
πππππ
γ
Bowo meringkuk kesakitan di lantai parkiran, darah masih keluar dari sudut bibirnya. Aisakha terlihat mengerakkan kakinya, bersiap untuk melakukan tendangan kedua.
γ
Sepertinya Aisakha belum puas dengan tendangan pertamanya tadi, seakan-akan itu bukanlah apa-apa, tiada arti bagi tubuh Bowo. Meskipun jelas-jelas Bowo sudah tersungkur kesakitan, sepertinya itu belum cukup. Terlihat jelas ada rasa benci berpadu amarah dalam mata biru itu dan Aisakha bersiap melampiaskannya pada Bowo.
γ
Kristo berusaha menenangkan Aisakha, sebisa mungkin mengajak sang tuan berbicara. Kristo harus mencegah sang tuan semakin lepas kontrol. Tapi jelas saat ini bukanlah pembicaraan yang Aisakha inginkan. Bisa di tebak bukan ? Jangannya berbicara mentap wajah Kristo sesaat saja Aisakha tidak bersedia. Urusannya terhadap BowoΒ belum selesai.
γ
Bugggghhhhhkkkk.......
Tendangan kedua membuat Bowo mengerang kesakitan. Tubuh Bowo yang sudah meringkuk kesakitan bergeser jauh akibat kaki panjang yang baru saja melampiaskan amarahnya.
γ
Nia terlalu kaget, dari tadi dia hanya diam dengan nafas yang makin pendek saja. Matanya membesar mulutnya terbuka lebar. Mendadak Nia kesulitan bernafas, saking sulitnya wajah Nia mulai memucat.
γ
Kristo melihat itu, untung saja matanya cepat mengangkap gelagat keterkejutan Nia yang luar biasa panik, Nia shock.Kristo setengah berteriak memanggil Aisakha sambil berlari ke sisi pintu mobil tempat Nia duduk.
γ
"Tuan, tuan tolong. Nonaaaaaaaa ".
γ
Aisakha melihat ke arah mobil, tempat dimana Kristo sedang berusah membuka pintu depan mobil di bagian penumpang. Tiba-tiba Aisakha tersadar,Β Niaaaaaa..
γ
Aisakha mendorong Kristo kuat, menjauhkan tangan sekretarisnya itu dari tubuh sang kekasih.
γ
__ADS_1
"Niaaaa...", Aisakha melepas sabuk pengaman yang masih terpasang. "Sayang... ini aku, aku datang sayang. Jangan takut lagi ". Aisakha memegang jemari Nia.
γ
Dingin, Jemari Nia terasa sangat dingin. Terlalu dingin hingga membuat Aisakha tidak habis pikir.
γ
"Kau urus dia, pastikan ini kali terakhir dia memiliki keberanian mendekati Nia ! Kalau sampai dia berani menyentuh milikku lagi, maka kau dan dia akan sama-sama ke neraka ". Suara lantang Aisakha terdengar jelas di telinga Kristo.
γ
"Baik tuan ". Kristo segera menganguk paham. Cepat Kristo membukakan pintu mobil sedan mewah sang tuan. Memberi instruksi pada para pengawal di mobil satu lagi agar tidak pernah lengah menjaga tuan mereka.Β Mobil Aisakha berlalu, meninggalkan Kristo yang harus mengurus sisa kehebohan ini, Kristo harus memastikan keinginan sang tuan tercapai dan semua tidak akan tersebar.
γ
"Nafas sayang, Niaaaaa...bernafaslah ". Aisakha memeluk tubuh Nia. Nia diam dengan nafas yang terlalu pendek. Nia benar-benar panik hingga terlihat pikirannya entah dimana saat ini. Walaupun dia sudah berpindah, di gendong Aisakha dari mobil Bowo ke mobil milik kekasihnya itu. Nia tetap tidak menyadari urutan peristiwa demi peristiwa.
γ
"Jangan takut Nia, aku sudah datang. Aku datang sayang, aku menjemputmu ", Aisakha masih berusaha membuat Nia menyadari kehadirannya. "Nia, Niaaaa...aku mohon cobalah bernafas pelan, jangan takut lagi ! Sekarang susah ada aku ". Nia terlihat mulai bisa bernafas panjang lagi, meskipun hanya sesekali. Tetapi Nia sudah berusaha menarik nafas dalam agar dirinya bisa tenang.
γ
γ
Andai saja kamu tidak seperti ini, aku pasti akan membuat lelaki itu menutup mata selamanya. Kurang ajar sekali dia, dia pikir dia siapa hingga berani membuatmu menangis sayang, dia bahkan lancang memegang tanganmukan ? Aku bisa bayangkan betapa kamu ketakutannya saat itu dengan semua cara dia memperlakukanmu tadi.Β Jelas Aisakha menyimpulkan semua hanya dengan melihat kejadian terakhir saat Bowo berniat mengantar Nia kembali ke kantor.
γ
"Sekarang jangan takut lagi, ada aku di sini. Dan lelaki kurang ajar itu sudah aku beri pelajaran ". Aisakha mencium puncak kepala Nia.
γ
"Bagus, bagus...itu baru kekasihku ". Aisakha melihat Nia sudah bernafas dengan tenang.
γ
"Kamu sudah aman, jangan takut lagi ". Aisakha terus memeluk Nia dengan eratnya seakan takut Nia akan terbang lenyap meninggalkannya dalam rasa tidak berdaya. Persis seperti saat dirinya terbang dari Jakarta ke Bengkulu beberap jam yang lalu. Sungguh Aisakha tidak pernah merasa bisa ada di titik ketidak berdayaan seperti itu. Dirinya punya segalanya, tapi dia tidak berdaya untuk segera sampai ke tempat sang kekasih untuk menyelamatkannya.
γ
__ADS_1
Nia hanya bersandar di dada Aisakha, sedang berpikir keras tentang apa yang baru terjadi, sepertinya Nia belum sepenuhnya pulih dari shocknya sendiri. Perasaannya mengatakan kalau tadi dia lagi berbincang-bincang dengan Bowo di dalam mobil. Mereka akan kembali ke kantor, setelah Nia menolong Bowo menyelesaikan sebuah rahasia besar lelaki itu, menyelamatkan Bunda di detik-detik terakhirnya. Semua selesai, Nia berhasil dengan tugasnya, Bowo meminta maaf atas kesalahannya pada Nia dan mereka berdamai, mereka berteman kembali. Nia pun sudah tahu semua rahasia penuh duka dari sahabat lelaki terbaiknya itu.
γ
Kemudian, dengan air mata menetes di wajahnya, Nia melihat jelas bagaimana Bowo memanggilnya dik dan.......Β Bowo, bagaimana keadaan Bowo ? Dia ?
γ
"Bowo ", suara pelan Nia di dada Aisakha.
γ
"Jangan takut, dia sudah mendapat pelajaran. Belum setimpal, masih bukan apa-apa tapi setidaknya bisa menambah memori kepalanya bodohnya itu agar ke depan jangan macam-macam sama kamu ". Suara Aisakha penuh keyakinan.
γ
Apa, Bowo kenapa ?
γ
"Mas....", Nia masih mencerna semua arti kata-kata Aisakha barusan.
γ
"Mas sudah memberi dia pelajaran ". Jawab Aisakna tegas.
γ
Semua berputar cepat di kepala Nia, Bowo tersenyum padanya dengan sudut mata meneteskan bulir bening, Bowo mengucapkan terima kasih, terima kasih kepada seorang adik. Ya, Bowo menyayanginya sebagai adik. Nia cukup kaget mendengar kisah pilu Bowo, awan mendung di matanya juga membiarkan tetesan demi tetesan kesedihan mengalir begitu saja, dan Nia melihat cara Bowo memperlakukannya kemudian. Bowo memegang erat jemarinya dan mendekatkan ke arah bibir lelaki itu. Nia terlambat untuk sadar, tiba-tiba tangan kekar seseorang menarik kasar Bowo dari dalam mobil dengan begitu cepatnya. Nia melihat gerakan kaki panjang yang entah bagaimana prosesnya melayang tinggi seakan terbang dan berakhir dengan terkaparnya Bowo di parkiran. Darah, Nia melihat darah mengalir dari sudut bibir Bowo. Bowo terlihat kesakitan.
γ
Tapi semua belum selesai, Nia kembali disuguhkan adegan yang tidak kalah mencekamnya, kaki yang sama yang tadi seakan terbang, kembali terangkat. Berakhir dengan erangan kesakitan dari Bowo sambil meringkuk, terkapar tidak berdaya.
γ
Mas, Mas datang dan menendang Bowo, sangat keras hingga membuat Bowo tidak berdaya. Ya Tuhan, bagaimana nasib Bowo sekarang ?
γ
γ
__ADS_1