SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
38


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia sudah tertidur pulas dengan berbantalkan paha Aisakha di atas ranjang empuknya. Sesekali Aisakha memainkan rambut hitam Nia sambil tersenyum memandangi wajah teduh Nia. Wajah yang begitu cantik, sangat tenang dan damai.Β Kenapa hatimu sangat mudah tersentuh sayang, hingga kadang kamu lupa aku jadi takut kehilangan kamu.


γ€€


Setelah kedua anak manusia yang berlainan jenis ini saling mengungkapkan isi hati mereka, Nia mengutarakan permintaan maafnya atas kejadian Bowo dan Aisakha mengungkap seberapa berartinya Nia dalam hidupnya, maka Aisakha pun memilih menyuapi Nia menu makan malam yang telah di tata Bibi tadi di atas meja.


γ€€


Sangat telaten, Aisakha bahkan terkadang mengelap langsung sudut bibir Nia saat mendapati ada sambal yang belepotan di sana dengan ibu jarinya. Tidak ada rasa malu apa lagi jijik terpancar dari mata Aisakha, yang ada adalah gambaran cinta yang begitu besarnya. Nia tersanjung dengan perlakuan istimewa Aisakha padanya.


γ€€


Benar dugaan Nia, ternyata Aisakh begitu mencintainya, bahkan rasa cinta itu melebihi besarnya rasa cinta Nia sendiri pada kekasihnya itu.


γ€€


Dan sekarang saat nafas Nia sudah berhembus dengan teratur, Aisakha memutuskan sudah waktunya dia pulang. Meskipun hati kecilnya memberontak tidak sudi mengikutinya pergi, hanya ingin bersama dan memeluk Nia. Tetapi otaknya cukup waras ternyata. Aisakha tidak mungkin senekat itu, memilih memeluk tubuh indah Nia di atas ranjang hangat itu dan bergelung di satu selimut yang sama. Jelas otaknya melarang semua fantasi indahnya, Nia belum halal baginya.


γ€€


Sebuah kecupan di kening Nia, Aisakha berikan sebelum benar-benar yakin akan segera pulang. Dan akhirnya Aisakha menutup rapat pintu kamar Nia yang terbuka sedari awal mereka masuk ke sana, sesaat menatap gagang pintu itu dan kemudian menuruni anak tangga, Aisakha harus pulang.


γ€€


"Tuan ". Kristo langsung berdiri dari kursi yang di dudukinya tepat di dekat tangga, saat mengetahui kalau sang tuan telah turun dari lantai atas.


γ€€


"Kau rupanya ". Sesaat Aisakha menghentikan langkahnya memastikan kalau yang menyapanya itu adalah si sekretaris kepercayaannya. "Sudah lama ?" Tanya Aisakha saat mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu Nia.


γ€€

__ADS_1


"Baru tuan, mungkin satu jaman ini ". Kristo berdiri di samping Aisakha.


γ€€


"Panggil Pakde dan Bi Kartik kemari !" Perintah Aisakha langsung dilaksanakan oleh Kristo.


γ€€


Aisakha duduk sambil mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, sedikit relaksasi untuk sekedar melemaskan otot lehernya yang terasa kaku.


γ€€


Ah..lelahnya...


γ€€


"Tuan, tuan panggil kami ". Pakde bersuara saat sudah berdiri di samping Aisakha di dampingi oleh Kristo.


γ€€


"Duduk Pakde, Bi !" Tunjuk Aisakha pada sofa dobel di depannya. Aisakha pun memperbaiki pola duduknya saat pasangan suami isteri yang sudah cukup lama mengabdi pada Nia telah patuh duduk di tempat yang telah di tunjuknya.


γ€€


γ€€


"Maafkan saya tuan ". Dengan tertunduk penuh penyesalan Pakde memberanikan diri berbicara. "Saya di awal sudah mau menelepon tuan untuk kasih tahu tentang hilangnya si non. Tapi kemudian semua melarang saya, pengawal si non, den Satriyo melarang dengan alasan semua masih belum pasti. Mereka takut salah lapor dan saya terpaksa menuruti mereka tuan ". Pakde semakin menyesalin kebodohonya siang tadi, jelas-jelas sudah yakin buat melapor saat itu, eh..ini malah mengiyakan saja kata-kata pengawal Nia.


γ€€


"Saya bodoh tuan ". Bibi mengengam jemari tua sang suami, begitu besar penyesalan Pakde tergambar detik itu, Bibi bisa merasakannya.


γ€€


"Sudah kau urus mereka ?" Tanya Aisakha pada Kristo.

__ADS_1


γ€€


"Sudah tuan, mereka tidak akan pernah muncul di perusahaan tuan lagi, selamanya ". Krisro langsung paham siapakah yang di maksud oleh Aisakha dalam pertanyaannya barusan. "Saya bahkan tidak memberikan rekomendasi pada seluruh perusahaan yang bekerja sama dengan tuan, ataupun anak perusahaan tuan dimana pun itu agar tidak memakai jasa mereka berdua lagi. Mereka sudah selesai tuan, tanpa masa depan ". Aisakha terlihat menganguk puas mendengar jawaban Kristo.


γ€€


"Saya sebenarnya pengen memberi hukuman lebih dari itu tuan, tapi tuan terlalu baik pada mereka ". Kristo terlihat tidak mau melepaskan kedua pengawal Nia begitu saja, 2 orang itu seharusnya mendapat hukuman yang setimpal dengan kebodohan mereka ".


γ€€


"Sudahlah, saya yakin sekarang mereka sudah sangat tahu apa akibarnya kalau bermain-main dengan wanitaku. Lupakan saja mereka, saya sudah merasa cukup dengan hukuman yang kau berikan ". Ada keseriusan dalam nada suara Aisakha pada Krisro.


γ€€


"Pakde tolong dengarkan saya ". Sekarang Aisakha sudah beralih kembali pada Pakde yang terlihat masih tertunduk penuh penyesalan. " kedepannya tidak ada lagi keteledoran seperti ini ! Saya tidak akan segan-segan pada kalian, meskipun Nia menyayangi kalian. Karena percayalah, rasa sayang saya pada Nia melebihi besarnya rasa sayang Nia pada Kalian. Jadi cukup hanya sekali ini, jangan uji kesabaran saya seperti hari Ini !" Bibi mempererat gengamannya di jemari sang suami, jelas ada rasa takut terpancar di wajah tua wanita itu mendengar ancaman Aisakha barusan. Sedang Pakde, lebih memilih mengiyakan perkataan Aisakha barusan dan tidak lupa menyelipkan kata maafnya sepenuh jiwa.


γ€€


"Besok larang Nia kemana pun hingga saya datang ! Termasuk ke kantor !" Bibi menganguk patuh mendengar perintah Aisakha. Cukup mengiyakan tanpa mempertanyakan alasan perintah tersebut.


γ€€


**************


γ€€


"Bagaimana keadaan lelaki bodoh itu ?" Sesaat sebelum turun dari mobil sedan mewahnya, Aisakha akhirnya mengajukan juga pertanyaan tentang keadaan Bowo pada Kristo. Meskipun sangat enggan, tapi dengan terpaksa Aisakha harus mencari tahu. Cerita Nia tentang kondisi Bundanya Bowo cukup menyentuh sudut terdalam hati Aisakha. Walaupun sangat marah, tetapi Aisakha tahu Nia menyayangi wanita tua yang di gambarkan kekasihnya itu sungguh ridak berdaya, bersiap menunggu maut menjemputnya karena rasa sedih atas tragedi kematian anak gadisnya, adiknya Bowo. Jadi Aisakha mencoba sedikit berdamai, sedikit berempati dengan sebentuk kemarahannya pada Bowo.


γ€€


"Sudah saya bawa ke Rumah Sakit milik tuan. Dia tidak apa-apa tuan. Hanya babak belur saja, istirahat 2 hari di rumah sudah bisa memulihkan kondisinya ". Jawab Kristo santai sambil berdiri, hendak membukakan pintu mobil bagian belakang tempat sang tuan duduk. Sekarang mereka sudah sampai di depan villa megah Aisakha.


γ€€


"Jauhi dia dari Nia !" Aisakha menepuk pelan bahu Kristo sebelum melangkah menuju teras villanya.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2