
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Wajah Nia kian pucat, tangannya terasa sangat dingin. Susah payah Nia berusaha mencari solusi terbaik untuk dirinya saat ini, jelas nalurinya mengatakan kalau dirinya harus berpikir keras kalau mau terlepas dari Bowo.
 
"Jangan uji kesabaranku Nia !" Bowo masih memegang bahu Nia. "Sampai besokpun aku tidak akan melepaskan kamu, tidak masalah kita seperti ini terus diparkiran !" Ancam Bowo pada Nia.
 
Nia memilih diam, dia sedang berpikir.
 
"Terserah padamu, mau mempersulit diri sendiri dengan bertahan duduk di sini ? Atau ikut aku masuk ke dalam ! Kamu tahu, kalau dari tadi kamu mendengar perkataanku, mungkin sekarang kita sudah jalan kembali kekantor ". Suara Bowo terdengar dalam.
 
Aku harus apa ? Tolonglah, seseorang tolong aku. Mata Nia mulai berkaca-kaca.
Bagaimana ini, aku harus gimana ? Sepertinya Bowo serius tidak akan melepaskan aku.Â
Mas, Massssss, tolong aku. Ya Tuhan, gerakkanlah hati kekasihku di sana agar menyelamatkanku. Aku mohon....
Mas..bisakah kamu merasakannya sayang ? Aku sangat takut sekarang, tolong aku Mas, jemput aku....
 
 
**********
 
Bagas terduduk lemas di balik jeruji besi, hilang sudah kesombongannya, hilang sudah harapan akan kembali menghirup udara segar hari ini. Bagas menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasanya sangat melelahkan melalui hari ini. Energinya benar-benar terkuras memikirkan bisa hidup bebas lagi di luar sana.
 
Kalian harus bisa menolongku !
__ADS_1
Bagaimanapun caranya tolonglah bebaskan aku, aku tidak mau berakhir tragis di sini. Aku ini orang hebat, karirku cemerlang...
Kalian adalah pengacara hebat bukan, aku percayakan nasibku pada kalian semua.
 
Bagas masih menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi anehnya bahunya terlihat mulai tergucang. Ada suara sesegukan yang terdengar pelan di sela-sela jemarinya. Sepertinya ini adalah keadaan paling buruk dalam hidup seorang Bagas, dia benar-benar terpuruk dan putus asa.
 
***************
 
"Prof apa Bowo tidak memberi alasan kenapa dia tidak datang ke tempat janjian kalian ?" Melihat situasi kurang kondusif antara Pakde dan Damar, Kepala Keamanan Perusahaan pun mencoba berpikir bijak untuk mencari informasi kejadian sebenarnya vesri cerita Profesor Yandi.
 
"Ada, ada ". Profesor membuka layar handphonenya. "Bowo mengirimkan saya pesan ". Jemari tua Profesor Yandi mulai mencari lokasi persis tempat pesan Bowo tersimpan. "Prof...kata Nia dia mau bareng saya. Soalnya para pengawalnya enggak bisa ikut. Jadi saya sama Nia agak telat dikit. Lanjut jalan aja duluan, kami nyusul sebentar lagi ". Profesor Yandi membacakan isi pesan Masuk dari Bowo beberapa saat sebelum Nia dinyatakan hilang.
 
"Trus saat kami di restoran masuk lagi satu pesan baru dari Bowo ". Profesor menatap Kepala Keamaan Perusahaan. "Maaf Prof, Nia ternyata mendadak kurang enak badan dan sekarang saya lagi antar dia pulang. Maaf ya Prof, kami batal ikutan tranktirannya. Semoga besok ada acara traktiran susulan. Hehehehe ". Profesor Yandi membacakan isi pesan kedua dari Bowo.
 
 
"Jelas semua sudah di rencanakannya !" Guman Kepala Keamanan Perusahaan pelan. "Nona pasti korban ". Dan kalimat terakhir si Kepala Keamanan ini membuat semua mata memandang gelisah kearahnya.
"Cepat hubungi tuan Aisakha ! Ini bukan perkara main-main, Bowo jelas menyiapkan semua ini dengan sebaik mungkin dan ini sudah hampir 2 jam. Kita jangan sampai terlambat, karena tidak satu pun diantara kita yang tahu apa maksud Bowo di balik semua ini ! Apa tujuannya ?"
 
"Bowo belakangan ini memang agak aneh ". Resya tertunduk sepertinya dia sedang mengingat sesuatu. "Sebenarnya diantara kami para sahabat Nia, Bowo justru yang paling memahami Nia. Hanya dengan memandangi Nia dia bisa menebak, apakah Nia sedang senang atau sedih. Tapi....", Resya mengigit bibir bawahnya.
 
"Iya, iya...gimana ? Tapi apa ?" Satriyo mendesak Resya.
 
__ADS_1
"Beberapa hari belakangan ini Bowo seperti orang yang sensitif saja kalau kami sedang bercanda bersama Nia. Dia tidak segan-segan memarahi saya karena terus mengoda Nia tentang kisah pacarannya bersama Presdir. Tidak hanya itu, Bowo beberapa kali menyentuh Nia ". Tanpa sadar Damar mengembangkan senyumnya.
 
"Benarkan apa saya bilang ". Suara keras Damar membuat semua orang beralih padanya.
 
"Ya..kamu selalu menegur Bowo ". Mendengar ucapan Resya, Damar menganguk cepat.
 
"Saya rasa yang namanya Bowo ini suka sama nona ". Satriyo mulai menarik kesimpulan.
 
"Ini tidak bisa dianggap main-main. Kita tidak tahu apa niat Bowo, jangan gegabah lagi. Kita bagi tugas ! Kau hubungi Presdir dan laporkan tentang kejadian ini ". Si Kepala Keamanan menunjuk ke arah satriyo.
 
"Aku...?" Satriyo menunjuk wajahnya sendiri.
 
"Iya kamu ". Jawab si Kepala Keamana tegas. "Kalau dia ", tunjuk Kepala Keamanan ke arah Damar. "Hanya akan memperpendek usianya saja".
 
Wajah Satriyo terlihat pias, apa bedanya ? Memang kalau aku yang sampaikan ke tuan umurku di jamin panjang, ada kepastian gituh tuan tidak akan gamuk sama aku..nyawaku pasti diampuni tuan ?
 
"Dan kau ", sekarang Kepala keamanan menunjuk kearah Damar. Damar yang sedang tertunduk lemas menatap sepatunya terlonjak kaget. "Bawa beberapa orang saya ke luar gerbang, bagi mereka menjadi 2 tim ! Perintahkan mereka menelusuri jalan-jalan di sekitar perusahaan ini. Seingat saya pusat perkantoran di sekitar sini memiliki kamera Cctv mengarah ke jalan. Coba telusuri, agar kita dapat bayangan kemana arah mobil Bowo perginya ".
 
"Terakhir Profesor, hubungi hape Bowo. Mungkin kalau nomor anda yang masuk dia mau angkat !" Profesor mengeleng pelan.
 
"Percuma, saya sudah menghubungi dia saat tadi kalian memberitahu saya Nia hilang. Dan dia tidak mengangkat telepon saya ". Wulan, Resya dan Anita mengiyakan apa yang baru saja disampaikan Profesor Yandi.
__ADS_1