SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 80


__ADS_3

Telepon Dari Tomi


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Alika telah beralih ke dalam pelukan Pandu, Pandu tidak sampai hati, dia dapat melihat dengan jelas kalau Nia sudah kelelahan. Lelah lahir dan batin, sama seperti dirinya, sama seperti Alika istrinya. Akhirnya Pandu meminta Nia beristirahat, sejenak menenangkan diri dan dirinya beralih memeluk Alika. Dengan penuh cinta, Pandu memeluk istrinya itu, sambil membelai pelan punggung Alika demi memberi efek tenang dan rileks pada tubuh dan hati Alika.


 


Nia bergeser, hanya beberapa inci saja dari tempat duduknya di awal. Dari memeluk Alika menjadi duduk termenung sendiri, hanya melipat tangannya di depan dada sambil terus menatap kosong ke bawah. Entah apa yang dilihatnya, pandangannya hanya bertahan pada satu arah.


 


"Nia", Bowo mendekatinya, berusaha mengajaknya bicara. Sayang, yang di panggil hanya diam saja.


 


"Ya, Nia". Lagi Bowo mencoba memanggil Nia dan Nia hanya bertahan pada pandangan lurusnya ke bawah.


 


"Nia", Bowo sekarang menyentuh pelan bahu Nia. Membuat Nia tersadar dan kembali ke dunia nyata.


 


"Iya". Jawab Nia singkat sambil melihat ke arah Bowo. Sekilas dan kembali menatap lurus kedepan.


 


"Hape kamu bunyi". Ucap Bowo.


 


Dan akhirnya Nia kembali tersadar, balik ke dunia nyata dan segera mengeluarkan handphonennya. Tomi. Nia pun menerima panggilan masuk telepon dari Tomi, adik Alika, sepupunya.


 


"Hallo". Terdengar suara Tomi di ujung telepon. Suara yang di buat setenang mungkin oleh Tomi.


 


"Ya Tom, hallo". Jawab Nia pelan, tidak ingin membangunkan Alika. Nia baru sadar, ternyata saat ini Alika telah tertidur di dalam pelukan Pandu.


 


"Kak, masih di Rumah Sakit". Tanya Tomi pada Nia.

__ADS_1


 


"Iya Tom, kami masih di sini semua". Jawab Nia.


 


"Bagaimana kondisi Mama, Kak?" Tomi meminta penjelasan kondisi Ibunya pada Nia.


 


"Kurang baik Tom, dan sekarang masih di ruang operasi". Jelas Nia singkat.


 


"Aku baru bisa pulang besok\, pesawat ke Bengkulu tidak ada hari ini. Besok pagi aku berangkat naik B***k\, kalau tidak delay\, jam tujuh lewat aku sudah sampe bandara". Ucap Tomi muram.


 


"Iya, tidak apa-apa. Kamu jangan kawatir, besok Pakde yang akan jemput".


 


"Kak Alika gimana Kak?"


 


 


Tomi diam, tanpa suara. Nia heran, menjauhkan handphonenya dari telinga, melihat apakah panggilan dari Tomi telah terputus. Ternyata tidak, handphonenya masih menyala. Masih ada angka hitungan detik yang berjalan di layar handphonenya.


 


"Tom, Tomi". Nia berusaha memanggil Tomi, memastikan dia masih di sana.


 


"Hikss, hiksss, hiksssss". Hanya suara tangis yang terpecah yang kini hadir di telinga Nia.


 


Nia menarik nafas panjang, kembali harus mencoba kuat, perjuangan untuk tampil menjadi Syania yang tegar belum selesai. Masih ada Tomi di ujung telepon yang mulai menangis, suaranya mulai menghilang berganti isak tangis yang terdengar sangat jelas oleh Nia.


 


Lagi, Nia benar-benar memerlukan banyak oksigen saat ini. Agar rencananya untuk kuat bisa bertahan lebih lama lagi, harus bisa terwujud, sekarang ada Tomi yang sedang membutuhkan dirinya.


 

__ADS_1


"Jangan menangis, yang diperlukan Bibi bukan air mata, tetapi doa kita semua. Doa darimu". Nia mencoba menyemangati Tomi.


 


"Kak, kak..hikss, hiksss, hikssss". Suara Tomi hilang dalam isak tangisnya.


 


"Berdoalah Tomi, itu yang terbaik bagi Bibi".


 


"Aku, hiksss, aku belum membahagiakan Mama.hikssssssss". Tangis Tomi pecah, suara isak tangisnya semakin keras. Pertahanan dirinya telah goyang. Sikap tenang sewaktu awal menelepon telah berganti kesedihan yang mendalam.


 


"Sabar, bersabarlah. Aku, kamu, Alika, kita sama-sama belum membahagiakan Bibi sebaik yang kita bisa. Karena itu berdoalah, kita sama-sama minta pada Tuhan untuk membuat Bibi sehat kembali, kita harus yakinkan Tuhan agar mengembalikan Bibi pada kita, pada kita semua". Begitu banyak kata-kata penyemangat yang dilontarkan Nia pada Tomi.


 


"Hiksss, aku..aku takut Kak, hiksss. Aku sangat takut. Kalian semua di sana se, sedang aku. Hikssss, Kak". Kembali suara tangis yang mengiba hati membuat perasaan Nia tersayat.


 


"Yakinlah, semua akan baik-baik saja. Besok pagi kamu sudah sampe di sini. Pakde akan menjemputmu, dan saat kamu sampai di sini. Bibi sudah sehat, percayalah". Nia masih mencoba menghibur Tomi. Padahal jauh di dalam hatinya dia bersedih, hatinya sangat takut. Takut akan semua kata-kata indah yang disampaikannya pada Tomi tidak akan pernah terwujud.


 


"Hikss, hiksss, hikssssss". Suara tangis Tomi masih sangat jelas di telinga Nia. "Maafkan aku, maafkan aku, Kak".


 


"Percayalah padaku, besok Bibi pasti sudah pulih". Jawab Nia mengalihkan rasa bersalah Tomi yang tidak ada di dekat Bibi pada saat ini.


 


"Kak, aku..aku..aku tidak mau kehilangan Mama. Tidak Kak, Kak..Kak Nia. Kak, Kakak, jangan Kak. Jangan Mama, hikssssssss". Suara histeris Tomi di sela suara tangisnya.


 


Nia merasakan betapa pedih hatinya saat ini, Nia menahan tangisnya, meremas kuat baju di bagian dadanya. Seakan-akan nia sedang meremas hatinya agar bisa mengurangi rasa pedih yang tidak juga mau pergi.


 


Pandu melihat Nia, rasa bersalahnya semakin bertambah. Rasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa sang Ibu mertua. Dipandanginya wajah Alika yang tertidur di dalam pelukkannya, wajah pucat dengan garis-garis panjang bekas tangisnya yang telah mengering. Maafkan aku sayang, akulah penyebab semua ini. Andai, andai saja aku pulang untuk makan siang seperti biasanya. Pasti Mama tidak akan di tabrak, pasti semua ini tidak akan terjadi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2