
🌈🌈🌈🌈🌈
Sudah lewat 24 jam lamanya status Kristo dan Resya berubah. Mereka sekarang sudah menjadi sepasang kekasih baru. Nia pun telah di beritahukan oleh Resya mengenai siapa sosok Kristo bagi dirinya saat ini, Ibu hamil itu sangat gembira. Siapa yang menduga begitu cepat Resya menemukan penganti Resky, mantan Resya yang sangat bersemangat menduakan Resya dengan teman semasa SMA Resy. Dan karena ini adalah seorang Kristo, Nia yakin Resya akan bahagia sepanjang hidupnya.
Jam istirahat, Nia sudah di ruang kerja Aisakha. Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Nia akan menghabiskan jam istirahatnya di tempat ternyaman baginya di perusahaan besar sang suami. Dan seperti biasanya pula, sudah hampir satu bulan terakhir ini, Nia gampang merasa ngantuk. Hingga bisa di tebak, jam istirahat Nia akan berlangsung panjang, bisa nyaris mendekati jam pulang kantor.
Siang ini, di karenakan sang tuan sudah mengosongkan jadwalnya dan memilih bersama sang istri tercinta, maka Kristo juga memilih untuk bertemu sang pujaan hatinya.
Kristo berjalan dengan senyum menawannya. Langkah pasti dan perasaan merindu yang besar. Ya, walaupun realitanya semalam mereka bertemu, tetap saja siang ini Kristo merasa sangat perlu memandangi wajah cantik Resya.
Pintu lift terbuka, Kristo sengaja memakai lift khusus milik Aisakha untuk turun ke lantai bawah.
Kristo melangkah keluar lift, lanjut berjalan ke laboratorium. Bayangan wajah cantik sang kekasih menarik di pelupuk matanya. Senang, Kristo semakin mempercepat langkah, tidak sabar ingin bersua wanita pemilik hatinya.
“Iya, iya....Kakak akan berusaha membantu sebisa mungkin “. Beberapa langkah lagi, tepat di balik dinding di depannya, Kristo mendengar suara Resya.
Sedang bicara sama siapa Resya ? Membatin sambil terus melangkah.
“Serius Kak, janji ?” Renggekan penuh pengharapan, suara lelaki.
“Siapa itu ? Resya sama siapa ? Jangan bilang itu suara wanita ?” Bergumam penuh kecurigaan.
“Kakak gak bisa janji Farel, tetapi Kakak akan usahakan “. Suara Resya menenangkan renggekan lelaki di depannya.
“Iya, aku percaya sama Kakak “.
Kristo berhenti hanya berjarak kurang satu meter di belakang Resya. Posisi berhenti yang cukup membuat hati panas dengan pemandangan Resya yang sedang berbincang dengan seorang lelaki, yang di tebak Kristo usianya dua atau tiga tahun di bawah Resya. Dan parahnya lagi, tangan lelaki muda itu sedang bertengger santai di jemari Resya. Lelaki muda itu sedang mengenggan erat jemari Resya.
“Apa yang sedang kalian lakukan ?” Tangan kanan terkepak, hati sedang memanas. Suara Kristo mendadak dingin, saking dinginnya Resya merasa seperti tengah di guyur hujan salju.
“Pak “. Resya tersenyum di tengah rasa dingin udara di sekitarnya.
“Pak “. Sapa sopan si lelaki muda dengan tangan masih memegang tangan Resya, lengkap dengan senyum penuh kesopanan.
“Saya tanya, apa yang sedang kalian lakukan ?” Rasa panas di hati semakin menjadi.
__ADS_1
“Ooo, saya sedang bercengkrama dengan Kak Resya, Pak “. Bicara sambil menatap senang pada Resya. Sepertinya lelaki muda ini tidak bisa mendeteksi hawa amarah yang siap meledak pada diri Kristo.
Kenapa Kak Kristo berwajah seangker itu ? Apa ada yang salah ? Resya sadar kalau suasana hati Kristo sedang tidak baik, tetapi Resya gagal menemukan apa penyebabnya.
“Lepaskan tanganmu dari Resya “. Sudah semakin sulit menahan kobaran api di dalam hati. Kristo sibuk memandangi bagaimana jemari Resya di pegang oleh lelaki muda itu.
Resya menatap arah mata Kristo yang penuh kemarahan itu, seketika Resya sadar, Kristo nampak tidak terima dengan kedekatan Resya bersama si anak magang yang sedang merenggek nilai padanya, Farel lelaki muda yang sibuk mengekorinya sedari tadi, demi mengharap belas kasihan Resya sebagai mentor untuk sebuah nilai terbaik. Sedang bagi Farel sendiri, yang tidak paham situasi dan merasa tanpa dosa sama sekali. Hanya bingung, penuh keheranan dengan suara tidak senang Kristo padanya.
Gawat. Resya membatin cemas, serta merta Resya melepaskan tangannya dari genggaman Farel.
“Pak, ini semua “. Mencoba mencari cara memberi penjelasan terbaik pada Kristo.
“Ikut aku !” Membentak Resya, perasaan marah di dalam hati terluapkan begitu saja. Kristo sangat-sangat marah.
“Dan kau, jangan pernah berani menampakkan muka di hadapanku “. Menunjuk Farel dengan tegas, membuat Farel hanya berani menunduk bagai kura-kura yang melindungi diri di dalam cangkangnya.
Kristo menari tangan Resya, mengcengkram keras pergelangan tangan gadis berambut sebahu itu.
Sakit, Resya berusaha melonggarkan cengkraman Kristo, sayang. Tenaga Kristo terlalu besar.
“Kak, sakit “. Kristo membawa Resya masuk ke dalam lift yang tadi mengantarnya turun ke lantai yang mengarah ke laboratorium.
“Kak, kamu salah paham “. Masih berusaha melonggarkan cengkraman tangan Kristo.
“Kalau aku tidak lihat langsung, mungkin aku bisa salah paham. Tapi ini “. Kristo marah. “Mata di kepalaku ini belum buta, kamu tertawa bersama lelaki itu dan parahnya, kamu berpegangan tangan bersama dia “.
“Aku sama Farel tidak punya hubungan apa-apa Kak. Sungguh “. Mulai bingung harus membuat Kristo yakin padanya dengan cara apa.
“Kalau aku datang terlambat satu menit saja, entah adegan apa yang akan kalian lakukan “. Masih marah pada Resya, masih mengacuhkan usaha Resya untuk menjelaskan.
“Astaga Kak, aku sama Farel gak mungkin ngapa-ngapain. Umur Farel itu sama dengan adekku, dan lagi aku ini hanya mentor bagi dia “. Menatap Kristo dengan pandangan semeyakinkan mungkin.
“Lagian, Farel itu bukan tipe cowok yang aku suka, Kak. Mana mungkin aku bisa melihat dia lebih dari melihat sosok seorang adik saja “. Tersenyum di antara rasa sakit di pergelangan tangannya.
Eh, cengkraman Kak Kristo melonggar. Membatin dengan kenyataan barusan.
__ADS_1
“Jadi, lelaki itu bukan tipe kamu ?” Sepanjang penjelasan Resya, hanya poin terakhir yang berhasil di terima Kristo. Selebihnya, entah bagaimana, untuk semuanya bisa menguap begitu saja di telinga Kristo.
“Ya...iyalah Kak “. Berhasil melepaskan.
“Lantas, seperti apa tipe kamu ?” Nada suara tidak sedingin di awal.
“Ya yang seperti kekasih aku dong “. Senyum malu sambil sibuk mengusap-usap pergelangan tangan yang masih menyisakan rasa sakit itu.
“Kekasih, aku maksdu kamu ?” Sedikit berharap.
“Sayang “. Menatap mata Kristo dalam. “Tentu saja kamu, hanya kamu malah “.
“Kemarilah “. Menarik Resya dalam pelukannya. “Apa kamu tahu Sya, aku sangat marah melihat kamu bersama lelaki lain. Berbicara dengan senyum mania di bibir kecilmu itu, lebih-lebih dia berani memegang tanganmu. Aku benci ada di situasi seperti itu “.
“Bagiku, wanitaku hanya boleh jadi milik aku. Aku tidak pernah mau membaginya dengan orang lain “. Mengecup puncak kepala Resya.
Sebegitu besarnya rasa cintamu padaku, Kak. Resya membalas pelukan Kristo, menempelkan kepalanya di dada bidang lelaki tampan itu. Tersenyum penuh haru. Bahkan sosok mantan kekasih yang telah menyelingkuhi dirinya dulu pun, tidak sedemikian caranya mencintai Resya.
“Maaf ya, aku sudah buat kamu sangat marah. Tapi Kak, percayalah padaku. Semua lelaki di mata aku tidak ada artinya jika di bandingkan kamu. Cara kamu mencintai aku sangat membuat aku tersanjung “.
“Sya, segeralah menikah denganku ! Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat melihat kamu bersama lelaki lain. Aku terlalu takut mereka akan merebut kamu dari aku “. Memberi ruang dalam pelukan mereka. Menatap Resya penuh pengharapan.
“Jadilah satu-satunya istri dalam kehidupanku ! Lahirkanlah generasi penerus untukku !”
Ucapan Kristo sepenuh jiwa. Sangat manis dan sangat tulus. Mata Resya berkaca-kaca, haru biru dengan kenyataan cinta yang sangat besar untuknya. Entah bagaimana cara Resya menjawab, hatinya terlalu senang mendapat perlakuan begitu istimewa dari Kristo.
“Jawablah sayang “. Tatapan penuh harap.
“Aku, aku.....aku mau Kak “. Mengangguk dengan air mata yang ikut mengiringi ucapan harunya.
“Aku sangat cinta padamu “. Tersenyum di sela-sela air mata.
“Apa lagi aku, Sya. Aku pun teramat sangat mencintai kamu “. Menghapus air mata Resya.
Perlahan Kristo mendekatkan wajahnya pada bibir merah jambu milik Resya. Rasa tergoda untuk menenangkan Resya muncul begitu saja.
__ADS_1
Menenangkan dengan sentuhan lebih di bibir indah itu, Kristo ingin Resya tahu seberapa besar cintanya pada pujaannya itu.
Sangat perlahan, tenang dan tanpa memaksa. Satu kecupan manis mendarat di bibir Resya. Kecup singkat sebagai penegas apa arti Resya dalam hidupnya, sebuah kecupan ringan tanpa menuntut balasan, namun berhasil membuat Resya terpejam. Berdebar kencang dan merona tiada terkira. Resya sangat malu, tetapi Resya suka semua itu.