SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
64


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Papa memandangi Edo yang terlihat begitu yakin dengan kata-katanya, jelas terlihat oleh lelaki paruh baya ini bagaimana sang anak begitu membenci sosok wanita yang sebenarnya sangat di cintainya. Tidak di sangka, racun yang perlahan di tanam di dalam hati dan pikiran sang anak oleh isterinya sendiri, Ibu dari anak tunggalnya telah berhasil membuat hati nurani Edo mati. Jelas cinta tapi membenci, jelas sayang tapi menyakiti. Papa pun menarik nafas panjang, dirinya sedang berpikir.


 


Setelah sekian lama...kata-kata Sandara tetap di percaya oleh Edo. Tapi sayangnya, keinginan Edo untuk membenci Nia sama besarnya dengan keinginannya untuk mencintai gadia itu. Aku yakin jauh di dalam hatinya, Edo sebenarnya menyangsingkan kebenaran semua kata-kata Sandara.


 


Masih dengan menatap Edo yang sedang tertunduk diam,


Aku rasa inilah saatnya aku jujur menceritakan kebenaran 3 tahun silam. Masih belum terlambat, aku akan mengerahkan seluruh orang kepercayaanku untuk menemukan Nia. Yang penting sekarang Edo tahu dulu yang sebenarnya dan dia batal menikahi Kemala.


Papa mengangguk penuh keyakinan dengan apa yang telah di putuskannya.


 


"Sudah lebih tenang ?" Tanya Papa sambil merangkul Edo. Edo mengangkat kepalanya, menatap sang Papa dan mengangguk sekilas, tanpa bersuara.


 


"Kamu sudah besar nak, beberapa jam lagi akan segera menikah. Papa minta di antara waktu yang sempit ini, maukah kamu pikirkan sedikit lebih keras lagi tentang masa depanmu Do ! Pikirkanlah tentang kebahagiaanmu sendiri, apa yang hati kecilmu sebenarnya inginkan !" Edo hanya diam dengan semua permintaan sang Papa.


 


"Hidup hanya sekali Do, dan Papa berharap pernikahan di dalam hidupmu juga hanya sekali. Jadi menikahlah dengan orang yang memang pantas bersanding denganmu seumur hidupmu, menikahlah dengan wanita yang kau cintai nak !" Sekarang Edo memijat pelan keningnya. Mungkin dia sedang mencerna semua kata-kata sang Papa.


 


"Nia gadis baik dan Papa yakin kamu akan bahagia bersamanya ". Dan kalimat terakhir sang Papa sukses membuat Edo mengeleng kesal.


 


"Kenapa Papa selalu membela dia, padahal Papa tahu apa yang telah dilakukannya padaku ?" Akhirnya pertanyaan yang selalu menganjal di hatinya itu, tersampaikan juga oleh Edo. Rasa penasaran yang terkadang membuat dia heran, bagaimana bisa sang Papa masih mengharapkan seorang wanita yang begitu tidak punya hati, yang hanya mengejar hartanya dan tega meninggalkan dirinya di saat tidak berdaya, terus di bela dan di puja oleh sang Papa ? Aneh, itulah isi kepala Edo selama ini.


 


"Apa wanita penggila harta itu juga pernah merayu Papa ? Dia mengoda Papa ? Cih, memang wanita sial dia, tidak anak tidak Bapak, yang mana bisa menghasilkan uang, maka yang itu pun di godanya. Menjijikan ". Ekspresi kebencian terpancar di mata Edo.


 


"Sudah ?" Tanya Papa tetap bersikap tenang.


 


"Papa tidak habis pikir padamu Do. Sebegitu bencinya kamu pada Nia. Apa hati kecilmu sudah mati ? Sampai kamu bisa memikirkan begitu banyak hal-hal buruk tentang Nia. Sampai berpikir seorang Nia bisa merayu Papa, astaga Edo. Dari mana kamu bisa dapat pikiran sebodoh itu ?" Tanya Papa sambil melepaskan rangkulannya dari bahu Edo.


 


"Ya..ya..dari semua sikap Papa ini ". Jawab Edo sesukanya.


 


"Do..Papa rasa inilah saatnya kamu tahu kebenaran dari semua ini. Sudah cukup semua rasa bencimu itu, Papa tidak mau kamu tengelam dalam penyesalanmu seumur hidupmu nanti !" Suara pelan Papa, tetapi terdengar ada keyakinan di dalamnya.


 


"Do ", Edo tidak mengerti maksud sang Papa. Tetapi dirinya cukup menyimak semuanya. Edo menatap mata Papa dan menunggu sosok sang Papa melanjutkan kalimatnya.


 


Tetapi....


 


"Tuan..tuan...maaf, itu tuan ". Seorang pelayan wanita berlari tanpa permisi di dalam kamar Edo. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, suaranya terdengar ketakutan.


 


"Apa, kamu kenapa Tin ?" Papa berdiri dan mendekati Tini sang pelayan di rumah besarnya itu.


 


"Nyonya tuan, nyonya.....", jawab Tini masih tidak jelas.


 


"Kenapa nyonya ?" Tanya sang Papa sambil berjalan meninggalkan Edo yang sedang mencerna kata-kata si pelayan.


 


"Nyonya pingsan tuan ", jawab Tini cepat.


 


"Astaga, Sandaraaaaa ". Cepat Papa melebarkan langkah kakinya, berjalan keluar kamar Edo.


 

__ADS_1


"Bagaimana bisa ?" Tanya sang tuan penuh keheranan. "Jelas tadi baik-baik saja !"


 


"Saya juga tidak tahu tuan. Tadi nyonya masuk ke kamar tuan Edo, tapi hanya sebentar dan setelah keluar dari sana, tahu-tahunya nyonya sudah pucat dan tidak lama sudah tidak sadarkan diri saja ". Jelas Tini dengan versi singkat.


 


"Tunggu, apa katamu tadi ?" Mendadak sang tuan memberhentikan langkah Tini.


 


"Nyonya pingsan tuan ". Jawab Tini lugu.


 


"Iya..saya tahu. Maksud saya, nyonya tadi masuk kekamar Edo. Apa benar ?" Tanya Papa penasaran.


 


"Benar tuan, saat tuan sudah berhasil mendapatkan kunci cadangan kamar tuan Edo. Saat tuan sedang di dalam kamarnya tuan Edo, nyonya tidak lama masuk. Tapi setelah itu nyonya keluar dan....",


 


"Dan langsung pingsan ?" Tanya sang tuan cepat tanpa memberi kesempatan bagi Tini menyelesaikan kalimatnya.


 


"Iya...", jawab Tini di sertai anggukan kepala membenarkan ucapan sang majikan.


 


"Telepon dokter Marsa !" Perintah sang tuan sambil kembali mempercepat langkahnya.


 


 


*************


 


"Siapa sayang tamunya Mama ?" Tanya Nia penuh rasa penasaran saat kekasihnya memberitahukan padanya kalau sebentar lagi akan ada tamu sang Mama yang ingin bertemu dengannya.


 


"Sahabat Mama ". Jawab Aisakha singkat. Sambil terus menyisir rambut panjang Nia.


 


 


"Karena Mama ingin semua sahabat-sahabatnya tahu kalau sekarang Mama sudah punya seorang menantu ". Jawab Aisakha sambil memperhatikan hasil akhir pekerjaan pentingnya, menyisir rambut sang kekasih.


 


"Mama ada-ada saja ". Nia tersipu malu.


 


"Itu semua karena Mama merasa sangat senang bisa memiliki kamu sebagai menantunya. Mama sangat ingin memamerkan bidadariku ini pada seisi dunia ". Ucap Aisakha sambil mencium sekilas puncak kepala Nia.


 


"Sayang, kamu ini, jangan membuat aku malu ". Lengkap sudah, perasaan senang dan malu bercampur aduk di hati Nia sekarang.


 


"Mama sangat menyayangimu, Nia. Jadi biarkan saja Mama melakukan semua ini. Dia bahagia memberitahukan seisi dunia ini kalau kamu adalah menantunya ". Aisakha mengelus pipi Nia.


 


"Iya sayang ". Diam-diam di dalam hatinya, Nia merasa sangat senang. Begitu banyak ucapan syukur di haturkannya pada sang Pencipta. Atas kebahagiaan yang begitu sempurna di dalam hidupnya ini.


 


"Kalau begith ayo kita turun. Kita temui tamunya Mama ". Aisakha mengulurkan tangan kanannya, mengajak Nia berjalan di sampingnya.


 


 


***************


 


 


"Apa yang terjadi pada Mama dok ?" Edo sudah duduk di tepi ranjang besar di dalam kamar sang Mama. Sambil menatap iba pada sang Mama, Edo menyempatkan diri untuk bertanya.


 

__ADS_1


"Tekanan darah rendah dan kadar gula darahnya juga rendah. Mungkin Mamamu kelelahan Do untuk mempersiapkan acara sakralmu besok ". Ucap dokter Marsa sambil meletakkan tangannya di bahu Edo.


 


"Ah, kasihannya Mama ". Edo memegang tangan kanan Mama.


 


"Sudahlah, kamu jangan banyak pikiran. Kamu tenang saja ! Sebentar lagi Mamamu juga akan baik-baik saja, saya sudah memberikannya obat. Kamu jangan cemas ya !" Edo hanya mengaggukkan kepalanya atas penjelasan dokter Marsa barusan.


 


"Ren, bisa tolong bawa Edo ke kamarnya ! Sepertinya Edo perlu istirahat, aku akan memberikan satu suntikan untuk menaikan kadar gula darah Sandara dulu !" Pinta dokter Marsa pada Rendra, Papanya Edo. Sepertinya, dokter yang merupakan sahabat baik dari sang isteri ini sedang memberi kode padanya.


 


"Ya..baiklah ". Jawab Papa singkat sambil menuntun Edo keluar kamarnya.


 


"Sekarang bisa kau sudahi semua ini !" Suara kesal dokter Marsa terdengar tepat di saat semua orang sudah meninggalkan dirinya dan si pasiennya berdua saja.


 


"Aku terpaksa ". Entah bagaimana caranya Mama Sandara, Mamanya Edo ini mendadak terlihat baik-baik saja.


 


"Apa lagi alasanmu kali ini ?" Tanya dokter Marsa malas.


 


"Rendra, dia..dia hampir saja membocorkan semuanya pada Edo. Dia hampir saja jujur menceritakan semua pada Edo ". Sekarang raut wajah Mama Sandara terlihat cemas.


 


"Dan kau memakan pil itu ?" Tanya dokter Marsa kemudian.


 


"Maafkan aku Marsa, tapi aku tidak punya pilihan lain. Edo tidak boleh tahu semua kebenaran ini ! Edo harus menikah dengan Kemala !" Ucap Mama Sandara panik.


 


"Aku sebenarnya bingung padamu San, kau ingin anak semata wayangmu itu bahagia. Tapi kau malah menghancurkan kebahagiaannya ". Dokter Marsa terlihat mengemasi semua peralatan medisnya.


 


"Wanita itu tidak selevel dengan kami, dia mana bisa bersanding sama Edo. Miskin, yatim piatu dan hanya orang biasa. Ahhhhh, apa kau pikir aku bisa punya menantu yang tidak sederajat ?" Jelas ada nada penghinaan terdengar di telinga dokter Marsa saat sahabatnya itu menjelaskan penolakannya terhadap wanita yang dulu menjadi pengisi hati sang anak. "Kemala beribu-ribu kali lebih sederajat dari wanita miskin itu ".


 


"Jangan sampai kau kena batunya San. Cepat atau lambat semua kebenaran akan terungkap. Seharusnya kamu sadar !" Dokter Marsa sudah sampai ke depan pintu kamar.


 


"Dan satu lagi ! Jangan ulangi lagi meminum pil itu tanpa petujuk dokter. Atau kau mau ginjalmu bermasalah !" Sebuah nasehat yang diucapkan lantang oleh sang dokter saat bersiap membuka pintu kamar. Mama Sandara terdiam tanpa berani menjawab. Dia membiarkan sang dokter berlalu begitu saja dan meninggalkan dirinya yang sedang bersiap melanjutkan akting sakitnya.


 


 


***************


 


EPILOG.....


 


"Ada apa ini, kenapa heboh sekali ?" Tanya nyonya pemilik rumah pada Tini yang terlihat baru saja turun dari lantai 2 bersama seorang pelayan lekaki lainnya.


 


"Itu nyonya, tuan Edo. Sepertinya mengurung diri di kamar. Tuan besar jadi panik, terus suruh kami cari kunci cadangan ". Jelas Tini cepat.


 


"Ya Tuhan....", Tini melihat sang nyonya terlihat sangat khawatir dan dengan cepat meninggalkannya di ujung anak tangga sendiri.


 


Tapi dasar Tini si pelayan yang super kepo, bukannya melanjutkan pekerjaannya di belakang, dia malah ikut-ikutan menyusul sang nyonya balik ke lantai 2.


 


"Do..Papa rasa inilah saatnya kamu tahu kebenaran dari semua ini. Sudah cukup semua rasa bencimu itu, Papa tidak mau kamu tengelam dalam penyesalanmu seumur hidupmu nanti !" Tepat di saat majikan lelakinya mengucapkan kalimat tersebut, tepat di saat itu pula Tini melihat sang nyonya berjalan cepat kembali kekamarnya. Hingga tiba-tiba Tini mendengar bunyi benda terbuat dari kaca pecah. Entah bagaimana caranya, Tini mendapati sang nyonya besar rumah mewah tempat dirinya bekerja itu sudah tergeletak tidak sadarkan diri di atas ranjang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2