
Kesedihan Paman
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Paaaaa". Alika berteriak kencang saat melihat sang Papa tengah berjalan ke arah lobby bersama Nia, Aisakha dan Kristo.
 
Sekuatnya Alika berlari kedalam pelukan sang Papa, terdiam di sana hingga tidak berapa lama terdengar suara isak tangisnya.
 
"Sudah nak, sudah". Ucap Paman sambil memeluk erat putri sulungnya itu.
 
"Ma-Mama, Pa". Terdengar suara Alika di sela isak tangisnya.
 
"Iya sayang, iya". Paman tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa sebagai wujud penghibur untuk Alika. Karena sesungguhnya, hati Paman pun tengah di landa kecemasan yang luar bisa atas kondisi sang isteri.
 
Alika meremas kuat baju sang Papa, wujud ketakutan terdalamnya saat ini. Menyaksikan semua itu, Nia membiarkan tetesan air matanya jatuh di sudut matanya.
 
Aisakha melihat itu, cepat dia merangkul Nia dan mencoba menyalurkan energi posistifnya untuk kekasih tercinta.
 
"Su-sudah ya nak. Kita lihat Mama ya". Paman pun segera menghapus butiran hangat yang menetes pelan di wajah lelahnya.
 
Alika mengangguk, melepaskan pelukannya pada Paman dan menatap wajah tua sang Papa yang terlihat sangat lelah. Alika menghapus sisa air mata di wajah Papa dan berusaha tersenyum, walaupun hanya sebentuk tarikan tipis di kedua sudut bibirnya, tetapi dia sangat ingin memberi semangat pada sang Papa.
 
__ADS_1
"Tuan".
"Tuan".
"Tuan".
 
Silih berganti orang-orang dengan seragam dokter dan perawat yang telah berdiri di dalam lobby menyapa Aisakha penuh hormat. Mereka di beritahu kalau sang pemilik Rumah Sakit akan datang berkunjung, tetapi dalam rangka apa? Tentu saja hanya segelintir orang yang tahu. Selebihnya, mereka mulai kasak-kusuk mencari tahu penyebab lelaki tampan itu mendadak muncul di saat sore mulai berlalu dan malam mulai singgah di bumi Bengkulu. Rasa penasaran semua orang muncul saat mereka melihat Aisakha tidak datang sendiri, ada wanita cantik yang di gandengnya dan beberapa orang lagi yang juga ikut serta.
 
"Tuan sama siapa ya?" Suara berbisik seorang perawat kepada teman yang berdiri disebelahnya.
 
"Aku juga enggak tau sih". Jawab si teman dengan wajah penasaran.
 
"Kok pada sedih semua ya?" Kembali pertanyaan keluar dari suara berbisik si perawat tadi.
 
 
"Yang tidak berkepentingan silahkan kembali bekerja". Suara Kristo menyudahi bisik-bisisk para perawat yang terlihat sangat penasaran. "Cukup tim dokter yang saya minta saja yang temani kami!" Kristo memberi perintah baru.
 
Mendengar perintah Kristo, terlihatlah sejumlah orang dengan seragam dokter dan perawat menunduk hormat pada Aisakha sebelum berlalu kembali ke aktivitas mereka masing-masing, meninggalkan lobby. Menyisakan tiga orang dokter dan lima orang perawat yang masih bertahan di lobby, masih menunggu perintah terbaru untuk mereka.
 
"Antarkan tuan ke kamar rawatan". Kristo memberi perintah pada tim dokter yang masih bertahan di lobby. Ketiga dokter beserta lima orang perawat ini adalah orang-orang yang di anggap berkompeten dalam proses penyembuhan Bibi Ros. Kristo sengaja mempersiapakan orang-orang terbaik dari Rumah Sakit sang tuan yang telah lama malang-melintang dengan sejuta pengalaman pada kasus kecelakaan. Kristo berharap, tim medis yang dibuatnya ini bisa menjadi solusi terbaik bagi usaha sang tuan untuk membantu keluarga Nia memulihkan kondisi Bibi seperti sedia kala.
 
Seorang dokter maju, memberi hormat pada Aisakha. "Tuan, perkenalkan saya dokter Antoni, ini dokter Dikdo, disebelahnya dokter Yunita. Kemudian ada perawat Tina, Sam, Lukas, Rian dan Yana". Dokter Antoni memperkenalkan satu-persatu orang-orang disekitarnya. "Di sini saya beserta rekan-rekan sejawat dan beberapa perawat terbaik akan membantu tuan. Kedepan, ada apa-apa mohon beritahu kami". Ucap dokter Antoni sambil membungkuk hormat pada Aisakha.
 
"Terima kasih dokter. Tolong lakukan yang terbaik, apa pun yang kalian butuhkan cepat hubungi Kristo. Jangan ragu, bilang semua pada Kristo!" Perintah Aisakha pada dokter Antoni.
__ADS_1
 
"Baik tuan". Jawab dokter Antoni disertai anggukan kepala tanda mengerti. "Mari tuan, kami antar ke kamar rawatan Nyonya Ros". Dokter Antoni beserta rekan-rekannya mempersilahkan Aisakha mengikuti mereka.
 
Aisakha mengandeng Nia, Kristo memilih berjalan di belakang sang tuan. Sedang Paman berjalan sambil merangkul Alika, terlihat Ayah dan anak itu sedang berusaha saling menguatkan.
 
Pandu berusaha mensejajarkan langkahnya bersama Kristo, berjalan tepat di belakang Nia dan Aisakha.
 
Pintu lift di lantai lima terbuka, dokter Antoni langsung mengarahkan Aisakha menuju sebelah kanan lift. Ada sebuah pintu di sana. Dokter Antoni membantu membukakan pintu, mempersilahkan semua untuk masuk kedalam ruangan.
 
Terlihat beberapa meter di depan pintu ada sebuah ruangan yang terbuat dari kaca tebal, di dalam rungan kaca tergolek lemah Bibi Ros dengan begitu banyak peralatan medis di sekitarnya. Paman maju mendekati dinding kaca, "oh..isteriku". Panggil Paman lirih pada Bibi. Gumpalan awan mendung yang tadi sempat di hapus Alika dari mata tuanya, kembali terbentuk. Betapa sedih hatinya, betapa tersayat-sayat rasanya menyaksikan wanita yang sangat dicintai terbaring lemah dengan begitu banyak peralatan medis terpasang disekujur tubuh. Paman mengeleng tidak percaya, wanita cantik yang dinikahinya lebih dari 37 tahun lalu, kini hanya terbujur diam dengan luka perban dimana-mana.
 
"Ohh, isteriku". Paman memanggil Bibi.
 
"Saya mau masuk". Dengan sorot mata penuh kepedihan Paman meminta izin pada dokter.
 
"Boleh, keluarga boleh masuk. Tapi satu-persatu, bergantian. Selebihnya silahkan beristirahat di sana". Dokter menunjuk sisi lain ruangan yang terlihat telah di lengkapai dengan sofa empuk, tempat tidur besar dan bersih, televisi dan sebuah meja dengan bunga segar serta aneka buah-buahan diatasnya.
 
"Saya ingatkan, kondisi pasien masih belum baik. Jangan patah semangat apabila pasien belum memberi respon. Tolong tetap beri semangat, energi posistif dan keyakinan dari keluarga adalah obat penyembuh paling baik saat ini". Dokter Antoni memberi penjelasan.
 
 
 
 
__ADS_1