SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
5


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Tutup lagi ya teleponnya, aku mandi dulu sayang ". Nia tersenyum memandang dirinya di depan kaca meja riasnya. Sayang, belum terlalu lancar baginya menyebutkan kata itu pada Aisakha, tetapi setidak-tidaknya dalam sebuah obrolan. Nia sudah berani memanggil Aisakha dengan kata sayang walaupun hanya beberapa kali.


γ€€


"Aku suka mendengar kata sayang keluar dari mulutmu. Rasanya sangat indah ". Puji Aisakha pada Nia. Nia hanya diam diujung telepon. Bisa di tebak, dia sedang mengigit bibir bawahnya, malu hanya dengan sebuah pujian kecil dari Aisakha.


γ€€


"Nia, Nia ". Aisakha merasa Nia hanya diam di ujung teleponnya. "Calon isteriku, apa masih di sana?" Dan mendengar itu, wajah Nia berubah semerah tomat.


γ€€


"Biar Mas tebak, kamu pasti lagi mengigit bibirmukan. Wajahmu sedang merona, nyaris mendekati warna tomat mateng ?" Aisakha bisa membayangkan seperti apa wajah kekasihnya itu sekarang.


γ€€


"Sa, eh, Mas ". Nia salah tingkah sendiri.


γ€€


"Apaaaa ?" Jawab Aisakha sambil senyum-senyum sendiri.


γ€€


"Aku mandi dulu ya, teleponnya aku tutup dulu ".


γ€€


"Kenapa kamu masih malu juga sayang, padahal bulan depan kita sudah menikah loh. Bagaimana ceritanya nanti kalau kita berada dalam satu kamar dannnnn......... ?" Aisakha mengoda Nia.


γ€€


"Cu, cukup. Sudah, sudah ". Jantung Nia serasa meronta-ronta, debarannya terlalu keras, ritmenya terlalu cepat. "Sudah, jangan goda aku lagi. Aku mau mandi ! Aku matikan ya ! Daaaaaa ". Dan sambungan teleponpun terputus. Nia meletakkan handphonenya di atas meja riasnya dan segera berlari ke kamar mandi. Wajahnya terlalu panas, sepertinya Nia harus segera menguyur wajahnya yang sedang menahan malu itu.


γ€€


Apa-apaan Mas itu, di kamar ? Kami hanya berdua ? Ya Tuhan, aku sangat malu mendengarnya.


γ€€


Di sudut lain, di sebuah ruang kerja pada gedung pencakar langit di jantung Kota Jakarta.Β  Aisakha justru sedang tertawa terbahak-bahak. Kata-kata terakhir Nia tadi telah membuat dia tertawa sendiri,Β Mengemaskan sekali dirimu Nia. Untung jauh, kalau dekat entah apa yang akan aku lakukan. Mungkin aku akan gagal mempertahankan diri untuk tidak mencium bibir manismu itu. "Hahaha, aku jadi rindu padamu sayang ".


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Nia sudah rapi, dress terusan selutut dengan motif bunga warna pink dan kuning serta sweater warna pink pudar pun dipilihnya untuk menutupi bahunya, karena lengan baju pilihan Nia hanya sampai di ujung bahunya saja. Malam ini Nia sengaja mengikat rambut panjangnya dengan jepit rambut berbentuk bunga kecil berwarna pink pula. "Baiklah, tinggal lipsgloss saja lagi ". Dan Nia pun mengoleskan pelembab bibirnya itu perlahan di bibir tipisnya.


γ€€


Selesai, Nia mengambil handphonenya yang masih terongok di atas meja rias. Nia bersiap keluar kamar, tas berisi baju ganti serta baju kerjanya besok sudah di bawa turun oleh bibi. Sesuai rencanya dengan sang Mama mertua, malam ini Nia akan menginap di Villa Aisakha. Dia ingin menghabiskan waktu bersama sanga Mama kekasih hatinya itu. Sesuatu yang sudah Nia tunggu-tunggu, bisa menghabiskan waktu berdua dengan sang calon mertua. Wanita paruh baya yang sangat menyayanginya.


γ€€


Pintu kamar sudah Nia tutup, Nia berniat menuruni anak tangga. Namun niatnya harus diurungkan sesaat. Handphonenya berbunyi.


γ€€


Video call ? Tumben Mas pake acara video call, nggak telepon aja ?


γ€€


"Hallo ". Nia bersender pada dinding kamarnya, tersenyum manis menatap layar handphonenya.


γ€€


"Hallo nona ". Ternyata Kristo yang menjawab, Kristo menunduk hormat di depan layar handphone Aisakha.


γ€€


"Oooh, Kristo rupanya. Apa kabar kamu ?" Nia sibuk melihat sisi kanan dan kiri Kristo. Mana si Mas ya?


γ€€


"Saya baik nona. Semua pekerjaan berjalan lancar. Tuan sangat senang, jadi semua sangat lancar nona ". Kristo mengajungkan jempolnya di depan layar.


γ€€


"Syukurlah. Saya senang mendengarnya ". Jawab Nia sambil menganguk.


γ€€


"Semua berkat nona ". Jawab Kristo sambil menaikkan kedua alisnya.


γ€€


"Loh, kok bisa ? Apa hubungannya dengan saya ?" Nia tidak mengerti.


γ€€


"Rahasia antara kita saja ya nona ". Kristo melihat sisi kanan dan kirinya, sepertinya dia ingin memastikan tidak ada yang mendengar apa yang akan diucapkannya. "Nona tahu, saat tuan sudah mulai terlihat kesal ataupun bosan. Saya langsung menyebut nama nona. Ajaibnya tuan langsung bersemangat kembali, malah sampai tersenyum segala. Hahahaha. Nama nona sudah seperti mantra sakti saja buat tuan ".


γ€€


"Be, benarkah ". Nia tertunduk malu.Β Konyol sekali sekretaris Mas ini. Memanfaatkan namaku ternyata ya.


γ€€


"Aduhhhh ". Nia melihat Kristo sedang memegang kepalanya di layar handphone.


γ€€


"Kamu kenapa ?" Tanya Nia pada Kristo.


γ€€


"Saya hanya menyuruhmu memanga hape saya sebentar ". Nia mendengar suara kesal Aisakha. Kristo hanya diam, bahkan pertanyaannya tadi tidak di jawab oleh Kristo.


γ€€


"Siapa yang menyuruhmu berbicara dengan calon isteri saya ? Tidak tahu diri, kamu cari-cari kesempatan mau lihat wajah cantik Nia, iya ?" Sepertinya Aisakha bertambah kesal. Begitu pikir Nia.

__ADS_1


γ€€


"Sini, kembalikan hapeku ! Mau berapa lama lagi kamu memandangi wajah Nia, ha ?" Tiba-tiba Nia melihat wajah Kristo sudah hilang dari layar, berganti langit-langit kantor. Mungkin Kristo sedang membawa handphone tersebut kembali pada yang punya.


γ€€


"Maafkan saya tuan ". Hanya itu kata yang keluar dari mulut Kristo. Kasihannya Kristo.


γ€€


"Kau ini, cari pacar sana. Jangan ganggu calon isteriku. Heh, sangat tidak tahu malu kau ya. Memandangi Nia di belakang saya ". Sepertinya Aisakha masih kesal. Dia masih saja terus memarahi Kristo. Padahal jelas-jelas dirinya yang meminta Kristo berbicara dengan Nia saat panggilannya telah di terima Nia, karena Aisakha harus mengantarkan seorang tamu penting ke depan pintu ruang kerjanya.


γ€€


Sekarang, lihat sendirikan. Dia yang memberi perintah, dia pula yang kesal, marah. Andai ada yang bisa membaca isi hatinya Kristo, pasti akan tahu betapa bingungnya dia sekarang. Tadi di suruh, sekarang di salahkan. Jadilah, Kristo hanya mampu mengucapkan kata maaf saja kepada sang tuan.


γ€€


Nia hanya menguping, secara suara kesal Aisakha sangat jelas terdengar di layar handphonenya. Walaupun tidak terlalu paham jalan cerita keributan antara Aisakha dan Kristo, tapi dapat di simpulkan oleh Nia. Kalau saat ini Aisakha sedang cemburu. Diam-diam Nia tertawa pelan menatap handphonenya.


γ€€


"Maafkan saya tuan ". Sebelum menyerahkan kembali handphone Aisakh ke tanganya.


γ€€


"Hemmm". Dan sekarang Aisakha telah menatap layar handphonenya.


γ€€


"Sayanggg ". Nia tersenyum senang melihat wajah tampan kekasihnya itu.


γ€€


"Kenapa kamu bicara sama Kristo ?" Wajah tampan itu berubah cemberut.


γ€€


"Karena dia yang pegang hapenya Mas ". Jawab Nia lugu.


γ€€


"Kan bisa kamu jawab tanpa memperlihatkan wajah cantikmu itu. Kamu mau membuat dia tergoda ?" Nia mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Aisakha.


γ€€


"Maksud Mas gimana ya ? Bukannya itu guna video call, supaya bisa saling memandang, saling menatap ?"


γ€€


"Lihat, lihat itu ". Aisakha menunjuk layar handphonenya. "Kenapa kamu cantik sekali malam ini. Sebenarnya kamu mau kemana Nia, kenapa kamu berdandan secantik itu ?" Kerutan di kening Nia semakin dalam.


γ€€


Siapa yang dandan ? Aku cuma pake pelembab wajah dan pelembab bibir saja. Mas ini kenapa sih ?


γ€€


"Hapus ". Perintah tegas dari Aisakha.


γ€€


γ€€


"Makeup mu itu, hapus. Kamu mau membuat para pengawalmu tergoda ". Aisakha terlihat tidak bsrsahabat.


γ€€


"Mas, aku gak pake makeup loh. Ini tuh cuma...",


γ€€


"Nia, hapus ! Kamu dengarkan !" Suara Nia langsung di potong oleh Aisakha


γ€€


Ya ampun, si Mas kerasukan apa sih ? Kok kayak aku sudah melakukan kesalahan besar aja. Jelas-jelas gak pake makeup, tapi kenapa malah marah ? Ihhh, sebel. Sudahlah, ngalah saja. Yang waras yang ngalah.


γ€€


"Baiklah sayang ". Nia berusaha mengembangkan senyum manisnya sambil berjalan kembali ke kamar.


γ€€


Nia duduk di depan meja riasnya, meletakkan handphonenya dengan baik agar layarnya tetap mengarah kepadanya. Aisakha diam, memperhatikan setiap gerakan tangan Nia yang terlihat sibuk mengelap kapas yang telah di tetesi cairan yang tidak di pahami Aisakha ke wajah cantik kekasihnya itu. Selesai di bagian wajah, dengan kapas baru, Aisakha melihat Nia menggunakannya di area bibir.


γ€€


"Sudah Mas ". Nia menunjuk wajahnya. Aisakha memperhatikan dengan seksama wajah Nia. "Aku pake ini ya ?" Tanya Nia sambil mengangkat botol pelembab wajah ke depan kamera.


γ€€


"Apa itu ?" Aisakha terlihat memasang tampang curiga. "Kan sudah ku bilang, jangan dandan !" Sepertinya mood kesalnya kembali lagi.


γ€€


"Sayang, ini tuh pelembab wajah. Biar wajahku enggak kusam, jadi pake ini setelah mandi ".


γ€€


"Ya sudah, boleh pake ". Aisakhapun mengalah setelah mendengar penjelasan Nia.


γ€€


Nia mengambil sedikit isi dari tabung pelembab wajah tersebut dan mengaplikasikan ke wajahnya. Aisakha masih diam, memperhatikan gerakan jari lentik Nia meratakan benda cair agak keputihan di seluruh area wajahnya.


γ€€


"Sekarang aku pake ini ya Mas ?" Nia membuka tutup pelemban bibirnya dan menunjukkan ke depan kamera agar Aisakha pada melihat dengan jelas.


γ€€


"Kan sudah ku bilang, jangan dandan. Kalau kamu pake lipstik itu, nanti kamu akan semakin cantik dengan bibir berwarna merah ".


γ€€


"Sayang, ini bukan lipstikΒ  ". Nia tersenyum lucu.Β Lucu banget kamu Mas, kalau kita gak sedang video call sekarang. Aku pasti sudah ketawaiin kamu.


γ€€

__ADS_1


"Lihat ". Nia menggoreskan lipsglossnya ke selembar tisu. "Gak ada warnanyakan ?" Nia mengangkat tisu yang di pakainya tadi ke depan layar handphonenya.


γ€€


"Ini tuh pelembab bibir Mas, biar bibir aku enggak kering. Biasanya setelah mandi aku pake ini di bibir ". Nia melihat Aisakha menganguk pelan.


γ€€


"Ya sudah, kamu boleh pake itu ". Jawab Aisakha pelan.


γ€€


Nia mengoleskan beberapa kali lipsglossnya ke bibir tipisnya. Terakhir, membuat gerakan menutup dan membuka bibirnya pelan.


γ€€


"Sudah, sekarang aku sudah boleh ke tempat Mama ?"


γ€€


Aisakha memasang wajah bingung, dia sibuk memandangi Nia lama. Membuat gerakan mata birunya berputar mempelajari tiap jengkal wajah Nia.


γ€€


"Kenapa masih sama cantiknya seperti tadi ?" Sepertinya Aisakha memang sedang bingung. Jelas dirinya melihat Nia telah menghapus riasan yang ada di wajahnya dia awal tadi, bahkan Aisakha pun melihat apa saja yang di pakai Nia di wajahnya sekarang. Tetapi kenapa kadar kecantikan Nia masih sama seperti di awal, begitu kira-kira bingungnya Aisakha sekarang.


γ€€


"Hehehe ". Nia terkekeh sambil menutup bibirnya dengan jemari tangannya. "Jelas saja masih sama Mas. Karena, aku tadi cuma pake pelembab wajah dan pelembab bibir saja. Sama seperti yang sekarang aku pake ". Jawab Nia masih terkekeh menertawakan kekonyolan kekasihnya itu.


γ€€


"Tanpa makeup ?" Aisakha masih tidak percaya.


γ€€


"Iya sayang, tanpa makeup. Kan Mas lihat sendiri ".


γ€€


"Kalau begitu kamu gak boleh kemana-mana !" Aisakha memberi perintah tegas pada Nia.


γ€€


"Mas, Mas ini kenapa ? Aku itu bukan mau kemana-mana, aku mau ke Villa Mas kok, mau ketemu Mamanya Mas ". Sekarang Nia yang terlihat mulai kesal.


γ€€


"Kamu itu terlalu cantik Nia, bahkan tanpa makeup pun kamu sangat cantik. Aku nggak sanggup membayangkan berapa banyak pasang mata lelaki yang akan memandangi kecantikan kamu. Mana aku jauh lagi di sini ". Rutuk Aisakha kesal.


γ€€


"Astaga Mas, jangan aneh-aneh deh. Cemburu Mas itu berlebihan ". Sekarang level kesal Nia bertambah.Β Enggak masuk akal banget kamu Mas.


γ€€


"Yah, wajarkan aku cemburu. Lelaki mana coba yang gak cemburu lihat calon isteri cantiknya dipandangi lelaki lain ?"


γ€€


"Udah, aku males gomong sama Mas ". Level kekesalan Nia bertambah setingkat lagi saat menghadapi kekonyolan Aisakha yang sedang cemburu.


γ€€


"Tunggu ". Aisakha mulai panik melihat Nia semakin kesal padanya.


γ€€


"Akukan cuma takut kehilangan kamu, Nia. Apa salah ? Kamu jauh dari aku, rasanya sangat tidak berdaya sekali. Di tambah lagi dengan fakta sekarang. Tanpa makeup, kamu terlihat sangat cantik ". Nia melihat ada guratan sedih di wajah kekasihnya itu.


γ€€


"Mas, sayang ". Nia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya. "Aku ini hanya milik kamu, enggakΒ  akan berpaling dari kamu. Mas lihat ini ?" Nia mengangkat jari manisnya tempat cincin pemberian Aisakha berada. "Mas sudah mengikat aku, aku ini milik Mas. Kita hanya menunggu hari suci pengesahan hubungan kita saja lagi ". Nia diam sesaat.


γ€€


"Kalau Mas sebut kata takut. Mas sendiri pasti tahukan, bagaimana takutnya aku kehilangan Mas. Mas begitu mencintaiku, aku tidak bisa membayangkan kalau aku kehilangan cinta darimu. Aku pasti tidak akan sanggup untuk berada di dunia ini ". Ada getar sedih terdengar oleh Aisakha di suara Nia.


γ€€


"Nia, maafkan aku ". Cepat Aisakha menyadari kekonyolan tingkahnya barusan. Kecemburuan yang tidak beralasan. Ada penyesalan di dalam dirinya.


γ€€


"Maafin Mas ya, Mas terbawa rasa cemburu sampe salah dalam berucap. Maafin Mas ya ?"


γ€€


"Jangan tinggalin aku Mas, hikss ".


γ€€


"Nia, Nia..Mas nggak akan tinggalkan kamu sayang, tidak akan pernah. Maafin sikap Mas tadi ya ". Aisakha mencoba membujuk Nia yang terlihat mulai mengelap tetesan pertama air mata yang jatuh di sudut matanya.


γ€€


"Sudah, sudah. Jangan sedih. Mas enggak akan tinggalkan kamu, Mas cinta banget sama kamu. Sekarang berangkat lagi gih ! Nanti Mama malah khawatir menunggu kedatanganmu. Ayo, sudah ya !" Bujuk Aisakha.


γ€€


"Jadi aku sudah boleh ke rumah Mama sekarang ?" Nia tersenyum.


γ€€


"Iya, sudah boleh. Hati-hati ya. Sampe sana kasih kabar !" Aisakha tersenyum menatap wajah Nia di layar handphonenya.


γ€€


"Kalau gituh aku berangkat dulu ya Mas. Daaaaa, love you Mas ". Nia melambaikan tangannya di depan kamera.


γ€€


"Love you to sayang ".


γ€€


DanΒ  drama video call pun berakhir. Nia berangkat ke Villa tempat Mama mertuanya berada, sedang Aisakha di seberang Pulau sana kembali melanjutkan rutinitas pekerjaannya.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2