
Pertemuan
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Bisa nggak lebih ngebut lagi?" Aisakha terdengar sangat tidak sabar. "Biar saya aja deh yang bawa. Kamu lamban". Sekarang malah Kristo yang disalahkan.
 
Sabar, sabarrrrrr....
"Ini sudah diangka seratus tuan". Kristo mencoba memberitahu Aisakha laju kecepatan mobil yang tengah dibawanya.
 
"Heh, lamban". Aisakha tetap tidak percaya.
 
Memang ada kejadian apa? Perasaan laporan terakhir semua baik-baik saja.
 
"Siapa yang kau tugaskan mengawal di sana?"
 
"Di Rumah Sakit maksud tuan?" Kristo merasa kurang paham.
 
"Memang di mana lagi? Dikamarmu?" Aisakha langsung marah.
 
Apa yang sudah terjadi? Kenapa tuan dari tadi marah-marah?
 
"Tiga orang tuan, pengawal yang bisa dipercaya". Cepat Kristo menjawab.
 
"Bisa dipercaya? Bodoh...diperdaya malah yang ada". Bentak Aisakha pada Kristo.
 
"Maafkan saya tuan. Saya kurang teliti". Di lawan juga percuma, orang sedang emosi. Pasti tambah marah. Minta maaf sajalah. Aku juga enggak ngerti ada apa sebenarnya.
 
"Kau ini......", Aisakha terlihat melipat kedua tangannya di depan dada, kesal.
 
"Sebentar lagi sampai tuan. Kurang sepuluh menit lagi". Kristo berusaha menyakinkan sang tuan.
 
 
***************
 
"Habislah kita". Pandu menatap bingung pada layar handphone Nia yang telah berganti ke warna hitam gelap. Wajah Pandu terlihat cemas.
 
"Marah dia Mas?" Alika mengoncang lengan Pandu.
 
__ADS_1
"Banget, kayak mau makan orang saja". Pandu mencoba menterjemahkan arti kemarahan Aisakha di ujung telepon tadi. Yah, sedikit berlebihan sih. Tapi mau gimana lagi, jelas Pandu memang terlihat ketakutan saat ini.
 
"Aduh Mas, gimana sama Nia?" Alika mulai ikutan cemas. "Jelas-jelas tadi hatinya sudah berat waktu mau menemui si ibu itu. Ehhh, kita malah membujuknya supaya yakin". Alika mengeleng tidak percaya. "Sekarang lihat apa akibatnya".
 
"Aku juga bingung. Kenapa malah seperti ini jadinya. Ini gawat Ma, kita harus bilang ke Nia. Minta dia cepat-cepat telepon tuan Aisakha. Nia harus jelaskan semua, aku takut nanti tuan Aisakha malah ngamuk".
 
"Ya udah, Mas cari Nia ke cafetaria. Aku di sini jaga Mama". Alika memberi sebuah solusi pada Pandu.
 
"Wahhhh...gak setuju". Pandu langsung menolak. "Itu bukan ide bagus. Jadi gini isteriku yang cantik jelita, kamu pergi cari Nia di cafetaria dan aku di sini jaga Mama".
 
"Enggak bisa gituh dong". Alika menolak keras.
 
"Ehhh, bisa". Pandu langsung memotong kata-kata Alika.
 
"Mana bisa Massssssss". Tanpa Alika sengaja suaranya sedikit tinggi. "Jelas-jelas yang menyemangati Nia agar menemui si Ibu itukan Mas. Mas yang bilang tadi, temui saja Nia toh adik ipar enggak di sini masih di kantor". Alika mengulang kalimat Pandu. "Jadi yaaaaa, Maslah yang harus tanggung jawab. Mas yang cari Nia". Alika mulai mendorong Pandu keluar.
 
"Heh..kamu ini main dorong-dorong suami. Dosa tahu". Pandu menepis tangan Alika. "Lagian jangan berisik napa, nanti Mama malah bangun". Pandu menunjuk kearah Bibi Ros yang masih tertidur pulas.
 
 
***************
 
 
Sabar...sabarrrrr...
"Maaf tuan". Kristo mempersilahkan Aisakha turun.
 
Langkah kaki Aisakha sangat panjang, terlihat jelas dia berjalan begitu cepat. Kristo pun setengah berlari berusaha mengimbangi langkah sang tuan.
 
Aisakha memperhatikan sekeliling ruangan cafetaria Rumah Sakit. Suasana sepi, hanya dengan sekali lirik saja sangat gampang baginya menemukan keberadaan Nia.
 
***************
 
"Ma". Nia masih berusaha menyakinkan dirinya. Semua penuturan Mama barusan sangat tidak bisa dipercayainya. Pelan Nia berusaha melepaskan tangan Mama yang sedari tadi memegang tangannya.
 
"Nia, Mama tahu kamu ragu karena belum pernah ketemu sama anak Mama". Mama melihat Nia sudah menjauhkan tangannya dan menyembunyikannya keatas pangkuan. "Tapi percaya sama Mama nak, Nia yakin sama Mama. Mama sebagai orang tua pasti memberikan yang terbaik untuk Nia". Mama masih bertahan untuk membujuk Nia. Sepertinya Mama pantang menyerah.
 
"Maafin aku Ma". Nia menunduk. "Aku tidak bisa memenuhi permintaan Mama".
 
__ADS_1
"Nia...Nia...pikirkan lagi". Mama mencoba memelas pada Nia. "Atau, begini aja. Ini, ini foto anak Mama. Coba kamu lihat. Dia tampan Nia sangat serasi sama kamu". Mama meletakkan handphonenya di atas meja. Nia tidak mengubris keinginan Mama, tidak sedikitpun hatinya tertarik untuk melihat kearah gambar yang terpampang di sana.
 
Susah banget sih mempengaruhi nih anak.
"Mama telepon anak Mama supaya datang ke sini. Kalian ketemuan, ngobrol-ngobrollah dulu. Yaaaaaaa". Mama mengganti strateginya.
 
"Ma...", Nia menatap wajah Mama. "Nia mencintai kekasih Nia. Dia baik Ma, dia sangat sayang sama Nia. Dia memperlakukan Nia bagai dewi dihidupnya. Ma, dia melimpahkan Nia cinta tulusnya". Suara Nia mulai bergetar. "Andai Mama bertemu dia, Mama pasti akan suka sama dia".
 
Mama memijat pelan keningnya, terlihat Mama sangat kecewa.
 
"Maafin Nia Ma, Nia tidak bisa memenuhi permintaan Mama". Nia tertunduk benar-benar merasa bersalah.
 
"Sayang, di sini kamu rupanya". Aisakha sudah berdiri dihadapan Nia memegang tangan Nia dan memintanya berdiri. Mengacuhkan wanita paruh baya yang jelas-jelas sedang mengucek mata tidak percaya saat melihat sosok Aisakha berdiri didepannya.
 
Eh.....?
Enggak mimpikan ? Mama masih sibuk mengucek mata.
 
Ga-gawat...kapan datangnya? Kok sudah muncul saja di sini. Habislah aku, Mas pasti marah. Nia.
 
Cepat Nia berdiri dan membiarkan Aisakha memeluknya.
 
"Kok nggak di kamar jaga Bibi, kenapa malah di sini?" Suara Aisakha di buat selembut mungkin, tetapi bagi Nia terdengar sangat menusuk.
 
"Itu Mas". Nia ngelagapan sendiri.
 
Aisakha memeluk Nia erat, meletakkan kepalanya di bahu Nia dan berbisik pelan. "Kamu keras kepala ya, sudah aku larang tapi masih juga ketemuan".
 
Deg.......
Nia langsung pucat.
 
"Heh anak muda?" Suara Mama tiba-tiba meninggi. Sepertinya Mama cukup kesal karena diacuhkan bahkan diberikan adegan pelukkan segala di depan matanya.
 
Bagaimana bisa ? Aisakha.
 
Kebetulan yang sangat mirip banget. Kristo merasa kenal dengan suara barusan, hingga akhirnya merasa ragu sendiri.
 
Jangan ribut di sini, plissss. Nia.
 
__ADS_1