
BAB 2
πππππ
γ
γ
Aisakha mengerjabkan matanya beberapa kali, udara masih terasa sejuk tetapi matanya tiba-tiba saja sudah terbuka. Pelan Aisakha mencoba menutup matanya lagi mana tahu sisa kantuk yang belum pergi seluruhnya bisa membuat dirinya kembali terlelap. Sayang, setelah sesaat waktu berlalu, Aisakha memang terlihat tidak ingin tidur lagi. Aisakha pun bangun, duduk bersandar di kepala ranjang sambil menjangkau handphonenya yang tidak terlalu jauh di atas meja kecil di tepi ranjang.Β Aneh, padahal belum jam 5 pagi. Ada apa ini ?
γ
Terbersit tanda tanya di hatinya. Pagi ini jelas tidak seperti biasanya, jarum jam bahkan masih jauh untuk sampai ke angka 5, benar-benar bukan jam bangun pagi untuk seorang Aisakha. Aisakha bertanya dalam hati, apakah ada yang salah dengan malamnya ? Tapi seingatnya semua dilaluinya dengan baik-baik saja. Sebelum tidur dirinya menyempatkan diri berbicara dengan sang pujaan hati, rutinitas yang belakangan menjadi candu bagi Aisakha untuk dilakukan. Dia harus mendengar dan memastikan wanita pujaannya baik-baik saja di seberang pulau sana. Barulah dirinya bisa tidur dengan tenang. Lantas kalau bukan karena kekasih hatinya, Nia, kenapa pagi ini dia terjaga begitu cepat, tanpa perlu bantuan Kristo, masih di pagi buta ?
γ
Aisakha memperhatikan layar handphonenya, membaca pesan masuk yang mungkin terlewatkan saat dia terlelap di malam hari, nihil. Tidak ada pesan penting yang mungkin dilupakannya, hingga bisa saja di alam bawah sadar Aisakha tanpa di sadarinya menjadi beban pikiran, menganggu tidurnya.
γ
Mungkin memang sudah waktunya aku bangun saja, terkadang bangun tidur tidak di jam biasanya bukan hal yang perlu di anggap aneh juga. Sudahlah.....
γ
Gagal untuk melanjutkan tidurnya, serta gagal pula mencari penyebab dirinya yang tiba-tiba terbangun, maka Aisakha memilih masuk ke ruang kerjanya. Membuka laptop dan memeriksa jadwal kegiatannya hari ini. Sepertinya hal ini lebih bermanfaat ketimbang hanya duduk termenung di kamar memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan jawabannya.
γ
***************
γ
Putaran waktu terasa cepat, padahal kalau boleh mengurut kegiatan Bowo beberapa jam belakangan ini, maka dapat tergambar kalau sebenarnya Bowo nyaris tidak tidur sama sekali. Bowo menatap jam dinding di depan sofa di dalam kamarnya, masih jauh dari angka 5. Masih sangat pagi, bahkan ayam jantan yang biasa ribut berkokok di kala fajar menyingsing, masih belum mengeluarkan suara merdunya. Namun, Bowo sudah terjaga sedari tadi berjam-jam yang lalu tetapnya. Dengan tampang lelah dan mata memerah, Bowo sibuk hilir mudik di dalam kamarnya. Berjalan ke sana ke mari dengan ekspresi kalut, malah kadang sambil berguman pelan pada diri sendiri.
γ
"Sudah pagi dan aku masih belum menemukan cara terbaik untuk membawa Nia keluar dari kantor tanpa dicurigai para pengawalnya ". Bowo mengacak rambutnya sendiri. Sepertinya dia sedang pusing memikirkan sebuah rencana besar yang berhubungan dengan Nia. Sayangnya, walaupun sudah semalaman dirinya merenung, tetapi solusi terbaik belum juga berhasil didapatnya.
γ
"Aku harus bagaimana ? Kalau tidak hari ini, maka semua akan sia-sia. Aku gak mau meratapi kesalahanku, semua orang pasti membenciku ". Bowo memilih duduk di sofa panjang depan ranjangnya. Rasa lelah mondar-mandir mulai mengerogoti betisnya. "Ya Tuhan, kenapa sulit sekali ". Setengah berteriak Bowo mengangkat tangannya tinggi. "Kemaren cara membujuk Nia ? Sekarang Nia sudah mau, malah cara membawanya yang gak tahu gimana ? Siallllllll ". Upat Bowo kesal pada diri sendiri.
γ
***************
γ
Bi Kartik sudah selesai merajang semua bahan masakan untuk membuat menu sarapan pagi bagi majikan kecilnya. Rencananya pagi ini Bibi ingin membuatkan Nia menu sarapan Lontong Kari. Seingat Bibi sudah lumayan lama dirinya tidak membuatkan Nia menu tersebut, padahal majikan kecilnya tergolong orang yang suka dengan menu sederhana itu.
γ
"Baiklah, kita mulai ". Bibi bersorak memberi semangat pada dirinya sendiri sebelum memulai aktifitas menyatukan semua adonan menjadi menu sarapan enak untuk Nia.
γ
"Lah, bumbu uleknya masih di meja makan ya ?" Baru saja merasa bersemangat, sekarang Bibi malah geleng-geleng kepala sendiri. Entah bagaimana dirinya bisa lupa dengan bagian penting dari acara memasaknya pagi ini. Cepat Bibi berjalan ke arah meja makan, berniat mengambil bumbu halus yang telah diuleninya malam sebelum tidur
γ
"Itu apa ya ?" Bibi merasa melihat sesuatu di tengah cahaya temaram ruang makan. "Kok kayak orang ?" Serta merta bulu kuduk Bibi berdiri. Tengkuknya terasa dingin, kakinya mendadak enggan untuk melangkah. "Kalau orang, siapa coba ? Dirumah inikah cuma ada aku, Bapak, sama si non ". Bibi masih menyempatkan diri untuk berpikir. "Bapak di kamar, si non juga di atas. Lah, kalau gituh........". Bibi memilih mundur terarur kembali ke dapur. Dengan lutut gemetar, Bibi mencoba memanggil sang suami.
γ
"Pak.....Bapakkkkk ". Suara pelan Bibi yang hanya terdengar oleh telinganya sendiri.
γ
Bibi menunggu sesaat, yang dipanggil tidak juga muncul. "Si Bapak kok gak datang sih ?" Bibi semakin takut.
γ
"Pak.....Bapak, sini...tolong Ibu ". Suara panggilan Bibi sedikit lebih kencang dari yang pertama.
γ
__ADS_1
Pakde muncul, keluar dari kamar dengan menenteng handuk mandi, tepat di saat Bibi hampir terduduk lemas. Rasa takut sudah memenuhi kepalanya. Bibi mulai di serang panik.
γ
"Bu...". Pakde langsung memeluk Bibi dan membantu isterinya itu berdiri.
γ
"Kok lama datangnya ?" Dengan tangan gemetar Bibi bergantung di bahu Pakde.
γ
"Kenapa ? Kok Ibu pucat banget ? Ada apa Bu ?"
γ
"Ada rampok Pak, rampok ". Bibi berbisik di telingaΒ Pakde, takut suaranya terdengar jelas oleh sosok yang ada di meja makan.
γ
"Apah ? Wah, gak beres ini. Ibu tunggu di sini, biar Bapak urus rampoknya ". Pakde segera mengambil sebilah pisau besar tajam yang biasa di pakai memotong daging oleh sang isteri. "Cari mati tuh rampok ". Pakde terlihat emosi.
γ
Dengan lagak bagai seorang aparat keamanan profesional, Pakde mulai mengendap-gendap ke arah meja makan. Benar saja, dalam temaramnya lampu pagi itu, Pakde bisa melihat ada sesok manusia sedang duduk sambil menundukkan kepala di meja makan. Tidak terlalu jelas, tapi dapat di pastikan itu memang sosok manusia.
γ
Dengan tangan kanan menggengam kuat pisau tajam, sedangka tangan kiri Pakde merayap mencari stop kontak lampu ruang makan. Pakde bersiaga penuh, dan klekkkkk...lampu menyala, cahaya terang memenuhi seluruh ruangan.
γ
"Non ?" Setengah berteriak Pakde berlari ke arah Nia yang duduk diam di meja makan dengan kepala di atas meja beralaskan tangan yang di lipat manis.
γ
"Buuuuu...sini ! Si non ". Pakde memanggil Bibi.
γ
Bibi terkejut, hingga membuat tingkat kepanikannya bertambah, melebihi saat dirinya menemukan ada sosok manusia yang di duganya rampok sedang duduk di meja makan. Mendengar suara sang suami, bayangan buruk mucul di kepala Bibi. Bayangan kalau majikan kesayangannya telah menjadi korban atas tindak kejahatan.
γ
"Pak, itu si non kenapa ?" Bibi memegang erat tangan Pakde.
γ
"Sepertinya tertidur Bu ". Jawab Pakde ragu.
γ
"Apa Pak, tidur ? Masa iya sih. Nggak pernah-pernahkan ?" Bibi melihat tidak percaya.
γ
"Cepat Ibu periksa si non !" Bibi pun segera melangkah mendekati Nia yang sama sekali tidak terganggu dengan kepanikan dan kehebohan pasangan suami isteri yang sudah lama ikut denganya itu.
γ
"Non ". Bibi menyentuh pelan bahu Nia. Terasa ada pergerakan di tangannya. "Bernafas ". Guman Bibi pelan.
γ
"Non...non...bangun !" Sekarang suara Bibi mulai keras.
γ
Nia mendongak, membuka mata cepat. "Loh, Bibi ?" Tanya Nia bingung mendapati Bibi sudah berdiri di sebelahnya bersama Pakde.
γ
"Ngapain non tidur di sini ?" Bibi menatap Nia tidak kalah bingungnya.
γ
__ADS_1
"Eh, iya ya. Aku ketiduran ya Bi ?" Nia malah balik bertanya. "Hehehe, gak nyadar Bi. Padahal tadi cuma rencana minum saja, enggak tahunya malah ketiduran ". Cenggir Nia untuk mengurangi keteledorannya.
γ
"Apa non ada masalah ?" Pakde sudah menyimpan kembali pisau tajam yang tadi di genggam eratnya ke dapur. "Enggak biasanya non seperti ini ?" Pakde menatap mata cokelat Nia dengan serius.
γ
Nia segera mengalihkan padangannya, rasanya hati Nia mendadak ciut mendapati Pakde seakan bisa melihat jauh kedalam lubuk hatinya yang sedang galau.
γ
"Enggak ada kok Pakde. Aku tadi hanya haus, terus ketiduran di sini selesai minum ". Dusta Nia.
γ
"Jangan boong non ! Ada apa ? Apa yang menganggu pikiran non ?" Pakde setengah mendesak Nia untuk jujur.
γ
Bowo, Pakde..semua gara-gara Bowo. Aku terus memikirkan dia, sikap dia mencurigakan sekaligus memprihatinkan. Apa aku batalkan saja untuk ikut dengannya nanti siang ya? Atau gimana ya ?
"Sungguh Pakde, gak ada masalah apapun yang ganggu pikiran aku. Mungkin karena nanti mau presentasi aja. Jadi agak kebawa suasana ". Nia berdiri, ingin kembali ke kamarnya. "Sudah, Pakde dan Bibi nggak usah khawatir. Aku enggak papah koh. Beneran deh ". Sambil tersenyum Nia meninggalkan Pakde dan Bibi yang memberi tatapan tidak percaya padanya.
γ
"Non ?" Bibi masih sempat menghentikan langkah Nia. "Ada Pakde, ada Bibi. Jangan ragu buat cerita !"
γ
"Hehehehe. Sungguh Bi, enggak ada apa-apa. Maaf ya, aku pagi-pagi sudah buat khawatir Pakde dan Bibi ". Nia berusaha cekikikan untuk memberi efek kejujuran pada cara bicaranya.
γ
"Aku mandi dulu ya, siap - siap. Hari ini aku akan berangkat lebih cepat, soalnya sudah janjian sama Profesor Yandi dan semua orang di laboratorium untuk mengfixkan persiapan presentasi kami jam 8 nanti ".
γ
Tanpa menunggu jawaban Pakde dan Bibi, Nia segera berjalan menaiki anak tangga kembali masuk ke dalam kamarnya.
γ
"Bapak percaya itu ?" Tanya Bibi tanpa menatap Pakde. Bibi masih saja mamandangi susunan anak tangga yang tadi dilewati Nia.
γ
"Enggak Bu, si non jelas berbohong sama kita. Pasti ada yang ditutupinya ". Jawab Pakde yakin.
γ
"Tapi apa ya Pak ? Gak biasanya si non main rahasiaan sama kita. Atau jangan-jangan si non lagi berantem sama tuan Aisakha, mangkanya si non berat buat cerita ?"
γ
"Masa iya Bu ? Bapak kok ragu karena itu ?"
γ
"Ya bisa saja toh Pak, namanya juga masih masa penyesuaian. Mungkin mereka telah salah paham ". Bibi bertahan dengan spekulasinya sendiri
γ
***************
γ
EPILOG.....
γ
Pagi ini Nia bangun satu setengah jam lebih cepat dari biasanya, matanya pedih, tidurnya jauh dari kata nyenyak semalaman. Meskipun sudah memaksakan diri untuk tenang, tetapi hati kecilnya tidak mampu menutupi jiwanya yang gelisah. Ada rasa penyesalan yang begitu banyak atas perbuatannya menutupi permintaan Bowo yang di sanggupinya dari Aisakha. Nia ragu, apa benar Bowo tidak memiliki rencana buruk terhadap dirinya. Tapi kalau diingat-ingat bagaimana Bowo memohon kepadanya sore semalam dengan wajah mengiba dan penuh keputus asaan, hati nurani Nia sejenak merasa perlu menolong Bowo. Pikirannya silih berganti bertanya seberapa besar keyakinannya hari ini untuk pergi bersama Bowo, mengikuti lelaki yang jelas-jelas bebapa hari terakhir ini memiliki gelagat aneh padanya, merangkul bahunya hingga memegang erat jemarinya, tidak seperti biasa.Β Kepala Nia terasa berdenyut, dirinya ragu tapi di satu sisi dirinya penasaran.
γ
Tidak menemukan cara untuk memaksa matanya agar kembali tertidur, Nia memilih turun ke lantai 1. Sepi, sepertinya Pakde dan Bibi masih tertidur pulas. Akhirnya Nia memilih meneguk segelas air hangat sambil duduk di meja makan. Lamunannya tentang sosok Bowo sepertinya masih berlanjut. Dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal penyanga kepala, Nia terus memikirkan seberapa yakin dirinya akan mengikuti ajakan Bowo siang nanti. Dan semua terus berputar, berputar dan berputar. Sampai matanya yang lelah terpejam tanpa disadar Nia. Nia pun tertidur di meja makan.
__ADS_1
γ
γ