SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
7


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


γ€€


Mama terdiam, hanya menatap Nia yang masih mengalihkan pandangannya ke sisi kiri pendopo. Mama seakan hilang kata-kata terbaik untuk menghibur Nia.


γ€€


"Nia ". Mama memegang tangan Nia yang berada di atas meja. "Nia, lihat Mama !" Panggil Mama pelan.


γ€€


Nia melihat ke arah Mama, memandang mata tua yang berwarna biru, sama seperti mata lelaki pujaannya.


γ€€


"Mama tidak tahu akan seperti apa kira-kira kejadian yang akan kamu alami, andai suatu saat Tuhan mempertemukan kamu dan keluarga Ayahmu, kakek dan nenekmu, nak. Tapi satu hal yang pasti, yang Mama tahu, kamu gadis baik, kamu sangat lembut dan penyayang. Mama yakin, mereka akan menyukaimu saat pertama kalian bertemu nanti ". Mama mengangukkan kepalanya untuk membuar Nia lebih yakin.


γ€€


"Kamu lihat Mama, Nia lihat Mama. Mama punya satu rahasia, mau tahu ?" Gurat sedih di wajah Nia sedikit berubah, berganti wajah penasaran.


γ€€


"Baiklah. Akan Mama kasih tahu. Tapi ini rahasia kita ya ?" Mama meminta kepastian dari Nia. Nia menganguk pelan, tanda kalau dia menyanggupi permintaan Mama.


γ€€


"Waktu pertama kita bertemu, di Mall. Ingat ?" Nia kembali mengangguk. "Sejujurnya saat itu Mama sudah suka sama kamu. Kamu begitu bersahaja nak, gadis cantik yang baik hati ". Mama tersenyum pada Nia. "Ingat waktu kita makan, Mama sibuk tanya ini itu tentang kehidupan percintaan kamu ?" Lagi Nia menganguk. "Itu adalah bentuk usaha Mama untuk tahu seberapa besar peluang Mama menjodohkan kamu dengan anak semata wayang Mama. Jadi, bisa Nia bayangkan. Kita saja, kamu dan Mama, orang tidak saling kenal, tidak punya hubungan darah bisa langsung luluh begitu lihat kamu. Mama langsung suka sama kamu dan sibuk menyusun strategi terbaik buat memastikan kami bakal jadi menantu Mama ". Nia tersenyum, ingatan tentang Aisakha yang sempat curiga terhadap seorang Ibu yang di tolongnya di Mall kembali memenuhi memorinya. Siapa yang sangka, pikir Nia, kalau ternyata Ibu tersebut adalah Mama kandung Aisakha dan sebentar lagi akan menjadi Ibu mertuanya.


γ€€


"Apa lagi kalau suatu saat nanti kamu di beri kesempatan bertemu kakek dan nenekmu, nak. Mama yakin mereka akan langsung jatuh hati padamu, bagaimanapun darah lebih kental dari air. Mereka pasti akan menerima dan menyayangi kamu ". Mama mengeratkan gengamannya pada Nia.


γ€€


"Kemarilah !" Mama telah berdiri. Nia berjalan mendekat ke arahnya dan Mama menarik Nia. Memeluk Nia, memberi dukungan pada Nia, berusaha menyakinkan Nia tentang semua yang di sampikannya tadi bisa saja benar, bahwa kakek dan neneknya akan menyayanginya sebagai cucu mereka andai waktu mengizinkan mereka bertemu.


γ€€


Nia meletakkan kepalannya di bahu Mama, rasanya tenang sekali, damai. Berada dalam pelukan seorang Ibu yang tulus menyayanginya. Sebentuk rasa yang sudah lama hilang dari kehidupan Nia. "Terima kasih Ma ". Ucap Nia tulus.


γ€€


"Iya sayang, Iya ". Mama melepas pelukannya dari Nia, memegang wajah Nia dan mencium kening Nia. "Nggak boleh sedih, ada Mama, ada Sakha. Ya !" Nia kembali memeluk Mama. Lama dua wanita cantik ini berpelukan, memberi dan menyerap ketenangan satu sama lain, membuat Nia sangat bersyukur di dalam hatinya atas anugrah Tuhan pada kehidupannya sekarang.


γ€€


"Sudah malam, besok kamu ngantor ?" Tanya Mama sambil mengandeng tangan Nia kembali ke dalam rumah. Angin malam mulai terasa dingin di kulit tua Mama, sepertinya istirahat adalah solusi terbaik untuk tubuh rentannya.


γ€€


"Iya Ma, seperti biasa ".


γ€€


"Kalau begitu kita istirahat ya. Ayo Mama tunjukkan kamarmu !" Mama masih mengandeng Nia naik ke lantai 2 Villa.

__ADS_1


γ€€


Bola mata Nia membesar, dirinya tidak habis pikir. Bagaimana kemewahan di lantai 2 bisa semewah di lantai satu, semua serba wah, jauh dari apa yang bisa Nia pikirkan apa lagi miliki. Sungguh luar biasa, begitu kata hati Nia.


γ€€


Mama membuka pintu kamar kedua dari tangga yang telah mereka naiki tadi. "Sini masuk ". Mama sudah masuk duluan ke dalam kamar dan menghidupkan lampu.


γ€€


Nia melangkah pelan melewati pintu, sibuk melihat kekanan dan kekiri. Nuansa hitam putih menjadi latar kamar, ada meja dan kursi di salah satu sudut kamar dengan lampu kecil di atasnya. Sebuah ranjang besar mendominasi di dalam ruangan itu, serta pintu gandeng ukuran besar. Entah apa isi dibalik pintu itu, hingga ukurannya begitu besar mengalahkan ukuran pintu masuk kamar yang baru di lewatinya.


γ€€


Nia berhenti, padahal dia baru 3 langkah dari pintu masuk. Aroma mask berpadu aroma rempah dan mint menyeruak jelas, mengoda indra penciumannya. "Wangi Mas ". Guman Nia pelan.


γ€€


"Benar, ini wangi parfum Sakha. Kamu sudah hafal baunya ya nak ?" Mama mengerakkan tangannya memberi tanda pada Nia agar duduk di ranjang, di sebelah Mama.


γ€€


Nia mengeleng, "Ma, aku tidurnya di kamar lain saja. Jangan di sini ".


γ€€


"Kenapa, inikan kamar calon suamimu ?"


γ€€


"Tapi Ma ?" Nia mundur selangkah.


γ€€


γ€€


Nia masih mematung di tempatnya berdiri.


γ€€


"Mama sengaja membiarkan kamu istirahat di kamar ini. Nia lihat bantal ini ". Mama mengangkat bantal yang tidak berapa jauh dari tangan kanannya. "Ini bantal yang biasa Sakha pakai untuk tidur. Mama tahu kamu merindukannya, jadi tidurlah di sini ya. Mungkin suasana dan aroman kamar ini bisa membantu kamu mengurangi rasa rindumu padanya ". Lagi Mama mengerakkan tangannya memberi tanda agar Nia mendekat padanya.


γ€€


Dan inilah Nia sekarang, terbaring di ranjang besar Aisakha, menyembunyikan tubuh lelahnya di bawah selimut lelaki tampan itu. Nia merebahkan kepalanya di atas bantal yang biasa di pakai Aisakha, yang tadi di angkat Mama, aroma wangi tubuh Aisakha membuat dirinya merasa nyaman.


γ€€


Pelan, mata Nia sudah bersahabat dengan rasa kantuknya. Niapun bisa memejamkan mata indahnya dan bersiap memasuki alam mimpi yang telah menanti.


γ€€


Setengah terlelap, baru menikmati kenyamana ranjang besar kekasih hatinya, sebuah notifikasi masuk ke handphone Nia. Membuat dirinya kembali terjaga.


γ€€


Sudah tidur ?Β Ternyata Aisakha si pengirim pesan yang membuat matanya kembali terbuka


γ€€

__ADS_1


Hampir, balas Nia singkat.


γ€€


Hangat ranjangnya ?Β Pertanyaan yang terkesan ambigu bagi Nia. Nia bingung harus mengetik kata apa sebagai jawaban. Akhirnya Nia memilih emoji jempol sebagai balasan kepada Aisakha.


γ€€


Suka aroma wanginya ?Β Pertanyaan baru masuk ke handphone Nia.


γ€€


Cepat Nia membalas. Wangi Mas. Suka banget. Emoji kepala dengan mata berbentuk bintang tidak lupa di kirim Nia sebagai tambahan jawabannya.


γ€€


Biasakanlah, ada emoji mengedipkan mata di ujung kata yang di kirim Aisakha.


γ€€


Maksud Mas ? Pesan terkirim dan Nia masih berpikir.


γ€€


Bulan depan aku dan kamu akan ada di ranjang itu, berdua.


"Aduh ". Nia menjatuhkan handphonenya ke dada. Cukup sakit, hingga membuat Nia memijat pelan dadanya beberapa kali. Ternyata isi pesan terbaru Aisakha membuat dirinya langsung ngelagapan, salah tingkah.


γ€€


"Sempat-sempatnya mengodaku ". Nia menatap handphonenya.


γ€€


Aku sudah mengantuk, ngantuk berat. Selamat malam.


γ€€


Nia mengirim balasannya secepat mungkin, kemudian menjauhkan handphonenya ke sisi ujung meja kecil di tepi ranjang. Menarik selimut hingga dada dan memejamkan mata. Jantungnya berdegub kencang, Nia terlalu malu membayangkan isi pesan Aisakha.


γ€€


Sementara itu, Aisakha tertawa lepas sambil memandang handphonenya sendiri. Tidak perduli dengan kebingungan Kristo dan sopir pribadinya menyaksikan dirinya tertawa sambil terus menatap layar ponselnya dan sesekali memeluk benda kecil di tangannya itu.


γ€€


Mengemaskan, wajahmu pasti mirip warna buah tomat sekarang. Aisakha.


γ€€


Tadi di kantor, sekarang di mobil. Sepertinya tuan kerasukan hapenya deh. Masa ketawa sambil meluk hape, sesenang itu lagi. Ah....ini pasti karena nona. Ya, aku yakin ini pasti karena nona.Β Kristo menganguk, percaya dengan suara hatinya.Β Jadi pengen ikut ketawa juga, tapi apa ya dasar aku tertawa ?


γ€€


Meskipun kepalanya tidak terasa gatal, Kristo terlihat mengaruk pelan, beberapa kali. Sepertinya jiwa jomblonya mulai meronta iri, melihat kebahagiaan sang tuan. Bahagia hanya dengan memandangi layar handphonenya saja. Sangat simpel.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2