
Berita Duka (4)
πππππ
γ
Nia berlari cepat kearah resepsionis Rumah Sakit bertanya tentang keberadaan Bibinya. Dengan pelan resepsionis pun menjelaskan kondisi Bibi Ros saat ini dan mengantarkan Nia ke ruang gawat darurat tempat Bibi Ros yang sedang mendapat pertolongan pihak medis.
γ
"Niaaaaaaaaaaaa". Alika berteriak kuat, berlari menghampiri Nia dan menangis di dalam pelukan Nia.
γ
"Sudah, sudah. Ada aku di sini". Nia mengusap lembut punggung sepupunya itu yang terisak dalam pelukannya.
γ
"Mama, Mama, Nia. Mamaaaa, hiks, hikss, hikssss". Alika terus menangis.
γ
Semua yang ada, Pandu suami Alika, Pakde dan Bi Kartik istrinya, para tetangga yang ikut mengantarkan Bibi Ros ke Rumah sakit, hingga perawat bagian resepsionis yang tadi mengantarkan Nia menuju ruang gawat darurat, semua menangis. Air mata mereka tidak dapat di bendung, menyaksikan pemandangan yang sangat menyayat hati. Melihat Alika bersedih, meratapi duka dalam ketakutannya akan keselamatan sang Mama. Bahkan Bowo pun sampai mengalihkan pandanganya, perasaannya tak kuasa melihat kesedihan Alika dan Nia.
γ
Nia bertahan, mencoba kuat, mencoba tenang. Tidak nampak setetes pun air mata duka yang tadi membasahi pipinya terjatuh. Nia terus memeluk Alika, membelai lembut rambut Alika dan membisikkan berbagai kata-kata menenangkan untuk menguatkan Alika.
γ
Tuhan, tolong sembuhkanlah Bibi. Hanya dia yang kami punya, hanya Bibilah orang tua kami. Berilah kesempatan pada kami untuk selalu membahagiakannya. Berikan mukzijat-Mu, aku mohon. Berikan mukzijat-Mu.
γ
"Nia, bagaimana nasib kita. Bagaimana nasib kita kalau sampai Mama....hiks, hikss, hiksssss". Tangis Alika kembali pecah, sampai-sampai dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya sendiri.
γ
"Berdoa Lika, kita harus berdoa. Kita harus memohon pada Tuhan untuk keselamatan Bibi. Sudah, sudah Alika". Nia masih bertahan memeluk Alika.
γ
__ADS_1
"Aku, aku tadi sudah bilang sama Mama, supaya Mama enggak usah ke toko. Biar aku saja yang mengantarkan makan siang Mas Pandu. Tapi Nia, Mama...Mama. Mama, maafin Alika....hiks, hikss, hiksss". Duka mendalam dan penyesalan terbesar Alika pun terungkap. Rasa bersalah mulai memenuhi hatinya. "Mama, Mamaaaaaaaa". Alika memanggil-manggil Bibi Ros.
γ
"Alika, sudah. Aku mohon, sudah..sekarang kita berdoa, itu yang terbaik Alika. Kita harus memohon pada Tuhan". Bujuk Nia pada Alika yang tidak jua berhenti menangis.
γ
Pandu berjalan mendekati Nia dan Alika, menuntun ke dua orang sepupu itu agar duduk di bangku kosong yang tersedia di depan ruang gawat darurat. Pandu mulai khawatir kondisi istrinya akan menurun, cemas kalau-kalau Alika akan pingsan. Pandu pun meminta Nia dan Alika duduk.
γ
"Jangan marah padaku, jangan marah padaku Nia". Pinta Alika sambil merapatkan kedua tangannya di depan wajahnya, dia bermohon pada Nia.
γ
Nia memegang kedua tangan Alika yang terlihat gemetar pertanda ketakutannya. Nia mulai goyan, matanya mulai membentuk gumpalan awan duka kembali.
γ
Kuat, harus kuat..kasihan Alika. Kasihan Mas pandu. Kuat Niaaaaa...kuattttttttt.
γ
γ
"Sudah sayang, kamu harus kuat. Kasihan Mama lihat kamu seperti ini. Dengarkan Nia, berdoalah agar Tuhan segera menyembuhkan Mama". Mas Pandu berbicara pelan pada Alika.
γ
"Sudah berapa lama Bibi di dalam Mas?" Tanya Nia pada Pandu sambil terus memeluk Alika.
γ
"Sudah hampir setengah jam". Jawab Pandu lirih.
γ
"Apa kata dokter?" Nia ingin mendapat banyak penjelasan tentang situasi Bibinya saat ini.
γ
__ADS_1
"Kurang baik, kritis". Jawab Pandu sambil menatap lantai tempat dirinya berdiri. Hingga dalam diam, air mata Pandu pun jatuh juga.
γ
Hati Nia menciut, terasa sesak, terasa sakit..bayangan menakutkan hadir di dalam pikirannya.Β Tidak, jangan ambil Bibi, aku mohon..aku mohon.
γ
"Mas". Nia memanggil Pandu.
γ
Pandu menatap Nia dan Nia pun menggelengkan kepalanya. "Kuat Mas, yakinlah Bibi pasti tidak akan apa-apa".
γ
"Andai saja Nia, andai saja aku bisa pulang seperti biasa untuk makan siang. Semua gara-gara aku". Pandu mulai terlihat menyalahkan diri sendiri, rasa bersalah telah membuat dia mulai frustasi.
γ
"Bukan salah siapa-siapa Mas, percayalah bukan salah siapapun". Nia menatap Pandu yang tengah menghapus air matanya.
γ
"Nia, Mama.......". Alika kembali terguncang dalam tangisnya.
γ
Semua hanya diam memperhatikan tiga anak manusia yang tengah berduka itu, kesedihan terlihat jelas di mata mereka. Bi Kartik berpegang kuat pada Pakde, merasa sedih atas atas apa yang tengah di saksikannya. Bibi tidak sampai hati melihat Nia yang menjalankan tugas sebagai penguat untuk sepupu dan iparnya. Padahal semua orang yang ada di sana tahu, bagaimana hancurnya Nia saat ini, bagaimana takutnya Nia akan kehilangan Bibinya.
γ
"Ternyata ini arti mimpi buruk si non semalam Pak". Ucap Bibi pelan pada Pakde.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1