SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
65


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Tuan... ". Sapa sang pelayan wanita penuh hormat saat melihat Aisakha dan Nia berjalan keluar dari kamar Nia.


γ€€


"Ya..kanapa Lita ?" Tanya Aisakha pada pelayan yang kesehariannya sengaja dipersiapkannya untuk melayani calon isterinya itu.


γ€€


"Tuan dan nona sudah di tunggu di teras belakang. Tamu nyonya sudah datang !" Jelas si pelayan wanita itu sambil menunduk hormat.


γ€€


"Baiklah..kami akan segera ke sana ". Jawab Aisaka singakat.


γ€€


"Apa yang harus aku lakukan sayang ?" Tanya Nia yang sedang mengandeng lengan Aisakha sambil menuruni anak tangga.


γ€€


"Cukup duduk dan ikuti obrolan mereka. Sisanya biarkan Mama menyanjungmu di depan sahabatnya itu ". Ucap Aisakha sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan sang kekasih.


γ€€


"Semoga aku tidak membuat malu Mama ". Guman Nia pelan pada diri sendiri.


γ€€


"Calon isteriku adalah wanita terbaik di dunia ini, jadi mana mungkin dia akan membuat malu. Yang ada dia malah akan membuat iri seluruh para mertua wanita di dunia ini, karena gagal mendapatkannya buat dijadikan menantu mereka ". Aisakha berusaha menghilangkan rasa cemas di hati Nia.


γ€€


"Terima kasih sayang. Kamu selalu saja bisa membuat aku bahagia hanya dengan ucapan-ucapanmu itu. Ah, aku sangat mencintaimu sayang ". Ucap Nia bahagia sambil bergelayut manja di lengan Aisakha.


γ€€


"Itu adalah tugasku yang mulia nyonya Aisakha ". Nia terlihat tertawa pelan saat mendengar gaya bicara kekasihnya itu. Jelas sekali aura bahagia terpancar di wajahnya. "Dan satu lagi, akupun sangat mencintaimu calon isteriku".


γ€€


"Nah itu dia anak dan menantukuΒ  ". Mama langsung melihat ke arah pintu menuju teras belakang saat mendengar tawa pelan sang menantu kesayangannya itu.


γ€€


"Oh ya...?" Suara antusia seorang wanita yang mungkin seusia dengan sang Mama terdengar jelas di telinga Aisakha.

__ADS_1


γ€€


Dengan penampilan gagahnya, Aisakha terus mengandeng Nia mendekat ke arah gazebo yang di pakai oleh sang Mama sebagai tempat menyambut tamunya itu. Sang Mama tersenyum senang melihat Aisakha yang semakin dekat ke arahnya.


γ€€


"Aku semakin penasaran saja Nata ". Ucap sahabat Mama saat melihat wajah sahabatnya itu begitu senang. Kebetulan sahabat Mama ini dan suaminya duduk membelakangi pintu menuju teras belakang, jadi dia tidak melihat sosok lelaki dan wanita yang sedang berjalan ke arah mereka.


γ€€


"Sebentar, itu mereka sudah belakangmu ". Terlihat Mama sedang mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Nia dan sang putera tercinta.


γ€€


Sementara itu....


γ€€


"Bagaimana bisa ?" Tanya Toni heran pada handphone yang melekat di telinganya.


γ€€


"Aku juga gak tahu Ton, Papa ada aku lagi membahas sesuatu di kamarku. Tiba-tiba ada pelayan bilang kalau Mama pingsan ". Jelas Edo di ujung telepon pada Toni.


γ€€


"Tenanglah. Aku akan temui kamu sebentar lagi, sekarang aku sedang sama Mama dan Papa, kami sedang di rumah tuan Aisakha ". Sekilas Toni melihat ada sepasang lelaki dan wanita sedang berjalan mendekat ke arah gazebo tempat kedua orang tuanya dan tante Nata berada.


γ€€


γ€€


"Sudahlah Do, sekarang pikirkan saja kondisi Mamamu. Itu lebih penting !" Terdengar nada suara malas di suarakan oleh Toni.


γ€€


"Sudah ya..selesai dari sini aku langsung ke rumahmu ". Dan Edo hanya bisa mengiyakan saja kata-kata Toni padanya. Andai saja Toni bisa melihat langsung ekspresi wajah Edo saat ini. Pasti Toni akan tahu betapa kecewanya Edo atas kegagalannya untuk memanfaatkan moment kunjungan keluarga Toni demi memuluskan niatnya demi bisa kenal sang milyader yang sudah lama diimpikannya itu agar bisa bekerja sama.


γ€€


Selesai menutup teleponnya, Toni yang berdiri beberapa meter dari gazebo teras belakang istana megah Aisakha itu pun, kembali mendekat ke arah kedua orang tuanya. Toni berjalan persis di belakang Nia dan Aisakha.


γ€€


"Ehh, Toni udah selesai teleponnya ?" Tanya calon Mama mertua Nia saat melihat Toni mengekor di belakang bahu anak lelakinya.


γ€€


Toni ?

__ADS_1


Mendadak langkah Nia terasa berat.


γ€€


Dari sejuta nama, kenapa aku malah merasa akrab dengan nama itu ?


Nia mulai merasa ada yang salah dengan lututnya yang sekarang terasa sangat sulit di bawa berjalan.


γ€€


Apakah ini hanya perasaanku saja ?


Sejujurnya Nia sangat ingin mengerakkan lehernya, dia ingin menoleh kebelakang untuk melihat sosok yang di sapa Mama mertunya tadi dengan nama Toni.


γ€€


"Sudah tante. Hehehe, maaf ya tan. Temanku menelepon, mengabarkan kalau Mamanya mendadak sakit ". Toni menjawab pertanyaan Mama Aisakha lengkap dengan cekikikan pelannya.


γ€€


"Semoga saja Mama temanmu itu baik-baik saja ". Mama terlihat berdiri menyambut tangan Nia yang sudah sangat dekat dengannya.


γ€€


Tetapi entah kenapa, mendadak Nia malah menghentikan langkahnya. Aisakha yang mengandeng Nia pun menjadi heran saat mendapati tangan kekasihnya itu terasa dingin di lengannya.


γ€€


Itu memang suara Toni.


Hati Nia menyakini dugaannya di awal tadi.


γ€€


Aku harus bagaimana ? Setelah 3 tahun, kenapa bisa ada Toni di rumah Mas ? Aku harus apa, apakah aku sekarang akan baik-baik saja ?


γ€€


Aisakha melihat ada sorot kegelisahan di mata Nia.


γ€€


"Ada apa Nia ?" Tanya Aisakha lembut dan penuh kasih. Meskipun di dalam hatinya Aisakha mulai sedikit ragu, pikirannya melayang mencari simpanan rekaman memori di kepalanya saat mendengar sang Mama menyebut kata Toni.


γ€€


Tetapi, suara lembut Aisakha terasa bagai sengatan aliran listrik di telinga Toni dan kedua orang tuanya, saat mereka mendengar sebuah nama yang bagai telah hilang dari dunia ini begitu lamanya.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2