
BAB 3
πππππ
γ
Mama sengaja memilih duduk di bagian belakang pesawat pribadi milik Aisakha, Mama duduk tenang di temani oleh seorang pramugari yang memang khusus bertugas di pesawat tersebut. Entah apa kegiatan 2 orang wanita tersebut di sana, Aisakha hanya tahu kalau sang Mama cukup nyaman dalam penerbangan ini.
γ
Sama seperti sang Mama, Kristo pun membawa para pengawal yang memang bertugas mendampingi Aisakha dalam penerbangan ini untuk duduk di bagian depan pesawat, Kristo terlihat tenang dengan sebuah laptop berlambang buah yang sedikit tergigit di bagian atasnya, mungkin sekretaris Aisakha itu sedang mengerjakan sesuatu yang penting hingga dia terlihat sangat fokus. Sama seperti fokusnya para pengawal Aisakha yang menatap lurus ke arah depan bagian pesawat. Sepertinya semua penghuni pesawat itu sengaja memberi ruang pada Aisakha dan Nia untuk menikmati perjalanan panjang pagi ini membelah birunya angkasa menuju ke Kota Jakarta.
γ
Cuaca cerah, penerbangan lancar tanpa kendala. Akhirnya Nia pun kembali ke Kota Jakarta, kota kelahirannya setelah 3 tahun dia pergi jauh hingga menyeberangi pulau saat cintanya di buang begitu saja oleh Mama kekasih hatinya di masa itu, Tante Sandara, Mama dari Yuedo. Sungguh ini merupakan sebuah perjalanan baru bagi Nia, sekarang Nia kembali bukan sebagai Nia si pembawa sial, bukan sebagai gadis dari keluarga biasa yang berstatus yatim piatu. Nia sekarang adalah seorang peneliti sukses di sebuah perusahaan besar, dia wanita cantik yang kecerdasannya sangat di butuhkan oleh Sunjaya Company di Cabang Perusahaan di Kota Bengkulu. Dan satu hal penting lagi, fakta yang tidak boleh disepelekan, Nia yang sekarang adalah calon isteri Aisakha, Nia adalah calon nyonya muda pemilik kerajaan bisnis yang sangat berpengaruh dan disegani.
γ
Tetapi tetap saja, kenyataan identitas dirinya sekarang tidak serta merta membuat Nia bisa duduk nyaman dalam pesawat mewah ini, yang dalam mimpi pun tidak pernah di bayangkan oleh Nia, suatu saat akan menaikinya dan duduk bersama lelaki yang mencintainya.
γ
Nia cukup takut, hatinya cukup ciut. Meninggalkan Bengkulu dan kembali ke Jakarta, apakah ini tepat ? Nia mulai berpikir ulang keputusannya.
γ
"Nanti malam acara kumpul keluarga besarku ", Aisakha terlihat sedang mengajak Nia berbicara. Sepertinya Nia cukup pendiam pagi ini, Aisakha bisa melihat semua itu. Ada sesuatu yang menganggu kekasihnya, jauh di dalam pikirannya, Nia sedang gelisah. "Mama sudah memilihkan tempatnya, semoga kamu suka ya ".
γ
"Iya Mas ", jawab Nia singkat.
γ
Aisakha menarik Nia yang duduk di sebelah kanannya, merangkul calon isterinya itu sambil bertanya.
"Kenapa Nia, apa yang menganggumu ?"
γ
"Emmm, gak ada kok Mas ", Nia menjawab ala kadarnya.
γ
"Jangan bohong sama Masmu ini, apa kamu lupa. Bohong sama calon suami itu dosaloh ?" Nia terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Aisakha. "Kamu masih belum siap kembali ke Jakarta ? Jujurlah ! Aku akan langsung memerintahkan mereka untuk membawa kita kembali ke Bengkulu !" Desak Aisakha pada Nia.
γ
Nia hanya diam, menarik nafas panjang perlahan dan menghembuskannya perlahan. Nia masih bertahan dengan kepala di bahu Aisakha.
γ
"Jujurlah ! Ada apa ?" Sekali lagi Aisakha bertanya.
__ADS_1
γ
"Sudah 3 tahun aku gak pernah pulang ke Jakarta. Sudah 3 tahun juga aku gak pernah membersihkan dan mengunjungi makan Ayah, Ibu dan Nenek ". Nia mulai bersuara. "Rasanya aku rindu mereka Mas, rindu sekali ".
γ
"Besok bawa aku ke tempat meraka ya ! Aku ingin memperkenalkan diri pada Ayah, Ibu dan Nenek ". Ucap Aisakha sepenuh jiwa.
γ
Kedua sudut bibir Nia sedikit tertarik, Nia tersenyum. Perkataan Aisakha barusan sangat menyentuh sanubari terdalam Nia.Β Baiknya kamu Mas, aku terharu mendengarnya....
γ
"Ya..tentu saja Mas. Aku akan membawa Mas ke sana ". Jawab Nia sambil memeluk Aisakha.
γ
"Terima kasih Mas ". Ucap Nia kemudian.
γ
"Untuk apa ?" Tanya Aisakha sambil mengusap-usap rambut panjang Nia yang pagi ini sengaja di ikatnya dengan sebuah jepit rambut berbentuk bunga mawar berwarna unggu.
γ
"Terima kasih karena telah mencintai aku ", suara Nia terdengar bergetar.
γ
γ
"Aku mencintaimu Mas. Sungguh ", jawab Nia serius. "Dan aku mohon, beri aku waktu untuk menata masa laluku agar bisa hidup di masa depanku bersamamu ". Nia merasa sangat bersalah pada Aisakha. Jelas dia sangat mencintai Aisakha, tetapi entah kenapa dirinya belum bisa membuka hatinya sepenuhnya pada Aisakha, seakan masih ada ganjalan di dalam sudut terdalam di ruang hampa jiwanya. Dan Nia tidak bisa menebak apa itu.
γ
Apakah yang masih membuatmu ragu Nia ? Bahkan hingga 3 minggu menjelang pernikahan kita, kamu masih belum bisa sepenuh jiwa membiarkan aku menjadi satu-satunya pemilik hatimu. Apa yang kamu khawatirkan Nia ?
γ
"Aku akan memberi kamu waktu, akukan sudah berjanji padamu ". Aisakha pun menutupi perasaannya yang terus bertanya-tanya tentang hati dan cinta Nia padanya.
γ
"Aku mencintaimu Mas ". Nia memperdalam menyurukan wajah cantiknya di dada bidang Aisakha.
γ
Dan setelah itu, entah di detik dan menit keberapa, Aisakha mendapati Nia tertidur dalam pelukannya. Sangat tenang dan damai, wajah cantik itu tersenyum dalam tidurnya. Aisakha begitu menikmati pemandangan indah di depan matanya itu. Sesekali Aisakha membelai rambut Nia saat dirinya menyadari ada geliat kecil dari tubuh Nia.
γ
γ
__ADS_1
***************
γ
Nia membuka matanya perlahan, sambil memilih membalikkan badannya ke arah depan. Nia mengerjab beberapa kali, hingga akhirnya mata cokelat itu berhasil menyesuaikan diri dengan efek cahaya sinar megah mentari siang ini. Masih dari atas ranjang empuk yang ditidurinya, Nia memperlajari bentuk langit-langit kamar itu. Baru, asing, itu yang Nia rasakan. Jelas ini bukanlah kamar apartemennya, Nia bisa menebak hal itu dengan baik meskipun dia baru saja bangun tidur.
γ
Nia kembali mengalihkan pandangannya ke arah kanan dan kiri kamar, Nia masih mempelajari situasi sekelilingnya. Kemudian Nia memilih bangun, duduk bersandarkan kepala ranjang sambil menguap pelan.
γ
"Kok aku di bawa ke hotel ya ?" Tanya Nia heran pada diri sendiri setelah selesai menilai sekelilingnya. Jelas interior di kamar itu sangat mewah dan indah, persis seperti interior kamar-kamar mahal di hotel-hotel berbintang, seperti yang pernah Nia lihat iklannya di televisi. Bukan kamar biasa, itu tebakannya
γ
Pintu kamar terbuka, Nia melonggo memperhatikan 2 orang sosok wanita muda masuk ke dalam, berdiri di dekat pintu sambil tersenyum dan menunduk hormat padanya. "Siang nona ". Sapa 2 orang sosok wanita muda yang setelah diperhatikan Nia, mereka memakai seragam yang sama.
γ
"Si..siang ". Jawab Nia agak ragu.
γ
"Perkenalkan nona, saya Lita dan ini Riana". Wanita yang memperkenalkan diri sebagai Lita menunduk hormat pada Nia saat memulai perkenalan diri.
γ
"Kami adalah pelayan nona, jadi nona jangan ragu buat bilang apa saja pada kami. Nona bebas memberi perintah, kami jamin kami akan menyelesaikan semua perintah nona dengan sangat baik ". Sekarang giliran Riana yang berbicara dengan penuh percaya diri.
γ
"Terima kasih. Tapi, buat apa kalian melayaniku ? Aku bisa sendiri kok !" Kepolosan Nia membuat Lita dan Riana saling bersitatap tidak mengerti pada ucapan Nia barusan.
γ
Kayaknya Nona masih belum pulih dari tidurnya deh, sampe-sampe terlihat bingung gituh.Β Riana.
γ
"Karena itu perintah nyonya besar nona. Dan tuan Aisakha juga susah memberi izin ". Riana masih menjadi juru bicara untuk memberi penjelasan pada Nia.
γ
"Kalau begitu tolong bawa saya keluar dari hotel ini ! Saya ingin menemui tuan Aisakha ". Dan raut wajah Lita beserta Riana semakin bingung.
γ
"Nona, kita sekarang di rumah keluarga tuan Aisakha. Ini bukan hotel nona !" Jelas Lita.
γ
"Se...serius ?" Nia kaget dan segera turun dari kehangatan ranjang yang tadi di tidurinya, berjalan ke arah jendela dan mencoba mempelajari bagian luar pemandangan dari jendelanya saat ini.
__ADS_1
γ
γ