoba menjelaskan semua pada Nia.
γ
Nia masih sibuk dengan tabung reaski yang mulai mengeluarkan asap tipis. Nia masih saja melakukan pekerjaannya, tidak mau terpengaruh dengan kata-kata Bowo padanya.
γ
"Percaya sama aku Nia, plisss ". Bowo mulai kehabisan cara menyakinkan Nia. Nia terlihat biasa saja, tidak menanggapinya.
γ
"Kerja Wo !" Perintah Nia pada Bowo, membuat Bowo langsung menutup mulutnya kembali. Padahal dia baru saja berencana mengajak Nia berbicara lagi, tapi apa daya. Bowo memilih diam dan kembali fokus pada pekerjaannya.
γ
γ
***************
γ
γ
"Nona ". Damar sudah berdiri persis di sebelah Nia saat Nia akan berjalan bersama Wulan setelah kembali dari makan siang mereka.
γ
"Iya ?" Nia menghentikan langkahnya, melihat Nia berhenti otomatis Wulan juga berhenti melangkah.
γ
"Tuan, nona ". Damar menyerahkan handphone Nia yang bertuliskan kata Presdir di layarnya.
γ
Wulan melirik ke arah benda hitam yang sekarang sudah berada di gengaman Nia.
γ
"Hallo ". Suara riang Nia membuka pembicaraan sejoli ini.
γ
"Masa iya kamu masih belum ganti nama Presdir di kontakmu ?" Wulan terlihat gemas saat tahu Nia masih belum menukar nama kekasihnya itu menjadi lebih baik, lebih romantislah. Begitu keinginan Wulan.
γ
Nia memasang wajah cemberut, dia kesal. "Damar, tolong jauhkan pengacau ini ". Tunjuk Nia pada Wulan dengan malasnya. Damar menunduk patuh dan langsung mempersilahkan Wulan berjalan duluan, meninggalkan Nia yang kembali fokus pada handphonenya.
__ADS_1
γ
"Presdir, masa iya nama anda enggak ada bagus-bagusnya di buat sama Nia ". Wulan masih sempat berteriak sebelum melangkah meninggalkan Nia. Nia berbalik badan menatap Wulan tidak percaya. "Hehehehe ", kekeh Wulan senang sambil berjalan cepat menjauh dari Nia. Jaga-jaga kalau Nia akan marah pada keisengannya.
γ
Sedang Damar, pengawal Nia ini hanya bisa mengelang tidak berdaya dengan sikap iseng sahabat majikannya.
γ
"Hallo, Nia ". Suara Aisakha terdengar di ujung telepon.
γ
Sesaat karena teriakan Wulan, Nia lupa dengan kekasih hatinya.
γ
"Iya Mas ". Cepat Nia meletakkan kembali handphone di telinga kirinya.
γ
"Siapa ?" Aisakah penasaran.
γ
"Wulan, maaf ya Mas. Dia lagi kumat ngejahilin aku ".
γ
"Kenapa memangnya ?" Tanya Aisakha sambil memeriksa sebuah dokumen.
γ
"Dia melihat tulisan di layar hapeku. Langsung ribut dia Mas ". Jawab Nia jujur.
γ
"Tulisan penanda nomor Mas ?" Tanya Aisakha penasaran.
γ
"Iya ". Nia jawab Nia cepat.
γ
"Dan kamu menulis apa di kontakmu sampai Wulan berteriak seperti itu ?" Nia diam, sekarang dia mulai ragu mau menjawab apa.
γ
γ
"Emmmm...... ?" Sekarang Nia mulai sedikit takut untuk menjawab.
γ
"Kenapa Wulan bisa berteriak seperti itu ? Apa kamu nulis yang jelek sebagai penanda nomor Mas ?" Aisakha masih memburu jawaban Nia.
γ
"Enggak Mas, enggak jelek kok. Sumpah ". Jawab cepat. "Aku tulis Presdir, Mas. Enggak jelekkan ?" Tanya Nia agak ragu.
γ
Aisakha tepuk jidad mendengar jawaban Nia.Β Wajar saja di ledekin, masa iya sama calon suami masih formal gituh. Aduh sayang, kamu ini benar-benar buat Mas gemes deh.
"Di ganti ya !"
γ
"Boleh, Mas mau aku buat apa ?" Nia sama sekali tidak membantah permintaan Aisakha padanya.
γ
"Yang romantis, biar Wulan dan yang lainnya gak godaain kamu lagi ".
γ
"Kalau Cintaku ?" Tanya Nia malu.Β Hebat, aku mulai terdengar sangat aneh sekarang. Sampe-sampe aku sendiri merinding mendengar gaya bicaraku tadi. Ya ampun, aku ini kenapa coba ?
γ
"Bagus, Mas suka. Segera ganti ya !" Aisakha terdengar senang.
γ
"Iya cinta ". Nia mengulang kata yang sama dan lagi-lagi Nia malah merasa aneh sendiri mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
γ
__ADS_1
"Aduh, jadi pengen peluk kamu deh sayang ". Mendengar kata-kata Nia barusan membuat konsenterasi Aisakha buyar.
γ
"Sini Mas, aku juga mau di peluk ". Nia berusaha mengoda Aisakha. Walaupun terdengar canggung tapi dia sudah berusah keras membuat kata-katanya terdengar manja dan mengoda.
γ
"Wah, baru 2 hari jauh sudah pinter godaain Mas ya ? Kalau gini Mas akan segera pulang ini, harus mewujudkan permintaan kamu buat peluk kamu. Mas bakal peluk kamu lama, sambil cium bibir juga ya ".
γ
Nia menyerah, wajahnya sudah merona. Membayangkan apa yang diucapkan Aisakha padanya saja sudah membuat dirinya sangat malu. Apa lagi kalau sampai terjadi, mungkin Nia sudah pingsan duluan saking malunya. Tanpa di sadarinya, Nia mengigit bibir bawahnya, dia harus tenang.
γ
"Kenapa di gigit bibirnya ? Nanti jontor loh, kan Mas jadi sulit buat cium ". Aisakha seakan tahu apa yang sedang di lakukan kekasihnya itu sekarang.
γ
"Sudah, sudah..berhenti mengoda aku Mas. Sudah ya ". Nia sudah tidak sanggup lagi sekarang. "Eh iya, Mas tahu ? Besok kami semua yang di laboratorium akan melakukan presentasi tentang proyek kami ". Nia mencoba mengalihkan pembicaraan. Kalau sampai di teruskan, bisa di jamin wajahnya akan berubah semerah tomat.
γ
"Iya sayang, Kepala Divisi Promosi sudah menghubungi Mas tadi saat Profesor Yandi menemuinya. Mas setuju, apa lagi timnya kamu sudah siap. Semakin cepat semakin bagus, barang segera produksi dan kita lounching, jadi kamu bisa fokus pada persiapan pernikahan kita ". Jelas Aisakha.
γ
"Ooo, jadi Kepala Divisi Promosi sudah menghubungi Mas ya ?"Β Hahaha, ya iyalah Nia. Kan Presdir harus izin dulu baru boleh. Aduh, kamu ini.
γ
"Iya, pagi tadi ". Jawab Aisakha singkat. "Setelah projek ini Mas pengen kamu santai ya. Jangan terbebani pekerjaan dulu, persiapan pernikahan kita perlu perhatian kamu. Termasuk Mas juga !'
γ
"Mas ? Kenapa ?" Kening Nia sudah berkerut bingung.
γ
"Ya...calon suamimu ini perlu perhatianmu dong. Perhatian penuh dari calon isteri tercintanya ". Suara Aisakh sangat menyakinkan.
γ
"Mas ini apaan deh ". Mode malu Nia serta merta kembali lagi.
γ
"Nia, kita itu sudah hampir nikah loh, kok kamu masih malu juga sih ?" Aisakha mengeleng sendiri.
γ
"Kan baru hampir Mas, masih belum ". Jawab Nia polos.
γ
"Berarti kalau sudah nikah.....?" Aisakh terdengar sangat bersemangat.
γ
"Mas, aku harus kembali kelaboratorium. Semua temanku menunggu, kami masih harus menyiapkan semuanya buat besok ". Secepatnya Nia berusaha menyudahi pembicaraan tersebut. Jantungnya berdetak keras seakan minta keluar karena tahu Nia sedang membayangkan apa yang diucapkan Aisakha barusan.
γ
"Hahaha, kamu ini. Kamu yang mulai dan kamu juga yang malu setelah itu ". Aisakha tertawa sendiri. "Buat Mas gemes aja ".
γ
"Ya Mas, aku tutup dulu ya ". Rengek Nia di telepon.
γ
"Ya udah boleh. Tapi bilang sayang dan cinta dulu ".
γ
"Sayangku, cintaku. Sudah dulu ya, aku kembali kerja ya ". Nia bergidik sendiri mendengar kata-katanya.Β Betapa memalukannya aku, aku gomong apa coba.Β Nia menepuk-nepuk pipi kirinya tidak percaya dirinya bisa memiliki keberanian mengucapkan itu semua.
γ
"Iya sayang Mas, cinta Mas. Selamat melanjutkan pekerjaannya ".
γ
Selesai...........
γ
Telepon-teleponan sepasang sejoli inipun selesai dengan senyum semeringah menghiasi wajah tampan Aisakha di seberang pulau sana, di ruang kerjanya. Sedang Nia, memberikan handphonenya kembali pada Damar dengan wajah merona tertunduk malu. Sungguh lucu, sangat mengemaskan.
__ADS_1
γ
γ