SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
136


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


Aisakha sedang mengeringkan rambut Nia dengan alat pengering rambut. Mereka baru selesai mandi, Nia dan Aisakha hanya berbalut handuk putih saat ini.


 


Perlombaan selesai, Nia kalah telak. Sepertinya gadis berambut panjang ini sudah masuk k perangkap kejahilan suaminya sendiri. Jelas Aisakha memiliki lisensi kemampuan renang, Nia malah dengan polosnya menerima tantangan itu.


 


Setelah selesai dengan lomba yang tidak seimbang, Aisakha membawa Nia untuk mandi bersama, melilitkan Nia handuk putih dan memakai handuk dengan warna sama di pinggangnya. Sekarang Aisakha sedang sibuk dengan tugas mulia, bermain dengan alat pengering rambut bagai penata rambut profesional.


 


“Hukumannya jangan macam-macam ya “. Nia memandang penuh ekspresi memelas pada Aisakha melalui pantulan kaca di depannya.


 


“Cuma semacam “. Jawab Aisakha masih fokus dengan rambut Nia.


 


“Jangan yang aneh-aneh “. Bujuk Nia masih kurang percaya.


 


“Enggak “. Aisakha masih saja fokus mengeringkan rambut Nia.


 


“Memang hukumannya apa ?” Nia menunduk, penasaran tapi juga ketakutan. Pikirannya sedang membuat berbagai prediksi kenakalan yang akan di lakukan sang suami padanya.


 


Mau hukum aku berdiri dengan kaki satu dan tangan memegang telinga ? Ahhh, jangan dong. Itukan capek. Batin Nia mulai berspekulasi. Atau mau hukum aku dengan mencoret mukaku ? Eh, jangan juga dong. Itukan ide kreatif aku andai aku menang. Masa iya implementasinya ke aku. Nggak mau.....


 


“Sudah “. Suara senang Aisakha membuyarkan lamunan Nia.


 


“Sayang, aku di hukum apa sih “. Berbalik badan, memperhatikan Aiskaha yang berjalan dan naik ke atas ranjang. Mengambil posisi tidur terlentang dengan ke dua tangan di pakai sebagai penyangga kepala di atas bantal.


 


“Sudah nggak sabar nih mau di hukum ?” Aisakha memandangi wajah Nia.


 


“Bu, bukan “. Tolak Nia sambil melambaikan tangannya. “Aku, aku cuma penasaran saja, nanti aku di hukum aneh-aneh gak ?“ Suara Nia pelan.


 


“Enggak aneh kok. Kan sudah aku bilang tadi “. Aisakha masih memandangi wajah Nia yang jelas sedang gelisah.


 


“Sekarang kemarilah !” Aisakha memberi perintah. “Hukumanmu akan di mulai “. Dan Nia berjalan patuh mendekat ke sisi ranjang.


“Lapaskan handukmu dan naik ke atas !” Suara Aisakha serak.


 


“Hah, apa ?” Nia tidak percaya dengan pendengarannya. “Na, naik ke mana ?” Jiwa polos Nia bingung dan panik.


 


“Naik ke atas situ !” Tunjuk Aisakha pada tubuh atletisnya menggunakan gerakan matanya.


 


“Ta, tapi tadi bilangnya enggak macam-macam “. Nia masih berdiri tidak percaya dengan apa yang di inginkan Aisakha.


 


“Kan memang enggak macam-macam, hanya satu macam saja istriku. Lepas handukmu dan naik !” Aisakha melihat wajah Nia merona, mode malunya sedang keluar.


 


“I, itu memalukan “. Benar tebakan Aisakha, Nia sedang merasa malu sendiri.


 

__ADS_1


Bagaimana mungkin Tuhan begitu baik, memberikan aku seorang bidadari-Nya untuk menjadi pendamping hidupku. Cantik dan sangat mengemaskan. Batin Aisakha melihat kekikukan istrinya.


 


“Nia, ingat aturan main kita tadi ?” Tanya Aisakha membuat Nia menatap mata birunya. “Patuh dan....?” Kalimat Aisakha mengantung.


 


“Harus pasrah pada yang menang “, Jawab Nia dengan akhir menggigit bibir bawahnya.


 


Kenapa juga tadi sok mengiyakan ajakan Mas buat lomba ? Kalau tahu aku bakal berakhir jadi si kalah, bagus aku tolakan ? Ini juga, hukuman kok aneh gituh. Mau buat aku malu setengah mati ya ? Nia membatin penuh penyesalan.


 


“Istriku ?” Suara Aisakha membuat Nia kembali kikuk.


 


“Baiklah “. Pasrah, tidak punya pilihan lain.


 


Nia naik ke atas ranjang, dengan gerakan kaku melanjutkan naik ke atas tubuh Aisakha. Muka merah merona seperti tomat matang segar, tertunduk malu bukan kepalang. Sedang Aisakha diam-diam tersenyum senang, memperhatikan betapa mengemaskan istrinya itu. Ingin sekali dirinya segera memakan Nia, memakan hingga puas dan berkali-kali lamanya.


 


“Handuknya ?” Aisakha membuat wajah tertunduk Nia semakin dalam. Dengan gerakan serba salah, tangan Nia berhasil membuat satu-satunya kain penutup tubuhnya lolos begitu saja.


 


Selanjutnya semua bisa mendugakan ? Aisakha benar-benar menjalankan misi awalnya, bulan madu yang hanya akan membuat Nia meneriakkan namanya dalam, sepanjang waktu hingga pagi menjelang. Hingga akhirnya Nia tertidur pulas, lelah dalam pelukan Aisakha yang terlihat tersenyum sangat puas.


 


***************


 


Di waktu Indonesia bagian barat, pada malam yang sama, di sebuah rumah mewah. Edo sedang duduk di ruang tamu bersama Toni, Dafi, Ardi dan Angga. Edo sedang mendapat kunjungan dari para sahabat-sahabat baiknya ini. Sahabat yang tidak pernah meninggalkannya meskipun dirinya sedang terpuruk dalam, sahabat yang selalu menjunjung tinggi harga kesetiakawanan satu sama lain. Selalu menasehatinya saat dia salah langkah, menjaganya saat dia terluka dan menghiburnya saat dia berduka.


 


Edo menatap wajah sahabat-sahabatnya itu silih berganti, begitu banyak ucapan syukur di hatinya, memiliki mereka semua hingga detik ini.


 


 


“Hey bro, mau berapa kali lagi kau ucapkan kata itu ?” Dafi tersenyum pada Edo. “Khilaf itu biasa, dan kami semua sudah memaafkanmu. Kami yakin, saat kami salah kaupun akan memaafkan kami Do !”


 


“Aku bersyukur memiliki kalian “. Ucap Edo tulus. “Terima kasih “.


 


“Iya..iya...jangan cuma terima kasih saja. Kau harus traktir kami semua. Apa kau ingat, kami belum mencicipi apa-apa loh saat pesta pernikahanmu waktu itu ?” Angga nampak sewot.


 


“Hahaahaha “, tawa Toni, Dafi dan Ardi berbarengan.


 


“Maaf “, sekali lagi Edo hanya mampu meminta maaf. Dan akhirnya ikut tertawa bersama yang lainnya.


 


“Bagaimana hubunganmu dengan Mamamu, Do ?” Tanya Toni kemudian. Mereka semua tahu, selama Edo di rawat di Rumah Sakit Kota Bengkulu, sang Mama tidak pernah sekalipun datang.


 


“Lebih baik “. Edo menghela nafas. “Mama sudah meminta maaf atas semua perbuatannya di masa lalu. Kami sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing, bahkan aku sudah jujur menyatakan seberapa besar rasa marahku padanya “.


 


“Setidaknya kau jangan pernah lupa Do, surga di kaki Ibu ! Bagaimana pun situasi antara dirimu dan Mamamu, dia tetaplah Mama kandungmu, Ibu yang melahirkan dan membesarkanmu”. Nasehat Toni yang di sertai anggukan kepala Dafi, Ardi dan Angga.


 


“Iya “. Edo hanya memilih menjawab singkat. Dia sudah memaafkan Mamanya, toh semua sudah terjadi. Tetapi untuk mengembalikan kepercayaannya seperti dulu, Edo butuh waktu. Hati kecilnya tidak bisa berbohong, semua perbuatan sang Mama telah menorehkan luka dalam di lubuk hatinya. Edo masih perlu waktu untuk pemulihan di bagian sana


 


“Dan kondisimu, bagaimana kondisimu sekarang ?” Toni mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


 


“Aku sudah sangat pulih. Tinggal besok saja lagi terapi terakhir “. Edo melihat kaki kanannya, hingga membuat semua pasang mata yang lain mengarah ke sana. “Sejujurnya aku merasa sudah sangat baik, tetapi istriku meminta aku harus menyelesaikan semua terapiku sampai akhir “.


 


Mendengar penuturan Edo barusan, sontak semua pasang mata sahabat-sahabat Edo itu menatap lurus padanya. Ada rasa heran sekaligus penasaran, seakan isi kepala mereka sama. Sama-sama merasa salah dengar. Tetapi entah kenapa, ekspresi mata Edo menunjukkan sebuah ketulusan dalam.


 


“Aku yakin aku salah dengar !” Tanpa dosa Ardi menginstruksi Edo.


 


“Tidak “, jawab Edo cepat.


 


“Hah ?” Sekarang semua berbarengan memperlihatkan ketidak percayaan masing-masing.


 


“Apa ?” Edo tampak tidak senang. “Kemalakan memang istriku “.


 


“Hah ?” Toni, Dafi, Ardi dan Angga beradu tatap.


 


“heyyyyyy....ayolah !” Edo mulai merasa tidak suka dengan ekspresi keterkejutan sahabat-sahabatnya itu. “Aku juga bisa berubah tahu !”


 


“Kau bukan salah obatkan ?” Suara Toni penuh selidik.


 


“Sialan kau Ton “. Edo mengupat kesal.


 


“Jadi serius ?” Ardi langsung bersuara.


 


“Sejak kapan ?” Angga sangat bersemangat bertanya.


 


“Iya, sejak kapan ?” Toni ikut-ikutan bertanya.


 


“Apa ?” Edo berpura-pura tidak mengerti arah pertanyaan sahabat-sahabatnya itu.


 


“Berlagak tidak mengerti lagi, aku pukul kakimu itu !” Dafi kesal. “Biar kau berakhir di Rumah Sakit lagi “.


 


Edo diam, ada rona malu.


 


“JAWAB !” Toni, Dafi, Ardi dan Angga bersuara keras, mereka sudah tidak sabar.


 


“Aku juga tidak tahu, tapi, saat aku tahu tekad Kemala begitu kuat untuk meninggalkan aku, saat aku tahu dia begitu yakin aku akan bisa hidup bahagia tanpa dia di sisiku. Saat itu aku merasa, aku tidak akan sanggup hidup tanpa istriku itu. Aku menyadari sesuatu yang dalam di lubuk hatiku “. Jelas Edo jujur.


 


“Syukurlah Do, akhirnya kau bisa melihat ketulusan Kemala padamu. Aku harap kau akan hidup berbahagia setelah semua ini. Menjadi suami yang baik dan ayah yang hebat “. Toni membuat mata Edo berkaca-kaca.


 


“Iya, apa kalian percaya itu ? Aku akan menjadi ayah “. Edo berbangga hati.


 


“Dan kami akan menjadi 4 Paman tertampan di dunia ini “. Dafi tidak kalah berbangganya.


 


Semua tertawa lepas, suasana kehangatan pertemanan yang terjalin bertahun-tahun lamanya ini membuat Edo kembali mengucap syukur tidak terhingga. Hidupnya lengkap sudah, istri yang sangat mencintai dirinya, anak yang akan segera datang ke dunia dan sahabat yang selalu ada di sisinya, meskipun dirinya salah. Edo selalu punya mereka sebagai sandaran hidupnya, sebagai tempat pulang di saat terpuruknya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2