
KAMU, TUAN, ANDA (2)
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
Profesor, Wulan, Bowo, Resya dan Anita menatap tidak percaya pada apa yang di perbuat Nia. Nia memang masih tetap fokus menikmati tulisan demi tulisan yang sukses digoresnya pada white board. Entah di mana Nia sekarang karena alam pikiran Nia terlihat jelas tidak terkoneksi dengan lingkungan sekitarnya, yang jelas dia benar-benar tidak menyadari kalau pemilik Sunjaya Company, Tuan Aisakha Elang Britana sudah hampir sepuluh menit berdiri di dalam laboratorium.
 
Aduh Nia, sadar dong. Ini si Boss ada di sini. Resya.
 
Nia, Niaaaaaaaa, aku gak mau di pecat gara-gara kamu cuekin presdir. Kalau itu terjadi aku akan mengaku mengalami amnesia, jadinya aku nggak kenal ma kamu. Maaf agak tegaan, habis kamu juga tega banget sampe gak tau ada presdir di sini. Wulan.
 
Nia, pliss kembali ke dunia ini. Jangan hidup di dunia rumus dong. Anita.
 
Jangan sampe Nia kamu gak menoleh ke arah kanan, amit-amit sampe lebaran besok kamu tetap gak sadar ada sang penguasa di sini. Bowo.
 
Nih anak kalau sudah fokus sama pekerjaan sampe lupa sekitar. Kalau kamu lupa sama saya dan teman-temanmu nggak masalah Nia, sudah biasa. Tapi ini pemilik perusahaan tempat kita mencari nafkah Nia, jangan sampe kamu menyesal. Ayolahhh Nia balik badan sekarang. Profesor Yandi.
 
Tiba-tiba Nia memegang tengkuknya, Nia merasa ada hembusan angin di leher bagian belakangnya. Spontan Nia memegang tengkuknya untuk mengurangi efek angin tersebut.
 
__ADS_1
"Maaf tuan, anak itu kalau sudah berkutat dengan pekerjaan pasti akan lupa dengan sekelilingnya. Mari tuan silahkan saya antar menuju ruang kerja saya. Biar mereka yang memanggil Syania untuk menemui anda". Profesor Yandi menunjukkan arah dengan tangannya pada Aisakha.
 
"Tidak usah Profesor, saya di sini saja. Silahkan anda dan yang lain lanjut dengan pekerjaan masing-masing. Saya akan mendatangi ke arah dia, ada apakah di sana sehingga bisa begitu menarik perhatiannya, dibandingkan menyambut kedatangan saya". Ujar Aisakha sambil menunjuk ke arah Nia.
 
Gawat, itu presdir tatapannya memang terlihat santai aja, apa dia memang begitu kalau mau memecat orang. Aduh Nia, Nia baru juga sebentar kita bersama di sini, kamu sudah dipensiunkan. Wulan.
 
Maaf Nia, kali ini kamu berusaha sendiri ya biar nggak di pecat. Saya sudah kehabisan cara buat mengalihkan perhatian tuan Aisakha dari kamu. Kamu benar-benar Nia kenapa gak bisa merasakan hawa presdir di sini. Aduhh, astaga, Nia..Nia". Profesor Yandi.
 
Nia yang menjadi pokok bahasan oleh Profesor Yandi, tetap tidak menyadari keberadaan sang pemimpin tertinggi pemilik perusahaan tempat mereka bekerja sebagai peneliti di laboratorium.
 
 
Kristo melihat perubahan di raut wajah sang majikan. Seakan tahu ada rasa penasaran yang sangat dalam pada diri majikannya terhadap wanita yang tengah membelakangi mereka. Segera Kristo bersuara agar si wanita berjas putih dengan sepidol di tangan itu menyadari kehadiran tuan Aisakha di dalam laboratorium.
 
"Ehhem, permisi". Suara Kristo yang sukses membuat Nia berhenti menulis.
 
Nia menutup alat tulis yang berada di tangannya, meletakkan dengan baik di tepi papan tulis dan dia membalikkan badannya melihat sumber suara yang dirasanya bukan berasal dari Profesor atau pun teman-teman seruangannya.
 
Semua mata memandang proses berbalik badan Nia untuk menghadap Aisakha. Laboratorium menjadi sunyi, bahkan suara hembusan nafas pun tidak terdengar. Profesor Yandi, Wulan, Bowo, Resya dan Anita sedang menatap khawatir pada Nia, mereka sibuk menerka-nerka seperti apa wujud rasa kesal atau marah sang presdir karena Nia tidak menyadari keberadaannya sedari awal, bahkan tidak ikut menyambutnya saat masuk ke dalam laboratorium tadi.
__ADS_1
 
Beda dengan Aisakha, sekarang hatinya sedang berharap, berdoa dengan khusuk, semoga gadis berambut panjang yang tengah berdiri didepannya itu adalah gadis cantik yang sukses membuat hatinya merindu dan mencari selama tiga tahun ini. Semoga.
 
Dan Kristo pun sibuk dengan pikirannya sendiri, bertanya dalam hati apa yang tengah dipikirkan majikannya, apa yang menarik perhatian sang majikan dari wanita berjas putih itu, karena mendadak sang tuan menjadi serius tanpa sebab.
 
Nia membalikkan badannya menatap lurus mata Aisakha yang hanya berjarak dua meter didepannya saat ini. Dia diam hanya memandang sosok lelaki tampan dengan mata biru yang sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan oleh Nia. Dia berpikir, jantungnya memberontak, hatinya menghangat.
 
"Kamu ?" Suara tidak percaya Aisakha saat melihat sosok yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. Aisakha sangat terkejut mendapati siapa yang tengah berdiri dan memandanginya saat ini. Ada rasa senang yang memuncak. Tetapi masih ada sedikit rasa ragu yang tersirat, mimpikah? Ya Tuhan benarkah ini?
 
"KAMU ?" kembali Aisakha mengeluarkan pertanyaan dengan suara berat khasnya yang terdengar lebih keras dari sebelumnya.
 
"Nona, anda?" Kristo pun tidak kalah terkejutnya, bahkan Kristo sempat-sempatnya mengucek mata untuk memastikan sosok wanita yang berdiri di depan tuannya itu adalah benar. Kristo sampai menggangga tidak percaya.
 
"Tuan ?" Tanya Nia datar saat kembali tersadar setelah mendengar suara berat Aisakha barusan. Sesaat Nia tertegu, mendapati sorot mata tidak percaya, ya sorot mata tidak percaya. Itu yang bisa disimpulkan Nia saat melihat bagaimana cara lelaki tampan bermata biru dengan tubuh atletis itu tengah memandangnya.
 
Tapi siapa dia? Kenapa ritme jantungku tidak beraturan, mendadak berdetak cepat. Apa jantungku mengalami masalah? Aneh. Tapi lebih aneh lagi, aku sangat kenal suara itu. Eh, apa iya? Atau perasaanku saja. Hatiku merasakan kehangatan, rasanya bahagia mendengar suara lelaki tampan ini. Kenapa ya? Trus siapa pria disampingnya itu, kenapa dia memanggilku nona? Siapa mereka sebenarnya?
 
 
__ADS_1