
Cafetaria Rumah Sakit
πππππ
γ
Nia sebenarnya sangat berat menerima tawaran Mama untuk bertemu dengannya. Bukan karena Nia sudah lupa pada janjinya, kalau suatu hari nanti dia dan Mama akan pergi keluar bersama, menghabiskan hari bersama. Tentu Nia masih bisa mengingat hal tersebut, tetapi meninggalkan bibi walaupun sesaat. Sejujurnya Nia sangat enggan.
γ
"Sudah, tidak apa-apa. Kan ada aku sama Mas Pandu". Alika membujuk Nia agar mau menemui sosok wanita yang baru saja di terima teleponnya oleh sepupunya itu.
γ
"Iya Nia, pergi aja". Pandu setuju pada pendapat isterinya. "Lagian kamu itu juga ketemu sama si ibu itukan gak jauh-jauh, cuma ke Cafetaria Rumah Sakit ini. Itu malah enggak keluar dari gedung iniloh".
γ
"Ah, ada-ada saja". Nia masih sedikit ragu.
γ
"Kamu itu sebenarnya kenapa sih males ketemu sama ibu itu?" Alika menganti gaya duduknya ke model serius. "Padahal tadi aku dengar, si ibu itu khawatir banget sama kamu".
γ
"Si Mas enggak suka kalau aku ketemua sama ibu ini". Jawab Nia pelan.
γ
"Loh, kenapa? Memang salah Ibu ini apa sama abang ipar?"
γ
"Menurut Mas, ibu ini punya niat terselubung bersikap baik sama aku. Karena itu dia melarang aku".
γ
"Niat terselubung gimana coba? Jangan buat kami bingung dong". Pandu terlihat sangat penasaran.
γ
"Aduhhh, kepalaku jadi pusing. Gimana ini?" Nia terlihat memandangi handphonenya. "Aku batalkan aja kali ya?"
γ
"Kalau sikap kamu kayak ginih, kami juga pusing Niaaaaa". Alika memasang wajah kesal pada Nia. "Cerita itu mbok ya sampe kenapa? Ini enggak".
γ
Kalau aku cerita versi lengkapnya nanti kalian malah ngetawaiin aku.
γ
"Jadi". Nia menyempatkan diri menatap kearah bibi sesaat. Melihat bibi yang sepertinya masih tertudur. "Menurut Mas Sakha, Ibu-ibu ini sengaja baik-baikin aku. Karena si ibu ini sebenarnya punya rencana mau menjodohkan aku dengan anak lelakinya". Nia menatap Alika dan Pandu bergantian.
γ
"Hohoho". Alika tertawa pelan sambil menutup mulutnya, sedang Pandu berusaha menahan tawa dengan memegangi perutnya. "Itu calon suamimu bahaya juga cemburuannya. Masa sama ibu-ibu renta tidak berdaya bisa securiga itu. Hohoho". Alika masih menutup mulutnya dengan tangan untuk meredam tawanya.
γ
"Kan benar dugaanku. Kalian pasti menertawakan aku, itu yang buat aku malas cerita". Nia mulai merajuk.
γ
"Ya maaf kali, orang refleks ya Mas". Alika menyembunyikan wajahnya ke punggung Pandu. Sepertinya dia belum puas menertawakan Nia.
γ
"Adik iparku itu tipe lelaki pencemburu tingkat dewa ternyata, kamu hati-hati Nia. Sama seorang ibu saja dia bisa seperti itu, kebayang kalau sama seorang lelaki? Iihhhhh, kok aku ngeri ya". Pandu berlagak gemetar karena takut.
__ADS_1
γ
"Sembarangan kamu Mas". Nia tidak terima dengan kata-kata Pandu barusan.
γ
"Nah, rasaain Mas. Nia marah lakinya di jadikan bahan becandaan. Hohoho". Alika terlihat senang sambil menepuk lengan suaminya.
γ
"Kalian berdua sama saja". Rajukan Nia semakin menjadi.
γ
"Maaf-maaf, kamikan cuma bercanda. Kamu langsung marah aja". Pandu sudah kembali duduk sempurna. "Nia, kalau menurut Mas temuilah Ibu tersebut, dia sepertinya tulus mengkhawatirkan kamu. toh adik ipar tidak ada di sini. Diakan masih bekerja". Pandu menatap serius pada Nia.
γ
***************
γ
"Tuan, kita langsung ke Rumah Sakit atau pulang dulu?" Kristo telah selesai merapikan semua file di meja kerja Aisakha. Karena waktu pulang telah tiba, Aisakha sengaja meminta Kristo merapikan semu file yang tadi tengah dipelajarinya.
γ
"Kita pulang saja dulu. Aku kepikiran Mama, sudah tiga hari tidak melihat Mama soalnya". Aiskaha memberi jawaban pada Kristo.
γ
"Baiklah kalau begitu tuan". Aisakha berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Kristo tepat di belakangnya.
γ
"Tentang Julia, Mama tidak perlu tahu". Aisakha berhenti dan berbalik badan meghadap Kristo.
γ
γ
γ
***************
γ
Mama sudah sangat rapi, dirinya terlihat cantik. Baju lengan panjang yang di padu-padan Mama dengan rok panjang hingga menyentuh mata kakinya membuat tampilan Mama sangat elegan. Wanita paruh baya ini memang sangat pandai memainkan warna baik di polesan wajahnya atau pun pada pilihan baju dan tas tangan yang dipakainya. Walau sudah masuk usia enam puluh tahun, kecantikan hakikinya tetap terpancar diantara guratan tuanya.
γ
Nia berjalan ke arah Mama, menyambut kedatangan si ibu yang dulu pernah di tolongnya saat ingin membeli hadiah untuk Alex keponakan tampannya pada sebuah Mall di kawasan Pantai Panjang. Seorang ibu paruh baya yang terlihat sangat kerepotan membawa trolli belanja dengan tangan kanan memegang dompet dan sebuah bungkusan. Siapa sangka, setelah menolong wanita yang meminta Nia memanggil dirinya dengan sebutan Mama itu, mereka pun menjadi akrab. Makan malam bersama sambil asyik bercerita. Bercerita berbagai hal yang membuat Nia merasa betapa senangnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu kembali.
γ
"Ma". Nia menyapa Mama. Mencium punggung tangan kanan wanita itu.
γ
"Kamu benar-benar membuat Mama cemas nak. Ayo sini peluk Mama dulu!" Mama menarik Nia dalam pelukannya.
γ
"Jadi bagaimana keadaan bibimu, Syania?" Mama langsung mengajukan pertanyaan setelah mereka duduk di salah satu pojok Cafetarian Rumah Sakit.
γ
Sejujurnya Mama sangat kepikiran setelah Nia menjelaskan tentang penyebab dirinya berada di Rumah Sakit, saat tadi dia sengaja menelepon Nia. Sebenarnya, di awal Mama berniat mengajak Nia pergi keluar, menagih janji Nia untuk pergi bersamanya. Karena itu Mama sengaja menelepon di sore hari, ingat kalau Nia adalah wanita yang bekerja. Maka, jam sore pasti Nia sudah pulang, sudah selesai dari rutinitas pekerjaannya. Begitulah rencana awal Mama. Tetapi siapa sangka, wanita cantik yang diam-diam telah mencuri kasih sayangnya ini malah menjawab kalau dirinya sedang di Rumah Sakit. Dan Mama pun langsung memberondong Nia dengan banyak pertanyaan saat mendengar kata Rumah Sakit di sebut oleh Nia.
γ
"Tuhan begitu baik Ma, sekarang Bibi sudah sadar. Organ vital bibi bekerja seperti seharusnya". Ada senyum penuh syukur saat Nia berbicara. "Menurut dokter masa kristis bibi sudah lewat, sekarang fokus pada penyembuhan saja".
__ADS_1
γ
"Syukurlah, syukurlah. Mama senang mendengarnya". Mama menepuk pelan punggung tangan Nia.
γ
"Kenapa kamu enggak bilang sama Mama? Mamakan bisa datang menemani kamu, nak".
γ
"Maaf Ma, saya gak mau merepotkan Mama". Nia melihat betapa tulusnya hati wanita paruh baya yang tengah duduk di depannya itu.Β Kenapa Mas tidak percaya kalau Mama ini orangnya baik, sangat tulus.
γ
"Jaga kesehatanmu Syania, jangan sampai kamu kenapa-napa nanti". Mama mengingatkan Nia. "Dan kenapa kamu terlihat sedikit pucat, apa kamu terlalu memikirkan kondisi bibimu nak? Atau ada hal lain yang menganggumu? Bilang Mama, cerita sama Mama!"
γ
Hahaha, sudah lama aku tidak merasakan seorang ibu mengkhawatirkan aku. Membuatku harus menjawab begitu banyak pertanyaan yang di balut kecemasan, khas seorang ibu yang ingin melindungi anaknya. Sebentuk senyum menghiasi sudut wajah Nia.
γ
Seorang pelayan wanita datang dan menghidangkan makanan yang telah di pesan Mama dan Nia sebelumnya.
γ
Eh, tapi kok ekspresi Mama barusan mirip sama ekspresi seseorang deh. Siapa ya? Rasanya aku akrab banget dengan tatapan khawatir seperti ini. Emm, siapa ya?
γ
"Apa yang kamu pikirkan nak?" Mama memanggil Nia. "Makanlah, kita cerita sambil makan ya!"
γ
"Eh, maaf Ma. Saya melamun. Tiba-tiba saya merasa Mama mirip dengan seseorang, tapi saya ragu". Jawab Nia jujur.
γ
"Benarkah? Mirip siapa coba?" Mama meneguk air mineral yang tadi khusus dimintanya.
γ
Siapa ya? Kok rasanya enggak asing. Aduhhhhh...siapanya?
γ
"Saya sedang mencoba mengingat-ingat Ma". Nia hanya menatap pempek kapal selam yang menjadi menu pilihannya telah terhidang di atas meja. "Mungkin, hanya perasaan saya saja Ma". Nia merasa tidak menemukan jawaban.
γ
"Sudahlah, itu tidak penting". Mama mengerakkan pelan tangan kanannya di depan Nia. Meminta Nia melupakan pertanyaannya barusan.
γ
"Sekarang ceritakan tentang harimu, sudah lama sekali rasanya sejak kamu menolong Mama di Mall waktu itu, apakah kamu akhirnya menemukan hadiah untuk seseorang yang kamu bilang sangat special dalam hidupmu itu, trus bagaimana pekerjaanmu?" Pelan, Mama mulai menyuapi nasi dengan lauk nila merah kuah tempoyak ke dalam mulutnya.
γ
Astaga....aku ingat. Ekspresi mata penuh kekhawatiran ini. Aku ingat, ya aku ingat mirip dengan siapa?
Cara mata ini memandangku sangat mirip denga cara matanya memandangku
Tapi...apa iya mirip?
Ah, memang sangat mirip, persis.
Kebetulankah?
Emmmm, pasti iya, pasti kebetulan. Iya...kebetulan saja.
γ
__ADS_1
γ