SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
75


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


"Selamat pagi dunia ". Suara riang Nia saat mata cokelatnya terbuka. "Pagi yang indah, pagi dimana aku akan bertemu Ayah dan Ibu, juga nenek ". Suara Nia terdengar sangat bersemangat. "Ayah, Ibu, nenek, aku akan datang mengunjungi kalian bersama lelaki spesial dalam hidupku ".


 


Bergegas Nia memasuki kamar mandinya, padahal jarum jam pagi ini belum menunjukkan angka 6 pagi, tetapi gadis cantik berambut panjang ini ternyata sangat bersemangat hingga hawa dingin pagi ini sukses tidak terasa sama sekali saat membasahi kulit kuning langsatnya.


 


Sementara itu...


 


"Sakiittt....", suara rintihan pelan yang terdengar memang sangat kesakitan itu membuat Edo membuka matanya lebar. Sejujurnya dia masih mengantuk dan suara yang di dengarnya barusan terasa sangat menganggu.


 


"Ribut ". Bentak Edo kesal pada sumber suara.


 


"Maaf, tapi aku sangat sakit ". Sontak Edo terkaget-kaget mendapat jawaban dari suara wanita yang terasa asing di telinganya.


 


Cepat Edo mendudukkan badannya, hingga terlalu cepat dan membuat selimut penutup dada dirinya dan si wanita yang terbaring di ranjang besarnya itu tersingkap.


 


"Astaga ". Suara heran Edo melihat ke arah tubuh polos bagian atas si wanita yang nampak banyak memar dan bekas gigitan.


 


Edo memilih menutup matanya, Mimpi...ini hanya mimpin.


Harap Edo sepenuh jiwa di dalam hatinya.


 


Pelan Edo mengatur nafasnya dan mencoba membuka matanya perlahan. Bukan memandang ke sisi ranjangnya, Edo malah memilih melihat ke sembarang tempat.


 


Ba, baju siapa itu yang robek berserakan? Itu jelas bukan bajukukan ? Jadi, jadi benar ada sosok wanita yang sedang berada di atas ranjangku, tapi siapa ?


Jantung Edo terdengar berdegub kencang, kepalanya sedikit berdenyut.


 


Sial, apa aku membawa wanita penghibur pulang semalam ? Ahhh, kenapa juga pake mabuk segala, aku jadi sulit mengingat semuanya.


Edo mengusap kasar wajahnya.


 


"Bisa tolong aku, aku ingin ke kamar mandi ?" Suara pelan yang terdengar ragu di telinga Edo, membuat semua isi kepala Edo membuyar seketika.


 


"Mangkanya jangan mengoda aku, kau rasakan sendiri akibatnyakan ?" Suara kesal Edo sambil melangkah turun dari ranjang besarnya. Dengan cepat Edo memakai kembali pakaiannya, asal saja yang penting bisa menutupi dirinya saat ini.


 


"Sini aku bantu ". Edo sudah selesai berpakaian.


 


"Kamu....?" Tanya Edo tidak percaya saat melihat dengan jelas sosok wanita yang sepertinya cukup takut pada dirinya itu.


 


"Bagaimana mungkin ?" Tanya Edo entah kepada siapa.


 


***************

__ADS_1


 


"Nona..... ". Setelah ketukan beberapa kali di pintu kamarnya, Nia mendengar suara Lita pelayan wanita yang khusus di tugaskan membantu dirinya memanggil dari arah luar pintu. "Bolehkan saya masuk ?"


 


"Masuk saja Lita, pintunya tidak saya kunci !" Suara Nia yang langsung diiyakan oleh Lita. Ternyata pagi ini Lita tidak sendiri, Riana pelayan wanitanya yang lain juga ikut masuk ke dalam kamarnya.


 


"Pagi nona ". Sapa Lita dan Riana berbarengan.


 


"Pagi Lita, pagi Riana ". Jawab Nia ramah.


 


"Ada apa ?" Tanya Nia yang baru saja selesai memakai dress terusan selutut berwarna putih miliknya.


 


Bukan menjawab pertanyaan dari calon nyonya mudanya itu, Lita dan Riana malah saling berpandang-pandangan, mereka sepertinya sedang bingung.


 


"Loh..kok diam ?" Nia malah ikut bingung.


 


"Kenapa nona sudah mandi ?" Tanya Riana dengan lugunya.


 


"Karena saya sudah biasa mandi pagi ". Jawab Nia disertai tawa kecil.


Pertanyaan yang lucu...hahahaha.


 


"Iya..tapi kenapa nona tidak menunggu kami ?" Sekarang giliran Lita yang mengajukan pertanyaan yang terdengar sama lugunya di telinga Nia.


 


"Karena saya sudah tidak sabar mau mandi ". Jawab Nia asal.


 


Glekkkkkk....


Wajah Lita dan Riana mendadak pias, mereka sepertinya cukup cemas saat ini.


 


Nia berjalan ke arah meja riasnya, rambut panjangnya yang basah masih berlilit handuk.


 


"Kalian kenapa ya ?" Tanya Nia saat berhasil duduk menghadap Lita dan Riana.


 


"Nona kenapa tidak menunggu kami ?" Sekarang Nia benar-benar bingung. Pertanyaan yang sama dengan ekspresi cemas di wajah kedua pelayannya itu membuat Nia terheran-heran.


 


"Okeh, kalian sekarang tolong duduk !" Tunjuk Nia ke arah ranjang empuknya tepat di belakang Lita dan Riana.


 


"Duduk !" Sekali lagi Nia mengulang perintahnya.


 


Lita dan Riana menyempatkan diri saling bersitatap sesaat hingga akhirnya mereka memutuskan patuh pada permintaan sang nona. Perlahan Lita dan Riana mendudukkan dirinya mereka persisi di tempat yang di tunjuk oleh Nia.


 


"Sekarang bisa ceritakan apa maksud kata-kata kalian tadi !" Nia bersiap mendengar penjelasan 2 gadis yang umurnya mungkin beberapa tahun di bawahnya ini.


 

__ADS_1


"No, nona...", Lita mengambil sikap sebagai orang pembicara pertama. "Tugas kami di sini adalah melayani nona. Termasuk mempersiapkan keperluan nona, keperluan mandi juga ". Suara Lita pelan.


 


"Jadi, sudah beberapa hari nona di sini. Nona selalu saja mandi tanpa memberi perintah pada kami untuk mempersiapkan semua. Nona tahu ? Kami sangat merasa bersalah ". Sorot mata penyesalan terlihat di mata Lita.


 


"Kalau nyonya dan tuan sampai tahu, habislah kami ". Sekarang Nia mengalihkan pandangannya ke arah Riana. Terlihat jelas ada rawut ketakutan di wajah itu.


 


"Apa yang kalian takutkan ?" Nia berusaha menahan tawanya melihat raut wajah cemas di depannya itu.


 


"Lita, Riana. Dengar ya ! Saya ini bisa melakukan semua sendiri, apa lagi kalau cuma mandi saja. Jadi kalian nggak perlu repot-repot nyiapin semuanya. Saya sudah biasa melakukan semuanya sendiri ". Jelas Nia yang bukannya membuat Lita dan Riana tenang, ini malah membuat mereka semakin ciut.


 


"Dengar-dengar ! Tidak akan ada yang marah sama kalian berdua kok. Tidak nyonya tidak pula tuan, percaya sama saya !" Dan kaliamat barusan tetap tidak membuat Lita dan Riana berhenti khawatir.


 


"Baiklah, saya minta maaf pada kalian berdua sudah membuat kalian merasa tidak nyaman. Tapi jujur, saya belum terbiasa di layani. Saya tumbuh dan besar dalam keluarga biasa, jadi saya memang biasa mandiri ". Serentak Lita dan Riana mengangkat wajah mereka menatap takjub pada Nia.


 


"Saya tahu kalian berdua ingin bekerja sebaik mungkin, melayani saya sebaik mungkin. Tapi seperti yang saya bilang dulu, saya bisa sendiri ! Jadi jangan merasa bersalah atas sikap saya ini !" Nia tersenyum tulus.


 


"Bagaimana kalau kita berteman saja  ?" Tawar Nia dengan harapan bisa mencairkan suasana.


 


"Mana boleh nona ". Tolak Lita cepat di sertai anggukan setuju Riana. "Kami ini pelayan nona ".


 


"Loh..memang pelayan gak boleh temenan sama saya ?" Tanya Nia dengan wajah di buat sesedih mungkin.


 


"Bu..bukan gituh nona. Nona salah paham ". Riana mengerakkan kedua tangannya cepat.


 


"Aihhh, nona ini baik sekali ". Suara tidak percaya meluncur begitu saja dari bibir Lita. "Nona cantik, terpelajar dan santun. Pantas saja tuan sangat mencintai nona ". Puji Lita sambil tersenyum.


 


"Kami saja langsung jatuh hati pada nona, pa......". Kalimat Lita terputus.


 


"Berani mencintai milikku, berarti kalian berani melawanku !" Suara dingin Aisakha membuat seisi kamar terlonjak kaget. Nia menepuk pelan dadanya, efek kaget sedemikian rupa, sedang Lita dan Riana langsung spontan berdiri menundukkan kepala seakan bersiap menerima hukuman berat untuk hidup mereka.


 


Astaga, sejak kapan Mas ada di situ ? Nggak ada tanda-tanda kedatangannya tahu-tahu sudah bersuara menyeramkan seperti itu. Ihhh, buat aku takut saja.


 


"Keluar !" Suara dingin Aisakha masih seperti di awal saat memberi perintah pada Lita dan Riana untuk beranjak dari kamar kekasihnya itu.


 


"Sa..sayang ". Nia sedikit ragu untuk memulai berbicara, apa lagi dengan Lita dan Riana yang telah meninggalkan dirinya berdua saja bersama Aisakha.


 


Kok Mas rada horor ya tampangnya ? Apa Mas mendengar semua pembicaraan aku bersama Lita dan Riana tadi ? Apa Mas marah karena aku belum terbiasa dilayani sama mereka ? Aduhh, ada yang bisa tolong aku gak ?


 


"Aku akan meneringkan rambutmu !" Tanpa senyum dan tanpa mengubah intonasi suaranya, Aisakha membuka handuk yang mengulung asal di kepala Nia. Mengerakkannya pelan ke kanan dan kek iri, sangat lembut untuk membuat rambut panjang itu cepat kering seperti biasanya.


 


"Maaf ". Entah untuk apa, tetapi Nia merasa hanya kata itu yang bisa diucapkannya saat ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2