
Segelas Susu Hangat
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Non, masuklah ke kamar. Mandi dan beristirahat, atau ada yang mau Bibi ambilkan?" Tanya Bibi heran melihat majikannya itu hanya diam mematung di tempat Aisakha meninggalkannya tadi.
 
"Aa, apa Bi?" Nia terlonjak mendapat sentuhan di bahunya.
 
"Non ngelamun ya? Ngelamunin tuan tampan tadi?" Tanya Bibi sambil tersenyum pada Nia. "Sudahhhh, terima saja dia. Bibi restui kok".
 
"Bibi apaan coba". Nia segera berlalu dari hadapan Bibi. Nia merasa canggung karena Bibi berhasil menerka isi kepalanya saat ini.
 
Setelah mandi dan merasa badannya kembali segar, Nia segera menuju ranjang empuknya yang sepertinya sangat nyaman. Nia menyenderkan kepalanya yang di topang bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya cukup nyaman posisi Nia bersantai saat ini.
 
Awalnya Nia serius membuka handphonenya. Sudah seharian ini dia tidak memegang alat komunikasinya itu, dan betapa terkejutnya Nia melihat begitu banyak notifikasi di aplikasi chat group laboratorium. Satu persatu Nia buka, membaca isi chat tersebut, tetapi karena sudah terlalu banyak Nia pun terpaksa memanjat chat dari awal kembali.
 
Astaga, teman-teman menghawatirkan aku rupanya, aduh aku jadi merasa bersalah. Pasti mereka berpikir buruk tentang tuan Aisakha yang tiba-tiba membawa aku pergi tadi. Trus aku harus jelaskan apa ya?
__ADS_1
 
Kemudian Nia lanjut membaca isi chat yang lain di handphonenya, ternyata ada chat khusus dari Bowo padanya.
 
"Siapa kamu sebenarnya Nia?" Pertanyaan singkat Bowo pada yang dikirimnya melalui chat pada Nia.
 
Deg, deg, deg, tangan Nia gemetar. Mendapati isi chat Bowo membuat hatinya menjadi cemas. Nia sadar, diantara rekan-rekannya yang sekaligus adalah sahabat-sahabatnya, Bowolah yang sedari awal mereka berteman sangat peka padanya. Dan sekarang mendapati pertanyaan itu, membuat Nia cemas. Dia cemas harus menyusun jawaban apa pada Bowo. Bowo pasti akan segera menganalisa semua jawabannya dan akhirnya, entah bagaimana caranya bagi Nia untuk jujur
 
Pelan Nia memijat dahinya, sebenarnya dia sedang tidak merasa sakit kepala. Tetapi entah kenapa rasanya dia sangat perlu melakukan hal itu.
 
 
Tok, tok, tok, terdengar suara pintu kamar Nia di ketuk dari arah luar.
 
"Ya", jawab Nia dari tanpa beranjak dari ranjangnya.
 
"Non, maaf ganggu". Suara Bibi dari luar pintu.
 
__ADS_1
Mendengar suara Bibi, Nia segera beranjak. Ada apa ya sama Pakde. Begitu yang terlintas dalam pikiran Nia, cepat Nia membuka pintu kamarnya.
 
"Kenapa Bi, Pakde sakit lagi?". Tanya Nia sambil membuka pintu kamarnya.
 
"Bukan non. Aduh maaf ya non sudah membuat non kaget. Non belum tidur ya? Tanya Bibi setelah pintu kamar Nia terbuka.
 
"Belum Bi", jawab Nia sambil melihat di tangan bibi ternyata ada baki berisi segelas susu hangat.
 
"Kalau gituh pas banget non, ini Bibi di suruh pacarnya non bawakan susu hangat. Kata si tuan itu, biar non gak susah tidurnya. Trus kata si tuan itu, non harus kasih dia kesempatan". Ujar Bibi sambil mengedipkan sebelah matanya.
 
Nia merasa tidak percaya dengan pendengarannya barusan, rasanya Bibi tadi mengucapkan kata pacar, bahkan mengulang kata tuan itu. Tuan yang mana? Kasih kesempatan? Apa coba?
 
Sepertinya hawa dingin malam hari ini telah mempengaruhi pikiran Bibi, sehingga tetiba Bibi bersikap aneh pada Nia. Cepat Nia mengambil gelas dari baki yang di bawa Bibi. Mungkin dengan segera menghindar dari Bibi adalah cara terbaik agar Nia tidak terdiam bengong dengan sikap aneh si Bibi.
 
 
 
__ADS_1