
Flash Back Di Laboratorium (2)
πππππ
γ
Profesor Yandi mulai tidak bisa menguasai rasa cemasnnya, rasa khawatir terhadap Nia yang sedari tadi tidak juga kembali ke laboratorium. Entah apa yang terjadi pada Nia saat ini, apakah Tuan Aisakha sedang memarahinya atau malah sedang mengusirnya keluar dari perusahaan. Rasanya Profesor sangat ingin pergi ke gedung utama menuju ruang kerja presdir, ingin memastikan apa sebenarnya yang telah terjadi di sana. Dan andai saja hal-hal buruk tersebut terjadi, profesor ingin mendampingi Nia. Profesor harus membela Nia, bukankah tidak adil rasanya kalau Nia harus di pecat?
γ
Lebih baik aku mencoba menelepon Nia, mungkin sedikit informasi tentang kondisinya bisa membuat aku mengatur stategi terbaik untuk membantunya nanti.
γ
"Kalian kembalilah bekerja, saya mau keruangan sebentar. Ada yang harus saya lakukan!" Perintah Profesor pada semua penelitinya agar kembali fokus pada kegaiatan mereka.
γ
"Baik Prof". Jawab Wulan, Bowo, Resya dan Anita bersamaan.
γ
Profesor melangkah mendekati pintu laboratorium, sudah bersiap untuk keluar. Tetapi tepat di saat pintu dibukanya, tepat di saat itu pula Kristo, sekretaris Aisakha sudah berdiri di depan laboratorium.
γ
"Tu, tuan. Ada apa?". Profesor sangat terkejut melihat kedatangan Kristo.
γ
"Maaf saya menganggu Profesor. Saya hanya ingin mengambil tas nona Nia". Ujar Kristo santai.
γ
Deggggggggg...tanpa dikomandoi, serentak Wulan, Bowo, Resya dan Anita merasakan jantung mereka berdetak kuat. Sekarang mereka merasa lemas, seakan-akan lutut mereka tidak lagi mampu menopang berat badang mereka masing-masing.
γ
Kenapa seorang sekretaris presdir datang langsung mengambil tas Nia sendiri? Padahalkan bisa telepon ke laboratorium dan langsung ku suruh orang mengantar. Atau bila perlu aku sendiri malah yang langsung antar ke gedung utama. Profesor Yandi.
γ
Nia kenapa ya? Anita.
__ADS_1
γ
Kok jadinya seperti ini? Bukan kembali ke sini, ini malah tasnya di bawa pergi.Β Wulan.
γ
Tambah nggak beres, sebenarnya Nia itu siapa ya? Bowo.
γ
Kalau Nia di pecat, gimana dong dengan nasib next project kami? Resya.
γ
Semua terdiam di posisi masing-masing, berusaha mengendalikan pikiran mereka yang sudah kemana-mana. Rasa khawatir pada Nia membuat mereka saling memiliki praduga di dalam hati masing-masing.
γ
"Ooo, kenapa tuan tidak menghubungi saya saja, supaya tidak perlu repot-repot menjemput ke sini. Padahal saya bisa mengantarkan langsung pada tuan". Profesor mencoba mencari tahu.
γ
"Tidak masalah Prof". Jawab Kristo singkat.
γ
γ
"Profesor, biar saya yang menjemput tas Nia di ruang kerja. Profesor di sini saja menemani tuan sekretaris". Terdengar suara Bowo tepat di saat profesor akan berlalu.
γ
"Tentu saja. Tolong ya Bowo". Ucap Profesor.
γ
"Tuan mau saya ambilkan minuman apa?" Ujar Profesor kemudian.
γ
"Tidak usah Prof, saya tidak lama". Lagi-lagi Kristo menjawab singkat.
γ
__ADS_1
"Tu, tuan". Suara Resya yang entah sejak kapan sudah berdiri beberapa centimeter dari posisi duduk Kristo. "Bolehkan saya bertanya?"
γ
"Apa?" Jawab Krito singkat. Sepertinya Kristo memang sangat minim perbendaharaan kata.
γ
"Apakah Nia baik-baik saja?". Entah keberanian dari mana yang merasuki Resya sehingga berani mengajukan pertanyaan tersebut.
γ
"Maksud anda?" Kristo tidak mengerti.
γ
"Maksud saya, apakah presdir tidak marah pada Nia, tuan? Nia..Nia tidak dipecatkan tuan?" Resya bertanya sambil berpengangang erat pada pinggir meja, sepertinya dia sangat takut bertanya dengan sosok di hadapannya ini. "Jangan pecat Nia, tuan. Nia adalah peneliti yang hebat, dia adalah pribadi yang baik, Nia adalah teman kami semua tuan". Kembali suara Resya terdengar yang disertai permohonan.
γ
"Hahahaha". Suara tawa Kristo bergema keras di laboratorium. "Darimana kamu dapat pikiran bodohmu itu? Dengar baik-baik, jaga bicaramu apa lagi tentang presdir. Atau kamu yang berencana ingin di pecat". Kristo sekarang memperingati Resya.
γ
"Maafkan dia tuan, saya benar-benar minta maaf. Tolong jangan tuan ambil hati pertanyaannya tadi". Profesor berusaha menyudahi situasi yang semakin tidak enak tersebut.
γ
Dan tidak lama kemudian, Bowo masuk ke laboratorium dengan membawa tas Nia yang telah di tunggu-tunggu oleh Kristo.
γ
Setelah mendapatkan tas tersebut, Kristo langsung saja meninggalkan laboratorium dan segera kembali ke ruang kerja presdirnya. Kristo tidak ingin membuat majikannya menunggu terlalu lama.
γ
Berlalunya bayangan Kristo membuat semua nyawa di dalam laboratorium kembali bernafas normal, lega. Nada ancaman Kristo pada Resya tadi cukup membuat semua menjadi ciut, walaupun ancaman itu ditujukan pada Resya, tetapi mereka semua merasa seakan itu adalah kalimat yang di susun Kristo untuk mereka semua.
γ
Untung saja Profesor cepat menyelamatkan situasi, kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Bowo yang melihat teman-temannya menghela nafas lega pun merasa heran.Β Kejadian apa ya yang telah aku lewatkan?
γ
__ADS_1
γ