SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
10


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Jam 5 : 30 pagi, seperti biasa, Nia sudah bangun. Matanya mengerjab beberapa kali. Hingga akhirnya nyawanya telah terkumpul semua, Nia melepas pelukannya dari bantal yang semalaman ini menemaninya tidur. "Selamat pagi sayang ". Nia tersenyum manis memandang bantal yang diangkatnya tinggi di atas kepalanya. "Tidurku nyenyak berkat kamu ". Nia menurunkan batal tersebut dan memeluknya di depan dada sambil senyum-senyum sendiri.


γ€€


Suasana paginya sangat indah, Nia sepertinya sangat senang. Cepat Nia membersihkan diri ala kadarnya di kamar mandi, tidak lupa merapikan rambutnya, lalu turun ke bawah melihat suasana pagi di dalam Villa sang kekasih. Nia turun, berencana langsung kearah dapur. Tapi langkah kakinya terhenti di anak tangga terakhir.


γ€€


"Pagi nona ". Damar ternyata duduk di kursi ruang tengah dekat tangga dan Nia sama sekali tidak menyadari keberadaan Damar di sana.Β Cantiknya, kayak bidadari saja.Β Cepat Damar berusaha bersikap sewajarnya, mengendalikan diri dari rasa kagumnya pada kecantikan Nia.Β Kalau tuan tahu apa isi hatiku barusan.Β Damar mengeleng pelan, menghenyahkan semua isi pikiranya.


γ€€


"Pagi Damar ". Jawab Nia ramah. "Kamu ngapain di situ ". Nia berjalan ke arah Damar. "Kamu enggak dari semalamkan ada di situ ?" Nia sebenarnya agak heran mendapati pagi-pagi begini, ada sosok Damar di sana.


γ€€


"Ooo, tentu enggak nona. Saya baru saja duduk di sini. Seperti biasa nona, saya akan menjaga nona ". Jawab Damar sambil menunduk hormat.


γ€€


"Inikan di dalam Villa tuan Aisakha, kenapa kamu begitu ketat menjaga saya ?" Wajah Nia memasang tampang tidak mengerti.


γ€€


Damar bersiap membuka mulutnya untuk menjelaskan jawaban bagi pertanyaan Nia. Tapi sepertinya dia kalah cepat.


γ€€


"Itu semua perintah calon suamimu, nak. Dia tidak mau kamu luput dari pantauannya barang sedetikpun ". Calon Mama mertua Nia sedang berjalan kearah Nia.


γ€€


"Nyonya ". Sapa Damar sambil menunduk hormat.


γ€€


"Pagi Ma ", Nia tersenyum sambil menyapa Mama.


γ€€


"Pagi sayang ". Jawab Mama sambil menunjuk pipi kanannya. Nia diam, tidak mengerti arti gerakan jari orang tua itu.


γ€€


"Kamu sudah boleh pergi, bersiapalah. Nia akan berangkat kerja ". Mama berbicara kepada Damar. Damar menganguk dan mohon izin untuk kembali ke kamarnya. Dia akan bersiap sesuai perintah sang nyonya.


γ€€


"Kok diam ?" Mama masih menujuk pipi kanannya pada Nia.


γ€€


"Maaf Ma, aku enggak ngerti ?" Tanya Nia dengan polosnya.


γ€€


"Aduh menantu Mama ini ". Mama mengeleng pelan.


γ€€


"Biasanya, Sakha kalau pagi setelah bangun tidur, dia akan memberikan Mama ciuman di pipi. Enggak cuma ucapan selamat pagi saja ". Mama mulai menjelaskan pada Nia. "Jadi mulai sekarang, Nia juga harus membiasakan itu !" Mama kembali menunjuk pipi kanannya. "Kan Nia anak Mama ".


γ€€


Wajah Nia semeringah, senyum tercipta sempurna di sudut bibirnya. Entah mimpi apa dia semalam, Nia tidak bisa mengingat hal itu. Hingga pagi ini dia bangun mendapati perlakuan sedemikian indahnya. Nia berjalan cepat ke arah Mama, memeluk calon mertuanya itu dan mengecup wajah yang sudah mulai dihiasi banyak kerutan di sana sini.


γ€€


"Nyenyak tidurnya ?" Mama memegang kedua pipi Nia.


γ€€


Nia memilih mengangukan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


γ€€


"Sekarang mandi lagi, siap- siap. Kan mau ke kantor ".


γ€€


"Masih pagi Ma, gimana kalau aku tolong Mama ". Nia merangkul tangan calon Mama mertuanya.


γ€€


"Mau nolong apa ?" Tanya Mama sambil membelai sayang rambut Nia. "Sejak kapan kamu memanjangkan rambut nak ?" Mama memberi Nia pertanyaan baru.


γ€€


"Emmm, sejak SMP deh Ma rasanya. Awalnya aku memang sudah biasa rambut panjang Ma, tapi enggak sepanjang ini juga sih ". Nia menarik pelan rambut hitamnya dan meletakkannya ke bahu kanannya. "Waktu SD hanya sampai bahu Ma, kata Ibu aku masih terlalu kecil. Belum bisa merawat rambut dengan baik. Tapi waktu sudah SMP, Ibu mengizinkan. Kata beliau, aku cocok dengan rambut panjang ". Nia tersenyum membayangkan wajah Ibundanya tercinta.


γ€€


Melihat calon menantunya tersenyum, Mama juga ikut tersenyum. "Kamu memang cocok dengan rambut panjang, cantik malah ". Puji Mama.


γ€€


"Mama bisa saja ". Nia terlihat sedikit malu.


γ€€


"Pernah lebih dari ini panjang rambutnya ?" Tanya Mama kemudian.


γ€€


"Enggak Ma. Ini batas terpanjang. Kalau lewat dari ini ". Tunjuk Nia ke atas pinggangnya, "biasanya rontok Ma, kata orang salon karena kapasitas akar rambut aku cuma segini Ma. Jadi kalau sudah lewat, aku langsung rapikan lagi ".


γ€€


"Gomong-gomong salon, gimana kamu pulang kantor nanti kita kesalon. Mama pengen creambath nih. Udah lama enggak ".


γ€€


"Aku temani Mama aja ya ?"


γ€€


γ€€


Nia langsung ingat acara ke salonnya tempo hari, saat dirinya akan melakukan kencan pertamannya dengan Aisakha.Β Menyenangkan banget, tapi masa iya sama Mama. Malu ahhh....


γ€€


"Nanti pulang kantor Mama jemput. Nia tunggu aja di kantor, jangan ke mana-mana. Kita langsung ke salon langanan Mama di sini ". Mama sudah memutuskan.


γ€€


"Tapi Ma ". Nia berencana menolak.


γ€€


"Enggak ada tapi-tapi. Ngebantah orang tua, dosa loh. Mau jadi anak durhaka ?" Mama menatap Nia dengan wajah di buat serius


γ€€


Nia tertunduk. "Maaf Ma ". Jawab Nia pelan.


γ€€


Ya ampun Nia, kamu percaya aja sama kata-kata Mama tadi. Polosnya kamu, nak. Sakha beruntung memiliki kamu, hatimu bersih.


γ€€


"Ya sudah, kalau patuh gituhkan Mama suka ". Mama berusaha menahan tawanya. "Sekarang mandi dan siap-siap, habis itu kita sarapan ya ". Mama menyuruh Nia kembali naik kelantai 2, kembali ke kamar Aisakha.


γ€€


"Ada yang bisa aku bantu Ma ?" Tanya Nia kembali.


γ€€


"Iya, bantu bangunin Sakha ya. Mama takut dia tidur larut malam kemaren. Kristo pasti kesulitan membangunkannya ". Mama bisa membayangkan bagaimana hebohnya Kristo membangunkan anak lelakinya itu kalau dia sudau begadang semalaman.

__ADS_1


γ€€


"Siap Ma ". Jawab Nia sambil kembali ke lantai 2, masuk ke kamar Aisakha.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Nia sudah rapi, tinggal memakai sepatu kerjanya lagi. Dia tinggal turun kebawah dan sarapan bersama Mama kekasih hatinya. Tetapi sebelum itu, Nia melepaskan handphonenya dari alat pengecas yang terpasang di sudut meja, di tepi ranjang. Nia memilih satu nomor di layar handphonenya dan selanjutnya menekan gambar telepon berwarna hijau. Nia mendekatkan handphonenya ke arah telinga, mendengar nada panggil dari dalam teleponnya. Sayang, nada panggil berlalu. Nomor yang ditujunya tidak menerima panggilannya. Nia mencoba kali kedua, dan berakhir sama. Teleponnya tidak di angkat.


γ€€


Nia pantang menyerah. Gagal dengan 2 panggilan, dia mencari nomor lain. Begitu ketemu, cepat Nia menghubungi nomor baru tersebut. Tidak perlu waktu lama, panggilan telepon Nia di terima.


γ€€


"Selamat pagi nona ". Suara ramah Kristo menyapa Nia di ujung telepon. Tanpa Nia bisa melihat, Kristo sedang bejalan ke ujung ranjang Aisakha dan milih duduk di dekat kaki sang tuan. Sengaja.


γ€€


"Pagi Kristo ". Suara Nia tidak kalah ramah membalas sapaan Kristo padanya.


γ€€


"Apa kabar nona pagi ini ?" Kristo sengaja mengeraskan suaranya. Kristo merasa ada gerakan dari atas ranjang. Sekilas Kristo memandang Aisakha, sang tuan sedang mengeliat.


γ€€


Nia menjauhkan teleponnya dari telinganya.Β Ngapain coba pake sekeras itu gomongnya Kris ? Kamu pikir aku gak dengar apa ?


γ€€


"Saya baik ". Jawab Nia mendekatkan ujung bawah handphone ke arah bibirnya. Nia memilih menjauhkan telinganya dari handphonenya, jaga-jaga kalau Kristo akan mengeraskan suaranya lagi.


γ€€


"Apa nona ? Nona sudah mandi ? Sudah dandan cantik ?" Suara Kristo kembali terdengar keras. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. "Nona pasti sangat cantik sekarang ".


γ€€


Untung aku gak dekatkan ketelinga tadi. Kalau enggak bisa sakit kupingku. Lagian Kristo apaan coba maksudnya, gomongnya aneh, trus pake teriak lagi.


γ€€


"Kau sudah bosan hidup ya ". Suara teriakan Aisakha membuat Nia terkejut luar biasa. Hampir saja dia menjatuhkan handphonenya sendiri saking kagetnya.


γ€€


Apa yang terjadi ? Kenapa Mas berteriak sekeras itu.


γ€€


"Kris, Kristo. Ada apa ?" Nia mulai cemas sambil mendekatkan kembali handphonenya ketelinga kanan. "Kristooooo ?" Panggil Nia sekali lagi.


γ€€


"Kenapa panggil dia, kamu ada urusan apa dengannya ? Kamu itu, apa-apaan coba ? Pagi-pagi malah menelepon dia, apa hubunganmu sama lelaki jelek itu ? Kamu selingkuh sama dia, iya ? " Nia berencana menjawab. Tapi segera saja batal. Aisakha masih saja terus bertanya dengan marahnya di ujung telepon.


γ€€


Nia diam, dia terlihat sangat bingung.Β Mas ngigau ya ?


γ€€


"Jawab, apa sebegitu susahnya buat jawab ?" Sepertinya Aisakha memang sangat marah.


γ€€


Sementara Nia di ujung telepon malah mengaruk kepalanya sendiri. Dia terlalu bingung mau menjawab pertanyaan Aisakah yang mana.Β Pasti ngigau, emmmm...ngigau nih.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2