SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 66


__ADS_3

Lama Tidak Berjumpa


🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


Dia? Bagaimana bisa ada di sini? Mau apa lagi dia?


 


Tepat di saat Nia melangkah menuju kursi di depan Profesor, tepat di saat itu pula Nia menyadari. Tidak hanya Profesor saja yang berada di ruangan tersebut, entah sudah berapa lama tepatnya, Nia tidak tahu. Tetapi dapat terlihat kalau Bagas, si Wakil Kepala Divisi Promosi telah duduk di salah satu kursi di depan meja kerja Profesor.


 


"Selamat pagi Pak". Sebuah sapaan hormat yang sejujurnya sangat terpaksa Nia keluarkan dari mulutnya.


 


"Lama tidak berjumpa Nia". Bagas membalas sapaan Nia.


 


Semakin cantik dari hari ke hari.


 


"Ada apa Profesor memanggil saya?" Tanya Nia setelah mendapatkan posisi nyaman di tempat duduknya.


 


"Nia, idemu tentang varietas baru dari beras merah telah saya sampaikan pada Pak Bagas. Karena itu beliau sengaja datang ke sini ingin mendengar penjelasanmu. Sebagai wakil dari Kepala Divisi Promosi, Pak Bagas mendapat tugas untuk mempelajari respon pasar atas ide barumu". Jelas Profesor.


 


"Kalau begitu sebaiknya di laboratorium saja Prof, saya akan buat mini presentasi". Nia memberi jawaban atas penjelasan Profesor tadi.


 


"Oo, boleh. Bagaimana baiknya menurut kamu saja". Profesor mengiyakan usulan Nia.


 


"Bagaimana Pak Bagas, kita ke laboratorium saja?" Tanya Profesor meminta izin pada Bagas.


 


"Iya tentu saja Prof". Jawab Bagas cepat. Sejujurnya Bagas tidak terlalu menyimak apa yang dibicarakan oleh Profesor dan Nia barusan. Bagas lebih tertarik memandangi Nia, sepertinya rasa suka yang pernah ada dihatinya dulu belumlah sirnah.


 


"Kalau begitu saya izin duluan ke laboratorium Prof, saya akan menyiapkan keperluan untuk mini presentasinya". Ujar Nia memohon untuk undur diri.


 


"Boleh, bagus juga seperti itu. Sepuluh menit lagi, saya akan membawa Pak Bagas ke sana". Ucap Profesor yang setuju dengan ide Nia.


 


Nia menganggukan kepala tanda hormat pada Profesor dan Pak Bagas, sebelum meninggalkan ruang tersebut dan kembali ke laboratorium. Dan tepat di saat pintu ruang kerja Profesor telah tertutup, Nia mendengar suara teriakan Profesor memanggilnya.


 

__ADS_1


Eh, ada apa lagi ya?


 


"Iya Prof?" Tanya Nia di depan pintu.


 


"Telepon". Jawab Profesor singkat sambil menunjukkan handphonenya pada Nia.


 


Presdirkah? Seakan sorot mata Nia bertanya pada Profesor.


 


"Iya", jawab Profesor singkat, seperti tahu arti tatapan Nia padanya.


 


Ya Tuhan, kok tuan Aisakha suka banget sih membuat aku malu.


 


Sambil memeganggi wajahnya sendiri, sebagai usahanya menahan malu. Nia pun menerima telepon yang diberikan Profesor padanya. Bagas dapat melihat dengan jelas perubahan di wajah Nia, warna merah di pipi Nia.


 


Hei, kenapa terlihat seperti itu? Telepon dari siapa ya? Bagas mulai penasaran saat melihat Nia yang tampak menahan rasa malunya terhadap Profesor.


 


"Saya pinjam sebentar ya Prof". Izin Nia pada Profesor untuk membawa keluar ruangan telepon milik Profesor. Jika sebelumnya Nia dapat menerima telepon Aisakha di depan Profesor. Tetapi tidak kali ini, wajah penasaran Bagas membuat Nia enggan berada dalam satu ruangan bersama laki-laki itu.


 


 


"Kangen ya?" Goda Aisakha di ujung telepon.


 


"Loh kok aku, Mas kali". Jawab Nia sambil tersenyum.


 


"Itu buktinya, handphone Profesor Yandi kamu bawa kabur". Tuduh Aisakha.


 


"Bu-bukan begitu Mas". Jawab Nia terbata-bata.


 


"Lantas yang benarnya gimana sayang? Padahal baru beberapa jam tadi aku telepon. Udah nggak sabar ya menunggu kepulanganku". Aisakha masih bertahan untuk mengoda Nia.


 


"Masssss". Nia sudah tidak sanggup terpojok sendiri. Karena memang benar, Nia sudah sangat tidak sabar menunggu kepulangan Aisakha.


 


"Apa sayanggggg". Jawab Aisakha seakan tidak berdosa.

__ADS_1


 


"Ngeledekin aku lagi, aku tutup nih". Ancam Nia


 


"Hahaha, kamu tahu. Aku jadi penasaran, kira-kira anak kita nanti saat ngambek akan mirip kamukah?" Tanya Aisakha sambil tertawa membayangkan khayalannya sendiri.


 


"Cu-cukup Mas". Nia memegang pipi sebelah kanannya, rasanya sangat memalukan baginya mendapati pertanyaan Aisakha barusan.


 


"Hahaha", Nia dapat mendengar kalau Aisakha masih tertawa dengan bahagiannya. Suka banget deh godain aku.


 


"Mas enggak kerja?" Tanya Nia mengalihkan pembicaraan


 


"Aku sedang memeriksa beberapa dokumen, kamu tahu tadi aku sempat ingin menyerah dengan tumpukan dokumen ini. Tetapi saat Kristo menyarankan untuk meneleponmu, aku jadi semangat lagi sekarang". Cerita Aisakha pada Nia.


 


"Kalau begitu ingatkan aku untuk menjabat tangan Krisro sebagai ucapan terima kasihku nanti". Jawab Nia sambil tersenyum.


 


"Enak saja, akan kupatahkan tangan Kristo kalau berani memegang tanganmu'. Jawab Aisakha penuh emosi.


 


"Hahahaha". Sekarang gantian Nia yang tertawa senang.


 


"Ooo, sudah pintar membalasku ya". Suara Aisakha di ujung telepon.


 


"Sudah-sudah, Mas harus fokus ke pekerjaannya sekarang. Ingat janji Mas, besok sudah kembali kesini". Nia mengingatkan Aisakha.


 


"Pasti, aku akan segera kembali padamu sayang". Janji Aisakha pada Nia. "Baiklah kalau begitu aku tutup dulu ya, sampaikan ucapan terima kasihku pada Profesor".


 


Segera Nia mengembalikan handphone milik Profesor, lengkap dengan ucapan terima kasih. Bagas memperhatikan gerak-gerik Nia, nampak jelas dimatanya ada pancaran kebahagiaan.


 


Siapa si penelepon, kenapa bisa menghubungi Nia melalui Profesor? sepertinya sangat dekat dengan Profesor? Kenapa Nia menjadi sangat bahagia?


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2