SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 147


__ADS_3

Rahasia Bowo


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Gimana, gimana ?" Nia menatap antusia ke arah Aisakha, sibuk memperhatikan kekasihnya itu yang sedang mengunyah perlahan semua menu yang telah di tata rapi di depannya satu persatu.


γ€€


"Emmmm", Aisakha masih berusaha merasakan seperti apa kira-kira jawaban yang paling tepat yang ingin diutarakannya.


γ€€


"Ihhhh, gimana ?" Nia menguncang pelan tangan Aisakha.


γ€€


"Mereka lucu ya ?" Anita menyikut lengan Bowo sambil berbisik pelan.


γ€€


"Hemm". Bowo terlihat tidak antusia dengan pertanyaan Anita.


γ€€


Aisakha diam, meletakkan sendok yang dipakainya untuk menyuapi aneka menu khas Bengkulu yang diperkenalkan Nia padanya. Unik, itu adalah ungkapan isi perutnya terdalam setelah selesai mencicipi semuanya. Wkwkwkw.


γ€€


Ya, menu-menu tersebut jauh dari kesehariannya, karena jelas saja ini adalah pengalaman pertama bagi Aisakha untuk mencicipi bagar hiu, rebung masak undak liling, gulai pisang, lema, gulai kamba'ang, dan tempoyak patin. Semua terasa asing bagi fomula yang masih awam dengan masakan Kota Bengkulu. Tapi setelah mengenal semuanya secara perlahan, ada sensasi unik. Mungkin belum pas jika disimpulkan suka karena jujur Aisakha memang belum berencana dalam waktu dekat untuk mengulang kembali menikmati makan siang dengan menu yang sama. Hanya saja, dirinya cukup takjub dengan keanekaragaman jenis olahan masakan dari Kota tempat kekasihnya tinggal ini. Walaupun belum terbisa, tetapi sangat mengena. Tiap olahan punya cita rasa sendiri, punya karakter kekhasan yang membuatnya berbeda dari ragam kuliner dari daerah lain yang pernah di cobanya. Inilah indonesia, beragam perbedaan membuat kita semakin dekat satu sama lain. Membuat kita semakin erat untuk mengenal dan saling menciptakan keselarasan bersama-sama. Benar-benar unik bukan ?


γ€€


"Sudah mau bilang ?" Nia ternyata masih penasaran dengan penilaian Aisakha.


γ€€


"Oke". Aisakha memperbaiki cara duduknya dan menatap serius pada Nia. "Dari semua yang aku coba, yang ini yang mendekati kategori camkohaa". Aisakha mengangkat jempolnya dan menunjuk ke arah gulai kamba'ang. "Mungkin karena bahan utamanya adalah iga sapi dan aku sendiri memang terbiasa dengan olaham daging. Jadinya rasanya cukup akrab di lidah. Sooooo, camkohaa...", sekali lagi Aisakha mengangkat jempolnya.


γ€€


"Apaku bilang". Nia tersenyum puas.


γ€€


"Tapi buat menu lainnya, semua terasa baru. Yah, sepertinya lidahku belum terbiasa. Mereka semua unik, hanya saja butuh waktu untuk mengenal mereka lebih akrab. Jadi, sementara ini aku baru bisa sampai pada tahap unik dulu, belum camkohaa". Aisakha menyudahi hasil penilaiannya.


γ€€


"Enggak masalah, yang penting Mas sudah kenal tiap rasa. Itu yang penting dulu". Nia meletakkan satu sendok nasi putih kepiring Aisakha. "Sekarang Mas sudah putuskan mau makan dengan lauk apa?"


γ€€


"Iya". Jawab Aisakha cepat.


γ€€


"Apa ?" Nia terlihat bersiap mengambil menu pilihan Aisakha.


γ€€


"Kamu". Bisik Aisakha sangat pelan di telinga Nia. Sangat pelan bagi yang lain, tetapi cukup jelas bagi telinga Nia.


γ€€

__ADS_1


Tanpa sengaja Nia menjatuhkan sendok yang di pegangnya, wajahnya tertunduk malu, jantungnya berdebar kuat. Rasanya Nia sangat ingin mengubur dirinya ke inti bumi saking malunya setelah mendengar penuturan Aisakha tadi.


γ€€


"Kenapa Nia ?" Wulan heran melihat Nia yang tiba-tiba menjatuhkan sendok dari gengamannya.


γ€€


"Oh, enggak. Ada nyamuk tadi mau gigit aku". Jawab Nia asal.


γ€€


"Nyamuk ?" Resya menatap heran pada Wulan.


γ€€


Iya nyamuk besar mau makan aku. Tuh dia duduk seperti orang gak berdosa di sebelah aku.


γ€€


"Sudahlah lupakan saja !" Nia mengerakkan tangannya sebagai isyarat.


γ€€


"Kalian semua terlihat sangat perhatian pada Nia ?" Sambil menyuapi menu makan siangnya, Aisakha berusaha mengajak para sahabat Nia berbicara.


γ€€


"Iya tuan. Kami semua sayang Nia". Jawab Wulan mewakili teman-temannya.


γ€€


"Sama seperti aku, aku juga sayang kalian". Nia tersenyum tulus sambil menatap Wulan, Resya, Anita dan Bowo. "Kalian selalu ada buat aku selama ini. Makasih ya ".


γ€€


γ€€


"Terima kasih sudah menjaga Nia selama ini". Aisakha merasa cara para sahabat Nia memperlakukannya memang tulus. Sepertinya mereka orang-orang baik.


γ€€


"Tuan jangan sungkan. Seperti itulah sahabat sejati dalam berteman, selalu ada dan saling menjaga". Lagi Wulan mewakili teman-temannya menjadi juru bicara.


γ€€


"Bagaimana kabar Ibumu ?" Raut wajah Bowo langsung berubah begitu mendengar pertanyaan Aisakha barusan. Senyum manis yang tergambar di wajahnya saat memandangi Nia tadi langsung sirna. Wajahnya mulai pias.


γ€€


Aku lupa siapa tuan Aisakha. Bohong kalau dia tidak menyelidiki siapa aku sebenarnya. Bowo mulai ragu.


γ€€


Aisakha sengaja mengajukan pertanyaan tersebut pada Bowo.


γ€€


"Ibunya Mas ?" Nia tidak mengerti maksud pertanyaan Aisakha pada Bowo tadi.


γ€€


"Iya sayang, Ibunya". Aisakha memilih menghentikan suapannya dan beralih meneguk air putih di sisi kiri tangannya.


γ€€

__ADS_1


"Kamu masih punya Ibu ya Wo ?" Resya terlihat lebih bingung lagi dari semua teman-temannya. Secara Resya sudah mengenal Bowo sejak mereka sama-sama wawancara saat melamar di Lembaga Penelitian dan Holtikultura milik Aisakha. 4 tahun yang lalu. Jadi bisa dipastikan, Resya lebih tahu banyak tentang Bowo dibanding semua teman-teman seprofesi mereka. Hanya saja, masalah orang tua. Setahu Resya, Bowo adalah anak yatim piatu yang menjadi tulang punggung keluarga karena bertanggung jawab membesarkan seorang adiknya yang masih kuliah. Nah, di saat tiba-tiba Aisakha bertanya tentang kabar Ibu Bowo, Resya malah bingung sendiri.


γ€€


"Wah, sepertinya saya salah mengajukan pertanyaannya ?" Aisakha memasang tampang pura-pura menyesal.


γ€€


"Aku pikir kamu yatim piatu Wo ?" Resya masih belum percaya. "Kenapa kamu enggak cerita ? Lihat akibatnyakan, aku jadi salah paham deh sampai berpikir orang tuamu sudah enggak ada semua. Padahal kamu masih punya Ibu". Anita melihat Bowo hanya tertunduk diam.


γ€€


Ah, sial..Bowo.


γ€€


"Ada hal yang tidak perlu kami tahu ya Wo ?" Nia memberanikan diri bertanya. "Sengaja kamu rahasiakan ?"


γ€€


"Bu, bukan Nia. Bukan, kamu jangan salah paham". Bowo ragu harus berbicara apa. Satu sisi dia sangat tidak ingin membuat Nia berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Namun, di sisi lain dia merasa berat untuk mengemukakan semua.Β Tolong tuan, jangan buka rahasia saya sekarang. Saya mohon.


γ€€


"Kita sahabatan sudah sangat lama, kita sudah mengenal baik satu sama lain. Kalian semua tahu dan pernah ketemu dengan keluargakukan. Bahkan mantan pacarku waktu kami masih jalan bareng juga pernah aku perkenalkam sama kalian semua". Anita mulai berbicara. "Tapi khusus buat kamu Wo, kami memang tidak tahu banyak. Bahkan dimana kamu tinggalpun sampai saat ini kami tidak tahu. Wo, apa kamu sengaja tidak ingin menjelaskan siapa kamu pada kami semua, sahabat-sahabatmu ini ?"


γ€€


"Tolong jangan mendesak aku". Bowo berdiri dari kursinya. "Maaf aku permisi kebelakang sebentar". Bowo berlalu meninggalkan pandangan mata penuh tanda tanya dari semua sahabat-sahabatnya. Menatap Aisakha sesaat dan segera berjalan menjauh.


γ€€


"Mas, kenapa Mas tiba-tiba bertanya tentang Ibunya Bowo. Apa yang Mas tahu tentang Bowo ?" Nia memperhatikan Bowo menjauh dari mereka berjalan kearah bagian belakang restoran.


γ€€


"Sepertinya dia sengaja menyembunyikan tentang keluarganya. Jadi akan lebih baik kalau kamu dan yang lainnya tanya langsung sama dia". Aisakha terlihat tidak ingin membagi apa yang diketahuinya tentang Bowo pada Nia dan yang lain. Padahal jangan di tanya, bagaimana penasarannya Nia, Wulan, Resya dan Anita saat ini.


γ€€


"Ada yang aneh ". Wulan melihat Nia. "Benar kata Resya, kita tidak pernah tahu apapun tentang Bowo kecuali dia punya satu adik yang menjadi tanggungannya". Nia mengangguk pelan.


γ€€


"Apakah tuan berkenan menceritakan pada kami, kami sangat penasaran tuan ?" Wulan berusaha membujuk Aisakha.


γ€€


"Kalian coba saja dulu bertanya langsung padanya. Dia pasti punya alasan tersendiri. Saya tidak enak kalau harus mewakilinya bercerita. Saya bukan siapa-siapanya. Lagi pula saya dan kalian sama-sama tidak tahu apa alasan dia menutupi semuanya selama ini". Aisakha berusaha bersikap bijak.


γ€€


"Iya benar juga itu Mas". Nia terlihat setuju pada pendapat Aisakh. "Sudahlah, kita jangan desak Bowo sekarang. Kita cari waktu yang tepat besok-besok buat bicara sama dia. Sekarang ayo lanjutkan lagi makannya".


γ€€


Sepertinya selera makan mereka sudah menghilang, menguap entah kemana. Berganti rasa penasaran dan banyaknya pertanyaan dalam benak masing-masing terhadap Bowo. Satu-satunya lelaki yang menjadi staf peneliti pada tempat kerja yang sama dengan Nia, Wulan, Resya dan Anita. Lelaki yang juga menjadi sahabat baik mereka itu ternyata menyembunyikan sesuatu dari mereka. Kenapa, buat apa, ada apa? Ah, sayangnya baik Nia, Wulan, Resya dan Anita tidak tahu harus menjawab apa.


γ€€


Menarik, mereka sahabatan sudah hitungan tahun tapi si Bowo ini tidak pernah menceritakan latar belakang keluarganya pada Nia dan teman-temannya yang lain. Emm, apa maksud dia merahasikan semuanya ya ? Aisakha.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2