SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
12


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia, Wulan, Resya, Anita dan Bowo sudah duduk rapi di depan meja kerja Profesor Yandi. Pagi ini para peneliti sengaja di minta oleh Profesor untuk kumpul sebentar di ruangannya sebelum mereka lanjut dengan aktivitas masing-masing di laboratorium.


γ€€


"Ada yang bisa kami bantu Prof ?" Suara Bowo membuat semua mata memandang ke arahnya. Termasuk Nia, sesaat mata mereka beradu pandang, bersitatap beberapa detik, terasa canggung. Cepat Feya membuang muka, menjauhkan matanya dari pandangan Bowo.


γ€€


Bowo menarik nafas dalam,Β kenapa, kenapa kamu menjauh dariku sekarang ? Bahkan menatap mataku saja kamu enggan ? Apa kamu tahu perasaanku Nia ?


γ€€


"Iya, iya..jadi begini Bowo dan yang lain. Kamu terutamanya Nia ". Nia langsung memandang Profesor Yandi. "Ini tentang perkembangan proyek baru kita, bagaimana ?"


γ€€


"Perhitungannya sudah selesai Prof. Sampel kita berhasil, perhitungan sudah tepat dan hari ini kita tinggal melihat hasil dari uji coba semalam ". Nia mewakili teman-temannya menjawab.


γ€€


"Bagus-bagus, saya tahu kalian semua akan berhasil. Saya selalu yakin dengan kerja sama kalian semua ". Ucap Profesor Yandi dengan bangganya.


γ€€


"Inikan berkat arahan Profesor juga, iyakan teman-teman ?" Tanya Bowo sambil memandangi Wulan, Resya dan Anita. Mereka kompak menganguk dan tersenyum sopan pada Profesor. Sedang Nia terlihat sibuk dengan map hijau yang sedang di bolak-balik isinya, Nia berpura-pura sibuk, dia sengaja melakukan semua itu.


γ€€


Sampai kapan Nia ? Padahal dulu kita begitu akrab, tapi kenapa sekarang semua jadi begini. Aku harus segera membawamu, sepertinya ini jalan terbaik buat kita.Β Bowo.


γ€€


"Nia, menurut kamu kapan kita bisa persentasikan hasil proyek terbaru ini pada Divisi Promosi ?" Profesor Yandi bertanya pada Nia.


γ€€


"Kalau memang Divisi Promosi berkenan, besok bisa Prof. Jadi hari ini kami semua akan siapakan segala keperluan buat besok. Bagaimana pendapat Profesor ?" Nia balik bertanya pada Profesor Yandi.


γ€€


"Bagus juga usul kamu, lebih cepat lebih baik ". Profesor Yandi terlihat mengangukkan kepalanya. "Kalau begitu pagi ini saya akan menemui Divisi Promosi, saya akan melaporkan perkembangan kegiatan kita dan meminta pendapat mereka. Kalau pihak mereka setuju dengan usul kita buat presentasi besok, kalian akan saya kabari. Jadi kalian bisa menyiapkan semua ".


γ€€


"Iya Prof, lebih cepat lebih baik. Jadi Nia bisa fokus sama percintaannya, hihihihi ". Wulan cekikikan pelan.


γ€€


"Wulan, kamu ini apaan coba ". Nia menyikut Wulan pelan. Kebetulan Wulan duduk persis di sebelah Nia.


γ€€


"Jadi kamu cuti minggu depan Nia ?" Profesor kembali bertanya pada Nia.


γ€€


"Jadi Prof, cuti saya sudah di bagian personalia ".


γ€€


"Berapa lama ?" Tanya Profesor selanjutnya.


γ€€


"Lima hari kerja Prof, terhitung senen. Senen selanjutnya saya sudah masuk lagi seperti biasa ".


γ€€


"Iya, iya...", jawab Profesor sambil menganguk pelan tanda mengerti.


γ€€

__ADS_1


"Biasa Prof, calon manten mau belajar fokus untuk masa depan ". Resya mengerakkan kedua alisnya sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya ke Nia.


γ€€


"Sya, jangan macem-macem deh ". Nia mengelengkan kepalanya kearah Resya. "Jangan mulai deh ".


γ€€


"Eh, aku tuh cuma semacem tahu ". Jawab Resya sok imut.


γ€€


"Ihhh, kamu ". Nia malas menanggapi Resya.


γ€€


"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Presdir ?" Dengan santainya Profesor Yandi menanyakan tentang masalah percintaan Nia dengan sang Presdir di depan seluruh rekan kerja Nia. Nia tertunduk, berusaha membuat dirinya tidak terlihat malu. Walaupun bisa di tebak, di dalam hatinya, Nia sedang merutuki si Profesor yang sangat tenang mewawancari masalah kekasih hati Nia di saat sedang ramai seperti sekarang.


γ€€


"Ba, baik Prof ". Jawab Nia terbata-bata.


γ€€


"Sudah tahap lamaran Prof ". Ucap Resya setengah berteriak.


γ€€


"Sya ". Nia berusaha membuat Resya diam.


γ€€


"Profesor lihat tuh jari manis tangan kiri Nia, ada cincin bermata putih. Nia sudah di lamar Prof sama si yayang. Hahaha ". Resya sangat senang melihat Nia salah tingkah. Sampai-sampai Nia berusaha menutupi tangan kirinya dengan tangan kanannya.


γ€€


"Benarkah ?" Profesor merasa tidak percaya. "Kenapa kamu gak cerita ?"


γ€€


γ€€


"Supraise Prof, supraise yang romantis banget. Ihhhh, jadi iri deh ". Anita mengerak-gerakkan badanya pelan.


γ€€


"Eh, non..iri aja bisanya. Mangkanya cari pacar sana ". Kata-kata Wulan membuat Anita cemberut, bibirnya meruncing kesal.


γ€€


"Hahahahahaha ". Resya dan Nia tertawa senang melihat wajah kesal Anita.


γ€€


"Jadi kalian semua tahu ceritanya ?" Profesor merasa agak heran melihat semua teman-teman Nia lancar bercerita sedari tadi. Malah pakai adegan mengoda Nia segala.


γ€€


"Tahu Prof, setelah di paksa. Kalau enggak ? Profesor tahukan gimana Nia, pasti dia sangat malu buat jujur sama kami semua ". Wulan menepuk pelan bahu Nia.


γ€€


"Enggak gituh juga Wulan ". Nia mengeleng sambil berbicara.


γ€€


"Kapan itu, ha ? Kapan Nia lamarannya ?" Sekarang Profesor malah sangat penasaran.


γ€€


"Malam minggu kemaren Prof ". Jawab Nia seadanya.


γ€€


"Kan rencananya Nia sama si yayangnya itu mau kencan Prof. Kencan perdana setelah menyandang status sebagai sepasang kekasih. Eh, nggak tahunya mendadak Predir melamar Nia di depan keluarga Nia dan Mamanya Presdir. Romantis bangetkan Prof ?" Anita membantu menjelaskan kronologi acara lamaran Nia pada profesor.

__ADS_1


γ€€


"Ya ampun Nit, kamu ini ?" Dan sampai di sini, Nia tertunduk malu. Sepertinya wajah Nia mulai terasa panas.


γ€€


"Serius seperti itu Nia ?" Profesor menatap Nia. Nia menganguk pelan.


γ€€


"Syukurlah Nia, selamat ya. Saya sangat senang mendengarnya ". Ucap Profesor tulus. "Semoga semua lancar ya sampai hari pernikahan kamu ".


γ€€


Nia tersenyum, " terima.... ".


γ€€


"Maaf, saya permisi dulu. Saya mau terima telepon ". Bowo berdiri berjalan meninggalkan ruang kerja Profesor. Semua menatap bingung. Tumben Bowo begitu terburu-buru menerima telepon, sampai-sampai tidak bisa menunggu Nia menyelesaikan kalimatnya tadi, begitu kira-kira arti tatapan mata semua orang pada Bowo.


γ€€


Damar memperhatikan Bowo berjalan menjauh ke sisi lain bangunan ruang kerja Profesor. Aneh, begitu kira-kira isi kepala Damar melihat gelagat Bowo sambil terus menatap handphonenya.


γ€€


"Ya ". Bowo menjawab panggilan masuk di layar handphonenya sambil sibuk memperhatikan situasi di sekelilingnya.


γ€€


"Kok suaranya kesal gituh ?" Tanya si penelepon tidak senang.


γ€€


"Karena kamu neleponnya di saat yang tidak tepat ". Jawab Bowo masih sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Sepertinya Bowo khawatir ada yang mendengar isi percakapannya dengan si penelepon.


γ€€


"Akukan cuma mau tanya ? Gimana ?" Ucap penelepon tidak kalah kesal.


γ€€


"Sabar, kamu pikir aku mau seperti ini ?" Suara Bowo agak meninggi.


γ€€


"Sampai kapan ? Sampai kita berdua menangis karena menyesal, iya ? Apa gunanya kalau sudah seperti itu ?" Terdengar suara putus asa si penelepon.


γ€€


"Dia menjauhiku, seharian kemaren dia terus menghindar dariku. Dan hari ini ? Boro-boro bisa mendekatinya, membalas tatapanku saja dia nggak mau. Sepertinya dia curiga ?" Sekarang Bowo yang terdengar putus asa.


γ€€


"Lantas kita bagaimana ? Kita gak bisa seperti ini terus ". Si penelepon terdengar mendesak Bowo.


γ€€


"Aku akan coba mendekatinya hari ini. Semoga saja ada celah ". Bowo sedikit ragu dengan rencananya sendiri.


γ€€


"Berusahalah untuk membawanya besok. Jangan tunda lagi, aku mohon !" Suara penelepon berubah mengiba.


γ€€


"Aku akan usahakan sebaik mungkin. Kamu berdoa saja !" Tekad Bowo sudah bulat.


γ€€


"Kita harus melakukan semua ini. Kamu jangan ragu, aku di sini selalu doakan kamu ". Bowo mengangukkan kepalanya seakan tahu kalau si penelepon bisa melihat apa yang di lakukannya saat ini.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2