
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Nona mau kemana ?" Tanya Lita heran melihat Nia yang sudah berjalan mencari keberadaan sendalnya yang tadi di tinggalkannya entah dimana saking semangatnya ingin menginjak hamparan rumput hijau di halaman depan.
 
"Heheheheheh ". Cenggir Nia polos. "Saya kehilangan sendal Lit. Dimana ya tadi saya tinggalkan?"
 
"Ini nona, ada sama saya, saya pegang ". Lita berjalan cepat ke arah Nia.
 
"Ya ampun Lita, ngapain di pegang ?" Nia mengeleng tidak percaya. "Tarok aja di situ, jangan di tenteng-tenteng seperti itu !"
 
"Ta, tapi nona ", ucap Lita yang berencana menolak keinginan Nia.
 
"Stop !" Ucap Nia cepat sehingga membuat Lita pasrah terdiam di posisinya sekarang.
 
"Makasih Lita ", seulas senyum tulus menghiasi wajah cantik Nia buat Lita. Sontak saja Lita langsung meleleh bangga mendapati keramahan Nia padanya.
Aduh, nona ini baik banget ya.
Pantas saja tuan sangat mencintainya.
 
"Sama-sama nona ", jawab Lita sambil menunduk hormat pada Nia.
 
"Tuan sudah sarapan, belum Lit ?" Tanya Nia kemudian sambil berjalan masuk kembali ke rumah.
 
"Sepertinya belum nona ". Jawab Lita sedikit ragu.
 
"Kalau gituh tolong siapkan ya, biar saya yang bawa ke kamar tuan ". Ucap Nia dengan sedikit malu. Lita bisa melihat kalau mendadak wajah Nia berubah merah.
Ihhh....nona lucu banget deh. Perhatian sama calon suami sendiri kok malu-malu gituh.
 
"Baik nona, sebentar ya. Saya siapkan ". Lita langsung menghilang, meninggalkan Nia di dekat anak tangga menuju lantai 2.
 
**************
 
Edo terduduk di balkon kamarnya, sibuk memandang jauh ke depan tetapi entah terhadap apa. Pikirannya melayang jauh, pikirannya sedang bercabang-cabang.
 
"Apakah kamu masih mencintai Nia ?"
Edo mendadak ingat pertanyaan Papa padanya. Dia benci isi pertanyaan Papa barusan.
 
"Jangan bohongi dirimu Do, kamu masih mencintai Nia kan ?"
Wajah Toni melintas di pikiran Edo saat terus mendesak Edo untuk jujur.
 
*"Apakah ini karena wanita di masa lalumu ?*Kamu masih mencintainya ?"
Bayangan Kemala yang sedang menangis terpuruk di kantornya membuat Edo cepat mengelengkan kepalanya.
 
"Aaarrgggght....wanita sialan kau ". Rutuk Edo marah sambil mengusap wajahnya. "Pergi kau dari kepalaku, pergiii...!"
 
__ADS_1
"Aku akan segera menikah, kau dengar ?" Teriak Edo.
 
"Dan kau...matilah di sana bersama semua lelaki hidung belang yang sudah memakaimu !" Teriak Edo semakin menjadi.
 
"Do...Edooooo ". Terdengar suara keras sang Papa mengendor pintu kamar Edo yang kebetulan di kunci dari dalam.
 
"EDOOO, KAMU KENAPA NAK ?" Papa menaikkan tinggi suaranya berharap Edo mendengar.
 
"Biarin aku sendiri P.a !" Sepertinya Edo berencana mengurung diri hari ini.
 
"Tidak sebelum Papa tahu kamu kenapa ! Buka pintu ini Do !" Sekali lagi Papa mengedor keras pintu kamar Edo.
 
"Ahhh, ada apa ini ?" Tanya Papa bingung pada diri sendiri. Cepat Papa berjalan menuruni anak tangga ke ke lantai 1. Setangah berlari Papa mencari seorang pelayan yang mampu menemukan kunci cadangan kamar Edo. Papa harus segera masuk ke dalam. Perasaannya sedang tidak Enak.
 
 
***************
 
 
"Sayang ". Panggil Nia lembut pada Aisakha di saat dirinya sudah mendapat izin masuk ke ruang baca kekasihnya itu.
 
"Lain kali kalau mau masuk, ya langsung masuk saja. Nggak usah pake ketok pintu, kamu itu nyonya muda rumah ini, jadi bebas mau masuk ke ruang manapun tanpa izin !" Jelas Aisakha saat Nia sudah berdiri di depan meja bacanya.
 
"Maafkan aku sayang, akukan belum terbiasa ". Ucap Nia sambil tidak lupa menyertakan senyum seindah senja sore pada calon suaminya itu.
 
 
"Iya, tapi tuan Aisakha harus sabar ya, hehehehe ", cenggir Nia sambil mendekat ke arah Aisakha.
 
"Suka tamannya ?" Tanya Aisakha yang terlihat sedang mengalihakan pembicaraan zian. ia, menuatt Nia bingung denga rbaysaat Nia sudah berdiri di sisi kursi yang di dudukinya.
 
"Suka...", jawab Nia antusia. "Rumputnya lembut Mas, empuk di kaki. Trus kalau di bawa jalan, telapak kakiku jadi geli kayak ada yang ngelitikin ".
 
"Oya ?" Tanya Aisakha dengan ekpresi tidak percaya.
 
"Iya...benar ". Jawab Nia cepat.
 
"Seperti ini ?" Aisakha langsung mengelitiki pinggang Nia.
 
"Auwwwww ", jerit Nia sambil berusaha menjauhkan tangan Aisakha sebisanya.
 
"Jangan sayang, jangan...aku ngeli ". Ucap Nia di sela tawanya yang mulai terdengar memenuhi ruang baca.
 
Dan...
"Hahahaahah ", sebuah suara asing sukses membuat Aisakha menghentikan kejahilannya pada Nia. Mata Aisakha membesar, memelototi Lita yang terlihat sangat merasa bersalah karena gagal menahan tawanya melihat sang tuan dan calon nyonya mudanya saling bercanda.
 
__ADS_1
Ma, mati...aku..
Mendadak lutut Lita mulai gemetaran.
 
"Astaga... ". Nia sepertinya melupakan sosok Lita yang tadi mengekorinya sambil memegang baki berisi sarapan untuk sang tuan. Dan bisa dipastikan betapa malunya Nia karena efek lupanya itu.
Aduh...pake di lihat Lita laga aku dijahilin Mas tadi. Ya ampun, malunyaaaaa....
 
"Kau mau apa ?" Tanya Aisakha tidak suka.
 
"Ma, maaf tuan. Sayaaaa ".
 
"Lita membantu aku membawa sarapanmu, sayang ", jelas Nia cepat saat tahu ada aroma tidak senang di wajah Aisakha atas kehadiran Lita di sana.
 
"Tolong kamu letakkan di meja itu ya Lita !" Pinta Nia sambil menunjuk ke arah meja kaca di depan sofa.
 
Lita menganguk cepat dan tidak butuh waktu lama, satu piring saji berisi ketoprak dan satu gelas air putih, serta 1 gelas jus jerus segar selesai di tata Lita di sana.
 
"Terima kasih ", ucap Nia tulus pada Lita sebelum gadis itu berjalan meninggalkan ruang baca.
 
 
***************
 
Akhirnya, pintu kamar Edo terbuka. Papa langsung saja berlari mendekati anak semata wayangnya itu yang terduduk sambil memeluk kedua lututnya di balkon kamar.
 
Sungguh miris hati sang Papa, anak satu-satunya yang dibesarkannya dengan penuh kasih sekarang terlihat sangat kacau.
 
"Do ?" Papa sudah duduk persis di depan Edo, memeluk anak lelakinya itu dengan penuh cinta.
 
"Nak, jangan paksa dirimu. Ungkapkan semua, cerita sama Papa!" Papa berusaha membujuk Edo
 
"Aku benci dia Pa, aku benci dia ! Aku gak cinta sama wanita murahan sepertu dia ". Maki Edo pada sosok yang tidak di mengerti oleh sang Papa.
 
"Siapa nak ?" Tanya Papa pelan.
 
"Dia, wanita sial itu.. aku benci dia Pa !" Jawab Edo tegas.
 
"Papa sudah bilang, berhentilah membenci Nia ! Karena itu hanya membuat hatimu sakit. Kamu itu mencintainya, seharus kamu mengejarnya nak, bukan memakinya !' Papa sedang menenangkan Edo.
 
"Tidak, di jahat sama aku Pa ! Dia itu benar-benar tidak tahu malu, menjadi simpanan lelaki tua dan bau tanah. Di otakny hanya ada uang saja. Cih, menjijikan sekali ". Papa telah melepas pelukannya dari Edo. Meski tidak menangis lagi, tetapi tetap saja aura kebencian itu masih terlihat jelas di wajah Edo.
 
"Cukup Do !" Papa menguncang lengan Edo.
 
"Nia itu gadis baik-baik. Dia santun dan dia mencintaimu !" Jawab Papa yakin.
 
"Dan aku tidak mencintai wanita sial itu Pa ", jawab Edo penuh keyakinan.
__ADS_1