
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Pagi ini Nia kembali mengeliat pelan sebelum membuka matanya, barulah setelah itu Nia berusaha menyesuaikan pencahaan kamarnya dengan mata yang baru terbuka.
 
Lalu dengan cepat Nia mengedarkan pandangannya ke arah sofa, tidak mau kejadian semalam terulang, Nia langsung mencari sosok suaminya itu. Sayang, Nia tidak menemukan Aisakha di terduduk di sofa. Nia pun memilih duduk, melonggo ke sana kemari dan mencari-cari. Tetapi, dia memang sedang sendiri. Aisakha entah dimana keberadaannya.
 
"Ahhhh ", semangat pagi Nia menghilang. Sosok yang diharapkan tidak kunjung datang.
 
Nia pun berencana turun dari ranjangnya dan bersiap untuk mandi. Belum lagi niat terlaksana, bunyi notifikasi pesan masuk di handphonenya membuat Nia mencari keberadaan benda hitam itu.
 
Dengan setengah ogah-ogahan, Nia membuka pesan masuk di layar handphonenya.
 
"Pagi...", Nia mulai membaca isi pesan dari nomor yang menurut perasaan Nia pernah di lihatnya dulu, cukup akrab baginya, tetapi Nia lupa.
 
"Pasti jam segini kamu sudah bangun. Aku masih sangat ingat kebiasaanmu yang selalu bangun pagi ", ada emoji senyum.
 
"Aku sengaja menghubungi kamu, karena aku juga tahu kalau aku langsung telepon kamu, kamu pasti gak akan angkat, gak akan terima panggilan aku. Itukan kebiasaan kamu kalau ada nomor baru, kamu males angkat ? Aku yakin, kamu sudah lama menghapus nomor hape aku. Padahal aku, dari dulu hingga sekarang enggak pernah hapus loh ". Nia masih bertahan membaca isi pesan masuknya.
 
Ini siapa ya ?
Nia membatin heran.
 
"Aku kangen kamu, kangen senyuman manismu, kangen wajah cantikmu. Aku kangen banget sama kamu, Nia ". Emoji hati di ujung pesan.
 
"Sayangku, Niaku...aku ingin bertemu denganmu. Banyak hal yang harus kita bicarakan ". Itu adalah isi pesan terakhir.
 
Nia menatap layar handphonenya. Aneh dan bingung, itu yang di rasakannya sekarang.
 
"Siapa coba ? Mana isi pesannya aneh lagi ?" Guman Nia sambil meletakkan kembali handphonenya. Nia sedang tidak ingin berpikir apa lagi mencari tahu siapa si pengirim pesan. Nia lebih berkeinginan mencari suaminya.
 
Nia berdiri, kembali bermaksud melanjutkan niatnya tadi untuk ke kamar mandi. Dia ingin segera bebersih lalu mencari Aisakha. Tetapi baruu satu langkah berjalan, langkah kaki Nia kembali di paksa berhenti. Sekarang nada dering handphonenya terdengar ribut memanggil-manggil.
__ADS_1
 
 
"Nomor yang kirim pesan ". Guman Nia. Nia memperhatikan satu nomor baru di layar handphonenya.
 
 
"Siapa ya ?" Nia bertanya pada diri sendiri hingga panggilan masukpun terlewatkan begitu saja. Nia masih sibuk bertanya-tanya siapakah si peneleponnya pagi ini, hingga tanpa Nia sadari panggilan telah berlalu.
 
Panggilan kedua masuk lagi dengan nomor yang sama. Penasaran, terlebih dengan gaya bicara si penelepon di pesan masuk sebelumnya, mengoda Nia untuk mengangkat.
 
"Siapa Nia ?" Tanya Aisakha heran melihat isterinya hanya menatap telepon gengamnya.
 
"Nomor baru sayang, tapi sebelumnya dia dah kirim pesan dulu. Gaya bicarany kayak orang yang kenal sama aku ". Jawab Nia yang tersadar kalau Aisakha tadi baru saja keluar dari kamar mandinya.
 
"Angkat saja, mana tahu perlu ". Aisakha berjalan mendekat pada Nia yang telah terduduk kembali di ranjangnya.
 
Nia pun mengiyakan kata-kata sang suami, mengerakkan ibu jarinya dan segera menerima panggilan masuk di layar sentuh handphonenya.
 
 
"Aku tahu, kamu akan menerima telepon dariku ". Suara lelaki yang sesaat membuat jantung Nia serasa ingin berhenti berdetak. Nia terdiam, menutup mulutnya dengan tangan sambil memandang penuh keterkejutan pada Aisakha.
 
Ya...Tuhan.....
Wajah Nia berubah dingin dalam sekejab, dia terlalu terperanjat.
 
 
Heran melihat reaksi sang isteri, Aisakha langsung merebutt telepon dari tangan Nia, menekan tombol speker dan mendengarkan suara si penelepon bersama Nia.
 
"Apa kabar Nia ?" Mendengar sapaan lelaki itu, Nia langsung meremas jemari Aisakha.
 
"Aku rindu padamu, aku ingin bertemu ". Sekarang Aisakha yang terlihat emosi. Rasa marah karena mendengar lelaki lain menyatakan kerinduan pada isterinya, Aisakha ingin sekali membanting handphone Nia.
 
__ADS_1
"Bisakah kita bertemu ? Aku sangat ingin berbicara denganmu. Aku mohon ". Nia sedang menarik nafas dalam, diaa sedang berusaha mengendalikan keterkejutannya.
 
"Apa yang kamu mau ?" Suara Nia terdengar pelan.
 
"Ya Tuhan, Nia....akhirnya setelah bertahun-tahun aku bisa mendengar suara merdumu ". Si penelepon terdengar sangat senang. Sedang Nia, dia menatap ada amarah yang sudah sampai di puncak kepala suaminya.
 
"Apa yang kamu mau ?" Ulang Nia datar sambil menatap mata biru yang sedang cemburu.
 
"Bertemu, bicara sama kamu ". Jawab si penelepon di ujung sana.
 
"Dan setelah itu, maukah kamu berjanji tidak menganggu aku dan rumah tanggaku lagi ?" Tanya Nia tanpa ragu.
 
"Kenapa ? Apakah kamu sudah melupakanku ?" Si penelepon masih mencoba membujuk Nia. "Melupakan kenangan manis kita, kisah cinta kita ?"
 
"Iya, aku sudah melupakan semua. Dan sekarang jawab atau aku akan matikan teleponnya !" Nia sekarang sudah terdengar acuh.
 
"Baik ". Si penelepon terdengar pasrah.
 
"Siang nanti, di taman mangrove. Aku akan datang jam 2 siang ". Dan setelah itu, Nia langsung mematikan teleponnya.
 
 
"Sayang, dia adalah....... ". Nia bermaksud menjelaskan semua pada Aisakha.
 
"Kamu akan menemuinya ?" Potong Aisakha marah pada Nia. Sesungguhnya melihat reaksi Nia, Aisakha bisa menebak siapakan gerangan si penelepon tadi.
 
"Harus, kalau tidak dia akan mengangguku, mencari celah menganggu rumah tangga kita. Dari pada suatu hari nanti, dia membuat kita salah paham, lebih baik aku menemuinya dan mengusirnya sekarang ". Nia mengenggam tangan Aisakha.
 
"Aku bisa melenyapkannya dengan mudah. Kamu enggak perlu menemui dia !" Rahang Aisakha mengeras.
 
"Aku mencintaimu sayang, aku gak mau ada duri dalam hidupku karena masa lalu ". Nia mengeraskan gengaman tangannya. "Temani aku, aku harus menyelesaikan semua ini !"
__ADS_1