
πππππ
γ
Toni mempercepat langkahnya, berusaha sebisa mungkin ingin berada di depan pasangan anak dan menantu tante Nata. Sedang Papa dan Mamanya Toni, kompak berdiri bersama dan membalikkan badan, mereka berusaha saling adu cepat untuk mencari jawaban atas sebuah nama yang rasanya sangat tidak mungkin masih ada di dunia ini.
γ
"Ti, tidak mungkin !" Suara kaget plus ragu keluar juga dari mulut Toni saat matanya membesar dan sangat tidak percaya dengan sosok wanita cantik yang di gandeng oleh milyader kaya dan tampan itu. Jelas dia mengenali sosok wanita itu, tetapi mendapati sosok tersebut sangat cantik bahkan jauh lebih cantik dari ingatan terakhir di dalam kepalanya ? Toni hanya bisa mengangga tidak percaya.
γ
"Nia.....Syania ?" Akhirnya Toni bisa mengucapkan nama dari wanita cantik yang sekarang sedang tertunduk di lengan Aisakha.
γ
"I, iya Pa..itu Nia !" Keterkejutan dan rasa tidak percaya juga di ungkapkan oleh Mama Miranda pada suaminya. Tetapi orang yang di ajak bicara malah diam, memandang Nia dengan raut wajah bingung bercampur kagum.
γ
"Nia...",Β Toni mengapai tangan kiri Nia.
γ
"Kau...lepaskan tangamu dari tangan calon isteriku !" Bentakan keras Aisakha membuat sang Mama maju kedepan. Entah apa isi kepala wanita yang sangat menyayangi Nia ini. Tetapi, yang jelas ekspresi Mama sedang memancarkan kemarahan.
γ
"Toni...saya tidak perduli kamu adalah anak sahabat saya. Karena saya tidak akan segan-segan menyuruh orang untuk mengajarimu sopan santun !" Ucap Mama sambil mengerakkan jari telunjuknya di depan Toni. "Kamu yang memilih meninggalkan Nia, sekarang ngapain kamu pegang-pegang tangan menantu saya ?" Mama berkacak pinggang marah.
γ
"Dan kamu Miranda, Ibu macam apa kamu ini ? Mulutmu kejam sekali sudah menghina dan mengusir Nia. Kamu itu seorang Ibu, dimana hati nuranimu sampai tega menyakiti hati gadis sebaik Nia ? Kalau kamu memang tidak ingin anakmu bersama Nia, ya sudah jauhkan saja anakmu itu !" Tunjuk Mama pada Toni. "Bukan malah membuat hati Nia hancur !" Lanjut Mama masih dengan nada marah.
γ
"Loh, loh...Nata. apa maksud kamu ?" Tanya Mama Miranda bingung sambil menatap wajah sang suami yang juga terlihat tidak kalah bingung, mendengar isterinya menjadi sasaran kemarahan Winata, Mamanya Aisakha.
γ
Sedang Aisakha, meskipun tahu kalau sang Mama sedang salah paham terhadap keluarga Toni. Tetapi dia memilih membiarkan saja, setidaknya kemarahan sang Mama ini bisa menjadi bayangan bagi Toni, kalau-kalau dia akan menceritakan tentang Nia pada Edo. Maka bersiaplah, tidak hanya seorang Aisakha bahkan Mamanya pun akan dengan senang hati membalas sakit Nia dari masa lalunya.
γ
"Tante..ini salah paham ". Toni menatap wajah Mama Aisakha penuh iba.
γ
"Salah paham katamu ? Oooo, setelah melihat Nia baik-baik saja dan hidup bahagia. Sekarang berani bilang salah paham ? Dasar lelaki bodoh, dulu Nia di usir Mamamu kamu hanya diam. Sekarang baru bilang salah paham. Kurang ajar sekali kamu ". Mama masih setia menunjuk-nunjuk kepada Toni saat meluapkan emosinya yang salah tempat itu.
γ
Nia tertunduk lama, entah bagaimana caranya dia sedang mengurai kisah pahit di kehidupan lalu. Berbagai duka mendadak muncul kepermukaan, memaksanya harus ingat seperti apa sakitnya tidak dianggap dan di usir begitu saja oleh keluarga sang kekasih yang sangat dicintainya.
γ
Β Hingga akhirnya, Nia menemukan wajah tampan yang selalu membuat dirinya bahagia. Ada sosok Aisakha yang selalu menjaganya, melindunginya dan melimpahkannya dengan cinta. Perlahan Nia menarik nafas panjang, membiarkan sebanyak mungkin udara segar memenuhi paru-parunya. Jauh dari dugaannya, Nia bisa dengan mudah kembali ke dunia nyata. Tersadar dengan cepat dalam realita yang sebenarnya. Ternyata cinta Aisakha telah mengobati luka parah di kisah hidup lamanya. Semua telah berlalu, Nia yakin dengan masa depannya.
γ
"Mas, sayang ". Ucap Nia sedikit bergetar.
__ADS_1
γ
"Iya, Masmu di sini ". Aisakha segera memeluk Nia.
γ
"Toni, Toni tidak bersalah ". Suara pelan Nia membuat Mama memandangnya tidak percaya, sedang Aisakha. Dia memilih menganggukan kepalanya pelan.
γ
"Ma, tolong bawa mereka ke dalam. Kita semua perlu bicara !" Aisakha pun menuntun Nia masuk ke dalama rumah megahnya menuju ruang tengah.
γ
γ
***************
γ
"Selamat, anda sudah bebas sekarang ". Seorang lelaki dengan kemeja kuning muda menyalami Bagas tepat di depan pintu luar Kantor Polisi di Kota Bengkulu.
γ
"Jaga sikap anda, jangan cari masalah ! Anda bebas bersyarat, jadi tolong hargai itu !" Suara tegas si lelaki berkemeja kuning ini di sambut Bagas dengan seulas senyum.
"Dua hari sekali jangan lupa untuk melapor dan satu lagi, jangan pernah meninggalkan Kota ini sampai sisa hukuman anda selesai !"
γ
"Terima kasih sudah membantu saya ". Bagas mengulurkan tangannya sebagai wujud hormatnya pada lelaki berkemeja kuning itu, lelaki tua yang tidak lain adalah ketua tim pengacaranya yang pagi ini sengaja datang menjemput Bagas, setelah bagai mendapatkan jaminan untuk bebas bersyarat.
γ
γ
***************
γ
"Sampai kapan kamu mau bersandiwara seperti ini ?" Tanya Papa Rendra, Papanya Edo pada isterinya tepat di saat dirinya sudah masuk kembali ke dalam kamar tidur mereka. Tempat sang isteri sedang berpura-pura sakit seperti biasanya.
γ
"Papa, Papa jangan memandangku seperti itu !" Bukan menjawab pertanyaan sang suami. Mama Sandara, Mamanya Edo ini malah terlihat serius menatap mata sang suami.
"Apa-apaan Papa ini, Papa nyaris saja membongkar semuanya ".
γ
"Lantas kenapa, ha ?" Tanya sang suami penuh emosi. "Apa hati nuranimu sebagai Ibu sudah buta ? Lihat, lihat anakmu itu. Dia sangat menderita SandaraΒ ! Apa kau gila akan membiarkan dia terus hidup dalam kebencian yang salah ?"
γ
"Aku Ibunya, aku tahu yang terbaik untuk dia. Lagi pula aku melakukan semua ini demi kebahagiaannya ". Jawab sang isteri ponggah.
γ
"Ya..Tuhan ". Papa Rendra mengusap kasar wajahnya. "Kebahagiaan kau bilang ? Astaga Sandara. Edo begitu menderita, dalam 3 tahun ini dia selalu menderita dan, dan kau bilang itu bahagia ? Sebaiknya aku membawamu ke psikiater, aku rasa ada yang salah dengan otakmu itu ". Suara kemarahan yang begitu dingin sontak membuat sang isteri semakin kesal.
γ
__ADS_1
"Lihat, lihat apa yang telah dilakukan wanita pembawa sial itu, setelah 3 tahun lamanya dia masih bisa membawa kesialannya pada kita. Kita selalu saja ribut hanya dengan membahas tentang dia. Memang sangat berbahaya dia dalam hidup kita ". Ucap sang isteri begitu yakinnya.
γ
"Sudah cukup !" Bentakan keras dari sang suami membuat Mama Sandara mengeleng tidak percaya.
γ
"Mulai hari ini, aku tidak akan tidur satu kamar dengan wanita kejam seperti kamu. Kamu itu Ibu anakku, tapi kamu justru menjadi orang pertama yang menghancurkan kebahagiaan anakku. Kamu benar-benar sudah gila dengan semua harta dan kedudukan Sandara. Sampai kamu tega mengorbankan kebahagiaan dan masa depan anak semata wayang kita ". Ucap Papa penuh kebencian pada isterinya sendiri. Dengan langkah pasti, Papa membanting keras pintu kamar mereka, melangkah pergi meninggalkan sang isteri yang hanya diam tidak mau terima semua kata-kata marah sang suami padanya. Hingga detik itu, Mama Sandara tetap merasa sebagai orang paling benar di dunia ini.
γ
***************
γ
"Duduklah semua !" Suara Aisakha yang penuh perintah ini di aminkan oleh keluarga Toni. Termasuk Toni sendiri.
γ
Aisakha bersama Nia dan sang Mama duduk berjajar di sofa besar
Β Mereka memposisikan Nia di tengah, mereka ingin melindungi Nia.
γ
"Apa yang ingin kau sampaikan ?" Tanya Aisakha tegas pada Toni. "Bicaralah !"
γ
"Nia, apa kabar ? Aku, kita...sudah lama tidak bertemu ". Toni memulai bersuara dengan sedikit ragu.
γ
"Nia, maafkan aku atas semuanya. Maafkan aku karena waktu itu tidak membelamu ". Toni terdengar sangat menyesal.
γ
"Tapi nak, Nia..Toni sudah mencarimu kemana-mana. Kami semua tahu bagaimana usaha Toni untuk menemukanmu. Kami juga merasa bersalah atas perlakuan Sandara padamu. Kami sudah anggap kamu seperti anak sendiri, persahabatan kalian sangat baik. Tolong, maafkan Toni ya !" Terdengar Mamanya Toni ikut serta bersuara.
γ
"Terima kasih ya Ma...dan maaf aku sudah merepotkan kalian ". Ucap Nia tulus.
γ
"Dan kamu Ton, terima kasih atas semuanya. Semua bukan salahmu, semua sudah menjadi garis tanganku. Aku tidak pernah menyalahkan kamu Ton ". Sebentuk senyum tulus menghiasi sudut wajah Nia.
γ
"Sekarang aku sudah sangat bahagia, aku punya calon suami dan Mama mertua yang menyayangiku ". Nia menatap Aisakha dan sang Mama mertua bergantian. "Masa kelam itu sudah berlalu, sekarang aku hidup di masa depan dengan calon pendampingku ". Ucap Nia sungguh-sungguh di sertai hembusan nafas kelegaan yang terdengar dari hidung mancungnya.
γ
"Syukurlah..syukurlah...kami ikut bahagia melihat kamu yang sekarang Nia. Kamu, kamu memang layak ada di keluarga ini Nia ". Terdengar suara haru dari setiap untaian kata yang diucapkan Mama miranda. Tanpa terasa air mata bahagianya juga ikut jatuh saat sekali lagi menatap sosok seorang Nia setelah 3 tahun berlalu.
γ
"Tunggu, tunggu...! Apa artinya ini ?" Sepertinya calon mertua Nia merupakan satu-satunya orang yang masih belum mengerti dengan jalan cerita sebenarnya dari suasana yang mendadak berubah haru itu.
γ
__ADS_1
γ