
πππππ
γ
"Kau bisa tenang tidak !" Aisakha terlihat kesal. "Kau yang bilang tadi, ini segera ". Tunjuk Aisakha pada tumpukan kertas di atas meja kerjanya. "Sekarang malah kau yang ribut, mau mu itu apa ?"
γ
Bagaimana ini ? Aku harus gimana ya ?
Kristo malah diam memandang wajah Aisakha, tidak tahu harus merangkai kata terbaik jenia apa untuk memulai pembicaraan.
γ
"Kalau hanya diam saja, pergilah. Akukan sudah bilang, jangan mengangguku. Aku ingin cepat menyelesaikan ini ! Kau tahukan apa alasanku ingin cepat selesai ?"
γ
Glekkkk....Kristo mulai panik. Detak jantungnya terpompa kuat.
γ
Sedang Aisakha, dia melihat gerakan kepala Kristo yang naik turun, menganguk-anguk tanpa bersuara.
γ
"Keluar !" Aisakah mulai kesal melihat Kristo hanya mematung, sesekali mengerakkan kepala saat di tanya tapi jelas tidak berencana bersuara.
γ
"Apa lagi ?" Meskipun sudah di beri perintah agar keluar dari ruang kerja sang tuan, Kristo malah tetap bertahan.
γ
"Tuan, ada hal penting ". Kristo akhirnya harus memulai berbicara.
γ
"Apa ?" Alis kanan Aisakha sedikit terangkat.
γ
Kristo menarik nafas dalam, "besar kemungkinan nona hilang ". Mata Aisakha membesar. Sedang Satriyo di ujung telepon mulai berkeringat dingin sambil memegang lehernya. Otaknya sudah menyuguhkan berbagai adegan mengerikan yang di jamin bisa dengan mudahnya akan di lakukan sang tuan padanya.
γ
"Bicara yang keras. Kau sungguh tidak sopan, bicara seperti sedang berkumur-kumur begitu ". Jauh di dalam hatinya, diam-diam Aisakha berharap dirinya salah dengar kata-kata Kristo barusan.
γ
"Tapi ini masih belum pasti tuan, para pengawal sudah dikerahkan ". Kristo seakan tahu kalau sang tuan sebenarnya hanya berharap dirinya salah dengar dengan apa yang telah disampaikannya tadi.
__ADS_1
γ
Braaaaaakkkkkkkk....
Aisakha memukul keras meja kerjanya, saking kerasnya Satriyo yang berada di ujung telepon sampai menjauhkan handphonenya dari telinga kanannya.
γ
Prangggggggkkkkk....
Satriyo mendengar bunyi benda jatuh, seperti benda yang terbuat dari kaca yang mungkin telah terbelah, pecah berserakan kemana-mana.
γ
"Bagaimana bisa ?" Satriyo memasang telinganya baik-baik, terdengar suara derap langkah kaki memdekat ke arah handphone di telinganya.
γ
"Detailnya belum tahu tuan. Yang tahu persis Damar, tapi yang melaporkan Satriyo. Damar dan orang-orang suruhan kita sudah di sebar Kepala Keamanan di sana untuk mulai melacak keberadaan nona. Hanya saja ini semua ada hubungannya dengan Bowo ". Kristo melihat Aisakha sudah sangat marah. "Ini Satriyo tuan ". Dengan kasarnya Aisakha merebut handphoneΒ Kristo cepat.
γ
"Kurang ajar kalian semua. Aku mempercayakan keamanan Nia pada kalian dan kalian membiarkan ini semua terjadi ". Teriak Aisakha marah. "Kalian sudah siap meninggalkan dunia ini ?"
γ
"Maafkan kami tuan ". Satriyo benar-benar ketakutan. Saking takutnya sampai-sampai perutnya mendadak terasa sakit.
γ
γ
"Kristooooooo ". Sekarang Aisakh berteriak keras di depan lift pribadinya, terlihat jelas air muka makin marah mendapati si sekretarisnya itu masih di dalam ruang kerjanya.
γ
Kristo berlari sekuat tenaga menyusul Aisakha saat sang tuan yang sedang kalap sampai bisa berteriak begitu keras membuat petugas Lobby di depan lift pribadinya tersudut cemas.
γ
"Kau bodoh ". Aisakha menyerahkan handphone Kristo kembali pada yang punya dengan sekuat tenaga membuat sampai Kristo terhuyung kebelakang. Sepertinya Aisakha mulai sulit mengendalikan kemarahannya, hingga tanpa sadar dia melampiaskan emosinya pada Kristo.
γ
Kristo menarik nafas panjang, kesabarannya sedang di uji.
γ
"Berapa lama kita sampai di Bengkulu ?" Aisakha tidak juga bisa meredam emosinya.
γ
__ADS_1
"Kurang dari 2 jam tuan ". Jawab Kristo cepat.
γ
"Sedari tadi aku sudah ingin menelepon Nia, tapi kau menghalangiku ". Aisakha mengepalkan tangan kanannya. Jakun Kristo naik turun, tiba-tiba Kristo kesulitan menelan sulivanya sendiri.
γ
"Berdoalah Nia baik-baik saja, kalau tidak kau orang pertama yang akan menerima akibatnya ". Suara ancaman Aisakha terdengar sangat mengerikan di telinga Kristo.
γ
***************
γ
EPILOG......
γ
"Apa kau bilang ? Hampir 2 jam ?" Aisakha membentak Satriyo keras.
γ
"I..iya tuan ". Teriakan Aisakha membuat Satriyo sampai tergagap menjawab.
γ
"Bagaimana bisa kalian begitu bodohnya ?" Aisakha berjalan keluar ruang kerjanya.
γ
"Pasti sebelum ini ada sesuatu hal yang aneh, tidak mungkin semua terjadi begitu mendadak ?" Aisakha berjalan cepat menuju lift pribadinya.
γ
"Menurut Damar sepertinya demikian tuan. Dalam semingguan ini sikap Bowo memang berbeda, ada yang lain terhadap caranya memperlakukan nona ". Jawab Satriyo ragu.
γ
"Dan kalian bukannya mencari tahu atau meningkatkan penjagan malah membiarkan semua ini terjadi ? Aku tidak menyangka, orang-orang kepercayaanku ternyata sangat bodoh. Kalian bersiap terima hukuman dariku !" Ada nada penuh ancaman dalam setiap susunan kata-kata Aisakha.
γ
"Maafkan kami tuan ". Dengan penuh penyesalan Satriyo benar-benar bermohon. Jangan di tanya bagaimana takutnya dia saat ini.
γ
"Bowo..kau terlalu cukup berani ternyata, jangan harap aku akan mengampuni nyawamu ". Satriyo masih sempat mendengar kata-kata yang begitu menyeramkan terucap dari mulut sang tuan, bulu kuduknya berdiri, jelas Aisakha tidak main-main dengan semua ucapannya.
γ
__ADS_1
γ