SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 48


__ADS_3

Introgasi (2)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia berusaha memberikan jawaban selogis mungkin untuk Bowo, ya walaupun Nia sendiri tahu jawabannya barusan hanya bersifat diplomatik, bukan jawaban sesungguhnya yang diharapkan oleh Bowo. Tetapi setidak-tidaknya Nia telah berusaha menjawab.


γ€€


"Kalau itu aku tahu Niaaaa, dan aku yakin kamu juga tahu kalau arah pertanyaanku bukanlah di jawab seperti itu". Bowo menegakkan posisi badannya di kursi yang tengah di duduknya, sehingga menampilkan kesan seperti aparat keamanan yang tengah menyelidiki tersangka agar bisa berkata jujur.


γ€€


Tuhkan, Bowo peka banget. Gimana ya?Β Jujur, enggak?


γ€€


"Apa Wo? Akukan enggak salah. Aku ya Nia, Wo. Justru pertanyaan kamu itu yang aneh, pake tanya aku ini siapa?" Jawab Nia tetapi tanpa mau menatap kearah mata Bowo.


γ€€


"Apa hubunganmu dengan tuan Aisakha?" Tanya Bowo kemudian yang sukses membuat wajah Nia berubah.


γ€€


Deg, deg, deg,Β gawat..kok main tembak langsung. Gimana ya cara jawabnya?


γ€€


"Kenapa wajahmu berubah? Apakah aku telah memberimu pertanyaan yang sangat sulit?" Bowo terus memberondong Nia dengan pertanyaan.


γ€€


"Hah, enggak kok. Kamu jangan asal deh Bowo", Nia berusaha mengembalikan ketenangannya lagi. Dia harus tenang jika tidak ingin Bowo semakin memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.


γ€€


"Berarti bisa jujurkan?" Bowo semakin mendesak Nia.


γ€€


"Kenapa kamu bisa mengajukan pertanyaan itu?" Ujar Nia.


γ€€


"Nia, Nia, aku bisa melihat dengan jelas". Ujar Bowo sambil menatap lekat mata Nia.


γ€€


"Apa Wo? Apa yang kamu lihat?"Β  Nia merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Bowo.


γ€€

__ADS_1


"Sikap presdir, tuan Aisakha bersikap beda sama kamu. Dia enggak marah saat pertama bertemu kamu di laboratorium, padahal kita semua bisa lihat kalau kehadirannya sempat tidak kamu sadari. Tetapi dia tidak marah dengan sikap asikmu pada papan tulis, tuan Aisakha lebih seperti sedih, kecewa dan dia seakan-akan ingin memiliki kamu sendiri". Bowo mencoba memberi penjelasan pada Nia dari sudut pandangnya sendiri.


γ€€


"Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan Bowo, kamu jangan bercanda! Tuan Aisakha ingin memilikiku, sendiri? Kamu ini kenapa sih sebenarnya?" Nia menggelengkan kepalanya atas analisa Bowo barusan. Nia menggelengkan kepalanya bukan karena tidak setuju dengan hasil analisa Bowo, Nia menggelengkan kepalanya justru karena penjelasan Bowo nyaris mendekati benar. Hanya saja Bowo tidak tahu persis apa dasar Aisakha bersikap demikian padanya, lebih tepatnya peristiwa tiga tahun lalu dalam kehidupan Nia, itu yang Bowo tidak tahu.


γ€€


"Okeh, anggap aku salah. Lantas apakah cerita sebenarnya?" Tantang Bowo pada Nia.


γ€€


Tanpa disadari, Nia memijat keningnya sendiri. Sebenarnya kepalanya tidak pusing, tetapi entah kenapa rasanya sangat tidak nyaman saat ini.


γ€€


"Aku bukan siapa-siapa Wo, aku Syania si anak yatim piatu, aku bekerja di sini bersama kalian sahabat-sahabat yang luar biasa sejak tiga tahun lalu. Aku punya Bibi di sini dan punya sepupu juga, serta si tampan Alex. Kamu dan semua rekan sekerja kita kenal mereka. Sedang tuan Aisakha adalah presdir kita, pimpinan tertinggi perusahaan ini dan pemilik tunggal perusahaan tempat kita bekerja ini". Nia menjelaskan dengan suara pelan, seakan-akan dia mulai merasa lelah sendiri menghadapi Bowo.


γ€€


"Kenapa begitu sulit bagimu untuk jujur? Padahal kamu tahukan, aku selalu mendukung semua yang terbaik untuk kamu, apa yang bisa membuat kamu bahagia". Bowo tahu jawaban panjang Nia tadi hanyalah kedok untuk menutupi jawaban sebenarnya.


γ€€


"Wo, aku salut sama kamu. Kamu memang sahabat yang luar biasa, tetapi maafkan aku untuk saat ini aku masih belum bisa ceritakan semuanya. Aku masih ragu pada diriku sendiri, aku masih perlu waktu untuk mencerna semuanya". Ujar Nia sambil menatap mata Bowo.


γ€€


γ€€


"Terima kasih Wo, kamu memang sahabatku yang sangat baik. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, maaf aku belum bisa cerita. Nanti jika waktunya sudah tepat, aku janji bakal cerita semua sama kamu". Ucapan terima kasih Nia yang diutarakannya secara tulus pada sahabat terbaiknya itu.


γ€€


Bowo tersenyum dan, tok, tok, tok, pembicaraan pun terhenti, Nia dan Bowo sama-sama memandang kearah pintu. Kearah sumber ketukan.


γ€€


"Nona, apakah anda mendapat tugas untuk lembur?" Tanya lelaki paruh baya dengan setelan kemeja biru dan celana dasar berwarna hitam kepada Nia. Lelaki paruh baya tersebut adalah sopir khusus yang ditugaskan Aisakha sebagai sopir pribadi Nia selama Aisakha tidak berada di dekat Nia.


γ€€


"Ooh, tidak, tidak. Maaf lama menunggu ya Pak? Saya tadi hanya sedikit berdiskusi dengan rekan sekerja saya tentang penelitian kami", jawab Nia berbohong.


γ€€


Bowopun menganggukan kepalanya, mengaminkan perkataan Nia saat mata si sopir beralih padanya.


γ€€


Bukan Pakde, siapa dia?


γ€€

__ADS_1


"Nona, apakah sudah selesai? Bisa kita kembali sekarang?" Tanya si sopir kemudian.


γ€€


"Ya tentu saja". Jawab Nia cepat.


γ€€


Nia langsung beranjak dari duduknya dan segera berpamitan pada Bowo.


γ€€


Sesampainya di dalam mobil, setelah memastikan wanita yang diperintahkan sang majikan untuk dijaganya dengan baik, telah duduk nyaman. Si sopir pun bertanya, "nona, apakah nona tidak melihat handphone? Sepertinya tuan telah beberapa kali menghubungi nona?"


γ€€


"Benarkah?" Tanya Nia dengan tidak percayanya.


γ€€


Astaga aku lupa mengaktifkan hapeku. Cepat Nia mengaktifkan teleponya, dan benar saja. Ada dua puluh chat penuh pertanyaan dan penuh kekhawatiran masuk ke handphonenya dari Aisakha.


γ€€


"Ya ampun, banyak banget chatnya". Ujar Nia tidak percaya sambil menatap handphonenya yang terus bergetar.


γ€€


"Tadi tuan menelepon saya, nona. Beliau sangat kawatir, karena itu saya segera menyusul nona ke ruangan". Jelas si sopir kepada Nia.


γ€€


"Maafkan saya ya Pak, sudah merepotkan". Nia merasa bersalah atas tindakan cerobohnya.


γ€€


"Nona tidak perlu sungkan, nona sama sekali tidak salah. Kalau boleh saya minta tolong, tolong nona hubungi tuan, agar tuan tidak semakin kawatir saat ini". Permintaan si sopir pada Nia.


γ€€


"Baiklah pak, saya akan telepon tuan. Sekarang Bapak bisa jalankan mobilnya, tetapi nanti kita mampir ke Mall di dekat Pantai Panjang sebentar ya pak. Ada yang ingin saya beli". Perintah Nia pada si sopir.


γ€€


Sopir pun menganggukan kepalanya, patuh pada perintah Nia. Mobil pun melaju tenang dijalanan Kota Bengkulu menuju sebuah Mall yang diinginkan oleh Nia.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2