
Si Tampan Alex
🌈🌈🌈🌈🌈
Nia melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumah bibi Ros.
Tok, tok, tok
“Non Nia, udah lama gak main sini. Non sibuk ya?” Mbok Nah menyapa Nia saat membukakan pintu untuknya.
“Mbok apa kabar? Hehehe, maaf ya mbok kebetulan kemaren ini aku lagi banyak kerjaan. Jadi baru bisa main
sekarang deh”. Nia menjawab pertanyaan mbok Nah.
“Mbok sehat non seperti yang non lihat, non sendiri gimana kabarnya? Ayo non masuk, masuk”, Mbok Nah
mempersilahkan Nia masuk. “Non dah makan blom? Mbok tadi masak sayur asem, goreng ikan asin, bacem tempe dan sambel terasi. Gimana non tertarik? Biar mbok siapkan non”.
“Aku juga sehat Mbok..wah, menunya enak banget tuh. Aku kebetulan memang belum makan Mbok. Sengaja tadi
nggak makan di rumah biar bisa puas-puasin makan masakan Mbok Nah. Udah kangen soalnya sama masakan
mbok”.
Bibi Ros yang mendengar percakapan Nia dan si Mbok, langsung datang menghampiri Nia. “Sudah lama sampai
nak?” Tanya bibi pada Nia.
“ Baru saja Bi. Bibi apa kabar? Kok sepi, mana Paman, Alika dan si tampan kesayanganku?”
“Pamanmu sedang menyelesaikan proyeknya di luar kota, baru berangkat 2 hari yang lalu. Kalau Bibi nggak salah, 3 hari lagi baru balik. Kalau Alika, itu lagi main sama Alex di dalam”.
Ternyata si tampan Alex sudah gelisah mencari-cari sumber suara Nia, dia terlihat sibuk mendongak ke kanan ke
kiri, sangat lucu. “Di mana ya kesayangan Bunda? Alex, Alexxxxxxx”. Nia memanggil Alex. Serta merta yang di panggil sibuk sendiri, lihat kanan kosong, lihat kiri juga kosong. Dan akhirnya Alex mengoceh sendiri memanggil Nia. “Bun, bun”. “Ayoooo, dimana bundanya sayang? Coba Alex cari”. Alika memberi semangat pada anaknya yang sangat penasaran dengan kedatangan Nia.
“Bunda di sini tampan, ayo jalan dong ke arah Bunda. Kan Alex dah pinter jalan”. Akhirnya Nia menampakkan diri di
depan Alex. Tanpa menunggu lama Alex berdiri bak robot yang sedang berjalan, Alex menyeimbangkan badan agar bisa sampai ke arah Nia. Nia tertawa melihat gaya berjalan Alex, sangat lucu menurutnya.
“Seperti robot kecil dirimu tampan”. Ujar Nia saat Alex sudah dalam gendonganya. Alex langsung menatap Nia
dengan mata bulatnya. Sepertinya bayi lucu itu bangga karena berhasil jalan ke arah Nia tanpa terjatuh.
“Iya, Bunda tahu kamu hebat tampan. Karena itu Bunda bawakan hadiah untukmu”. Nia seakan mengerti tatapan
mengemaskan itu. Nia pun mendudukkan Alex di pangkuannya dan mengeluarkan barang-barang yang tadi dibelinya disupermarket.
__ADS_1
“Ya ampun Nia, kamu tuh ya terlalu memanjakan Alex. Ngapain coba kamu beli mainan sampai segituh banyaknya.
Kamu mau nyuruh Alex buka toko mainan apa?” suara kesal Alika melihat hadiah Nia untuk anaknya.
“Sekali-kalikan nggak salah mama Alika, Bunda belikan si tampan mainan. Lagi pula ini cuma 11 macam mainan
berbeda. Ini belum mewakili seperempat isi tokoloh”. Nia membela diri.
Alex tertawa bahagia mendapati mainan baru dari Nia, tangan mungilnya sibuk mengangkat mainan tersebut
seperti hendak pamer pada Mama dan Neneknya. Bibi Ros tertawa melihat ulah cucunya itu, sedangkan Alika
menghembuskan nafas kesal. Bukan tanpa alasan kekesalan Alika pada Nia. Menurutnya, Nia terlalu memanjakan
Alex. Memberikan Alex mainan dalam jumlah banyak dan terkadang mainan tersebut bukanlah mainan untuk anak
seusia Alex.
Seperti dua bulan yang lalu, dengan bangganya Nia membelikan Alex mobil mainan ukuran besar yang dikendalikan
dengan stik kontrol khusus. Alika tidak habis pikir, buat apa coba mobil tersebut. Boro-boro ngerti bagaimana cara
memainkannya, ini yang ada malah di dorong paksa oleh Alex supaya si mobil mau berjalan. Alhasil, satu minggu
kemudian mobil mainan tersebut sudah rusak lengkap dengan dua ban depan yang sudah pergi entah kemana.
Pemborosan yang tidak bermanfaat, kasih sayang yang salah, begitu pendapat Alika terhadap cara Nia memanjakan
tertawa asyik bermain. Rusak ? besok di beli lagi pikir Nia singkat.
“Kok Bunda belum dengar ucapan terima kasihnya?” ujar Nia pada si kecil Alex yang sedang asyik bermain. Yang
di tanya hanya sibuk mengeluarkan suara brum, brum, seperti meniru suara mobil yang sedang melaju.
“Terima kasih bunda”, Nia mengajarkan Alex untuk mengucapkan terima kasih. Bak burung beo kecil, Alex pun
meniru ucapan Nia dengan gaya bahasanya sendiri. “Ci....Bun”, Alex berucap sambil memberikan tawa riangnya.
Mengemaskan sekali.
“Mas Pandu mana Ka?” Nia bertanya keberadaan iparnya itu. Mas Pandu adalah suami Alika, Ayah dari si tampan
Alex. “Si Mas masih di toko, tadi katanya ada barang yang mau masuk. Jadi dia mo ngecek barang tersebut Nia.
Emmm, mungkin bentar lagi balik”. Dan Nia hanya menanggapi ooo untuk penjelasan Alika tersebut tentang Mas
Pandu yang menjalankan bisnis toko material yang sangat maju di daerah Pagar Dewa.
“Non Nia makanannya sudah mbok siapin di meja, ayo non silahkan makan dulu”, suara mbok Nah dari sampingnya
membuat perhatian Nia teralihkan dari Alex.
__ADS_1
“Makan dulu sana, nanti kelamaan keburu dingin. Nggak enak loh!” Bibi Ros menyuruh Nia segera beranjak.
“Bibi udah makan, kamu Ka dah makan blom? Makan bareng yuk?” Ajak Nia.
“Aku dah makan tadi Nia, mungkin beberapa menit sebelum kamu sampe. Lanjut aja ya, tapi kalau Mama memang
belum makan. Kamu makan sama Mama aja ya”. Alika menjawab pertanyaan Nia.
“Ayo Bi, kita makan. Aku dah kelaperan”, Bibi Ros pun berjalan bersama Nia ke ruang makan.
Sambil makan bibi mengajak Nia berbincang ringan. Bibi bertanya tentang pekerjaan Nia dan hari-harinya
belakangan ini. “bagaimana pekerjaanmu nak?“
“Baik Bi, aktivitas pekerjaan aku masih seperti biasa. Sekarang di laboratorium kami memiliki proyek baru, mengembangkan varietas baru untuk jenis jagung manis Bi, dan Profesor Yandi masih memberi kesempatan pada aku untuk memimpin proyek itu”. Nia menjelaskan kegiatannya yang terbaru dengan antusianya.
“Lantas sepulang kerja kamu ngapain lagi?” Bibi Ros mulai mengajukan pertanyaan baru.
“Balik ke apartemen bi, istirahat, baca novel, dengar musik, nonton film. Yah, masih sama Bi seperti biasa. Hal-hal
yang suka aku lalukan”. Jawab Nia sambil tersenyum.
“Kamu tuh Nia, kenapa hari-hari mu monoton sekali. Apa kamu nggak mau pergi main bersama teman-temanmu.
Belanja, nonton bioskop, nongkrong atau pun ke club mungkin. Kan banyak kegiatan lainnya, yang jelas kamu
bergaul Nia. Kalau seperti ini, kapan kamu punya pacarnya, kapan nikahnya? Ingat nak, kamu tuh udah dewasa. Kerja udah, trus apa lagi? Kamu mau Bibi yang tua ini kenapa-napa dulu, iya? Baru setelah itu kamu mau berumah tangga?” Bibi seperti ya mulai kesal karena sampai saat ini dia tahu benar kalau Nia masih sendiri. Punya teman tetapi tidak mau teman serius dengan laki-laki. Setiap di tanya tentang hidupnya maka, dia akan menjawab penuh antusia tentang pekerjaannya. Hanya pekerjaan, tetapi untuk percintaan, Nia langsung diam seribu bahasa.
“Bi..beri aku waktu, kalau sudah sampai saatnya aku janji akan memulai semua kembali. Tapi yang jelas belum
sekarang”. Selalu saja jawaban yang sama diutarakan Nia untuk menyudahi pokok bahasan tentang percintaannya.
Bibi Ros hanya menarik nafas dalam mendengar jawaban Nia. Selalu jawaban yang sama, entah sudah berapa kali
sang Bibi mencoba mengajak Nia bicara serius tentang masa depannya. Dan Nia akan selalu menjawab sama.
Sebenarnya Bibi Ros merasa khawatir, apa mungkin Nia mengalami trauma atas kejadian tiga tahun lalu? Ahhh,
semoga saja tidak. Semoga memang waktu saja yang belum tepat, dan tidak lama lagi Nia akan segera
menemukan lelaki baik yang sangat tulus mencintainya. Doa bibi dalam hati.
__ADS_1