SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 71


__ADS_3

Berita Duka (2)


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Apakah ini arti perasaanku yang tidak enak sedari tadi ya? Tapi ada apa?


 


"Ayo". Bowo menarik tangan Nia agar bergegas menuju ruang kerja Profesor Yandi.


 


Nia diam, tidak menunjukkan perlawanan, patuh mengikuti langkah Bowo membawanya mendekati ruang kerja Profesor. Tok, tokk, tookkk, Bowo mengetuk pintu ruang kerja Profesor yang ternyata tidak tertutup. Masih dengan menggengam jemari Nia, Bowo membawa Nia masuk untuk bertemu Profesor Yandi.


 


"Pakde?" Nia langsung mengenali sosok lelaki yang telah bekerja padanya beberapa tahun ini, begitu kakinya sampai di dekat sofa yang telah diduduki oleh Pakde.


 


"Non". Hanya itu kata pertama yang mampu diucapkan Pakde.


 


"Ada apa? Ada apa Pakde?" Nia mulai mendesak Pakde.


 


"Non, itu. Kita ke Rumah Sakit ya". Jawab Pakde sambil menatap iba pada Nia.


 


"Rumah Sakit? Kenapa?" Nia terus mendesak Pakde agar memberi jawaban pasti.


 


"Nanti Pakde jelaskan. Ayo non kita berangkat!" Sepertinya Pakde tidak ingin membuang waktu. "Non bareng sopir tuan ya. Ikuti Pakde, Pakde sama Bibi". Jelas Pakde kemudian. Ternyata sebelum masuk ke ruang kerja Profesor Yandi, Pakde telah memberi instruksi kepada sopir yang disiapakan Aisakha untuk Nia. Sehingga saat ini si sopir sudah berdiri, menunggu di tempat yang di minta oleh Pakde.


 

__ADS_1


"Jawab aku!" Nia setengah berteriak saking paniknya pada Pakde. "Ada apa ini? Aku mohon, bilang!" Terdengar Nia mulai putus asa.


 


"Baik, baik. Pakde akan bilang, tapi non harus kuat ya". Pakde meminta kepastian dari Nia sebelum mulai bercerita.


 


Nia mengiyakan, mengangguk cepat agar Pakde segera memulai ceritanya.


 


"Baiklah, non duduk dulu". Pakde meminta Nia duduk di sofa singel tidak berapa jauh darinya.


 


"Tenang ya!" Perintah Profesor Yandi yang sudah mengetahui apa gerangan yang terjadi. Sedang Bowo hanya memilih berdiri di belakang sofa tempat Nia duduk, mencoba mencerna apakah yang sebenarnya telah terjadi.


 


"Non, jadi begini". Pakde memulai berbicara sambil sesekali menarik nafas panjang untuk mengatur suaranya agar tidak terlihat kecemasan di dalamnya.


 


 


"Kami, kami ke sini mau jemput non. Kami tadi dapat telepon dari non Alika". Sampai di sini Pakde dan Profesor Yandi dapat melihat gerakan spontan Nia, Nia menutup mukanya dengan kedua tangan. Badannya mulai terguncang, sepertinya Nia tengah menahan tangis.


 


"Non, non janji harus tenang". Pakde berhenti bercerita dan mendekatkan diri pada Nia.


 


"Kamu mau tau ada apa dan segera ke Rumah Sakit? Atau hanya meratap di sini hingga akhirnya menyesal?" Profesor Yandi bertanya pada Nia.


 


Bowo menyentuh bahu Nia, berusaha memberi kekuatan sebanyak mungkin pada Nia. "Kita ke Rumah Sakit aja ya". Ajak Bowo.


 

__ADS_1


Nia menggeleng, melepaskan tangan yang sedari tadi menutup wajahnya. Matanya berkaca-kaca, seakan tinggal menunggu perintah untuk menjatuhkan butiran-butiran dukanya. "Bagaimana keadaan Bibiku, Pakde?" Tanya Nia dengan mendung dan kabut hitam di kelopak mata indahnya.


 


"Ku-kurang baik non". Pakde berusaha memberi jawaban sediplomatis mungkin.


 


Mendung dan gumparan awan hitam yang telah memenuhi setiap sudut mata Nia melembab, hingga akhirnya sukses menjatuhkan air mata duka terdalamnya. Sedih, takut dan merasa sendiri, Nia mulai menangis. Tangisan pelan yang nyaris tidak terdengar isakannya sama sekali. Pakde merasa tidak sanggup melihat pemandangan sedih dari majikan muda yang sangat di sayanginya itu. Hancur, itu yang terasa oleh Pakde, tidak tahu cara terbaik menghibur gadis cantik yang telah dianggapnya seperti anak sendiri.


 


"Ayo non". Ajak Pakde pada Nia sambil memegang erat jarinya.


 


Nia menghapus air mata yang mengalir tanpa perintah di setiap inci matanya, kasar Nia menghapus air mata yang masih berusaha mengalir untuk mengambarkan dukanya. Berusaha menarik nafas panjang, menguatkan diri sendiri sebisa mungkin, dan sekali lagi menghapus air mata yang telah membuat matanya memerah.


 


"Iya". Jawab Nia singkat sambil berdiri dan berjalan duluan kearah teras perusahaan.


 


"Kau ikuti dia, jangan tinggalkan! Saya dan yang lain akan menyusul". Perintah Profesor pada Bowo. Dan Bowo pun berlari menyeimbangkan langkahnya mendekat ke arah Nia, menjalankan perintah sang Profesor.


 


Dari tempatnya duduk, Bi Kartik bisa melihat Nia berjalan mendekat kearah pintu mobil Aisakha yang telah di buka oleh sopir. Walau hanya sepersekian detik, Bibi sempat beradu pandang dengan mata merah dan telah basah oleh air mata milik Nia.


 


Bibi memganggukan kepalanya dan tersenyum pada Nia, Nia hanya memandang sedih kearah Bibi tanpa suara, tanpa senyum cantiknya.


 


Tuhan, jangan buat gadis kesayangan hamba bersedih, hidupnya sangat berat. Berilah kesempatan padanya untuk berbahagia. Aku mohon.....


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2