SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 27


__ADS_3

Jangan Dekati Aku


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Sudah dua puluh menit berlalu sejak Nia tertidur di dalam pelukan Aisakha tadi, dan Kristo pun telah mengantarkan teh hangat baru sesuai perintah Aisakha sebelumnya.


γ€€


Pelan Aisakha membuka pintu penghalang kamar istirahat presdir yang biasa menjadi kamar tidur baginya saat lelah bekerja di kantor. Terlihat dari arah pintu Nia sedikit bergerak mengeliat, tetapi belum memperlihatkan tanda akan bangun dari tidurnya. Setelah menutup pintu kamar kembali, Aisakha pun meletakkan teh hangat yang di bawa Kristo di meja sisi kiri ranjang besar yang tengah ditiduri Nia.


γ€€


Aisakha memilih duduk di sisi kiri ranjang itu dan diam memperhatikan Nia, lama aku mencarimu tapiΒ saat kita kembali bertemuΒ aku mendapatimu kembali bersedih.


γ€€


Nia melayang, melayang jauh hingga tiba-tiba telah berdiri di dalam pesawat. Pesawat yang membawanya kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu. Air mata tak henti membasahi pipinya, Nia harus melepaskan rasa cinta terbesarnya selama ini, Nia harus melepaskan Edo selamanya. Nia, melihat betap sedihnya dirinya semasa itu. Perlahan pesawat terbang, meninggalkan Kota Jakarta, terbang bebas di udara. Sakit, sangat sakit, hatinya serasa tersayat. Perih yang luar bisa, hingga entah siapa yang memberi izin, Nia melihat tangan Aisakha menggenggam erat jemarinya. Membuat dia merasa sangat tenang, rasa sakit tadi berganti kehangatan. Perih itu perlahan hilang, Nia melihat jelas bagaimana Aisakha menjaganya di dalam pesawat. "Jangan bersedih, ada aku di sini. Aku akan menjagamu". Janji Aisakha padanya.


γ€€


Sedang asyiknya Aisakha tengelam dalam pikirannya sendiri sambil memperhatikan Nia, kembali dia melihat Nia sedikit mengeliat dan tidak berapa lama kemudian mata coklat itu terbuka, mempelajari ke atas dan sisi kanan ruangan. Hingga akhirnya mata coklat Nia memandangi Aisakha yang duduk di sisi kiri ranjang tidak berapa jauh darinya. Nia diam memandangi lelaki bermata biru itu tersenyum padanya. Pasti cuma mimpi. Begitu pikir Nia.


γ€€


Sekali lagi Nia memejamkan matanya dan sedetik kemudian dia membukanya kembali. Melakukan hal yang sama seperti saat dia bangun tadi, memandang ke atas dan mempelajari ruangan tersebut hingga akhirnya kembali mendapati Aisakha masih duduk seperti di awal sambil tersenyum padanya. ehhh, nggak mimpi ya? Semua itu adalah kejadian tiga tahun yang lalu di dalam pesawat.Β 


γ€€


"Sudah bangun?" Suara berat Aisakha begitu jelas di telinga Nia. "Ini minum dulu teh hangat ini, supaya kamu merasa segar". Aiskaha memberikan gelas berisi teh hangat pada Nia.


γ€€


"Ini di mana? Kenapa aku ada di sini? "Tanya Nia sambil sekali lagi menatap seisi ruangan.


γ€€


"Kamu di kamar pribadi yang biasa aku pake untuk istirahat di kantor, tadi kamu tertidur. Kamu ingat?". Jelas Aisakha.


γ€€


Nia diam, dia merubah posisi tidurnya menjadi duduk dan bersandar ke sandaran ranjang yang menempel di dinding. Dia pun menerima teh hangat yang ditawarkan Aisakh padanya.


γ€€


"Terima kasih". Ujar Nia pelan.


γ€€


Aisakha hanya tersenyum mendengar suara pelan Nia. Dan dia terus memperhatikan Nia yang pelan meneguk sedikit demi sedikit air teh itu.


γ€€


"Sudah merasa baikan?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Sudah tuan", jawab Nia sambil melihat ke arah kemeja Aisakha, terlihat jelas kemeja itu sedikit kotor, ada noda warna pink pudar dan coklat pudar. "Maafkan saya tuan sudah membuat kemeja anda kotor, kalau tuan izinkan saya akan mengantinya".


γ€€

__ADS_1


"Hahaha", tawa Aisakha pelan. "Kamu gak usah memikirkan kemaja saya, dan kamu gak perlu mengantinya. Lupakan masalah kemeja. Oke? Sekarang apa kamu lapar? Kristo sudah menata menu makan siang di luar". Ujar Aisakha dengan tenang.


γ€€


"Tuan, terima kasih". Nia berujar sambil menatap mata biru penuh misteri milik Aisakha.


γ€€


"Buat apa?" Tanya Aisakha kembali.


γ€€


"Tuan sudah menjaga saya di dalam pesawat tiga tahun yang lalu". Nia berterima kasih dengan tulus pada Aisakha. Tentu saja dia sudah ingat siapa lelaki tampan bermata biru yang ada dihadapannya. Semua kilas balik tadi telah membuat ingatannya pulih, Nia sangat tahu apa arti pertanyaan-pertanyaan Aisakha padanya di laboratorium tadi.


γ€€


Nia pun ingat bagaimana lelaki tampan yang duduk di hadapannya itu telah mengenggam tangannya selama perjalanan Jakarta - Bengkulu, dia sangat ingat sekarang, genggaman tangan itu telah membuat dia merasa aman, merasa tenang, merasakan kehangatan yang menjalar dan memenuhi relung hatinya.


γ€€


"Jadi kamu sudah ingat padaku?" Tanya Aisakha memastikan.


γ€€


Nia menganggukan kepalanya, sambil menatap Aisakha. Spontan, mengetahui wanita yang telah membuat dia merindu selama tiga tahun ini telah mengenalinya, membuat Aisakha berdiri ingin berjalan ingin lebih mendekati Nia.


γ€€


Nia yang mengetahui Aisakha akan mendekatinya malah berteriak histeris sambil melindungi dirinya dengam bantal yang tadi menjadi penyanga kepalanya. "Jangan dekati aku, tolong, jangan dekati aku!"


γ€€


γ€€


"Jangan tuan, jangan dekati saya. Nanti anda tertimpa sial, anda belum kenal siapa saya". Ujar Nia dengan putus asa.


γ€€


"Apa maksud kamu Nia, sial apa?" Aisakha bingung sendiri.


γ€€


"Ka-kata, kata Tante Sandara saya pembawa sial tuan, saya penyebab Edo mengalami musibah, sa-saya penyebab Ayah, Ibu dan nenek meninggal. Saya pembawa sial tuan, Tante Sandara terus memaki saya sebagai pembawa sial. Walaupun saya telah bersimpuh memohon, tetapi Tante Sandara tidak mau percaya. Jadi tuan harus menjauh dari saya, harus jaga jarak". Ujar Nia terbata-bata sambil meneteskan air mata.


γ€€


Ahh, kurang ajar. Kenapa aku kasih waktu dua jam pada Kristo untuk mencari semua informasi tentang Nia. Kenapa tidak dua puluh menit saja. Sekarang aku jadi bingung harus melakukan apa? Siapa itu Tante Sandara, kenapa dia mengucapkan kata mengerikan seperti itu terhadap Nia? Sebenarnya apa yang telah menimpa Nia dulu.


γ€€


"Baik, baik, aku tidak akan mendekatimu. Tapi tolong kamu dengar baik-baik Nia, aku sengaja tidak mendekatimu bukan karena takut dengan kata mengalamai sial atau apa pun itu. Aku sengaja tidak mendekatimu semata-mata tidak mau membuatmu takut dan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu tersakiti seperti itu". Aisakha berpikir, sepertinya dengan menuruti keinginan Nia bisa membuat dia berhenti histeris.


γ€€


"Tolong berhentilah menangis". Bujuk Aisakha pada Nia.


γ€€


Apa yang telah terjadi padamu sayang tiga tahun yang lalu? Sepertinya kamu mengalami trauma yang mendalam. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


γ€€

__ADS_1


Aisakha dapat melihat Nia mulai tenang sekarang. Nia sudah menghapus air matanya dan terlihat sedikit lebih baik.


γ€€


"Mari kita makan, ini sudah sangat lewat dari jam makan siang". Ajak Aisakha pada Nia.


γ€€


"Boleh saya kembali ke laboratorium tuan?" Nia malah mengajukan pertanyaan.


γ€€


"Tidak", jawab Aisakha tegas. "Hari ini kamu hanya boleh bersamaku. Aku tidak mau di saat kondisimu seperti ini kamu kembali ke laboratorium, aku hanya mengizinkan kamu istirahat di kamar ini atau duduk bersamaku di ruang kerjaku, tapi tidak keluar dari ruanganku sama sekali. Kamu harus tenang, banyak hal yang ingin aku tanya pada mu".


γ€€


Nia hanya diam tidak menjawab pernyataan tegas Aisakha barusan.


γ€€


"Sekarang kita makan dulu, ayo". Ajak Aisakha pada Nia. Kemudian dia berdiri menuju pintu dan membukakannya untuk Nia.


γ€€


Nia memandang mata Aisakha,Β Kenapa sejak awal jumpa anda baik pada saya tuan?


γ€€


"Ayo". Kembali terdengar suara berat Aisakha.


γ€€


Nia pun patuh berjalan menuju pintu yang telah di buka Aisakha untuknya. Kemudian "tuan?". Suara Nia memanggil Aisakha saat telah terlebih dahulu duduk di sofa tempat awal mereka masuk ke ruang kerja sang presdir.


γ€€


"Hemm". Jawab Aisakha singkat.


γ€€


"Kenapa sejak pertama kita jumpa, anda begitu baik pada saya? Padahal anda tidak mengenal saya?". Tanya Nia sambil menatap lekat pada mata biru Aisakha.


γ€€


Karena sejak awal kita jumpa, kamu telah memikat hatiku sayang.


γ€€


"Nanti saja kita bahas itu, sekarang mari kita makan dulu". Aisakha berusaha mengalihkan pembicaran Nia padanya.


γ€€


Nia hanya mengangguk, dirinya dan Aisakha makan dalam suasan tenang. Walaupun sesekali terlihatΒ  Nia hanya memainkan makanan yang ada dipirinnya, tetapi Aisakha tetap sabar menunggu sampai Nia menghabiskan makannya tersebut.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2